Mendidik Tanpa Emansipasi (Refleksi Perjuangan Rahmah el-Yunusiyyah dalam Pendidikan)

Sarah Larasati Mantovani

Mahasiswi  Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

rahmah el-yunusiyahPendahuluan

Sejak awal, Islam tidak melarang perempuan untuk berilmu dan berpendidikan tinggi, asalkan ia tidak melupakan fitrahnya sebagai perempuan. Seperti yang dilakukan Rahmah El-Yunusiyyah, ia tidak segan menimba ilmu pada para ulama Minangkabau saat itu. Bahkan menurut Hamka, Rahmah-lah pelopor perempuan belajar agama[1].

Rahmah menyadari pendidikan sangat penting artinya bagi perempuan. Terlebih, saat itu masih banyak perempuan di daerahnya yang belum mendapatkan pendidikan seperti yang ia rasakan. Atas dasar inilah, ia mendirikan sekolah khusus perempuan dengan model pesantren. Tidak lupa, ia memasukkan pendidikan keperempuanan dalam kurikulum sekolahnya agar perempuan tidak melupakan hak dan kewajibannya.

Kontribusi dan perjuangan Rahmah yang begitu besar pun tidak lepas dari sorotan para Feminis. Oleh mereka, ia diklaim sebagai tokoh emansipasi[2], salah satunya seperti dalam sebuah jurnal yang diterbitkan institusi agama Islam negeri di Jawa Tengah[3], ia digambarkan sebagai sosok wanita yang pro kesetaraan gender, padahal Rahmah tidak seperti demikian. Sebagaimana ini terlihat pada 1 Februari 1937, ia mendirikan Kulliyatul Mu’allimat El-Islamiyah (KMI) – sekolah yang didirikan untuk mempersiapkan guru agama wanita, karena menurut Rahmah, guru adalah pekerjaan yang sesuai dengan kodrat wanita[4].

Sekilas Tentang Rahmah El Yunusiyyah

Rahmah lahir di Padang Panjang, 29 Desember 1900, ia merupakan bungsu dari lima bersaudara[5]. Rahmah dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kuat adat dan agama. Walaupun adat sangat kuat, keluarganya tidak mempertentangkan antara adat dan agama. Jika terdapat pertentangan antara adat dan agama, maka aturan agama yang mereka utamakan. Begitu kuatnya pengaruh agama dalam lingkungan keluarganya, Rahmah tidak disekolahkan di luar lingkungan rumahnya[6].

Di Surau Jembatan Besi, Rahmah dan ketiga temannya (Rasuna Said, Nanisah dan Djawana Basjir) belajar Fikih, Tasawuf, bahasa Arab, Ilmu Falak, Sejarah Islam, Tauhid dan Tafsir Al-Qur’an. Pada Syaikh Abdul Karim Amrullah juga, Rahmah memperdalam masalah agama dan perempuan secara privat di rumahnya di Gatangan[7].

Bersama dengan kakak perempuannya, Rahmah mendirikan Diniyyah Puteri[8]. Murid-murid pertamanya saat itu berjumlah 71 orang yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu rumah tangga muda, dengan pelajaran diberikan setiap hari selama 3 jam di sebuah Masjid Pasar Usang, Padang Panjang, dengan sistem halaqah[9]. Dalam perkembangannya, sekolah ini menjadi pesantren dan hanya menerima murid perempuan yang belum menikah.

Rahmah mendirikan Diniyyah Puteri karena selain ingin memajukan pendidikan perempuan, khususnya pendidikan agama, ia melihat banyak masalah hukum Islam yang berkaitan dengan perempuan tidak dibahas mendalam oleh guru-guru di daerahnya[10]. Menurutnya, segala hal yang berkaitan dengan perempuan perlu dikaji agar perempuan tahu akan hak dan kewajibannya.

Tidak hanya Diniyyah Puteri, Rahmah juga mendirikan lembaga pendidikan Menyesal School untuk kaum Ibu yang belum bisa baca-tulis, kemudian Freubel School (Taman Kanak-kanak), Junior School (setingkat HIS), Diniyah School Puteri 7 tahun secara berjenjang dari tingkat Ibtidaiyah (4 tahun), dan Tsanawiyah (3 tahun)[11].

BACA JUGA  Cobaan Ulama'

  1. A.    Mendidik Dengan Metode 3M

Selain mempelajari ilmu-ilmu agama, Rahmah mempelajari ilmu-ilmu lain yang berguna untuk diajarkan pada murid-murid perempuannya kelak, seperti ilmu kesehatan dan kebidanan yang kemudian menjadikannya sebagai seorang bidan, juga olahraga seperti senam dan renang[12].

Karena bagi Rahmah, Guru tidak hanya dipersiapkan menguasai satu bidang ilmu saja, tetapi juga harus menguasai ilmu-ilmu yang lain, maka oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, inilah yang disebut dengan tradisi keilmuan Islam. Tradisi keilmuan dalam Islam tidak mengenal sifat spesialisasi buta. Ilmuwan-ilmuwan Islam dulu dikenal luas memiliki penguasaan di berbagai bidang ilmu[13].

Kemudian saat Rahmah menjadi Guru, ia tidak hanya sekedar membagi atau mengajarkan ilmu yang sudah ia pelajari dan pahami pada murid-muridnya, namun lebih dari itu.  Kunci mendidik Rahmah terletak pada 3M, yaitu Mendidik dengan keteladanan, Mendidik bukan hanya mengajar dan Mendidik tanpa emansipasi, yang akan dijelaskan pada poin-poin berikut:

  1. Mendidik Dengan Keteladanan

Sebelum maupun sesudah menjadi Guru, Rahmah telah banyak memberikan keteladanan, tidak hanya pada anak-anak didiknya namun juga masyarakat sekitar. Ia banyak memberikan keteladanan melalui kepribadian dan perjuangannya melawan penjajah Belanda.

Salah satunya kedisiplinan. Ia selalu memberi contoh pada murid-muridnya, bagaimana disiplin itu harus dijalankan dan dipatuhi, seperti jadwal kegiatan sejak bangun tidur pukul 05.00 pagi sampai tidur kembali pukul 10.30 malam.

Kemudian saat Rahmah harus ditahan oleh Belanda karena menentang kebijakan Belanda yang melarang memasukkan kurikulum Islam ke dalam sekolah dan harus menerapkan pendidikan secara sipil[14]. Kepribadiannya yang sabar dan pantang menyerah juga ia buktikan saat sekolah yang baru tiga tahun didirikannya runtuh oleh gempa tahun 1926, beliau tidak putus asa dan bangkit kembali mencari dana bantuan bersama pamannya hingga ke selat Malaka[15].

Menurut Mohammad Natsir yang pernah dekat dengan Rahmah, Rahmah tidak mempunyai sifat buruk sangka kepada orang lain. Dalam dirinya tidak terdapat sifat ananiyah, yaitu sifat egois yang mementingkan diri sendiri.[16] Selain itu, ia mempunyai kepribadian yang sederhana, lemah lembut dan tawadhu[17].

  1. Mendidik Bukan Hanya Mengajar

Menurut Rahmah, Guru bukan hanya sebagai pengajar, namun ia juga merupakan seorang pendidik. Fauziah Fauzan, cicit Rahmah yang kini Pimpinan Diniyyah Puteri School pernah menyampaikan,

Guru adalah pengajar dan pendidik, oleh karenanya, Guru hendaklah mampu melaksanakan kedua fungsi tersebut dengan seimbang dan optimal dalam menyiapkan generasi[18].

Sebagai pendidik, Rahmah ingin menunjukkan bahwa mendidik bukan hanya mengajarkan teori, namun lebih dari itu. Seorang pendidik, harus mampu mendidik anak didiknya agar menjadi orang beriman dan bertakwa.

  1. Mendidik Tanpa Emansipasi

Meski menolak pembatasan mencari ilmu bagi perempuan, namun Rahmah menyetujui emansipasi seperti yang digaungkan oleh feminis. Rahmah ingin perempuan tetap pada fitrahnya dan anak didiknya menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak, karenanya ia tetap memasukkan pendidikan rumah tangga seperti menjahit, memasak dan keterampilan rumah tangga lainnya ke dalam kurikulum sekolahnya.

BACA JUGA  Sejarah Kebudayaan Islam; Perspektif Tauhidi

Ini terlihat saat materi kurikulum sekolahnya sarat dengan berbagai mata pelajaran (sehingga jumlah pelajaran dalam satu minggu mencapai 45 jam), mengingat pentingnya pelajaran ketrampilan dan kerumahtanggaan, maka pelajaran tersebut oleh Rahmah diberikan pada sore harinya[19].

Karena menurut Rahmah, masyarakat bisa baik bila rumah tangga dari masyarakat tersebut juga baik, karena rumah tangga adalah tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara, sebagaimana yang diajarkan oleh agama Islam. Ia menginginkan setiap wanita menjadi ibu yang baik dalam rumah tangganya, masyarakat dan sekolah. Menurut Rahmah hal ini hanya dapat dicapai melalui pendidikan[20].

  1. B.     Konsep Pendidikan Adab Rahmah

Berdasarkan tujuan pendirian Diniyyah Puteri yang ingin membentuk putri  berjiwa Islam dan ibu pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air, atas dasar pengabdian kepada Allah SWT.[21].

Maka Rahmah juga memasukkan pelajaran Adab dalam kurikulum sekolahnya, hal ini terlihat pada tahun 1928, dimana kelas satu hingga kelas enam Ibtidaiyah (Sekolah Dasar) mendapatkan pelajaran Adab[22].

