Model Abadi dan Terbaik untuk Peradaban Manusia

Written by | Fikih dan Syariah, Opini

1112

Oleh: Kholili Hasib

Beberapa  tokoh cendekiawan dan ahli ilmu pengetahuan Barat tercatat memiliki masalah etika pribadi yang buruk. Sehingga ada ketidak seimbangan antara ilmu dan etikanya. Auguste Comte (w.1857), dijuluki bapak Sosiologi modern, dikisahkan memiliki persoalan perilaku pribadi. Filosof Prancis yang dikenal dengan filsafat positivisme ini – yang dipakai dalam metodologi ilmiah hingga sekarang – dikenal sebagai orang yang kejam, tempramental, dan arogan. Pernah dibawa ke rumah sakit jiwa, lalu kabur sebelum sembuh.

Jean-Jacques Rousseau (w. 1778) memiliki kekasih yang memberi kesan buruk. Sophie, kekasihnya di usia tua memberi kesaksian tidak baik terhadap Rousseau. ‘Rousseau adalah orang yang cukup buruk untuk menakuti saya dan cinta tidak membuatnya lebih menarik. Dia adalah seorang tokoh yang menyedihkan dan saya memperlakukannya dengan kelembutan dan kebaikan. Dia adalah orang gila yang menarik’. Hingga kini, ia dicatat sebagai tokoh ahli filsafat politik.

Karl Marx (w.1883), ahli filsafat aliran kiri yang menjadi rujukan kaum komunis juga dicatat sejarah pada usia mudanya suka mabuk-mabukan. Ketika kuliah di Universitas Bonn Jerman, ia menghabiskan hari-harinya untuk membuat onar, mabuk-mabukan, hingga berkelahi (tawuran). Sampai-sampai orang tuanya memindahkan sekolah ke Universitas Berlin. Ternyata, kebiasaan buruknya berlanjut hingga usia tuanya.

Ketiga tokoh di atas adalah contoh dari sekian banyak ahli ilmu pengetahuan Barat yang memiliki masalah etika buruk. Ketiga tokoh ini sampai di abad modern menjadi rujukan dan buku-bukunya dipelajari. Bahkan tidak sedikit yang mengidolakannya. Bagi orang-orang yang mengambil ilmu mereka terlalu berpikir sederhana. Ambil ilmunya, jangan tiru perilakunya. Jelas aneh. Sebuah ironi. Suatu yang mustahil dalam tradisi kita.

Sosok tokoh seperti itu tentu saja tidak ideal dijadikan model oleh para pengikutnya, atau umat manusia. Cacat di sisi perilaku, pasti akan membuat ‘luka’ dalam pengetahuan yang dimiliki. Karena itu, peradaban Barat tidak pernah mencapai kemapanan etika. Sehingga menjadi peradaban yang ‘tidak selesai’. Tidak ideal untuk diikuti. Siapa tokoh paling puncak dalam peradaban Barat yang menjadi model bagi masyarakatnya untuk ditiru? Tidak pernah ada.

Dalam hal ini, Islam memiliki sosok yang memang disiapkan untuk menjadi tokoh puncak pembangunan peradaban. Nabi Muhammad Saw adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah Swt untuk umat manusia. Karena menjadi model abadi bagi peradaban manusia, maka segala sisi diberi kesempurnaan hingga menjadi insanu kamil (manusia sempurna).

BACA JUGA  Serba Indah di Jalan Sunnah

Syekh al-Buthi menjelaskan, Nabi Muhamad Saw dipilih dari suku terbaik dan dari rahim terbaik. Allah Swt memberi keistimewaan kepada bangsa Arab daripada bangsa-bangsa lain yang ada di bumi. Selama zaman fatrah (masa kekosongan dunia tidak ada Nabi) yang cukup lama itu, kerusakan manusia merata di seluruh bumi. Dari bangsa Persia, Romawi, Yunani, India, dan lain-lain masing-masing berlomba-lomba melakukan kerusakan menyerupai binatang. Adapun kerusakan dari bangsa Arab lebih ringan, jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa tersebut (Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqhu As-Sirah an-Nabawiyah, hal. 31).

