MISIONARISME KEBUDAYAAN: PENETRASI KATOLIK DALAM KEBUDAYAAN JAWA

Hal ini berbeda dengan evangelisasi dan missionarisme dalam Kristen maupun Katholik.

 Dalam “The Decree on The Missionary Activity of the Church” (Ad Gantes), disebutkan bahwa, “Gereja –apapun namanya- memiliki tugas suci untuk menyebarkan Injil kepada seluruh bangsa dan seluruh manusia. Sebab itu, semua manusia harus dijadikan Kristen dan menerima Yesus sebagai juru selamatnya.”Dokumen ini disetujui dengan voting para peserta konsili dengan suara 2394 setuju dan 5 menolak dan diumumkan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965.[3]

Oleh karena itu dalam sebuah imbauan bertajuk “Pope Calls On Catholics To Spread Christianity”, Paus John Paul II, mengeluarkan fatwa gerejani agar kaum katholik mengambil tindakan untuk menyebarkan agama katholik. Ia mengemukakan pentingnya untuk melakukan Kristenisasi terhadap semua bagian dunia (to evangelise in all parts of the world). Tanpa menyebut nama negara secara langsung, Paus menyinggung negara-negara di Afrika, Timur Tengah dan Asia dimana para missionaris ditolak kehadirannya. Kepada mereka Paus menyerukan Open the doors to Christ! (Bukalah pintu untuk Kristus.[4]

II. Perjumpaan Kristen dengan Budaya Jawa

Pemilihan budaya Jawa sebagai obyek evangelisasi dikarenakan terdapat beberapa faktor keagamaan dan etnografis yang bisa dimanfaatkan dalam misi Kristen. Di antaranya orang-orang Jawa dikenal berminat pada kecenderungan mistis. Mereka menyebut kecenderungan ini sebagai “mencari ngelmu” (keinginan untuk memperoleh kebijaksanaan). Yang erat berkaitan dengan kecenderungan ini adalah kesediaan untuk menerima dan bersikap toleran terhadap ajaran lain.[5] Yang menarik menurut Prof. Dr. Slamet Muljana, inti dari kebudayaan Jawa adalah pemujaan leluhur. Pemujaan arwah leluhur itu sendiri tidak merupakan agama bagi rakyat, tetapi bagian unsur penting dari ibadahnya. Alasan-alasan yang menjadi dasar upacara atau semangat yang menjadi bukanlah bidang pemikiran rakyat, tetapi bidang pemikiran pendeta/ulama.[6]Oleh karena itu pergantian agama bagi masyarakat Jawa bukan merupakan unsur penting selama tidak menghilangkan substansi dasar kepercayaannya. Karena itu seringkali dinyatakan bahwa jenis Islam yang berkembang di Jawa menyediakan lahan subur bagi perkembangan agama Kristen dibandingkan dengan bentuk-bentuk Islam yang ada di tempat lain.[7]

Setidaknya ada dua macam penetrasi kristen ke dalam masyarakat Jawa, yakni penerjemahan alkitab ke dalam bahasa Jawa dan pemakaian kebudayaan Jawa ke dalam praktik kekristenan. Penerjemahan Alkitab ke bahasa Jawa dilakukan oleh Johannes Emde di tahun 1811. Emde adalah seoarang Kristen Jerman yang tinggal di Surabaya dan mengawini seorang perempuan Jawa. Johanes Emde kemudian membangun kongegrasinya di Surabaya yang kemudian dikenal dengan nama “Keshalehan Surabaya”.

Sedangkan tokoh yang berperan signifikan dalam perkembangan inkulturasi budaya Jawa dengan Kekristenan adalah Coenraad Laurens Colen.

Coenraad Laurens Coolen, Bapaknya yang asal Rusia bermigrasi ke Indonesia sebagai prajurit upahan VOC. Ibunya adalah seorang perempuan Jawa dari keturunan bangsawan. Dari bapaknya Coolen mewarisi nilai-nilai agama Kristen Barat, sedangkan dari ibunya dia mewarisi ruh mistik dan kebudayaan Jawa. …. Dia mendakwahkan kepada kelompoknya bahwa untuk menjadi orang kristen, mereka tidak harus meninggalkan watak dan kebudayaan Jawa mereka. Karena itu Coolen tidak mengizinkan seorangpun dari mereka untuk dibaptis. Dalam upaya untuk men Jawa kan agama Kristen dalam bentuk dan karakternya, Coolen memanfaatkan wayang untuk menceritakan kisah-kisah alkitab dan menyampaikan pesan-pesannya.[8]

Akibat penekanan Coolen kepada kebudayaan Jawa, beberapa komunitas kristen yang dipimpin para penginjil Jawa bermunculan. Di antara orang-orang kristen Jawa itu adalah Singotruno, Paulus Tosari, Matius Niep dan yang paling berpengaruh adalah Sadrach. Konsep Coolen dan para pengikutnya inilah yang belakangan berkembang dan disebut inkulturasi (inculturation).[9]

Meskipun inkulturasi berkembang dalam tradisi kristen akan tetapi karena watak puritan kristen menyebabkan inkulturasi tidak berkembang dalam agama kristen. Para missionaris Eropa yang diwakili Frans Lion Cachet (1835-1899) sangat menentang inkulturasi versi Sadrach.

