Menggugat Prinsip “Asal Bukan Islam”

1 comment 871 views

Para peneliti sejarah Islam pastinya sudah jengah dengan kutipan bernada nativisme di atas. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan definisi nativisme. Nativisme adalah sikap atau paham suatu negara atau masyarakat terhadap kebudayaan sendiri berupa gerakan yang menolak pengaruh, gagasan, atau kaum pendatang. Sementara itu, kata lain yang sepadan dengannya adalah nativistik, yang artinya bersifat menghidupkan kembali kebudayaan murni masyarakat untuk menolak serbuan kebudayaan asing. Dari dua kata tersebut terbentuklah istilah nativisasi. Nativisasi adalah upaya untuk menghidupkan kembali kebudayaan lokal guna menolak dan menghilangkan pengaruh Islam.

Mengutip Muhammad Isa Anshory, maksud “kebudayaan lokal” di sini adalah kebudayaan sebelum kedatangan Islam ke negeri ini. Keberadaan “kebudayaan lokal” setempat yang diangkat itu sendiri, dalam arus nativisasi, bukan merupakan  hal yang telah final, melainkan melalui proses rancang ulang yang tidak jarang merupakan hasil rekayasa belaka. Tujuan utama dari program ini adalah memarginalkan peran Islam, lantas menempatkannya sebagai “pengaruh asing” yang diposisikan berseberangan dengan “agama asli” pribumi. Bukan dalam rangka mengangkat budaya pribumi itu sendiri, melainkan lebih banyak dilakukan untuk kepentingan lain yang bersifat hegemonik, termasuk Kristenisasi (Muhammad Isa Anshory, Kolonialisme dan Politik Nativisasi Kebudayaan).

Kasus komentar tentang semangat SEA Games tadi merupakan salah satu bentuk politik nativisasi. Islam jelas-jelas menjadi agamanya orang Pelembang dan orang Indonesia pada umumnya, tapi lagi-lagi, kerajaan Sriwijaya yang bercorak Budha diletakkan sebagai jati diri bangsa, bahkan dikait-kaitkan dengan pencapaian prestasi di event SEA Games.  Tampaknya premis mayor yang terbentuk di alam pikiran bawah sadar orang Indonesia pada umunya ialah, “semuanya boleh dijadikan jati diri bangsa, asal bukan Islam”.

Nativisasi adalah program yang dijalankan pemerintah kolonial di negeri-negeri muslim yang mereka kuasai. Untuk menjalankan program ini, mereka berkerja sama dengan para orientalis. Program ini diakui oleh seorang orientalis bernama T. Ceyler Young. Dia berkata, “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Palembang identik dengan kerajaan Budha Sriwijaya? Di buku sejarah nasional saat saya masih sekolah memang tertulis demikian. Sriwijaya merupakan kerajaan Budha terbesar di Indonesia. Jika memang demikian faktanya, lalu dimana peninggalan kejayaan Sriwijaya yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa? Jika Sriwijaya sebagai kerajaan Budha terbesar di nusantara memang membentuk jati diri bangsa, lalu dimana pula para pemeluk agama Budha sisa-sisa kejayaan Sriwijaya serta peninggalan ajaran Budha di Palembang yang dapat digunakan sebagai jati diri bangsa?

Faktanya, hingga detik ini, mayoritas warga Palembang memeluk agama Islam. Selama ini sejarah bangsa kita mengalami masalah yang sudah sangat akut dengan menisbatkan jati diri bangsa kepada sesuatu hal yang pseudo. Kerajaan Sriwijaya memang pernah ada secara fisik, namun core-nya sudah tidak ada lagi.

Seperti dijelaskan oleh peneliti INSISTS Dr. Adian Husaini saat mengisi sebuah acara di Surabaya, bahwa akan sangat sulit mengubah metodologi kajian ilmu sejarah. Namun bukan berarti tidak ada upaya ke arah sana. Pada 29 Juni 2011 dilaunching buku Sejarah Nasional Indonesia untuk SMA: Perspektif Baru, yang diterbitkan atas kerjasama antara Pasca Sarjana UIKA, DDII, dan AIEMS. Kemudian yang paling fenomenal dalam mendekonstruksi Hindu mindset dan Budha mindset di nusantara adalah peluncuran buku Historical Fact and Fiction pada September 2011, yang ditulis oleh pakar sejarah Melayu yang memiliki otoritas tinggi, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas (Prof. SMN al-Attas).

Penemuan penting Prof. SMN al-Attas dalam buku terbarunya ini adalah keberhasilannya membalik berbagai pandangan umum tentang sejarah Islam dan Melayu yang sudah dianggap mapan, sebagaimana yang selama ini diteorikan oleh sejarawan lain. Bahkan di dalam kata pengantarnya, Pof. SMN al-Attas menyatakan,”My interpretation differs fundamentally from that which is generally accepted by historians of the Malay world. It is perhaps the first time that such an interpretation has ever be attempted.” (hal.xi)

Keengganan orang Indonesia meletakkan jati diri bangsa Indonesia ke pundak Islam dan para “missionaris”-nya dengan memakai alasan Islamofobia sebenarnya masih kuat. Menurut Dr. Muhammad Iskandar, Islamofobia di Indonesia sekarang ini masih sama kuatnya dengan di zaman Hindia-Belanda. Akibat distorsi informasi lewat media-media mainstream, bukan hanya non-Muslim dengan dukungan Amerika saja yang takut pada kebangkitan Islam, orang Islam sendiri pun kadang-kadang sering bersikap fobia terhadap Islam.

