Menimbang Kemanfaatan Saat Ber-Medsos

No comment 803 views

Oleh: Anwar Djaelani

Sosmed-imagesInpasonline.com-Banyak yang merasa diuntungkan dengan kehadiran media sosial. Di antara sisi baik media sosial (medsos) adalah hubungan kekerabatan dan pertemanan antar-banyak orang menjadi lebih akrab. Juga, dengan medsos, lalu-lintas informasi menjadi lebih cepat tersiar. Tetapi, sisi negatifnya juga ada jika kitatak hati-hati dalam menggunakannya.

 

Bisa Sia-sia

Lihatlah! Medsos telah membuat banyak orang (setidaknya merasa) makin pintar tanpa harus membaca banyak buku, koran, dan yang sejenisnya. Lewat medsos, semisal WhatsApp (WA), sebuah informasi (terutama yang dianggap penting) bisa tersebar meluas secara viral hanya dalam waktu sekejap.

Sebuah informasi yang diterima seseorang di sebuah group WA, misalnya, karena dianggap baik dan penting lalu dalam hitungan detik oleh orang tersebut akan ditularkannya kepada berbagai group lain yang diikutinya. Saat itu, bisa saja niatnya adalah untuk berbuat baik kepada sesama. Sementara, orang lain yang mendapat kiriman informasi itu dan juga merasa mendapatkan ilmu atau pencerahan yang bermanfaat akan bersikap serupa yaitu meneruskan ke berbagai group lain yang diikutinya. Demikian siklus perjalanan informasi itu berputar, menyebar sangat cepat bak virus.

Tapi, di antara berbagai informasi itu –diakui atau tidak- ada juga yang bernilai ‘sampah. Bisa karena ‘ilmu’ yang dibagikan tak didasarkan kepada referensi yang meyakinkan, bisa karena hanya berupa candaan yang tak bermutu, dan bentuk-bentuk lain yang serupa itu.

Apa akibat dari beredarnya informasi bernilai sampah seperti itu? Pertama, bagi si pengirim, bisa saja digolongkan bahwa dia telah melalukan sebuah pekerjaan yang tak bermanfaat, suatu aktivitas yang kita diminta untuk meninggalkannya. “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah). Kedua, bagi si penerima, dia akan sangat terugikan. Ilmu dia tak bertambah dan waktu dia yang sangat berharga menjadi hilang karena tersita di saat membaca informasi ‘sampah’ tadi.

BACA JUGA  Meluruskan Makna Islam Rahmatan Lil Alamiin

Perhatikanlah, sekadar menunjuk tiga contoh. Pertama, sekitar tiga hari menjelang Ramadhan,banyak orang dibuat masygul dengan beredar luasnya sebuah undangan Buka Puasa Bersama di sebuah hotel mewah yang ternyata hanya palsu meski –mungkin- diniatkan bercanda.

Alkisah, di sebuah group WA hadir muncul postingan dari salah seorang anggotanya. Isinya, mengharap dengan hormat agar seluruh anggota grup berkenan hadir di acara Buka Puasa Bersama yang diadakannya di sebuah hotel mewah, lengkap dengan alamat dan waktunya. Setelah maksud surat sudah tersampaikan, surat itu diakhiri dengan penjelasan yang menyebutkan bahwa rangkaian kalimat di atas adalah “Contoh dari surat undangan Buka Berbuka Bersama”. Artinya, kita ‘ditipu”. Setidaknya bagi sebagian yang menerima, postingan itu bisa saja dirasa sangat “mengganggu hati” meski barangkali oleh si pengirimnya dianggap sebagai candaan saja.

Kedua, ada pula postingan seperti ini: Waspadalah! Menjelang Ramadhan banyak hadits palsu di WA. Beberapa contoh Hadits palsu yang berhubungan dengan Ramadhan yang tahun lalu sudah beredar: “Dan barangsiapa yang menjalani malam² bulan puasa dengan tidak tidur dan tidak mengerjakan amalan² sholeh, itu adalah contoh orang² yang Begadang tiada artinya” (H.R. Oma Irama). “Dan barangsiapa yang di saat berbuka puasa masih berada di jalan, maka orang yang demikian itu tergolong ke dalam golongan orang yang tersesat dalam kemacetan” (H.R. Rasuna Said). Kecuali dua contoh di atas, masih ada yang lainnya. Pertanyaannya, buat apa mengambil tema bercanda dari hal-hal yang ‘sensitif’ seperti itu?

Ketiga, berupa postingan yang berisi permintaan maaf dari seseorang karena akan segera memasuki bukan Ramadhan. Bacalah postingan berikut ini: “De’ sadejeh Taretan se muljeh…. Angadebih deteng epon bulen se muljheh enggi ka’ dintoh Ramadhan …. beden kauleh sareng kaluarga nyo’onnah saporanah se tadek betesseh atas sajedeh lalampaan se sala tor lopot, Baden kauleh rep ngarep ben parnyo’onan malar mogeh sadejeh Taretan se bedeh e delem group ka’ dintoh eparengi gempang kalaben lancar ngalampae Ibade e bulen Romaden se paleng muljeh”.

BACA JUGA  Muslim tidak Perlu Radikal dan Liberal

Mengertikah Anda dengan postingan di atas? Jika Anda bukan orang Madura, bisa dipastikan Anda tak akan bisa memahami isi postingan tersebut. Pertanyaannya, buat apa memosting sesuatu jika yang kita posting isinya tak dimengerti oleh si penerima?

Bisa saja semua pengirim “postingan yang bermasalah” itu sedang bermaksud bersedekah. Mereka mungkin bersandar kepada ajaran Nabi Muhammad Sawbahwa segala macam perbuatan baik adalah sedekah. Maka, dengan anggapan bahwa postingannya akan dianggap lucu dan bisa menyenangkan orang, ‘bersedekahlah’ mereka dengan postingan yang aneh-aneh itu. Tentu saja, ini sikap yang perlu kita kritisi.

 

Pilih Mana

Sekarang, berbagai sarana komunikasi memang bisa kita gunakan untuk berdakwah. Dengan “hand-phone cerdas” yang kita miliki, kita bisa berdakwah, misalnya dengan cara mengirim ‘nasehat’, ‘hikmah’, dan lainnya yang dirasakan bisa menyentuh hati orang. “Barang-siapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun juga” (HR Muslim).

Meski demikian, tetap harus berhati-hati dalam menulis atau meneruskan sebuah postingan! Tulislah atau pilihlah postingan yang isinya baik dan benar cara penyampaiannya. Untuk itu, kita memang perlu modal dalam berdakwah. Salah satu modalnya adalah ilmu. Ilmu harus kita miliki di awal berdakwah.

Alhasil, agar selamat, selalu camkan peringatan Rasulullah Muhammad Saw ini: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat, maka hendaklah berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari – Muslim). []

No Response

Leave a reply "Menimbang Kemanfaatan Saat Ber-Medsos"