Misi harus memisahkan diri dari Sadrach si pembohong, yang meracuni bidang misi kita sepenuhnya dan melahirkan sebuah agama Kristen Jawa yang sama sekali tidak memberikan tempat bagi Kristus.[10]

Dalam perkembangan selanjutnya gereja Katholik secara khusus mengadopsi konsep inkulturasi ini, lebih-lebih setelah adanya konsili Vatikan II. Dalam hal ini Bernhard Meyer SJ, mengemukakan :

Konsili Vatikan II secara umum mengungkapkan penghargaan tinggi untuk karya seni dan para seniman, khususnya kesenian sakral. Ditekankan bahwa kesenian jaman sekarang dan budaya para bangsa hendaknya diakui dan hendaknya mendapat tempat dalam liturgi. Juga kesenian jaman sekarang, punkesenian semua bangsa dan daerah, hendaknya diberi keleluasaan dalam gereja, asal dengan khidmat dan hormat sebagaimana harusnya mengabdi kepada kesucian gereja-gereja dan ritus-ritus.[11]

Menurut J.B. Banawiratma, istilah inkulturasi berasal dari lingkungan katholik Roma. Dokumen resmi pertama yang menggunakan istilah ini adalah “Message ton the People of God” dari Sinode Para Uskup di Roma pada tahun 1977. Pada kesempatan itu, “Pedro Arrupe, Pemimpin Umum Sarikat Jesus (SJ) ketika itu, berbicara tentang katekisasi dan inkulturasi.[12] Beberapa pengertian tentang inkulturasi telah banyak dirumuskan oleh para pakar, di antaranya A. Roest Crollius SJ yang merumuskan inkulturasi sebagai berikut:

Inkulturasi gereja adalah integrasi pengalaman kristen sebuah gereja lokal ke dalam kebuadayaan bangsa tertentu sedemikian rupa sehingga pengalaman itu tidak hanya mengungkapkan dirinya dalam elemen-elemen kebudayaan bangsa itu, melainkan menjadi kekuatan atau daya yang menjiwai, mengarahkan dan membaharui kebudayaan itu, dan dengan itu menciptakan satu persekutuan baru bukan saja dalam kebudayaan tertentu melainkan juga sumbangan untuk gereja universal.[13]

Pada tahun 1925 musik Jawa pertama kali masuk dalam gereja-gereja sebagai lagu gereja. Perintis masuknya lagu gereja dengan gamelan Jawa adalah C. Hardjosoebrata, dengan karangannya antara lain “Atur Roncen”, “Sri Yesus Mustikeng Manis” dan “O Kawula Punika”.[14]

Saat ini inkulturasi sudah menjadi denyut nadi utama dalam agama Katholik di Jawa. Beberapa praktik inkulturasi tersebut antara lain:

·Gereja Katholik Ganjuran Yogyakarta dan Gereja Katholik “San Inigo” Dirjodipuran Surakarta dalam perayaan ekaristinya menggunakan bahasa Jawa. Mulai dari do’a, bacaan Injil, homili atau khotbah sampai do’a Syukur Agung.

·Gereja Purbawardayan merupakan salah satu paroki di Kevikepan Surakarta yang sering menyelenggarakan perayaan Natal dengan mengadakan pentas sendratari kelahiran Yesus. Bahkan pada tahun 1998 mengadakan pementasan Kethoprak.

·Sendang Sono sebagai tempat ziarah untuk berdevosi[15] kepada Bunda Maria, pada mulanya adalah tempat orang-orang Jawa dahulu bersemedi, untuk membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup mereka.

·Dalam Pesta Intan Gereja Katholik Ganjuran tanggal 27 Juni 1999, diadakan upacara adat Jawa “Gunungan” dimasukkan dalam upacara gereja, yaitu setelah prosesi sakramen Maha Kudus. Selanjutnya gunungan yang berisi hasil bumi dibagikan kepada ummat, agar mendapat berkah yang berlimpah dari Sang Maha Pencipta. [16]

Dari paparan di atas maka proses inkulturasi bukan sekedar peristiwa budaya, lebih tepat ia adalah peristiwa keagamaan. Dalam hal ini kita tidak dapat memisahkan inkulturasi dengan evangelisasi[17] atau pewartaan injil dalam gereja. Inkulturasi merupakan salah satu segi yang tidak terpisahkan dari evangelisasi. Tujuan evangelisasi adalah untuk menghadirkan Injil dalam kehidupan harian sebagai bukti kehadiran Kristus dalam dirinya. Hal ini sesuai dengan amanat dari Paus Yohannes Paulus II :

Kristus dan gereja tidak boleh asing dari suku, bangsa atau kebudayaan manapun. Pesan Kristus teruntuk semua kepada semua orang. … dimana saja ia berada. Gereja harus menanamkan akarnya dalam-dalam ke dalam tanah rohani dan budaya setiap negeri.[18]

III. IMAM PRIBUMI DAN GEREJA LOKAL

Dalam upayanya menumbuhkan misionaris dari kalangan pribumi, Van Lith tidak segan untuk mendatangi keluarga para bangsawan di sekitar Kraton Yogyakarta dan Pakualaman. Dengan demikian akan didapatkan bibit unggul dari kalangan priyayi, sehingga alumni sekolah gurunya nanti akan menjadi kelompok elit baru yang akan menjadi panutan di lingkungan masing-masing.[19] Usaha Van Lith tidak sia-sia, terbukti pada tahun 1940 Mgr. Soegijopranoto ditahbiskan sebagai uskup pribumi pertama di Indonesia.[20]

