Mengenang Revolusi Mental Capres

No comment 713 views

Oleh M. Anwar Djaelani       

Jokowi (Joko Widodo) mengungkapkan dalam sejumlah kesempatan, bahwa perlu Revolusi Mental untuk membangun Indonesia. ‘Puncak’-nya, ide itu disampaikannya lewat artikel berjudul Revolusi Mental di rubrik opini KOMPAS pada 10/05/2014.

Sekarang, kita kenang Revolusi Mental ala Jokowi itu karena dua hal. Pertama, istilah Revolusi Mental –setelah agak lama tak terdengar- kembali disebut Jokowi di kesempatan Debat Capres edisi II pada 15/06/2014 yang bertema “Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial”. Kata Jokowi, “Ekonomi ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Itulah ekonomi yang berdikari. Pembangunan ekonomi menurut kami ke depan dilakukan untuk pembangunan manusianya lebih dulu lewat pendidikan. Pendidikan Revolusi Mental yang harus kita lakukan” (www.beritasatu.com 15/06/2014). Kedua, sebagai penggagas, konsistensi Jokowi dalam mengampanyekan dan sekaligus usahanya dalam menghidupkan Revolusi Mental perlu dipertanyakan.

Sejumlah Kasus

Ketika artikel Jokowi muncul di halaman utama rubrik opini KOMPAS, perhatian publik tersedot ke arahnya. Publik seperti mendapat kejutan. Sebagian ada yang mengapresiasinya sebagai sesuatu yang membanggakan. Bahwa salah satu capres bisa merumuskan konsep dan cakap pula menuliskannya.

Hanya saja, bagi sebagian yang lain, artikel itu malah mengundang tanya. Kita coba baca sebagian artikel Jokowi. Kata dia, sejumlah tradisi Orde Baru masih berlangsung sampai sekarang, antara lain sifat rakus. Dia menulis, “Sistem pendidikan harus diarahkan untuk membantu membangun identitas bangsa Indonesia yang berbudaya dan beradab, yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral agama yang hidup di negara ini”.

Baiklah, kita sangat setuju untuk selalu menjunjung tinggi moral agama. Moral agama meminta agar kita jujur. Lalu, bagaimana dengan artikel Revolusi Mental yang diaku sebagai karya pribadi Jokowi yang ternyata tulisan orang lain (sebuah tim)?

BACA JUGA  Loss of Adab dan Kepercayaan Diri Muslim

Memang, soal siapa penulis Revolusi Mental yang sesungguhnya langsung mengemuka sejak artikel Jokowi itu muncul di KOMPAS. Kuat menyeruak pertanyaan: Sejak kapan Jokowi bisa menuangkan pikirannya lewat tulisan? Siapa sebenarnya penulis artikel itu?

Pertanyaan di atas memang tak mengada-ada. Sebab, pertama, selama ini bagi rata-rata orang, artikel yang dimuat di koran-koran nasional adalah karya dari orang-orang pilihan. Biasanya artikel yang dimuat adalah buah pikir dari kaum cerdik-cendekia seperti agamawan, akademisi, peneliti, pengamat, dan yang semisal dengan itu. Itupun, untuk koran-koran terkemuka, sebagian (besar) penulisnya adalah mereka yang sudah memiliki ‘jam terbang’ tinggi.

Kedua, Jokowi –sejauh yang bisa kita ikuti- tak punya jejak kepenulisan di media cetak. Maka, terutama di dunia maya, ramai-lah polemik terkait artikel Jokowi di KOMPAS itu. “Tulisan Revolusi Mental ini sempat membuat heboh dunia maya. Banyak yang menduga itu bukan tulisan asli Jokowi,” tulis www.tempo.co pada 11/05/2014.