Kondisi yang fobi Islam juga turut terbawa dalam penentuan siapa pelaku sebuah peristiwa besar. Enam hari yang lalu bangsa Indonesia baru saja memperingati hari Pahlawan 10 November. Meski ma’rokah ‘azhimah 10 November diakui sebagai perang yang menjadi penentu nasib bangsa,  namun yang selalu disebut-sebut sebagai pelaku sejarahnya adalah “arek-arek” Suroboyo, meski berdasarkan fakta yang dikumpulkan oleh para ahli sejarah, arek-arek Suroboyo saat itu tidak banyak yang terjun ke medan perang.

Mayoritas pejuang pada pertempuran 10 November 1945 adalah para ulama (kyai) dan para santri. Ribuan santri di seluruh Jawa dan Madura dikerahkan oleh para kyai untuk mendekolonialisasi bangsa ini. Anehnya lagi, saya tidak pernah menjumpai fakta penting ini tertulis di buku-buku sejarah nasional. Sebagai orang Islam yang hidup di tanah air Indonesia, selama ini saya merasa ditipu mentah-mentah oleh para penulis sejarah.

Lalu darimana asal-muasal terdapatnya atau munculnya gerakan ulama dan santri pada 10 November 1945? Tentu saja dari ajaran Islam dengan konsep jihadnya, bukan dari ajaran Hindu atau Budha. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan ulama dan para santri itu ada di bumi nusantara? Atau tepatnya sejak kapan Islam masuk di Indonesia untuk kemudian menyebar ke pulau Jawa? Siapa yang pertama kali menyebarkan Islam di pulau Jawa sampai-sampai kita bisa menjumpai banyak pesantren di Jawa dan orang-orang Jawa yang tadinya menganut Hindu serta animisme-dinamisme kemudian bertransformasi menjadi pemeluk Islam?

Para Wali (Wali Songo) adalah missionaris Islam yang telah berperan besar menyebarkan Islam di Jawa. Sayangnya, sejarah para Wali ini kemudian penuh dengan mitos yang mengaburkan fakta sejarah penting yang dibutuhkan oleh orang-orang Indonesia. dalam berbagai literatur hanya disebutkan bahwa para Wali tersebut memiliki kesaktian tanpa dijelaskan strategi para Wali menyebarkan Islam di tengah-tengah masyarakat yang sudah sangat akrab dengan ajaran Hindu serta animisme-dinamisme. Dinafikan pula peran besar institusi Islam bernama pesantren dalam pembentukan jati diri bangsa, yang prototipenya pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Ampel.

Kemudian peran bahasa Melayu sebagai hasil Islamisasi bahasa oleh para missionaris Islam juga tidak pernah dikaitkan dengan Islam. Berbagai literatur yang diajarkan di sekolah-sekolah tidak pernah menjelaskan mengapa bahasa Melayu banyak mengandung serapan dari bahasa Arab (rakyat, dewan, majelis, kitab, kalam, dan sebagainya). Fenomena bahasa Melayu yang luar biasa tersebut ditanggapi ini secara sinis dan lancang oleh seorang dosen sebuah universitas Islam negeri di Surabaya; yang justru karena sadar betul akan peran bahasa Melayu dalam pengislaman serta penyatuan nusantara, malah menjadi fobi. Dia adalah salah satu contoh sempurna orang Islam yang fobi terhadap Islam, sehingga melontarkan komentar, “lapo kok boso Arab mlebu nang boso Indonesia iku, gak ono urusane” (untuk apa bahasa Arab masuk ke dalam bahasa Indonesia, tidak ada kaitannya).

Nada suaranya sama sumbangnya dengan para tokoh Kristen yang kerap dikutip oleh para orientalis : “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya” (JD Wolterbeek, Babad Zending di Pulau Jawa).

Setelah beragam pembahasan mengenai Islam sebagai jati diri bangsa, kita semua berharap semoga mereka yang merasa sebagai orang Indonesia dan mengaku mencintai bangsanya, bersedia mengubah cara pandangnya yang selama ini Hindu mindset atau Budha mindset. Seluruh fakta yang disajikan dalam pelurusan sejarah semata-mata ingin menemukan kembali kebenaran yang selama ini disembunyikan untuk kemudian berjalan di atas kebenaran itu.

*Penulis adalah Peneliti InPAS

BACA JUGA  Tentang Prinsip Toleransi Ahlussunnah-Syiah
One Response
  1. author

    esa3 years ago

    Smua bukn lg rahasia umum,Dgn braneka mcm cara n dalih pmbenaran ‘nativisasi’ utk ‘mnghilangkn’ peran bsar islam dlm smua bidang khidupan, itu sblum n ssudah indonesia ‘mrdka’ adalah nyata ‘krjasama’ ‘kaum sekuler nasionalis’ dgn ‘negara2 pnjajah’. Lihat pninggalan istana2 brgaya arsitktur eropa pnjajah prlambang pnindasan,dsb trhdap rakyat, n ‘markas besar’ strategi licik,dsb utk mnumpas prlawanan prjuangan diponogoro,sultan ageng,dll. Istana2 kbangsaan ‘versi’ nusantara indonesia??? .Bbrapa negara ttangga asia tenggara saja istana2 negarany brgaya arsitktur lokal mskipun prnah dijajah.

    Reply

Leave a reply "Menggugat Prinsip “Asal Bukan Islam”"