Selain nama besar Van Lith, untuk wilayah Yogyakarta, yang menjadi pioner misi Katolik adalah Pastor Henri van Driessche, seorang yang berkulit putih (Belanda) mampu berkomunikasi secara lancar dalam bahasa Jawa. Lebih penting lagi, melalui bahasa Jawa halus, pada dasarnya ia telah menempatkan orang Jawa pada posisi yang dihormati. Lebih dari itu Pastor Henri van Driessche berusaha untuk ajor- ajer (melebur/menyatu) dengannya.[21]

Di hadapan anak-anak, seperti halnya di hadapan orangtua, Pastor van Driessche selalu berusaha untuk mengapresiasi aspek-aspek positif kebudayaan Jawa yang masih hidup di tengah-tengah masyarakat. Tembang-tembang Jawa yang dilatunkan tentu saja tidak hanya berfungsi sebagai sarana keakraban, tetapi juga dapat menyajikan nilai-nilai tertentu bagi para siswa. Disini terlihat secara jelas, meskipun tugas pastor van Driessche adalah memberikan pelajaran agama, sesuatu yang sama sekali baru bagi para siswa, ia tidak keberatan menghadirkan kearifan-kearifan lokal. Dengan cara demikian para siswa, meskipun sedang dalam rangka mencari kebaruan, tetap merasa di rumah budaya sendiri. Mereka tidak diasingkan dari apa yang telah dimiliki sejauh hal itu tidak bertentangan dengan iman katolik.[22]

Bertempat di rumah R.P. Himawidjaja, orangtua salah satu siswa kolese Muntilan, Pastor Henri van Driessche memulai pengajaran agama Katolik untuk masyarakat Yogyakarta. Pengajaran ini atas inisiatif sang murid yang ingin keluarganya diajar mengenai agama Katolik. Meskipun jumlah peserta pelajaran pertama sedikit, jerih payah pastor Henri van Driessche di Yogyakarta membuahkan hasil.

Rumah R.P. Himawidjaja di Kumendaman tidak hanya penting karena Pastor van Driessche untuk pertama kalinya memberikan pelajaran agama di Yogyakarta. Rumah ini, dalam konteks gereja, sungguh merupakan rumah tonggak sejarah. Betapa tidak! Dari rumah tempat pertama kali Pastor van Driessche menyampaikan pelajaran agama bagi keluarga siswanya tersebut akan lahir imam Jesuit RPA. Djajasepoetra. Seorang biarawati Fransikanes Jawa pertama. Ia adalah R.A. Adriana Roebijah Himawidjaja. “Awal Mulanya adalah Muntilan”, demikian kira-kira komentar yang paling cocok untuk fenomena Kumendaman pada 1914 dan masa-masa sesudahnya.[23]

Pada 5 Agustus 1915 ia mulai melakukan pembaptisan, yang kemudian disusul dengan pembaptisan baru terhadap 13 orang dewasa pada Juli 1916.[24] Lebih lanjut seiring dengan semakin banyaknya jemaat, Pastor Henri van Driessche mulai memikirkan perlunya suatu tempat ibadah khusus bagi orang-orang Jawa, sebab gereja yang ada yaitu Santo Fransiskus Xaverius terlalu kecil untuk menampung umat Eropa dan Jawa secara bersama-sama. Untuk itu, Pastor van Driessche kemudian mengatur sebuah ruangan HIS yang cukup besar sebagai tempat ibadat.

Tempat ibadat yang diusahakan pastor Henri van Driessche bersifat darurat dan dipakai beberapa tahun sebelum gereja Katolik pertama yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang Jawa selesai dibangun. Pada 25 Desember 1918 tempat ibadat di HIS telah dipakai untuk misa natal, yang dihadiri oleh 250 orang dan kebanyakan adalah anak-anak. Pada mulanya gereja amat sederhana, bahkan ketika misa natal perdana dilangsungkan, umat yang hadir harus duduk di atas tikar. Gelaran tikar itu, berpadu dengan nyanyian khotbah berbahasa Jawa memberikan nuansa yang sama sekali berbeda dengan gereja katolik di dekatnya yang kebanyakan digunakan oleh jemaat eropa. Tempat ibadat darurat itu akan dipakai hingga bangunan gereja yang lebih permanen berhasil dibangun pada tahun 1921 di kompleks yang sama dekat pastoran. Gereja ini kemudian dikenal dengan sebutan gereja katolik santo yusup Secodiningratan.[25]

IV. Franciscus Georgius Josephus Van Lith dan Cikal Bakal Katolik Jawa

Bertumbuh kembangnya misi Katolik di Jawa tidak dapat dipisahkan dari kiprah Fransiscus Georgius Josephus van Lith.[26] Ketokohan van Lith ini dikenang secara khusus dalam kunjunganPaus Yohanes Paulus II di Yogyakarta pada tanggal 10 Oktober 1989. Dalam pidato yang disampaikan di hadapan puluhan ribu umat Katolik di stadion Kridosono Yogayakarta, Paus Paulus Yohanes II menyampaikan bahwa kedatangannya adalah untuk mengenang mereka yang telah meletakkan dasar bagi umat-Nya di Pulau Jawa yaitu Romo van Lith dan dua orang muridnya, Mgr. Soegijapranata dan IJ Kasimo.[27] Peristiwa ini menunjukkan jasa besar van Lith dalam mengembangkan misi Katolik di Jawa.

