Mengkritisi Ide Penyatuan Sunni-Syi’ah

No comment 500 views

Merasa institusinya dicatut tanpa sepengetahuan pihaknya, beberapa hari setelah deklarasi MUHSIN Ketua Umum PP DMI Prof KH Tarmizi Taher mengeluarkan pernyataan sikap bahwa pencantuman institusi DMI dalam deklarasi MUHSIN adalah ilegal karena tanpa sepengetahuan dan tidak mendapatkan rekomendasi dari PP DMI.

Umat Islam tentu tidak terima dengan cara kotor Syi’ah tersebut. Buntut dari peristiwa tersebut, ormas-ormas Islam Indonesia menyatakan sikap tegas menolak Syi’ah dan menuntut pembubaran Syi’ah. Pernyataan sikap itu ditandatangani oleh ormas-ormas Islam mainstream di Indonesia, setelah menggelar Tabligh Akbar “Ahlussunnah Bersatu Menolak Syiah” di Masjid Al-Furqan DDII, Jakarta Pusat pada hari Jum’at, 10/6/2011.

Melihat kejadian tersebut, kita tentu heran, kok beraninya kelompok syi’ah merekayasa acara tersebut di balik kebohongan dan fitnah terhadap institusi umat Islam. Cara-cara kotor Syi’ah ini harus diwaspadai umat Islam kalangan Sunni. Pasalnya, cara berbohong untuk menyebarkan ajaran syi’ah memang dibenarkan dalam ajaran syi’ah.  Sebagaimana diketahui, dalam ajaran Syi’ah terdapat sebuah keyakinan yang mereka sebut sebagai at-Taqiyyah.  Mufid, seorang tokoh Syi’ah,  dalam kitabnya Tashhiihal-I’tiqaad, menerangkan pengertian taqiyah dikalangan Syi’ah: “Taqiyah adalah menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinannya, serta menyembunyikannya dari orang-orang yang berbeda dengan mereka dan tidak menampakkannya kepada orang lain karena dikhawatirkan akan berbahaya terhadap aqidah dan dunianya.” Ringkasnya, taqiyah adalah berdusta untuk menjaga rahasia

Syi’ah memang mensyari’atkan dusta yang merupakan aqidah yang harus dipercayai dan bahkan masuk dalam rukun iman, sebagaimana disebutkan dalam kitab mereka:”Kulani menukil dari Abdullah, ia berkata: … berhijablah dengan “taqiyah”, maka sesungguhnya tidak sempurna iman seseorang apabilatidak berdusta (taqiyah). (Ushulul Kaafi, hal. 483)

Taqiyyah ini menjadi sarana efektif bagi kalangan syi’ah untuk mengecoh umat Islam kalangan ahlussunnah yang tidak paham dengan Syi’ah. Tidak jarang mereka berpenampilan seolah-olah mencintai Ahlus Sunnah, sehingga banyak orang tertipu dan terpedaya oleh mereka.

Jika kita kritisi dari sudut pandang taqiyyah ini, maka pendeklarasian Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah Indonesia (MUHSIN) yang dimotori oleh IJABI, jelas tidak terlepas dari metode mereka untuk mengecoh umat Islam. Dengan menggunakan label “Ukhuwah” (persaudaraan), mereka seakan mau hidup bersama seperti saudara yang saling memberi dan tolong menolong. Mereka juga seakan-akan mau menghilangkan jarak perbedaan dan permusuhan antara ahlussunnah dan Syi’ah. Namun, pertanyaannya, apakah benar mereka tulus seperti itu? Jika ajakan itu benar-benar tulus untuk kebaikan bersama, tentu kita sebagai umat Islam akan menerima dengan lapang dada karena ini memang perintah Allah SWT. Tapi, Jangan-jangan ini lagi-lagi taqiyyah mereka? dan indikasi ini jelas sangat nampak di sini.

Buktinya, jika mereka benar-benar tulus mengapa ishlah ini hanya ada di sini yang mayoritas  kaum ahlussunnah? Di negara-negara  yang mayoritas syi’ah selama ini belum pernah ada ishlah dan persaudaraan seperti ini. Justru yang ada malah fitnah-fitnah terhadap ahlussunnah yang mengerikan. Sayyid Muhibbuddin Al Khathiib mencatat, dari berbagai pusat pengajaran Syi’ah seperti di Teheran, atau Kum, atau Najef atau Jabal ‘Amil telah beredar beberapa buku yang menjelaskan watak asli syi’ah. Diantara buku tersebut adalah buku Az-Zahra dalam tiga jilid, yang diedarkan oleh ulama kota Najef. Dalam buku tersebut, ditegaskan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab RA ditimpa penyakit yang tidak dapat disembuhkan selain dengan air mani kaum laki-laki. (Mungkinkan Syi’ah dan Sunnah Bersatu, PDF dari www.muslim.or.id)

