Nasehat dan Teladan Syeikh Amin Al Hajj Sudan

No comment 1009 views

Oleh: Dr. Adian Husaini

International-University-Of-Afrika1-3055mt9s6agi1rtkq4jlkwInpasonline.com-AMIN al-Hajj Muhammad Ahmad, begitu nama lengkap yang tertulis dalam sejumlah karyanya. Di Sudan, di kalangan mahasiswa Indonesia yang menjadi murid-muridnya, ia biasa dipanggil ‘Syeikh Amin’. Hari Ahad (18/10/2015) lalu, saya bersyukur sempat menghadiri Majlis ilmunya, di sebuah masjid di Khartoum, Sudan. Jaraknya dari rumah kontrakan saya sekitar 1 KM. Ada sekitar 200-an jamaah yang mengikuti majlisnya.

Kitab yang dikaji – secara rutin tiap Ahad, maghrib-Isya – adalah Kitab Hadits Sunan Nasa’i. Ada enam kali Syeikh Amin memberikan kajian rutin mingguan di masjidnya. Tiga kali di waktu subuh, dan tiga kali selepas maghrib.

Para jamaah yang hadir rata-rata mahasiswa internasional dari berbagai negara. Mereka datang dengan membawa Kitab masing-masing. Uniknya, Syekh Amin-lah yang membelikan semua kitab untuk para muridnya itu, meskipun jumahnya sampai ratusan.

Pada kajian malam itu, Syeikh Amin memberikan syarah tiap hadits yang dibaca secara runut oleh salah satu muridnya. Selama lebih dari 10 tahun, sejumlah Kitab telah ditamatkan di Masjid Ali bin Abi Thalib ini, seperti Kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, al-Risalah Imam Syafii, al-Muwaththa’ Imam Malik, dan sebagainya. Tidak banyak ulama yang tekun mengajar dan menulis seperti Syeikh Amin ini.

Bagi banyak masyarakat Indonesia, sosok Syeikh Amin mungkin masih terasa asing. Padahal, ia adalah Ketua Ikatan Ulama Muslimin (Rais Rabithah Ulama Muslimin). Ia pernah berkunjung ke Indonesia dan sempat diwawancara khusus oleh Majalah Suara Hidayatullah (edisi Mei 2012).

Diungkapkan, bahwa ulama kelahiran Sudan, 1 Januari 1947 ini menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Adab Universitas al-Khourtum, Sudan 1969. Ia gemar berguru kepada para ulama; memiliki pengalaman luas dalam mengajar bahasa Arab di berbagai madrasah di Sudan, dan juga di Ma’had Bahasa Arab Ummul Qura, Makkah (1978-2002). Saat ini menjadi salah seorang dosen di International University of Africa, Sudan.

Syeikh Amin menjabat Ketua Umum Rabithah Ulama Muslimin yang didirikan 20-1-2010. Beberapa ulama besar yang tergabung dalam organisasi ini diantaranya, Syeikh Abdul Aziz bin Abdul Muhsin at-Turky, Dr Muhammad Yusri, (Mesir), Dr Mahran Mahir (Sudan), dan Dr Abdullah bin Hamud at-Tuwaijri (Arab Saudi).

Syeikh Amin termasuk ulama yang sangat produktif menulis. Sudah ratusan judul kitab ditulisnya, baik yang berukuran tebal maupun kutaib (kitab kecil). Saat berkunjung ke Sudan kali ini, saya bersyukur mendapatkan hadiah sekitar 30 judul kitab karya beliau, melalui seorang murid dekatnya, seorang mahasiswa asal Tangerang, yang sedang menulis Tesis Master di Sudan. Dalam CAP kali ini, kita akan menelaah, nasehat-nasehat dan uraian Syeikh Amin tentang masalah keilmuan.

Dalam kitabnya yang berjudul: Taujīhātu Da’awiyyah: Yā Syabāb wa-Syābāt al-Da’wah (Kairo:Dar el-Safwah, 2013), Syeikh Amin memberikan nasehat-nasehat penting untuk para pemuda aktivis dakwah. Beliau menekankan agar para aktivis dakwah – laki-laki dan perempuan menyibukkan diri untuk meraih ilmu syar’iy dan ilmu bukan syar’i yang diperlukan oleh umat Islam, dan bergiat dalam usaha pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan berjihad melawan hawa nafsu (mujahadah ‘alan-nafsi).

