Musyawarah INSISTS Network: Membangun Tradisi Ilmu lewat Komunitas

Hadir dalam acara pembukaan pada 16/12/2011 sejumlah aktivis INSISTS antara lain Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Adian Husaini, Dr. Nirwan Syafrin, dan Adnin Armas, MA. Demikian juga, sejumlah anggota INSISTS network yang tersebar di beberapa kota di tanah air turut ambil bagian dalam acara tersebut.

Saat menyampaikan kata sambutan, Ustadz Hamid Fahmy kembali menekankan tentang pentingnya keberadaan sebuah komunitas yang fokus mengkaji keilmuan sebagai ciri utama berkembangnya ilmu. jika ‘ide’ dalam komunitas ini terus berkembang maka akan muncul sistem. Tinggal bagaimana mengembangkan dan mempertahankan kontinuitas  tesebut dalam lembaga-lembaga formal.

“Ketika ada wartawan yang bertanya, mengapa saya mendirikan INSISTS, maka saya jawab bahwa sudah banyak yang menjabat di partai politik, banyak yang mendirikan perguruan tinggi. Tapi, tak banyak yang memikirkan tradisi ilmu. INSISTS dalam situasi seperti ini didirikan, untuk membangun tradisi keilmuan Islam di Indonesia. Selain itu, lembaga pendidikan Islam berjalan tapi kurang berkembang. Pada saat yang sama ormas-ormas Islam langkahnya belum jelas dalam rangka membangun peradaban Islam. Adanya kedzaliman karena tidak ada tradisi ilmu. Ilmu kita masih belum bisa terlepas dari politik. Fatwa MUI tanpa buku putih, sehingga mudah dilecehkan orang liberal. INSISTS ingin mengisi kekosongan-kekosongan yang ada, agar bisa tersebar secara efektif,” jelas Ustadz Hamid.

Ustadz Adian Husaini kemudian menyambung apa yang telah dipaparkan oleh Ustadz Hamid. Ustadz Adian menjelaskan bahwa banyak yang telah INSISTS lakukan untuk mem-break down ide dan konsep keilmuan menjadi aktivitas keilmuan. Namun, atas aktivitas yang selama ini sudah berhasil dijalankan, masih perlu  peningkatan secara lebih profesional.

“Memang INSISTS masih memiliki banyak kekurangan. Namun sudah banyak hal dilakukan peneliti-peneliti INSISTS, seperti pernah berdialog dan berdebat dengan tokoh liberal, mengadakan workshop hingga ratusan kali, menerbitkan majalah serta buletin. Sebisa mungkin nanti di berbagai kota dibentuk komunitas lagi. Ke depan harus mampu menjdi katalisator, setiap kota harus ada pemikir-pemikirnya atau ilmuwan yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu tertentu, sehingga tahun depan bisa berkembang lagi,” jelas Ustadz Adian yang selama ini aktif mengkoordinir alumni ISTAC Malaysia untuk menggiatkan aktivitas keilmuan di tanah air lewat komunitas INSISTS.

Pencapaian INSISTS juga turut disokong oleh keberadaan ‘komunitas INSISTS’ yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, seperti PSPI di Solo, InPAS di Surabaya, ITCON di Malang, AFSIC di Aceh, dan masih banyak lagi yang lainnya. “Sudah bagus ada cabang-cabang INSISTS, seperti InPAS, PSPI Solo dan lain-lain sehingga banyak lahir aktivis-aktivis yang potensial,” kata Direktur INSISTS Ustadz Nirwan Syafrin.

Mengakhiri sesi pembukaan malam itu, Ustadz Adian menargetkan bahwa 10-15 tahun ke depan sudah muncul ulama-ulama yang diinginkan. Untuk itulah, maka INSISTS berencana menggodok program-program untuk Planning 2012. (Kartika Pemilia & Kholili Hasib)

 

BACA JUGA  Dr Moh Abdul Kholiq Hasan: Memahami Al-Qur’an, Mutlak Paham Bahasa Arab
No Response

Leave a reply "Musyawarah INSISTS Network: Membangun Tradisi Ilmu lewat Komunitas"