Hal itu belum lagi ditambah dengan hinaan mereka terhadap Al-Qur’an. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh tokoh mereka, At Thobarsy, dengan judul “Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbaab.” (“Keterangan Tuntas Seputar Pembuktian Terjadinya Penyelewengan Pada Kitab Tuhan Para Raja” -pent) disebutkan bahwa Al Quran Al Karim telah ditambah dan dikurangi. Buku ini adalah nukilan dari ulama-ulama dan para mujtahid Syi’ah sepanjang masa. Ketika buku ini dikritik, para ulama mereka mempertegas lagi dengan menerbitkan buku  Raddu Ba’dhis Syubhaat ‘An Fashlil Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbaab (Bantahan Terhadap Sebagian Kritikan Kepada kitab “Keterangan Tuntas seputar pembuktian terjadinya penyelewengan pada kitab Tuhan para raja”).

Jika permasalahan ini saja belum dituntaskan, padahal mereka mengaku Islam, bagaimana mungkin akan terjadi ishlah. Seharusnya mereka menunjukkan itikad yang baik terlebih dahulu di negara-negara mereka. Penulis-penulis buku yang disebutkan di atas adalah tokoh-tokoh yang mereka hormati. Bahkan, at-Thobarsy, dimakamkan di kompleks pemakaman Al Murtadhowi di kota Najef, di singgasana kamar Banu Al Uzma binti Sultan An Nashir Lidinillah, suatu tempat paling suci bagi kalangan Syi’ah. Bagaimana mungkin kita percaya dengan mereka, sementara mereka mengagungkan orang yang telah menghina Al-Qur’an al-Karim. Mereka juga tidak pernah merevisi pendapat-pendapat mereka yang menyakitkan ahlussunnah

Justru kita patut curiga dengan dideklrarasikannya Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah Indonesia (MUHSIN) yang diprakarsai oleh Syi’ah ini adalah sebagai sarana untuk menyebarkan dan pembenaran ajaran Syi’ah. Usaha-usaha seperti ini sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh kalangan syi’ah di negara-negara mayoritas ahlussunnah. Di Mesir pernah didirikan sebuah lembaga yang bertujuan untuk mendekatkan hubungan antara sunni dan syi’ah. Anehnya, lembaga yang didanai sepenuhnya oleh anggaran belanja negara yang berpaham Syi’ah ini tidak pernah nampak nyata perannya. Penyebabnya sederhana, karena kalangan syi’ah tidak pernah terbuka dan jujur dengan ajarannya.

Hal ini pernah dikeluhkan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi ketika hadir dalam acara “Muktamar Internasional Pendekatan Antar Madzhab” yang digelar di Dhoha, Qatar. Dalam acara tersebut beliau menegaskan bahwa gagasan untuk mendekatkan antar berbagai madzhab harus dilakukan dengan terus terang, tanpa basa basi. Secara spesifik al-Qaradhawi meminta agar kelompok Syiah menyampaikan sikap secara terus terang dan jelas terkait penghinaan sejumlah sahabat Rasulullah saw. Karena menurut Qaradhawi, tak mungkin terjadi pendekatan antara Syiah dan Sunni, jika keyakinan Syiah masih terus menerus mencela para sahabat radhiallahu anhum.

Qaradhawi juga meyinggung tentang proyek pensyi’ahan secara terorganisir yang terjadi di sejumlah lokasi yang dihuni orang-orang Sunni. Menurut Ketua Asosiasi Ulama Islam Internasional ini, fakta adanya proyek pensyi’ahan ini benar adanya. selama ini proyek pensyi’ahan adalah program yang terorganisir dan juga dibiayai serta mempunyai program aksi sendiri.

Oleh karena itu, selama kelompok syi’ah belum merubah pandangan mainstream mereka dan tidak terus terang, maka kita tidak bisa percaya terhadap usaha-usaha mendekatkan Syi’ah dan Ahlussunnah. Praktek persatuan mazhab seharusnya dimulai dengan studi komparasi antara ajaran kedua mazhab yang ada, baru bisa disimpulkan apakah kedua mazhab bisa dipersatukan atau tidak. Pendekatan antara Sunni dan Syiah membutuhkan kesepakatan tentang titik- titik perbedaan prinsipil antara keduanya dan bukan pendekatan antara pemahaman fiqih versi Sunni dan versi Syiah.

Sebagaimana ditegaskan Al-Qaradawi, “Perbedaan fiqih tidak terlalu penting di sini. Tapi yang diinginkan adalah pendekatan yang dimulai pada masalah prinsipil dalam madzhab Sunni dan Syiah. Kita harus sepakat tentang sejumlah masalah yang bisa meghentikan aksi saling perang antara Sunni dan Syiah”. Semoga.

 

 

BACA JUGA  Pesta Sambut Pemimpin Baru, Perlukah?
No Response

Leave a reply "Mengkritisi Ide Penyatuan Sunni-Syi’ah"