BACA JUGA  Jika Hukum Diskriminatif, Rusak!

Menurutnya, tidak ada jalan kebangkitan umat Islam kecuali dengan adanya kessungguhan dalam mencari ilmu syar’i dan ilmu madaniy. Umat ini tidak akan baik, kecuali dengan hal-hal yang telah membuat umat terdahulu menjadi baik.

Para pemuda aktivis dakwah diimbau agar tidak merasa cukup dengan batas-batas minimal penguasaan ilmu syar’i. Mereka harus berusaha menguasai seluas-luasnya. Bahkan, dianjurkan agar mereka mendalami ilmu-ilmu itu sebelum menikah atau menjadi orangtua.

Imam Abu Hanifah menasehati muridnya, Qadhi Abu Yusuf: “Pertama kali, carilah ilmu, kemudian kumpulkan harta yang halal, lalu sibukkan dirimu dengan urusan keluarga…!”

Karena begitu pentingnya urusan ilmu ini, sebagian ulama kemudian sampai menunda urusan pernikahan mereka. Imam Ahmad bin Hanbal, misalnya, menikah di umur 40 tahun. Adalah keliru memisahkan urusan dakwah dengan masalah keilmuan.

“Kita diperintahkan untuk berdakwah atas dasar ‘bashirah’, dan itu tidak mungkin dilakukan dengan sempurna kecuali dengan mendalami ilmu-ilmu keislaman,” tulisnya.

Syeikh sangat menekankan perlunya mendalami ilmu-ilmu keislaman dalam urusan dakwah, jadi bukan hanya bergiat dalam kegiatan dakwah, tetapi mengabaikan pendalaman keilmuan Islam.

Di dalam kitabnya, al-‘Ilmu, Syeikh Amin menekankan pentingnya keikhlasan niat dalam mencari ilmu, baik bagi murid maupun guru. Sebab, ikhlas adalah asas setiap perbuatan, dan Allah tidak menerima amal yang mengandung unsur syirik. (QS al-Bayyinah:5).

Beberapa hadits Rasulullah mengingatkan, bahwa siapa yang mencari ilmu untuk mencari kehebatan di kalangan ulama dan mencari pujian di kalangan manusia, maka Allah Subhanahu Wata’ala akan memasukkannya ke dalam neraka.

Rasulullah bersabda: “Siapa yang mencari ilmu yang sepatutnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, lalu ia mencarinya hanya untuk kepentingan dunia semata, maka ia tidak akan mencium bau sorga di Hari Kiamat.” (HR Abu Dawud).

Juga disebutkan sebuah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, bahwa di Hari Kiamat nanti, manusia pertama yang akan merasakan api neraka adalah orang berilmu yang membaca al-Quran supaya dikatakan sebagai “qari’” (ahli baca al-Quran), dan orang yang mencari ilmu untuk mencari pujian manusia, agar ia dianggap sebagai orang ‘alim.

Dampak langsung dari keikhlasan dalam masalah ilmu adalah pada sikap seorang yang berilmu. Syeikh Amin menekankan perlunya belajar adab sebelum belajar ilmu. Seorang ulama, al-Laits Ibn Sa’ad memberi nasehat kepada para ahli hadits: “Ta’allamul hilm qablal ‘ilmi!” (Belajarkah sikap penyayang sebelum belajar ilmu!)

Para ulama terdahulu lebih banyak belajar adab kepada guru dibandingkan dengan belajar ilmu mereka. Ibnu Wahab mengatakan: “Apa yang aku pelajari dari Imam Malik adalah lebih utama daripada ilmu beliau.” Sejumlah sifat yang harus dimiliki oleh orang berilmu diantaranya: tawadhu’, takut kepada Allah, menjauhi sifat hasad (dengki), zuhud, dan sebagainya.

Syeikh Amin tampak sangat serius dalam masalah pentingnya kesungguhan dalam penguasaan ilmu dalam aktivitas dakwah dan kebangkitan umat Islam. Disamping dua kitab terdahulu, sejumlah kitab telah ditulis terkait dengan tema tersebut, seperti: Lā nahdhiyyah lil-ummah ill bi-nahdhiyyatin ‘ilmiyyah rāsyidah (Kairo: Dar el-Shafwah, 2013), al-Sabīl al-Shahīh ilā Thalabil ‘Ilmi al-Syar’iy (Kairo: Dar el-Shafwa, 2008), Ulamāu al-Sū’, ‘Ulamāu al-Dunyā (Kairo: Dar el-Shafwa, 2009), dan sebagainya.