Langkah besar Van Lith dimulai ketika pada tahun 1904 membuka sekolah Kolese Xaverius yaitu sekolah guru di Muntilan[28]. Sekolah ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari kursus pelatihan untuk para katekis di Semarang. Kolese ini didirikan di Bedono pada tahun 1896. Dalam pandangan van Lith proyek ini gagal karena para katekis yang menjadi asisten kepercayaannya lebih memanfaatkan kepercayaan van Lith untuk memperkaya dirinya.[29] Setelah mengevaluasi kegiatan misi selama ini, van Lith menyatakan :

Usaha misi diantara bangsa Jawa mulai dengan metode yang salah: mewartakan Injil kepada individu. Kita harus insaf bahwa karya kita bergantung pada pendidikan pemimpin dan guru.[30]

Mengingat peran strategis yang bisa didapat oleh Kolese Xaverius, mulai tahun 1904 van Lith mengkonsentrasikan kegiatannya pada perkembangan sekolah sebab sejalan dengan kebijakan politik etis Belanda, peran guru menjadi sangat sentral dalam masyarakat. Apalagi van Lith mulai merasakan keberhasilan misi dalam mengkonversikan keagamaan para murid di Kolese Xaverius.

Pembukaan sekolah-sekolah desa sejak tahun 1907 merupakan permulaan riil dari pendidikan massal mengikuti cara Barat di seluruh wilayah Hindia Belanda, hal itu terbukti mendatangkan peluang kerja yang amat besar bagi jebolan sekolah Muntilan. Anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya muslim. Mereka semua tamat sebagai orang Katolik. Beberapa kelompok siswa pertama melanjutkan studi mereka untuk menjadi imam. Tahun 1940 Mgr. Soegijapranata ditahbiskan sebagai uskup pribumi di Indonesia. Ia terbilang diantara para pentobat yang pertama. Kolese Xaverius, demikian sekolah yang dibangun van Lith itu disebut sejak tahun 1910, menjadi buaian bagi sebuah kelompok Katolik yang penuh percaya diri di tengah-tengah mayoritas muslim.[31]

V. Inkulturasi dalam Budaya dan Sastra

Meskipun pendidikan menjadi strategi utama van Lith dalam melakukan penetrasi misi Katolik ke kalangan pribumi, akan tetapi vanLith juga tidak melupakan strategi kebudayaan yang diharapkan akan mengakselerasi perkembangan Katolik di Jawa. Oleh karena itu van Lith mengadopsi unsur-unsur budaya Jawa yang sudah dilepaskan unsur keislamannya.

Para Yesuit yang berkarya di Jawa Tengah menghadapi keadaan yang kian dinamis berkenaan dengan agama Islam formal. Walaupun pada umumnya diterima keadaan religius di Jawa pada umumnya dan lebih khusus lagi di Jawa Tengah lebih majemuk daripada sekedar cap Islam untuk seluruh penduduk, namun agama itu tidak dapat lagi diabaikan begitu saja. Akan tetapi, dalam strategi Yesuit atau malah misi Katolik pada umumnya dari paruh abad ke 20, hal yang dianggap penting ialah penyesuaian dengan budaya Jawa, setidak-tidaknya dalam teori dan juga dalam praktik sejauh mungkin hal itu dimungkinkan. Semua konfrontasi langsung dengan agama Islam mesti dihindari, dan dalam strategi ini, penyangkalan atas jati diri muslim Jawa atau setidak-tidaknya peremehan atas unsur Muslim dalam budaya Jawa tetap merupakan sebuah faktor yang kuat.[32]

Dalam pandangan van Lith, kebudayaan Jawa hanya menerima pengaruh tipis dari Islam yang sering disimbolikkan dengan pakaian. Baginya orang Jawa merupakan orang yang dijiwai kebudayaan pra-Islam. Kemudian dia memakai kain dan baju Islam, tetapi begitu tipis dan begitu berlubang-lubang sehingga kulitnya yang asli masih kelihatan. Karena itu oleh van Lith, orang Jawa yang masuk Katolik justru disarankan untuk menjauhkan diri dari kebudayaan Eropa, karena masuk Katolik bukan berarti menerima peradaban Barat. Sebaliknya orang Katolik justru harus melanjutkan hidupnya dalam kebudayaan Jawa.[33]Lebih jauh Steenbrink memaparkan beberapa langkah pragmatis van Lith dalam mengintervensi budaya Jawa.

