Menguatkan Keluarga, Berguru ke Ibrahim

Written by | Opini

Oleh: Anwar Djaelani

Inpasonline.com-Sungguh menyedihkan jika kita memiliki anggota keluarga yang “Gagal aqidah”. Maka, agar tak “Gagal aqidah”, salah satu caranya adalah dengan belajar kepada keluarga-keluarga yang telah terbukti sukses dalam hal penanaman aqidahnya. Keluarga Ibrahim As adalah salah satu teladan.

Agar Selamat

Kita harus menjaga keluarga. Terkait itu, semoga kita dijauhkan Allah dari kemungkinan mempunyai keluarga seperti dalam gambaran berikut ini yang sebagian atau seluruh anggota keluarganya “Gagal aqidah”.

Gambaran itu, misalnya, ada ayah yang alim tapi anaknya masyhur sebagai penganjur Pluralisme Agama (sebuah faham yang berpandangan bahwa semua agama sama-sama benar). Atau, ada bapak berstatus sosial tinggi tapi memiliki anak remaja yang pacarnya gonta-ganti. Atau, ada bapak dan anak yang sama-sama rusak. Si bapak selingkuh dan sang putri pelaku lesbian.      

Agar tak terjerumus menjadi keluarga yang “Gagal aqidah”, di momentum Idul Adha ada yang relevan untuk kita kaji: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim” (QS Asy-Syua’araa’ [26]: 69).

Ada apa dengan Ibrahim As? Ibrahim As adalah figur yang sangat penting. Dia adalah Sang Teladan, antara lain karena dia adalah Bapak para Nabi. Dia juga profil panutan yang ajaran berkorbannya selalu diikuti sepenuh ikhlas oleh kaum Muslimin.

Meski demikian, pertanyaan “Ada apa dengan Ibrahim As” saja tak cukup lengkap. Sebab, kita juga patut menguak cerita: Siapa Siti Hajar, seorang perempuan yang dengan sepenuh ketaatan setia mendampingi Ibrahim As – Sang Suami?

Dengan tekanan yang sama, pertanyaan “Siapa Ibrahim As dan siapa pula Siti Hajar” saja juga tak cukup lengkap. Sebab, kita layak pula membuka kisah: Siapa Ismail, sosok anak yang sikap ridhanya atas semua keputusan Allah, terasa sangat sempurna?

BACA JUGA  Melawan dengan Tak Menonton Filmnya

Sungguh, di sebuah keluarga, kita memerlukan figur ayah, ibu, dan anak yang kesemuanya sukses di saat menghadapi berbagai ujian Allah. Tujuannya, agar kita bisa mengikuti jejak mereka. Juga, agar kita bisa memenuhi ajaran mulia ini: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At-Tahrim [66]: 6). Untuk itu, mari simak performa keluarga Nabi Ibrahim As.

Ibrahim As diuji ketika berusaha ‘menemukan’ siapa Tuhannya. Ibrahim As diuji ketika berani menentang penduduk negerinya sendiri (termasuk ayahnya, juga Namrudz rajanya) yang menyembah berhala. Ibrahim As diuji ketika harus memilih: Lebih menyukai kampung halaman sendiri atau hijrah ke tempat lain karena dakwahnya tak mendapatkan sambutan. Ibrahim As diuji ketika sampai usia 80 tahun, tak berputra. Ketika pada akhirnya berputra, Allah masih mengujinya: “Korbankan Ismail!” Dan, Ibrahim As lulus dari berbagai ujian (QS [2]: 124).

Sementara, ada juga episode tak kalah menggetarkan. Siti Hajar, istri Ibrahim As sekaligus ibunda Ismail cemerlang menunjukkan karakternya sebagai wanita shalihah. Dia memeragakan dengan baik ketaatan hamba kepada Allah, kesetiaan istri kepada suami yang shalih, dan keikhlasan ibu yang meletakkan dasar-dasar ketauhidan bagi putranya.