BACA JUGA  Wan Mohd Nor Wan Daud: Adab yang Tinggi Terbentuk Melalui Islamisasi

Dalam Kitab Ulamāu al-Sū’, ‘Ulamāu al-Dunyā, Syeikh Amin memaparkan ciri-ciri ulama al-su’ (ulama jahat),diantaranya: Menyembunyikan ilmu, cinta dunia, dan mengikuti hawa nafsu.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apayang diturunkan Allah berupa al-Kitab dan menjualnya dengan harga murah, mereka itu tidaklah makan sesuatu kecuali api neraka, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka di Hari Kiamat dan Allah tidak mensucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS al-Baqarah: 174).

Cinta dunia dan bergantung padanya adalah pangkal segala kerusakan (hubbud-dunyā wal-ta’alluqu bihā ra’su kulli khathīatin). Itu bukan berarti ulama tidak boleh menikmati dunia, sebatas yang dihalalkan oleh Allah. Karena itu, sifat-sifat buruk yang melekat pada ulama jahat bisa dikembalikan pada pangkal masalah, yakni kecintaannya pada dunia. Itulah pentingnya mencari ilmu dengan kejujuran dan keikhlasan.

****
Disamping menganjurkan para pemuda aktivis dakwah agar bersungguh-sungguh dalam mandalami ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu yang diperlukan oleh umat Islam, Syeikh Amin juga menyarankan, agar mereka bersungguh-sungguh dalam usaha tazkiyatun nafs. Yakni, membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela. Sebab, Allah telah menjelaskan, sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh celakalah orang yang mengotori jiwanya. (QS al-Syams: 9-10).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah ketika membaca ayat: “wa nafsin wa-mā sawwāhā, fa-alhamahā fujūrahā wa-taqwāhā”, maka Rasulullah berhenti dan berdoa: “Allāhumma āti nafsiy taqwāhā, anta waliyyuhā wa-mawlāhā, wa-khayru man zakkāhā.” (Ya Allah, hadirkanlah ketaqwaan dalam jiwaku, Engkaulah pelindung dan tuan-nya, dan Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya).

Salah satu doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam: “Allāhumma inniy as-aluka nafsan muhmainnatan tu’minu bi-liqāika, wa-tardhā bi-qadhāika, wa-taqnau bi-‘athāika, wa-takhsyāka haqqa khasyyatika”. (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akan jiwa yang tenang yang beriman pada perjumpaan dengan-Mu, yang ridha terhadap keputusan-Mu, yang menerima pemberian-Mu, dan yang sungguh-sungguh takut pada-Mu).

Aktivitas tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) dilakukan dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah. Mensucikan umatnya (wa-yuzakkīhim) adalah salah satu tugas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, disamping mengajarkan kitab dan hikmah. Rasulullah menekankan pentingnya melakukan jihad melawan hawa nafsu ini: al-mujāhidu man jāhada nafsahū. Seorang mujahid adalah yang berjihad melawan hawa nafsunya. Jiwa yang tenang, sebagaimana doa Rasulullah, adalah yang ridha dan ikhlas menerima keputusan dan pemberian Allah. Jiwa seperti ini diraih melalui pemahaman aqidah yang kokoh dan latihan yang terus-menerus, tidak mengenal lelah.

****

Selama sekitar satu bulan di Sudan saya banyak mendapatkan informasi dan pengalaman dari para mahasiswa Indonesia yang sedang bergiat mencari ilmu di sini. Berbeda dengan kondisi beberapa negara, mencari ilmu di Sudan cukup berat tantangannya. Kondisi alam yang ekstrim – sangat panas dan sangat dingin di musim-musim tertentu – masalah perumahan dan sebagainya, juga menjadi tantangan bagi para mahasiswa. Tahun 2015 ini diperkirakan ada sekitar 500 mahasiswa Indonesia yang belajar di Sudan. Sebagian besar menimba ilmu-ilmu keislaman di Tingkat Strata-1.