Sementara, www.fimadani.com pada 12/05/2014 memuat postingan di dinding Facebook Nanik S Deyang, seorang wartawati senior. Nanik mengaku terhenyak lantaran kawannya –Jokowi- sedemikian cepat belajar menulis. “Selain waktunya tidak ada, rasanya dia bukan orang yang pandai menyusun kalimat,” tulis Nanik.

Belakangan, Jokowi mengakui bahwa artikel sepanjang 11 ribu karakter atau sekitar lima halaman kertas A4 itu adalah buatan timnya dan dia hanya menulis poin-poin serta strukturnya saja (www.jpnn.com 12/05/2015). Jadi, artikel Revolusi Mental di KOMPAS yang mencamtumkan nama Joko Widodo sebagai penulisnya dan dengan status “Calon Presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan” sungguh bermasalah.

Kembali ke ajakan menjunjung tinggi moral agama. Moral agama mengajarkan agar kita jangan rakus (seperti kata Jokowi sendiri). Lalu, bagaimana dengan berita di www.republika.co.id 14/03/2014 ini? “Jokowi Resmi Capres, Warga DKI: Ternyata Dia Serakah”. Berita ini terkait kekecewaan sejumlah warga Jakarta atas majunya Jokowi sebagai capres, sementara dia belum genap dua tahun menjadi gubernur. “Ternyata dia serakah jabatan. Kalau mau maju jadi capres kan bisa pemilu mendatang,” kata Mardiana Tanjung, warga Jakarta Timur.

BACA JUGA  Pemuda, Bahasa, dan Peradaban Mulia

Moral agama mengajarkan kita agar setia memegang janji. Lalu, bagaimana dengan berita di www.merdeka.com 26/09/2012 ini? Bahwa “Warga Solo gugat Jokowi Rp 343 M jika jadi gubernur DKI”. Intinya, ada warga Solo yang kecewa karena dulu Jokowi saat kembali terpilih sebagai walikota Solo untuk periode kedua, telah berjanji akan menjadi walikota sampai habis masa jabatannya pada tahun 2015.

Bagaimana pula dengan berita di www.republika.co.id 15/03/2014 ini? Bahwa, ada ”19 Janji Jokowi saat Pilgub DKI 2012”. Salah satu di antara janji itu, Jokowi akan memimpin Jakarta selama lima tahun dan tidak menjadi kutu loncat dengan mengikuti Pemilu 2014. Janji itu disampaikan Jokowi dalam jumpa pers di rumah Megawati pada 20/09/2012.

Mari, kita baca lagi artikel Jokowi. Kata dia, agar berubah dan sesuai dengan cita-cita Proklamasi, kita perlu melakukan Revolusi Mental. Caranya? Dengan “Melakukan perombakan manusianya atau sifat mereka yang menjalankan sistem ini”. Dari mana kita memulai Revolusi Mental? “Dari masing-masing kita sendiri,” tulis Jokowi.

Jokowi sangat benar. Mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari masing-masing pribadi kita untuk -misalnya- jujur, tak rakus, tak suka ingkar janji, dan sifat-sifat mulia lainnya. Mulailah dari masing-masing pribadi kita untuk selalu sama antara kata dan perbuatan.

Menunggu Bukti

Secara substansi, usulan Jokowi terkait Revolusi Mental bagus. Hanya saja, suka atau tidak suka, setidaknya untuk sementara ini Jokowi gagal menghidupkan Revolusi Mental. Jokowi gagal, sebab jangankan memberi contoh terlebih dahulu atas apa yang digagasnya, malah justru dia sendiri yang meciderainya lewat berbagai kasus di atas.

Alhasil, kapanpun seyogyanya kita tak boleh melupakan ajaran ini: “Siapapun yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR Bukhari dan Muslim). Lalu, setelah berkata-kata yang baik, buktikanlah dalam sebentuk perbuatan yang sesuai dengan apa yang kita katakan. []

BACA JUGA  Indonesia, Agama, dan Identitas Keagamaan
No Response

Leave a reply "Mengenang Revolusi Mental Capres"