Syekh al-Buthi menjelaskan alasan minimnya kerusakan yang terjadi pada bangsa Arab pada zaman itu. Jazirah Arab relatif tenang dan cenderung sepi dikunjungi bangsa-bangsa lain. Sehingga, lumayan jauh dari pengaruh bangsa-bangsa asing lain dari luar jazirah. Kunjungan bangsa lain tidak sampai mukim lama, biasanya untuk keperluan perdagangan.

Jika ditemui kerusakan perilaku jahiliyah, maka tidak menjadi kebiasaan yang benar-benar merati secara keseluruhan. Masih ada kelompok-kelompok – khususnya yang mukim di Makkah – yang menjaga tradisi kebaikan dari nenek moyangnya.

Keluarga Abdullah dan Aminah – orang tua nabi Saw – tidak memiliki catatan cela dan cacat dari segi perilakunya. Mereka berdua dari suatu klan bangsa Quraisy yang  tidak minum arak, dan tidak ada yang berzina. Mereka merupakan klan suci dari bangsa Quraisy.

Suku Qurasy sendiri merupakan qabilah terbaik dari bangsa Arab. Karena itulah, bangsa Arab di Hijaz memilih Quraisy sebagai penjaga Ka’bah. Secara turun-temurun. Suku Quraisy dikenal memiliki kelebihan leadership (kemampuan memimpin) dan jujur. Sesuai dengan sabda Nabi Saw: “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari anak Nabi Isma’il. Dari keturunan Kinanan Alah memilih Quraisy. Dari keturunan Quraisy Allah memilih Hasyim. Dari Bani Hasyim Allah memilihku” (HR. Muslim).

Maka, kelahiran Nabi Saw pun dinanti-nantikan banyak orang. Dari berbagai suku. Bahkan hewan sekalipun. Berita tentang nubuwah Nabi Muhammad Saw sudah “viral” di kalangan bani Israil dan orang Nasrani.

BACA JUGA  Wabah Suap di Sekitar Kita, Waspadalah!

Artinya, sosok Nabi Muhammad Saw melewati batas ruang dan waktu tertentu. Imam Qadhi Iyadh menerangkan, bahwa dua abad sebelum Nabi Adam as diciptakan, ruh dan cahaya Nabi Muhammad sudah ada (Qadhi Iyadh, As-Syifa’ bi Ta’rifi Huquqi al-Musthafa, hal. 43). Riwayat-riwayat tentang cahaya Nabi Saw yang lebih dulu ada dicatat dalam kitab Maulid Simthu al-Dhurar, karya Habib Ali Al-Habsyi. Berita-berita tentang keistimewaan Nabi Akhir Zaman itu sudah akrab di kalangan orang-orang beragama yang mengikuti nabi-nabi terdahulu.

Karena itu, begitu beliau lahir, maka semua makhluk menyambutnya. Sebab, enam abad lamanya bumi diselimuti kerusakan yang sangat parah dan sampai pada puncak kebejatan manusia. Bumi seakan muak dengan segala kerusakan. Maka, begitu Nabi lahir ke bumi, maka makhluk yang ada di bumi dan langit menyambutnya dengan gembira. Habib Ali Al-Habsyi dalam Simthu al-Dhurar menerangkan riwayat bahwa hewan-hewan yang dipelihara bangsa Quraisy mengeluarkan suara-suara fasih (nathaqat bi fasihi al-‘ibarah). Seakan berbicara memberitakan akan datangnya rahmat bagi alam semesta. Syekh Al-Buthi menulis, karena begitu hebatnya kemunculan Nabi Saw di bumi, maka sampai-sampai api bangsa Persia yang disembah sempat padam. Kursi raja Persia hampir saja jatuh karena kerasnya getaran seiring dengan kemunculan bayi bernama Muhammad bin Abdullah. Fenomena alam ini sesungguhnya memberi isyarat bahwa kemajusian bangsa Persia akan padam. Diganti dengan terangnya cahaya Islam. Sekaligus akan takluknya kerajaan super power Persia oleh bangsa Muslim.

