Mengenang Ulama’ Berjuluk “Kamus Berjalan”

 Sabtu petang, 28 Agustus 2010, al-Ustadz al-Habib Hasan Muhammad Baharun berpulang pada usia 95 tahun. Kepergian habib tertua di Indonesia asal Bondowoso tersebut diantar oleh ribuan  pentakziah dari berbagai kota di Indonesia pada esok harinya, Minggu (29/8) pukul 15.00. Kepergiannya menyedot ribuan santri dan ulama’. Maklum beliau termasuk ulama’ sepuh yang menjadi rujukan para ulama’ di Jawa Timur.

Di kalangan para ulama’ Jawa Timur, Ustadz Baharun, demikian beliau akrab dipanggil, tidaklah asing. Salah seorang mudirnya, KH. Abdul Muis TR, asal Bondowoso, menyebutkan Ustadz Baharun adalah maha guru para ulama. “Beliau itu gurunya para ulama’” kenangnya. Cukup lama beliau mengabdikan diri dalam dunia pengajaran. Sejak zaman kolonial Belanda ia sudah mengkader calon ulama’ di Madrasah al-Khairiyah Surabaya. Madrasah ini terbilang madrasah tertua di Jawa Timur.

Hidup untuk mengajar. Itulah barangkali komitmen beliau. Terhitung, enam generasi ia mendidik di berbagai madrasah di Jawa Timur. Mulai dari zaman Belanda, Jepang, Kemerdekaan RI, Orla, Orba, hingga era Reformasi nafas hidupnya tak lepas dari mendidik. Sejak usia 15 tahun beliau sudah mengajar di Madrasah al-Khairiyah Surabaya, tempat ia belajar agama pertama kali.

Menjadi Guru, adalah cita-cita sejak kecil ulama’ kelahiran Gresik ini. Kaderisasi dilakukan diberbagai kota di Jawa Timur. Selain di Madrasah al-Khairiyah Surabaya, ia pernah mengajar di Madrasah al-Islamiyah Bangil, Madrasah al-Khairiyah Banyuwangi, dan terakhir di Madrasah al-Khairiyah Bondowoso – yang ia kelola hingga akhir hayatnya.

Di luar kesibukan mengajar di lembaga tersebut, beliau juga menjadi dosen luar biasa di Institut Agama Islam Ibrahimiy (IAII) Pondok Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Di lembaga ini, para mahasiswanya terdiri dari kiai-kiai muda Jawa Timur dan sarjana lulusan jurusan studi agama. Juga pernah sebagai dosen luar biasa Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), dan penasehat Rabithah Huffad Indonesia Pusat.

Bahkan di usia tujuh puluhan, saat kesehatannya mulai menurun, Ustadz Baharun, tetap berdakwah berkeliling. Tanpa memandang medan, pada ‘usia pensiun’ ini beliau habiskan waktu untuk mengajar dari desa-desa terpencil sampai elit di kabupaten Bondowoso dan Jember. Di Bondowoso beliau mengasuh Majelis Ta’lim Dakwah Umum Pengajian Tafsir al-Qur’an di Masjid Jami’ Bondowoso.

Satu hal yang paling dapat dikenang dari metode mengajarnya adalah, ketelatenan, sabar dan gemar memberi apresiasi kepada muridnya. “Abah saya, tidak pernah marah-marah. Beliau sangat sabar sekali,” kenang Prof. Dr. Mohammad Baharun, M.Ag, anak sulung Ustadz Baharun, yang kini menjabat Rektor Unas Pasim Bandung dan anggota Komisi Hukum MUI Pusat. Seorang murid beliau juga menceritakan, kerap beliau memberi hadiah buku kepada muridnya yang mampu menjawab pertanyaan beliau di kelas.

Suatu kali, empat tahun lalu, penulis pernah bertemu beliau di kota Malang di kediaman Prof.Dr. Mohammad Baharun. Dalam kondisi kesehatannya yang mulai udzur, beliau telaten meladeni diskusi dengan kami. Bahasanya santun, bernas, singkat tanpa bertele-tele. Pesan-pesan beliau selalu berisi wanti-wanti menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Oleh sebab itu, menurunya, yang paling penting dakwah sekarang adalah ‘membumikan’ Ahlussunnah wal Jama’ah di kalangan umat. Cita-cita ‘membumikan’ Ahlussunnah wal Jama’ah ini, barangkali menjadi motivasi beliau mengajar hingga di usia udzur.

Paradigma pendidikan juga perlu dibenahi. Tantangan besar di zaman ini menurutnya, adalah pendidikan agama. “Tak terasa, ada di antara kita yang menganggap pendidikan agama itu tidak penting di tengah persaingan hidup yang bersifat serba materi ini”, pesan beliau yang ia tulisakan dalam karya buku. Materialisme dalam pendidikan, adalah hal yang beliau prihatinkan di zaman ini.

Dalam karya bukunya berjudul “Islam Esensial” beliau juga menulis pesan sangat penting, yaitu mewaspadai studi orientalis. Motivasi orientalis dalam belajar Islam menurut ustadz Baharun adalah untuk membentuk “Islam baru” yang akan merusak akidah.

Ustadz Baharun termasuk ulama’ sepuh yang produktif menulis, puluhan buku telah ia tulis. Di sela-sela mengajar, beliau selalu mengisi waktu dengan menggoreskan pena. Kepiwaian menggoreskan pena juga ia tunjukkan dengan aktif menulis puisi, dan sya’ir Arab.

Kepakaran dalam sastra Arab memang tidak diragukan. Meskipun Ustadz Baharun bukan lulusan Timur Tengah, namun kemampuan bahasa Arabnya bisa mengungguli alumni Timur Tengah. Bahkan seorang ulama asal Saudi Arabia (alm) Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki memujinya.

Pernah suatu kali Ustadz Baharun menghadiahkan sya’ir Arab kepadanya. Sayyid al-Maliki pun terkagum-kagum, dikiranya ia adalah alumni sastra Arab Timur Tengah. Saking kagumnya, Syekh al-Maliki menjulukinya “kamus berjalan”. “Beliau itu memang sangat luas pengetahuan agamanya,” kenang al-Maliki. Di kalangan ulama’ Jawa Timur, selain dikenal Faqih, beliau memang juga masyhur sebagai pakar bahasa Arab [kh].

 

BACA JUGA  Kongres Umat Islam Bekasi (KUIB)
No Response

Leave a reply "Mengenang Ulama’ Berjuluk “Kamus Berjalan”"