          Atas titah Allah, Ibrahim As beserta keluarganya hijrah ke Mekkah. Tapi, Ibrahim As lalu segera pergi meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di tempat yang -ketika itu- belum berpenghuni dan gersang. Ditinggal sendirian bersama Ismail (yang masih menyusu) di ‘tempat tak bersahabat’ dan dengan perbekalan yang terbatas itu, Siti Hajar ridha.

Tapi, sebagai manusia sempat muncul kekhawatiran yang lalu diungkapkan Siti Hajar kepada Ibrahim As. “Ke mana engkau akan pergi? Untuk siapakah engkau meninggalkan kami di lembah yang gersang dan mengerikan ini?”

BACA JUGA  Islamisasi Tanah Melayu bukan Arabisasi

Merasa tak mendapatkan jawaban, pertanyaan Situ Hajar itu terus diulang-ulangnya, berharap belas-kasih dari sang suami. Tapi, Ibrahim As tetap tak kunjung menjawab dan bahkan terus berjalan menjauh. Siti Hajar-pun lalu berseru: “Allah-kah yang memerintahkan engkau?” Untuk pertanyaan Siti Hajar yang terakhir ini, Ibrahim As menjawab: “Benar!” Lalu, Siti Hajar-pun  berkata: “Jika demikian halnya, maka Allah tak akan menyia-nyiakan kami.”

Lihatlah! Ketika perbekalan air habis dan Ismail sedang membutuhkannya, Siti Hajar berikhtiar mencarinya. Siti Hajar berlari kecil menuju bukit Sofa. Dari ketinggian bukit itu, dia berharap bisa melihat (sumber) air. Tapi, tak ditemukannya. Lalu, Siti Hajar -dengan masih berlari-lari kecil- menuju bukit Marwah. Dari bukit inipun tak dilihatnya (sumber) air. Tercatat, berkali-kali Siti Hajar mengulang melihat dari ketinggian Bukit Sofa lalu berganti ke Bukit Marwah.

Sejurus kemudian, Allah lalu ‘menghidangkan’ (sumber) air Zam-zam tak jauh dari Ismail. Inilah isyarat berbalasnya sikap tunduk-patuh seorang hamba kepada Allah.

Kembali ke sepenggal kisah Ibrahim As di atas. Kita tahu, pada akhirnya Ibrahim As itu berputra. Tapi, tak lama kemudian, datang titah Allah: Korbankan Ismail! Ismail dengan sabar menerima situasi ‘super-sulit’ itu.

          Saat itu, pada diri Ibrahim As sempat terjadi pertarungan batin: Cinta Allah atau sayang anak. Di saat-saat kritis, seperti biasa, syaitan ‘merayu’. Tapi, Ibrahim As menggeleng. Ibrahim As bertekad untuk selalu membesar-besarkan Allah dan mengecilkan yang selain-Nya. Allah-pun membalas sikap ketunduk-patuhan Ibrahim As dan Ismail. Caranya? ”Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (QS [37]: 107).

Iman di kalbu Ibrahim As, Siti Hajar, dan Ismail memberi mereka keyakinan bahwa Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hamba yang berbakti kepada-Nya. Ibrahim As dan keluarganya adalah teladan. Keluarga kita wajib menirunya. Hanya dengan cara itu, kita berharap akan muncul keluarga-keluarga ideal seperti yang telah diperagakan oleh Keluarga Ibrahim As.

BACA JUGA  Mendesain Kurikulum Berdasarkan Konsep Ilmu Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah

Keluarga dan Bangsa

Banyaknya keluarga yang berkualifikasi seperti halnya Keluarga Ibrahim benar-benar akan menjanjikan sebuah optimisme. Bahwa, pada gilirannya akan terbangun sebuah bangsa yang kuat dan berperadaban mulia. Sebab, bangsa itu sejatinya adalah himpunan dari keluarga-keluarga. []

Last modified: 25/09/2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *