Metode Hermeneutika tidak Tepat untuk Penafsiran al-Qur’an

kajian-hermeneutika-inpasInpasonline.com –Metode Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani (hermeneuin) yang berarti menafsirkan. Istilah ini merujuk pada seorang tokoh mitologis Yunani yang dikenal dengan nama Hermes (Mercurius). Seorang Dewa yang menyampaikan pesan kepada manusia. Metode yang berasal dari tradisi Yunani ini digunakan oleh kaum Barat sebagai metode untuk menafsirkan Bible.

Demikian dikatakan oleh Abdul Hakim, S.Si, M.PI, Dosen UIN Malik Ibrahim, sebagai pemateri dalam kajian Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) yang bertajuk “Hermeneutika dalam Penafsiran al-Qur’an” pada Sabtu, 26/11/2016.

“Hermeneutika merupakan metode yang berasal dari budaya Yunani dan digunakan oleh orang-orang barat untuk menafsirkan Bible”, terang Abdul Hakim.

Dalam sejarah interpretasi teks Bible, ada empat model utama dalam menginterpretasi sebuah Bible yaitu Literal Interpretation, Moral Interpretation, Allegorical Interpretation dan Anagogical Interpretation.

”Literal Interpretation merupakan suatu cara untuk mengolah bahasa sesuai dengan apa yang mereka harapakan. Dalam hal ini, umat kristen meyakini bahwa puasa adalah hanya menghindari atau tidak makan makanan yang disukai. Sedangkan puasa bagi umat Islam adalah menahan diri secara jasmani dan rohani dari terbit fajar hingga matahari terbenam”, ujarnya.

“Kemudian yang kedua, Moral Interpretation yaitu membangun prinsip-prinsip penafsiran yang memungkinkan nilai-nilai etik diambil dari beberapa bagian dalam Bible. Biasanya juga digunakan teknik alegoris dalam model ini. The Letter of Barnabas (sekitar 100 M), misalnya, menginterpretasikan undang-undang tentang makanan dalam Kitab Imamat, bukan sebagai larangan untuk memakan daging tertentu, tetapi lebih merupakan sifat-sifat buruk yang secara imajinatif diasosiasikan dengan hewan-hewan itu”, terang pria alumni Unair ini.

“Selanjutnya, model ketiga, allegorical interpretation adalah teks-teks Bible yang mempunyai makna pada level kedua, di atas seseorang, sesuatu atau pun yang jelas-jelas disebutkan secara gamblang dalam teks. Format model ini adalah tipologi. Model keempat, anagogical interpretation, ini dikenal sebagai “mystical interpretation”. Model ini dipengaruhi oleh tradisi mistik Yahudi (Kabbala) yang diantaranya mencoba mencari makna-makna mistis dari angka-angka dan huruf Hebrew”, tambahnya.

BACA JUGA  Daurah InPAS “Meneropong Kebangkitan Sains Islam dari Turki”

Kaum Nasrani memiliki dorongan untuk menggunakan metode Hermeneutika karena mereka ingin membebaskan diri dari ikatan otoritas gereja yang selama beratus-ratus tahun menyalahgunakan wewenangnya atas nama Tuhan. Selain itu, mereka juga ingin mengembalikan pengertian teks Bible pada konteks historis dan kondisi penulisnya.

Teks Bible juga memiliki beberapa problem diantaranya yaitu pertama, ketidakyakinan tentang keshahihan teks-teks tersebut; kedua, tidak ada seorang pun yang mampu menghafal teks Bible; ketiga, Bible juga merupakan produk budaya suatu masyarakat.

Sebenarnya kaum Barat sudah mengetahui bahwa Al-Quran mempunyai metode tafsir yang berasal dari Ulama-Ulama Islam. Namun karena kedengkian terhadap umat Islam, mereka menggunakan metode Hermeneutika untuk memecah belah umat Islam. Mereka berkilah bahwa Al-Quran sama dengan kitab injil padahal Al-Quran adalah Kalamullah. Mereka berkata demikian agar metode Hermeneutika dapat menjadi salah satu tafsir untuk Al-Quran.

“Al-Quran merupakan Kalamullah, berbeda dengan teks Bible yang ditulis oleh manusia. Namun mereka mengklaim bahwa Al-Quran sebagai produk budaya (muntaj tsaqofy). Hal itu dilakukan agar metode Hermeneutika dapat diterapkan dalam Al-Quran”, Ujar Abdul Hakim.

Abu Zayd, seorang pakar hermeneutik, menyatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai pengarang Al-Quran. Beliau berpendapat bahwa nabi Muhammad adalah orang yang cerdas jadi ketika Nabi Muhammad menerima wahyu, Nabi Muhammad ikut aktif memahami dan kemudian mengungkapkannya dalam bahasa Arabnya sendiri.

“Penganut konsep Quran versi Abu Zayd ini biasanya tidak mau menyatakan bahwa Allah berfirman dalam Al-Quran, sebab mereka menganggap Al-Quran adalah kata-kata Muhammad”, tuturnya.

Meskipun banyak kalangan yang berusaha untuk menafsirkan Al-Quran layaknya Bible dengan menggunakan metode Hermeneutika. Namun Allah SWT tetap menjaga Al-Quran karena sejak Al-Quran disampaikan kepada Nabi Muhammad sama sekali tidak mengalami perubahan.

BACA JUGA  Prawoto Mangkusasmito Pemimpin yang Patut Ditiru Calon Pemimpin

“Al-Quran selalu dijaga oleh Allah. Jadi jika ada kesalahan atau ada ayat yang sengaja diubah maka pasti akan ketahuan karena banyak para penghafal Al-Quran sedangkan Bible tak ada satupun yang mampu menghafal karena teks Bible cenderung mengalami perubahan dari waktu ke waktu”, tegasnya.

Dampak penggunaan metode Hermeneutika ini sangat berakibat fatal yang menyebabkan penolakan terhadap penafsiran yang final dalam suatu masalah, menimbulkan kekacauan nilai, akhlak dan ilmu pengetahuan. Selain itu juga dapat menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam.

“Metode Hermeneutika dapat dikatakan sebagai metode yang sesat dalam menafsirkan Al-Quran karena metode tersebut dapat menyebabkan kekacauan nilai, akhlak, ilmu dan juga akan menyebabkan keretakan pada umat Islam”, pungkas Abdul Hakim.

 

No Response

Leave a reply "Metode Hermeneutika tidak Tepat untuk Penafsiran al-Qur’an"