Untuk itu mereka memisahkan kebudayaan Indonesia (khususnya Jawa) dari agama Islam dan hendak menyesuaikan diri dengan kebudayaan Jawa, yang mereka anggap sesuatu yang lepas dari agama Islam. Unsur Islam yang ada di dalamnya dengan mudah bisa dihindari menurut pengamatan mereka. Menghadiri selamatan orang Islam, terus melaksanakan khitan pada umumnya bukan merupakan kesulitan bagi orang-orang Katolik, asal mereka tidak diwajibkan mengikuti doa Islam yang dipakai di acara itu. Malah van Lith pernah mengusulkan supaya orang Katolik dikawinkan oleh penghulu, karena penghulu tidak dianggapnya sebagai pegawai atau pejabat agama, tetapi sebagai sipil saja: selama penghulu mengawinkan tanpa formula Islam, maka mestinya orang Katolik tetap kawin di hadapan penghulu.[34]

Eksperimen budaya yang dilakukan van Lith memang tidak selamanya berhasil. Upaya untuk menikahkan pasangan Katolik di hadapan penghulu tidak pernah terealisasikan. Meski demikian upaya pemisahan antara budaya Jawa dengan Islam terus berjalan intensif. Generasi Katolik pribumi didikan van Lith terbukti mampu melahirkan banyak tulisan mengenai budaya Jawa.

Artikel tentang kesenian antara lain karya A. Soegijapranata tentang tari-tarian orang Jawa, D. Hardjasoewanda tentang Masjid di Jawa, H. Caminada tentang jathilan atau kuda kepang, B. Coenen tentang wayang, J. Awick tentang gamelan dan C. Tjiptakoesoema tentang rumah para Pangeran Jawa dan Gereja Katolik Bergaya Jawa. Dari persoalan-persoalan di atas, terlihat bahwa substansi yang dibicarakan cukup beragam, meliputi seni tari, musik, wayang, pakaian dan arsitektur.

Selaian masalah seni dan kebudayaan, pandangan hidup dan adat istiadat orang Jawa juga menjadi kajian yang serius di kalangan Katolik.

Artikel mengenai adat-istiadat dan kepercayaan tradisional Jawa ditulis antara lain oleh H. Caminada tentang cara orang Jawa menentukan hari baik dan hari buruk, H. Fontane tentang cara orang Jawa menyelenggarakan pesta, A. Soegijapranata tentang orang Jawa dan agama yang dipeluknya, anonim, tentang orang Jawa dan arah mata angin, H. Caminada tentang takhayul Jawa dalam ngelmu tuju, J. Dieben tentang ilmu rasa, C. Tjiptakoesoema tentang ngelmu Jawa. Beberapa artikel yang ditulis non Jesuit antara lain tulisan August tentang arti nama bagi orang Jawa dan A.D. Nitihardjo tentang pesta sepasaran/lima hari kelahiran anak.[35]

Artikel-artikel tersebut dimuat dalam majalah St. Claverbond yang terbit 10 kali dalam setiap tahun. Ada satu karya tulis dari pastur Jesuit yang dianggap mampu menangkap inti dari kebudayaan Jawa, yaitu disertasi dari Petrus Joshepus Zoetmulder yang terbit di tahun 1935. Dalam disertasinya yang berjudul Pantheisme en Monisme In de Javaansche Soeloek-Litteratuur Piet Zoetmulder dianggap mampu mengungkap inti pandangan ketuhanan masyarakat Jawa melalui telaahnya terhadap serat centhini dan pelbagai karya sastra suluk Jawa. Menurut Dick Hartoko, meskipun penelitian ilmiah (mengenai kebudayaan Jawa) tidak pernah berhenti. Tetapi ini tidak menggoyahkan patokan-patokan yang ditancapkan oleh Dr. Zoetmulder setengah abad yang lalu.[36] Zoetmulder dianggap berhasil menangkap isi hati orang Jawa. Mengenai Zoetmulder ini Prof. Mukti Ali memberikan catatan khusus.

Penting disebutkan disini pastor P.J. Zoetmulder, SJ, yang dengan serius mempelajari agama-agama di Jawa termasuk Islam, khususnya Islam Jawa. Ia banyak menulis brosur tentang Nabi Muhammad yang menunjukkan sikapnya yang simpatik sebagai seorang pastor muda di Indonesia sejak tahun 1925. Dalam bukunya Pantheism en Monism in de Javaansche Soeloek literatuur (1935) ia membahas aspek-aspek mistik Islam dan mistik Islam Jawa. Ada artikel pendek dengan bahasa Perancis yang membahas tentang kedatangan Islam di Indonesia dan Portugis Katolik di Maluku (L’Islam en Indonesie : la colision avec catholicisme, En Terre d’Islam (1938). Zoetmulder menghabiskan sebagian besar waktunya sejak tahun 1940 di Yogyakarta sebagai Guru Besar Filsafat dan bahasa Jawa di pelbagai universitas dan perguruan tinggi. Pembahasannya yang langsung tentang Islam di Indonesia terdapat dalam tulisannya ”Der Islam” dalam Waldemer Stohr and Piet Zoetmulder, Die Religionen Indonesiens (1965), yang dapat dikatakan informasi yang baik yang membahas tentang aspek-aspek sejarah, hukum Islam dan hukum adat, pendidikan Islam dan mistik Sumatra dan Jawa. Zoetmulder merupakan otoritas terkemuka dalam bahasa dan literatur Jawa kuno.[37]

Pengakuan dari Prof. Mukti Ali ini menunjukkan posisi penting karya Zoemulder dalam pengembangan penelitian mengenai mistik Jawa. Menurut Zoetmuler,