Maka wajar Abul Hasan Ali an-Nadawi dalam Madza Khasiral ‘Alam binkhitatil Muslimin berpendapat bahwa kemunculan Nabi Saw adalah cahaya pembangun peradaban manusia yang enam abad sempat hancur, dan kewafatan Nabi Saw adalah kerugian besar bagi dunia. Lebih-lebih setelah Muslim tidak lagi mengambil puncuk pimpinan dunia. Pelajaran penting dari buku an-Nadawi ini adalah pentingnya melahirkan sosok-sosok manusia yang meniru kesempurnaan Nabi untuk mengambil alih kepemimpinan peradaban dunia saat ini.

Nabi Saw adalah insan kamil (manusia sempurna). Prof. Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki menulis kitab khusus menelaah sisi kesempurnaan Nabi Saw, berjudul Muhammad Al-Insan Al-Kamil. Mulai dari kesempurnaan sisi batin, dan kesempurnaan sisi lahirnya. Termasuk akal dan kecerdasannya. Sayid al-Maliki dalam kitab itu menerangkan, manusia di muka bumi ini yang paling cerdas dan paling tajam akalnya adalah Nabi Muhammad Saw.

BACA JUGA  Resolusi Jihad Mengawal Kemerdekaan

Agama Islam mendapatkan Nabi seperti Muhammad Saw adalah anugerah besar yang tidak diperoleh oleh umat-umat para nabi terdahulu. Kesempurnaan Nabi Saw bersifat abadi. Karena itu, ia lebih pantas untuk dijadikan model (uswah) setiap saja dari umat manusia yang ingin menjadi bangsa yang baik. Dalam hal ini Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menulis: “Beliau (Nabi Saw) mewakili wujud kesempurnaan dan penghabisan pada manusia. Beliau adalah teladan sempurna bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan, remaja, paruh baya, dan orang tua. Sehingga Muslim tidak mengalami krisis identitas, maupun pencarian tragis dan yang tak berbuah hasil karena memisahkan makna dan nasib” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, hal. 87).

Karena itu, peradaban umat Muslim tidak pernah mengalami krisis identitas. Mereka dari dahulu hingga kini tetap berjalan dan berada pada jalur yang tetap. Tidak berubah-ubah dan stabil. Hal ini berbeda dengan masyarakat Barat sekular yang tidak menemukan sosok model abadinya. Sehingga mereka, sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, bergerak di dalam lingkaran ketidakbahagiaan yang tidak putus-putus di mana setiap generasi terus-menerus tidak puas dengan nilai-nilai kehidupannya sendiri.

Sedangkan umat Muslim memiliki budi-pekerti yang didasarkan oleh pandangan alam Islam yang berpusat pada Nabi Muhammad Saw sebagai modelnya. Masyarakat Muslim dipandu oleh peradaban berbudi yang suci yang disebut al-hadharah al-fadhilah sebuah peradaban yang penuh nilai-nilai akhlak suci (Wan Mohd Nor Wan Daud, Kenirwaktuan Nabi Muhammad di dalam Peradaban Islam). Sementara masyarakat modern Barat sekular yang tidak menemukan kepastian nilai-nilai hidup itu lantas mencari-cari sendiri. Selalu berubah-ubah sesuai selera dan pilihan. Antara tokoh satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Bahkan saling berselisih. Karena itulah peradaban masyarakat Barat itu peradaban yang ‘belum jadi’. Tidak menemukan identitas jati diri yang abadi. Sesuatu yang selalu berganti-ganti membuat umat manusia kekurangan kebahagiannya.

 

 

 

 

 

 

 

Last modified: 06/11/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *