Menkes, Kondom, dan Seks Bebas

No comment 495 views

Horor Kondom

Pada 14/06/2012, Nafsiah Mboi dilantik sebagai Menteri Kesehatan. Tak lama setelah itu, masih di hari yang sama, wanita berusia 72 tahun itu menyatakan bahwa kampanye kondom untuk kelompok seks berisiko akan digalakkan dan itu selaras dengan MDGs poin 6, yaitu memerangi HIV/AIDS.

Nafsiah Mboi mengatakan, seks berisiko ialah setiap hubungan seks yang berisiko menularkan penyakit dan atau berisiko memicu kehamilan yang tidak direncanakan. Kampanye ini –menurut dia- menjadi penting, mengingat masih banyak kasus kehamilan yang tidak direncanakan terjadi pada remaja. “Oleh karena itu, ada kampanye yang menyasar generasi muda 15-24 tahun,” ucapnya. “Di Undang-Undang, mereka yang belum menikah tidak dapat diberikan kontrasepsi. Tapi setelah kami analisa, aturan itu sangat berbahaya kalau tetap dilaksanakan tanpa melihat kenyataan di lapangan,” ungkap Nafsiah. Terasa, dia tidak setuju dengan sebuah peraturan perundang-undangan yang resmi berlaku.

Atas kampanye aneh dari Bu Menteri yang waktu itu belum genap sehari menjabat itu, banyak tokoh dan ulama yang menentangnya. Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Jose Rizal Jurnalis menyatakan: “Cara berpikir kampanye itu tidak dilandasi agama. Cara berfikirnya sangat liberal, seperti di Amerika Serikat. Kampanye kondom Nafsiah Mboi adalah seks di luar nikah dilarang agama, tetapi kalau terpaksa silahkan pakai kondom” (www.eramuslim.com 18/06/2012). 

Ketua Forum Silahturrahim Takmir Masjid dan Mushola Indonesia -Rhoma Irama- menilai: ”Kami menyesalkan sikap dari Menkes yang punya program kepada para remaja 14-24 tahun untuk menggunakan kondom. Ini sama saja dengan mendorong seks bebas yang notabene melanggar norma agama dan kesusilaan” (Republika online 19/06/2012).

Peneliti INSISTS Henri Shalahuddin- menolak keras ide itu dan menyebut bahwa “Dampak pastinya yang mendorong kehidupan seks bebas di kalangan remaja tanggung tidak diragukan lagi” (www.hidayatullah.com 20/06/2012).

Ustadz Yusuf Mansur sangat kaget dengan gagasan bagi-bagi kondom gratis (kondomisasi) kepada kelompok seks berisiko, termasuk remaja. “Kampanye yang satu ini bikin heboh negeri ini,” ujar pemimpin Pondok Pesantren Daarul Qur’an Tangerang itu di www.yusufmansur.com. Diapun berniat untuk segera menghadap presiden dan menteri terkait.

Rupanya, akibat kerasnya penolakan dari berbagai kalangan (termasuk dari MUI pusat), maka lewat sebuah video yang diunggah di www.youtube.com Nafsiah Mboi menyampaikan semacam klarifikasi. Kata dia, kondom hanyalah hal terakhir untuk mengurangi dampak buruk dari seks berisiko (www.kompas.com 20/06/2012).

Memang, setidaknya bagi sebagian orang, kondom dianggap sebagai ‘Dewa Penolong’. Lihatlah, di setiap 1 Desember saat orang memeringati Hari AIDS sedunia, sering di hari itu banyak kalangan yang berkampanye memerangi AIDS dengan cara membagi-bagikan kondom kepada masyarakat. Mereka seperti ingin mengatakan, “Mari teruskan budaya seks bebas, sebab AIDS bisa kita lawan dengan kondom”.

Model kampanye seperti di atas dapat terkategori sebagai bagian dari pembodohan publik. Sebab, antara lain, publik bisa saja akan menganggap bahwa perzinaan -sebagai salah satu ’pintu masuk’ penyakit AIDS- tak perlu dijauhi sebab ada kondom.

Di titik ini, segera terbayang bahwa praktik perzinaan akan mudah berkembang. Jika kondom selalu digembar-gemborkan sebagai alat sakti pencegah datangnya AIDS maka seks bebas akan marak.

Jika di setiap 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS sedunia dengan cara membagi-bagi kondom, maka –sesungguhnya- hal tersebut bukanlah sesuatu yang dapat menghilangkan penyakit AIDS. Tetapi, -bahkan sebaliknya- bisa meningkatkannya. Hal itu sangat mungkin terjadi karena dipicu oleh berkembang suburnya pergaulan bebas yang dirangsang oleh kampanye penggunaan kondom. Mereka merasa aman berseks bebas lantaran yakin terlindungi oleh alat kontrasepsi bernama kondom.

Dengan dalih apapun –termasuk untuk melawan AIDS dan mencegah kehamilan yang tak diinginkan- maka setiap kampanye penggunaan kondom –terutama kepada remaja- harus dikritisi secara serius. Sebab, yang paling kita khawatirkan, kecuali semakin berkembangnya praktik seks bebas juga terutama semakin terjauhkannya masyarakat dari nilai-nilai agama.

Mari, kita cermati! Hal yang mudah kita bayangkan jika kampanye penggunaan kondom berhasil adalah, pertama, terciptanya ’atmosfir’ bahwa siapapun bisa berzina dengan tenang karena ada kondom. Kedua, bisa mengantar orang untuk merasa lebih takut kepada AIDS ketimbang kepada azab Allah yang pasti akan ditimpakan kepada pelaku seks bebas.

Duhai penguasa, hentikanlah semua bentuk pembodohan publik. Sebaliknya, kepada penguasa diharapkan untuk melaksanakan amanah menyejahterakan rakyat secara sungguh-sungguh lewat cara-cara yang bersesuaian dengan Kehendak Allah dan berdasarkan pula kepada prinsip–prinsip yang selaras dengan kedudukan kita sebagai manusia yang beradab.

Kita harus memberantas AIDS hanya dengan cara-cara yang agama telah mengajarkannya. Bukankah kita adalah bangsa yang memiliki pandangan hidup yang ber-“Ketuhanan yang Maha Esa”? Maka, seharusnya, semua sikap dan kebijakan kita haruslah bersumberkan kepada ajaran dari Tuhan.

 

Tutup Pintu

Bagi umat Islam, kampanye peningkatan penggunaan kondom jelas sangat potensial bertentangan dengan ajaran Allah ini:  Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (QS Al-Isra’ [17]: 32).

Singkat kata, pemerintah wajib menutup semua pintu yang memungkinkan berkembang suburnya perilaku seks bebas. Jangan malah sebaliknya, pemerintah mengampanyekan peningkatan penggunaan kondom untuk sebuah seks yang aman, yang dapat dipersepsi sebagai memberi peluang besar bagi praktik seks bebas. []

BACA JUGA  Anak Presiden dan Lilin Khalifah
No Response

Leave a reply "Menkes, Kondom, dan Seks Bebas"