Persemayaman Tuhan di dalam diri manusia lebih mengingatkan kita akan ajaran mengenai Atman dalam agama Hindu daripada akan mistik Islam. Dalam Chandogya-Upanisad (3,14) Sandilya memaparkan ajarannya yang tersohor mengenai Atman pribadi yang berada di lubuk hati manusia, lebih kecil dari sebutir beras atau gandum atau sebutir biji sawi atau sebutir jewawut, yang sama dengan Brahma dan oleh karena itu lebih besar dari bumi, daripada angkasa, daripada langit. Sesudahnya Sandilya penyamaan jiwa individu dan jiwa semesta alam merupakan jantung theologi Hindu. Sukarlah, bila tidak mustahil, menentukan mana bagian Islam dan mana bagian Hindu, atau Jawa Hindu dalam pengaruhnya terhadap ajaran mengenai Tuhan di dalam diri manusia, seperti sekarang ditemukan di Pulau Jawa. Bahwa jumlah istilah Arab disini lebih sedikit daripada dalam teks-teks tersebut di atas, mungkin dapat ditafsirkan, bahwa pengaruh Islam disini tidaklah begitu besar.[38]

Pengidentikan Jawa lebih kepada Hindu tetap mendapatkan titik tekan dalam pandangan Zoetmulder. Meskipun Zotmulder juga tidak menafikan adanya peranan Islam di dalamnya, meskipun Islam yang telah terpengaruh alam religius India.

Tetapi tulisan-tulisan suluk tidak menjiplak sistem-sistem dari Arab ataupun India, apalagi mengolah atau mengembangkannya secara mandiri. Hanya beberapa gagasan pokok yang dikutip dan diolah secara kepingan-kepingan. Pengambilan alih ide-ide itu seringkali tidak langsung dari sumbernya, melainkan lewat Islam yang telah terpengaruh oleh alam religius India dan khususnya lewat alam religius Hindu Jawa.[39]

Pandang Zoetmulder ini kemudian menjadi mainstream dalam banyak penelitian mengenai agama Jawa atau kebudayaan Jawa. Beberapa buku tentang Jawa pada periode berikutnya masih mengacu pada kerangka berpikir Zoetmulder bahkan lebih menspesifikkan lagi tentang apa yang disebut sebagai agama Jawa, sebagai inti dari agama apapun yang masuk ke Pulau Jawa. Jadi meskipun banyak agama besar silih berganti masuk ke Jawa namun struktur inti kepercayaan Jawa bersifat tetap. Pandangan ini kental dalam buku Paul Stange, Politik Perhatian, Rasa dalam Kebudayaan Jawa, atau buku dari Niels Mulder, Mistisisme Jawa, Ideologi di Indonesia dan Etika Jawa, Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, karya Frans Maginis Suseno.

KESIMPULAN

Struktur masyarakat Jawa yang hierarkhis juga mampu dimanfaatkan dengan baik oleh van Lith. Sehingga van Lith bersikap menjemput bola untuk mencari calon muridnya, yang diambil dari keluarga priyayi. Priyayi adalah kelas sosial yang menjadi impian di kalangan pribumi. Oleh karena itu anak didik van Lith diarahkan untuk menjadi centre of excellent di tengah-tengah masyarakat. Proses terbentuknya umat Katolik awal yang berasal dari pengajaran van Driessche di rumah Himawidjaja adalah bukti dari efektifitas rekruitmen van Lith. Pengajaran di rumah Himawidjaja muncul atas inisiatif murid yang mengundang van Driessche untuk memberikan pengajaran Katolik kepada keluarga dan lingkungannya.

Penguasaan bahasa Jawa dan kebudayaan Jawa juga mampu mengkaselerasi misi Penginjilan van Lith. Mulai dari bentuk arsitektur gereja dan Kolese Xaverius, ketersediaan perangkat gamelan, sampai menjadikan bahasa Jawa sebagai salah satu pengantar dalam memberikan pengajaran. Van Lith menyadari bahwa proses Islamisasi yang belum selesai di Pulau Jawa memberikan peluang yang besar untuk misi penginjilan secara luas. Oleh karena itu van Lith melakukan sekularisasi budaya Jawa, yaitu memilahkan unsur-unsur pembentuk budaya Jawa dan menyingkirkan variabel Islamnya. Penolakan terhadap pengajaran bahasa Melayu juga dimaksudkan untuk mencegah masuknya pengaruh Islam, sebab bahasa Melayu identik dengan pengembangan dakwah Islam.

Keseriusan para misionaris Jesuit pimpinan Van Lith untuk menguasai kebudayaan Jawa juga terlihat dari tulisan para kolega dan muridnya di jurnal St. Claverbond yang mengupas semua sisi dari kebudayaan Jawa, mulai dari seni tari, seni musik, arsitektur dan aneka unsur budaya Jawa lainnya. Yang paling monumental dalam tulisan Jesuit mengenai budaya Jawa adalah Disertasi dari P.J. Zoetmulder mengenai mistik Jawa yang berjudul Pantheisme en Monisme In de Javaasche Soeloek-Litterature. Karya ini sampai sekarang masih menjadi rujukan utama dalam meneliti dan mempelajari mistisisme Jawa. Wacana manunggaling kawula Gusti sampai saat ini merupakan idiom utama dalam buku-buku tentang kebudayaan Jawa. Zoetmulder meminggirkan peras Islam dalam membentuk theologi Jawa, dan menjadikan pandangan Atman dari tadisi Hindu sebagai aktor utama pembentuk theologi Jawa. Penempatan Islam sebagai kulit ari, ini diamini oleh banyak javanolog seperti Frans Magnis Suseno, Paul Stange maupun Niels Mulder. Para penyanggahnya seperti Mark Woodwad maupun Andrey Muller masih merupakan pemikir pinggiran tentang Jawa.

Herry van Driessche melangkah lebih jauh dalam proses inkulturasi budaya. Keberhasilan memberikan pengajaran Katolik di rumah Himawidjaja mengantarkannya menjadi gembala umat pertama di Gereja Katolik Ganjuran. Arsitek Candi dan model liturgi dengan menggunakan budaya setempat menjadikan Ganjuran sebagai gereja yang mempunyai arti tersendiri di tubuh Gereja Katolik Indonesia. Tercatat nama besar Mgr. Soegijapranata dan Kardinal Justinus Darmoyuwono pernah menjadi imam di gereja Katolik Ganjuran.

Masuknya elemen budaya Jawa dalam bangunan gereja dan prosesi liturgi menjadikan ummat merasa memiliki Katolik, yakni sebagai Katolik Jawa. Meskipun demikian praktek inkulturasi dalam liturgi seringkali mendatangkan miss-konsepsi dalam tubuh umat Katolik. Miss-konsepsi ini bisa jadi akan berdampak besar di kemudian hari. Apalagi saat ini wacana postkolonial menjadi wacana yang serius di kalangan gereja, baik Katolik maupun Protestan. Hal ini disebabkan dominasi gereja universal (Eropa) yang mulai pudar, karena menurunnya aktifisme Kristen di Eropa. Oleh karena itu gereja Katolik, selain melakukan inkulturasi juga mulai mencangkan kontekstualisasi theologi. Hal ini dimaksudkan agar theologi lebih bersifat fungsional dan tidak terjebak pada doktrin orthodoksi yang rumit. Contoh dari kontekstualisasi theologi ini seperti perayaan natal di Tuksanga yang dilakukan oleh Romo Vincentius Kirjito.


DAFTAR PUSTAKA

Adian Husaini, MA, 2003, Solusi Damai Islam Kristen di Indonesia, Gema Insani Press, Jakarta.

Alwi Shihab, Dr. MA, 1998, Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, Mizan, Bandung.

Anwar Haryono, Dr. SH, 1995, Indonesia Kita, Pemikiran Berwawasan Iman dan Islam, Gema Insani Press, Jakarta

Banawiratma, JB, 1999, Sepuluh Agenda Pembentukan Persekutuan Jema’at-Jema’at Kontekstual dan Berteologi Kontekstual, Kanisius, Yogyakarta

Hawasi, 2007, Kearifan Lokal Yang Terkandung Dalam Sastra Mistik Jawa, Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek dan Sipil), Fakultas Sastra Universitas Gunadarma, Jakarta

Rizki Ridyasmara, 2006, Gerilya Salib di Serambi Mekkah, Dari Zaman Portugis Hingga Pasca Tsunami, Pustaka Kautsar, Jakarta

Slamet Muljana, Prof. Dr, 2005, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKiS, Yogyakarta

Sujarwa, drs, 1999, Manusia dan Fenomena Budaya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Supriyanto, Mt, 2002, Inkulturasi Tari Jawa, Penerbit Etnika, Surakarta

Tondhowijoyo, John, R.M. Etnologi Pastoral di Indonesia, Nusa Indah, Ende


[1]Koordinator PSPI (Pusat Studi Peradaban Islam), Blog: arif2wibowo.multiply.com, dan makalah ini disampaikan di Serial Dialog Peradaban InPAS di Masjid Nuruzzaman Unair, 19/01/2013

[3] Rizki Ridyasmara, 2006, “Gerilya Salib di Serambi Mekkah, Dari Zaman Portugis hingga Paska Tsunami”, Pustaka Kautsar Jakarta. Hal. 158

[4] Hussein Umar, “Intoleransi Kaum Nasrani Terhadap Ummat Islam”, pengantar pada buku Adian Husaini 2003, “Soolusi DamaiIslam Kristen di Indonesia” Penerbit Gema Insani Press.

[5] Alwi Shihab, 1998,Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen” di Indonesia. hal. 45

[6] Prof. Dr. Slamet Mujljana, 2005, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKIS, Yogyakarta. Hal. 247-253

[7] Alwi Shihab, 1998, Membendung Arus…op. cit. hal. 45

[8] Alwi Shihab, Ibid, hal 48

[9] Alwi Shihab, Ibid hal. 49

[10] Alwi Shihab, op.cit. hal. 49

[11] Hans ABernhard Meyer SJ, 1994, Tari Dalam Liturgi” hasil seminar Tari Liturgi tanggal 27 Februari – 6 Maret 1994, Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta, kutipan dalam buku Mt, Supriyanto, 2002, Inkulturasi Tari Jawa , Penerbit Etnika, Surakarta.