Kondisi keamanan negara Mesir, Yaman, dan Suriah (Syiria) telah mendorong banyak mahasiswa Indonesia beralih ke Sudan. Uniknya, hampir semua yang datang ke Sudan ini mendapatkan beasiswa dari universitas-universitas di Sudan. Padahal, kondisi negara ini – secara fisik – masih di bawah Indonesia. Di Universitas Internasional Afrika saja, setiap tahun, disiapkan 100 kursi beasiswa untuk anak-anak Indonesia. Tahun ini, bahkan jumlah itu mencapai hampir 150 orang.

BACA JUGA  Adab Berpolitik Menurut Imam al-Ghazali

Di sela-sela jadwal kuliah formal mereka, banyak mahasiswa yang memanfaatkan kegiatan mengikuti halaqah-halaqah keilmuan di sejumlah masjid, seperti di Masjid Syeikh Amin. Ada yang sudah mengikuti majelis ilmu Syeikh Amin itu lebih dari delapan tahun. Selama itu mereka telah menamatkan banyak kitab penting dalam khazanah keilmuan Islam. Dalam halaqah-halaqah ilmiah inilah mereka bisa meningkatkan ilmu dan akhlak mereka, karena mereka dapat langsung belajar dari sikap para masyayikh yang ringan tangan menyediakan kitab-kitab yang dikaji.

Bukan hanya itu, sebagian masyayikh juga menyiapkan kendaraan jemput-antar bagi para pencari ilmu. Seorang murid Syeikh Amin bercerita, bahwa dalam beberapa kali halaqah, Syeikh Amin tidak kuasa menahan tangis, dan langsung pulang ke rumah, ketika membahas kasus-kasus pelecehan kepada Ibu Aisyah r.a. yang dilakukan orang-orang Syiah. Begitu pula, dalam berbagai kitabnya,

Syeikh Amin banyak mencontohkan para sahabat Nabi dan para ulama yang sangat tinggi akhlaknya. Majlis-majlis ilmu seperti inilah yang perlu dikembangkan; majlis ilmu yang menekankan ketinggian ilmu dan akhlak mulia.

Dalam berbagai acara dialog dengan mahasiswa Indonesia, saya merasakan tingginya minat mereka untuk mendalami ilmu dan mengamalkan ilmunya setelah pulang ke Indonesia. Banyak dari mereka yang merasakan beratnya biaya sewa rumah, khususnya bagi yang sudah menikah. Rumah sederhana yang termurah harus disewa sekitar Rp3 juta/bulan. Saya mengontrak rumah dengan dua kamar, seharga sekitar 8 juta/bulan. Sepatutnya pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang layak kepada para pencari ilmu agama ini.

Ke depan, sepertinya, akan semakin banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Sudan ini. Dengan segala kekurangannya, negeri Sudan saat ini menjadi tujuan dari para mahasiswa dari berbagai negara di dunia untuk mencari ilmu, khususnya dalam ilmu keislaman dan bahasa Arab. Saya berharap, ke depannya, pemerintah Indonesia akan meningkatkan perhatian dalam masalah pendidikan keislaman dan ketrampilan para mahasiswa kita di Sudan ini. Juga memberikan bantuan untuk meringankan beban para mahasiswa, agar mereka lebih mudah dan nyaman dalam mencari ilmu.

Dalam jangka pendek, Pemerintah Indonesia bisa menempatkan satu Asisten Pendidikan di Kedubes RI di Khartoum.

Para mahasiswa yang sedang menimba ilmu-ilmu keislaman ini adalah para mujahid ilmu yang doa-doa mereka insyaAllah maqbul. Jika ingin musibah asap segera sirna, hujan segera diturunkan Allah, dan krisis ekonomi negeri kita diringankan, tidak ada salahnya meminta bantuana doa para para pencari ilmu ini. Jangan sampai para haji yang sedang memimpin negeri kita berlaku tidak adil: para penghibur dihormati teramat tinggi, sementara doktor-doktor al-Quran yang pulang dari Sudan dan negeri-negeri lain, tidak dipedulikan nasibnya sama sekali. Walahu A’lam.*/Khartoum, 23 Oktober 2015

No Response

Leave a reply "Nasehat dan Teladan Syeikh Amin Al Hajj Sudan"