Mengenal Imam Al-Jazari, ‘Bapak’ Ilmu Tajwid

No comment 5334 views

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

manuskripInpasonline.com-Imam al-Jazari al-Dimasyqi adalah ulama dari negeri Syam yang memiliki kelebihan dalam bidang ilmu tajwid dan ilmu-ilmu al-Qur’an. Sanad bacaan al-Qur’an Imam al-Jazari diburu para pelajar dan ulama yang ingin mendapatkan sanad qira’at. Karena kepakaran dan kemasyhurannya dalam ilmu tajwid, ia diberi gelar “al-Mujawwid” (ahli tajwid). Hingga kini, kitab-kitabnya menjadi rujukan primer dalam ilmu tajwid.
Nama lengkapnya adalah al-Imam Syamsuddin Abu al-Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Dimasyqi al-Syafi’i. Dilahirkan di sebuah kampung bernama al-Khat al-Qashain kota Damaskus pada tahun 25 Ramadlan 751 H/30 November 1350 M.
Syaikh al-Jazari berhasil menghafal al-Qur’an pada usia 13 tahun. Dan pada setahun berikutnya, yakni pada usia 14 tahun, ia sudah ditunjuk untuk menjadi imam shalat. Guru utamanya dalam bidang al-Qur’an adalah Syaikh Hasan al-Saruji. Syaikh al-Saruji merupakan guru dari ayah al-Jazari. Ulama ahli qira’at terkenal di Damaskus. Setelah belajar kepada Syaikh al-Saruji, al-Jazari pergi ke Madinah al-Munawwarah untuk bermulazamah dengan Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Khatib, seorang imam Masjid Nabawiy. Padanya Ibnu Al-Jazari belajar ilmu qiro’at.
Kemudian beliau berniat pergi lagi ke Andalusia untuk belajar, akan tetapi orang tuanya melarang sehingga Ibnu al-Jazari hanya berhenti sampai Kairo, Mesir, pada tahun 769 H. Terhitung al-Jazari pergi ke Mesir tiga kali untuk belajar. Disana beliau belajar qiro’at kepada ulama-ulama besar Mesir, diantaranya Abu Bakar al-Jundi, Muhammad bin al-Sha’igh dan `Abdurrahman bin Ahmad al-Baghdadi. Sesudah menamatkan pelajarannya, Ibnu al-Jazari kembali pulang ke Damaskus. Selang beberapa lama, beliau pergi ke Mesir pada kali kedua untuk belajar lagi kepada Ibnu al-Sha’igh dan Ibnu al-Baghdadi berdasarkan beberapa kitab qiro’at. Setelah itu beliau kembali pulang ke Damaskus untuk menyempurnakan pelajaran qira’at sab`ah kepada al-Qadhi Ahmad bin al-Husain.
Pada tahun 778 H, Ibnu al-Jazari pergi ke Mesir untuk yang ketiga kalinya dalam rangka belajar ilmu qira’at kepada `Abdul Wahhab al-Qarawi di Kota Iskandariah. Setelah mendapatkan ijazah dari para syaikh Mesir, beliau pulang ke Damaskus dengan membawa segudang ilmu.
Ketika beliau berada di Madinah, beliau mengarang Tahbir al-Taisir, beliau mengarang satu kitab lagi yang cukup bermakna dalam dunia ilmu al-Quran dan al-Qiraat yaitu al-Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr. Kitab ini merupakan kitab yang paling sempurna di antara sekian banyak kitab-kitab beliau dalam membahaskan ilmu tajwid dan qiraat. Kitab inilah yang menjadi manhaj tertinggi pengajian ilmu qiraat sejak zaman dahulu hingga sekarang. Setelah itu, beliau telah mengarang sebuah kitab untuk mentalkhis kitab an-Nasyr ke dalam bentuk matan dengan nama Toyyibah al-Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr. Kitab inilah yang telah al-Azhar tetapkan dalam manhaj pengajian qiraat di marhalah Takhassus Qiraat di ma’ahad-ma’ahad qiraat di seluruh Mesir.
Beliau tidak hanya ahli ilmu qira’at, tapi juga pakar di bidang hadits, tafsir, sejarah, fikih, gramatika dan sastra. Ia diberi gelar-gelar keilmuan oleh para ulama’ karena kepakarannya dalam bidang ilmu-ilmu tertentu. Dia menyandang gelar al-muhaddits, al-hafidz, al-mu’arrikh, al-mufassir, al-faqih, al-nahwi, al-bayani dan lain-lain. Bahkan ia mendapatkan gelar al-huffadz al-Tsiqat al-Atsbat karena kedalaman dalam ilmu dirayah dan riwayah. Jadi, seperti kebanyakan ulama dahulu lainnya, al-Jazari tidak hanya mencukupkan ilmu pada ilmu qira’at, namun juga mendalami ilmu-ilmu pokok lainnya, terutama ilmu hadits.
Kedalaman ilmu fikihnya dapat dilihat dari pengakuan dan pemberian ijazah dari Syaikh Ibnu Katsir. Ibnu Katsir adalah guru al-Jazari. Pada umur 24 tahun, al-Jazari diberi ijazah khusus oleh Ibnu Katsir untuk memberi fatwa. Dalam tradisi para ulama dahulu, pemberian ijazah ini biasanya menjadi syarat seorang menjadi Qadhi (hakim Negara). Gurunya yang lain, Syaikh Diyauddin, juga memberi ijazah yang sama setelah Ibnu Katsir memberi ijazah.
Dengan pengakuan itu, maka beliau dilantik sebagai Masyaikhah Ash-Sholihiyyah di Baitul Maqdis selama beberapa waktu. Beliau juga pernah dilantik sebagai Qadhi negeri Syam. Ibnu al-Jazari termasuk ulama yang produktif dengan jumlah karya sekitar 83 judul. Karya-karya bidang tajwid dan qira’at adalah karya yang paling popular dan dipelajari oleh para pelajar hingga kini. Seperti kitab al-Muqaddimah al-Jazariyyah, al-Nasyr fi Qira’ati al-‘Asyr. Sedangkan karya bidang hadits yang populer adalah al-Hishn al-Hasyin. Kitab hadis ini disyarah oleh imam al-Syaukani dengan judul Tuhfat al-Dzakirin.
Pada Jumadil Akhir 829 H, seusai melakukan perjalanan ke Makkah, Madinah dan Mesir, al-Jazari dan putranya bermaksud pulang ke Damaskus. Tapi sang putera melanjutkan ke negeri Turki sedangkan al-Jazari menuju Syiraz untuk meneruskan pengajaran ke negeri tersebut. Beliau menetap di Syiraz dan tidak lagi melakukan perjalanan sampai akhirnya wafat di kota tersebut. Pada hari Jumaat bertepatan 5 Rabi`ul Awwal tahun 833 Hijriah di Shiiraz, Persia. Beliau telah pulang menghadap Robbnya. Beliau telah dimakamkan di Darul Quran. Jenazah beliau telah diiringi oleh seluruh umatnya tanpa melihat derajat dan pangkat.

BACA JUGA  Iman dan Toleransi Beragama
No Response

Leave a reply "Mengenal Imam Al-Jazari, ‘Bapak’ Ilmu Tajwid"