[12] J.B. Banawiratma, 1999, Sepuluh Agenda Pembentukan Persekutuan Jemaat-Jemaat Kontekstual dan Berteologi Kontekstual, Kanisius, Yogyakarta. Hal. 28

[13] Mt Supriyanto, op. cit. hal 56

[14] Mt. Supriyanto, 2002, Inkulturasi Tari Jawa, Penerbit Etnika, Surakarta.

[15] Kata devosi berasal dari bahasa latin devotio, yang berarti kebaktian, pengorbanan, sumpah kesalehan, cinta bakti. Maka menurut arti katanya, devosi menunjukkan sikap hati dan perwujudannya, sesorang mengarahkan dirinya kepada seseorang yang dijunjung tinggi dan dicintai.

[16] Mt, Supriyanto, Ibid hal 40 – 125

[17] Kata evangelis merujuk pada kata “evaggelian” yang dalam Bahasa Yunani merupakan kata biasa, tidak memiliki arti secara khusus, dipakai untuk segala berita yang baik. Misalnya kabar kemenangan dalam pertempuran, kabar kota yang dibebaskan dari kepungan musuh, kabar kelahiran seorang kaisar baru, kabar adanya kaisar yang naik tahta dan sebagainya. Dalam Septuginta (terjemahan Pentateuch, ke dalam bahasa Yunani) kata “eyaggelizaathai” untuk menterjemahkan kata Ibrani “bissar” yang berarti mewartakan (1 Samuel 18 : 6). Dalam terjemahan Bahasa Inggris digunakan kata “gospel” untuk menggambarkan sebuah pewartaan yang memiliki arti religious bahkan pengkultusan terhadap sesuatu. Secara harfiah “eya” artinya “baik” dan aggelion artinya “kabar”. Maka eyaggelion berarti “kabar baik”. Dari kata ini pula disinyalir muncul kata “injil”. Sedangkan kata evangelis memiliki makna penyampai kabar baik yang merujuk pada sebuah substansi materi religious.

[18] R.M. John Tondowidjojo`, 1992,Etnologi dan Pastoral di Indonesia, Nusa Indah, Ende

[19] Anton Haryono, 2009, Awal Mulanya Adalah Muntilah, Misi Yesuit di Yogyakarta 1914 – 1940, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 84

[20]Kareel Steenbrink, 2006, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808-1942, Sebuah Pemulihan Bersahaja 1808 – 1903,, Penerbit Ledalero, hal. 384)

[21] Anton Haryono, 2009, Idem, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 85-86

[22] Anton Haryono, 2009, Idem, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 96

[23] Anton Haryono, 2009, Idem, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 81

[24] Anton Haryono, 2009, Idem, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 80-81

[25] Anton Haryono, 2009, Idem, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 96-99

[26]Franciscus Georgius Josephus Van Lith atau seringkali disingkat sebagai Frans van Lith (lahir 17 Mei1863 – meninggal 9 Januari1926 pada umur 62 tahun) adalah seorang imam Yesuit asal Oirschot, Belanda yang meletakkan dasar karya Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Ia membaptis orang-orang Jawa pertama di Sendangsono, mendirikan sekolah guru di Muntilan, memperjuangkan status pendidikan orang pribumi dalam masa pendudukan kolonial Belanda.

Pada 14 Desember1904 Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono, Kulon Progo. Peristiwa ini dipandang sebagai lahirnya Gereja di antara orang Jawa dimana 171 orang menjadi pribumi pertama yang memeluk Katolik. Lokasi pembaptisan ini yang sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono. (http://www.wikipedia.com/ Franciscus_Georgius_Josephus_van_Lith.htm)

[28] Kareel Steenbrink, 2003, Orang-orang Katolik di Indonesia 1808 – 1942, Suatu Pemulihan Bersahaja 1808 – 1903, Penerbit Ledalero, Maumere, hal. 384.

[29] G. Budi Subanar, SJ, 2003, Soegija Si Anak Betlehem van Java, Biografi Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 49 -50

[30] G. Budi Subanar, SJ, 2003, Idem, hal. 50

[31] Kareel Steenbrink, ….Suatu Pemulihan ….., Penerbit Ledalero, Maumere, hal. 384.

[32] Kareel Steenbrink dengan kerjasama Paule Maas, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808-1942, Pertumbuhan yang Spektakuler dari Minoritas yang Percaya Diri, cet. 1. Mei 2006, Penerbit Ledalero, hal. 685-686

[33] Kareel A. Steenbrink, 1988, Mencari Tuhan Dengan Kacamata Barat, Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, hal. 243

[34] Kareel A. Steenbrink, 1988, Idem, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, hal. 243

[35] Anton Haryono, 2009, Awal Mulanya adalah Muntilan, Misi Yesuit di Yogyakarta 114 – 1940, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, hal. 218-219

[36] Zoetmulder, P.J, 1990 (terjemahan), Manunggaling Kawula Gusti, Pantheisme dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa, Gramedia, Jakarta, hal. vii.

[37] Mukti Ali, H.A, 1990, Ilmu Perbandingan Agama, IAIN Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, hal. 34-35

[38] Zoetmulder, P.J, Manunggaling Kawula…., hal. 215-216.

[39] P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula….,hal. 370

 

No Response

Leave a reply "MISIONARISME KEBUDAYAAN: PENETRASI KATOLIK DALAM KEBUDAYAAN JAWA"