Pelajaran Adab merupakan pelajaran yang sangat penting untuk diajarkan, Imam Abu Hamid Al-Ghazali menafsirkan adab sebagai pendidikan diri jasmani dan rohani (ta’dib al-zahir wa’l batin), yang meliputi empat perkara: perkataan, perbuatan, akidah dan niat seseorang[23]. Maka proses untuk melahirkan insan mulia ini dikatakan ta’dib atau pendidikan dalam Islam.

Menurut sarjana-sarjana terdahulu, kandungan ta’dib adalah akhlak. Hal ini kemudian dikonfirmasikan oleh hadis Nabi yang menyatakan bahwa misinya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia[24].  Ta’dib merupakan istilah yang paling tepat untuk menggambarkan proses pendidikan yang sebenarnya, karena ia memasukkan empat ciri penting pendidikan:

  1. 1.      Proses penyempurnaan insan secara berperingkat (al-tarbiyah)
  2. 2.      Pengajaran dan pembelajaran (al-ta’lim wa’l ta’allum), yaitu bertumpu pada aspek kognitif, kecerdasan dan akidah seorang murid.
  3. 3.      Disiplin diri (riyadah al-nafs) yang meliputi jasad, ruh dan akal
  4. 4.      Proses penyucian dan pemurnian akhlak (tahdhib al-akhlaq)[25].

Mengingat pentingnya pelajaran Adab ini, maka pada tahun 1933, kelas satu hingga kelas tiga Tsanawiyah (sekolah mengenah pertama) juga mendapat pelajaran sama[26].

            Penutup

Pada saat kurikulum studi gender masih diterapkan di beberapa perguruan tinggi, salah satunya perguruan tinggi islam negeri, Rahmah dengan sekolah yang didirikannya mempu mengintegrasikan, menyatukan dan menerapkan pendidikan umum, pendidikan agama dan pendidikan keperempuanan dalam satu kurikulum dan sistem pesantren. Sehingga bisa disimpulkan, Diniyyah Puteri lah pelopor integrasi tiga pendidikan tersebut.

Sebagai seorang Guru, Rahmah mendidik para muridnya dengan akhlak yang bisa dijadikan teladan, seperti kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, kesederhanaan dan sikap optimis, keteladanan akhlak inilah yang hilang dari banyak Guru saat ini.

Kemudian Rahmah juga mampu mendidik tanpa emansipasi, tanpa menuntut kesetaraan gender bagi perempuan dalam segala bidang kehidupan. Ia merasa perlu mendidik tanpa emansipasi karena menyadari pentingnya peran perempuan sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak.

BACA JUGA  Dakwah Kultural dan Intelektual NU dalam Menyikapi Syi’ah

Selain itu, apa yang dilakukan Rahmah El Yunusiyyah, sejalan dengan keinginan mantan Rektor Unissula Semarang, M. Rofiq Anwar, yaitu ingin melahirkan anak-anak dididiknya menjadi generasi Khairu Ummah, yaitu generasi yang berpotensi memimpin dunia untuk kerahmatan. Ciri-ciri Khairu Ummah adalah mereka selalu mengajak kepada iman dan senantiasa mengembalikan manusia kepada iman.[27]



[1] HAMKA. Ayahku. (Jakarta: Penerbit Djajamurni. 1967).  hlm. 265.

[2] Emansipasi yaitu pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sugihastuti. Siti Hariti Sastriyani. Glossarium Seks dan Gender. (Yogyakarta: Caravasti Books, 2009), hlm. 58.

[3] Lihat Devi Wahyuni, “Kebijakan Kepemimpinan Perempuan Dalam Pendidikan Islam (Refleksi Atas Kepemimpinan Rky Rahmah El Yunusiyah Sebagai Syaikhah Pertama di Indonesia)”, hlm. 17 dalam Jurnal Sawwa terbitan IAIN Walisongo Semarang No. 2, Vol. 3, tahun 2009.

[4] Aminuddin Rasyad. Disertasi Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang: 1923-1978, Suatu Studi Mengenai Perkembangan Sistem Pendidikan Agama. (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1982), hlm. 176.

[5] Ibid, hlm. 132-133.

[6] Ibid, hlm. 136-137.

[7] Ibid., hlm. 142-143.

[8] Tamar Djaja. Rohana Kudus Srikandi Indonesia: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. (Jakarta: Penerbit Mutiara, 1980), hlm. 11.

[9] Deliar Noer. Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: Pustaka LP3ES. 1982). hlm. 62-63.

[10] Aminuddin Rasyad, Op. Cit., hlm. 140-141.

[11] Jajat Burhanuddin dan Oman Fathurrahman. Tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2004). hlm. 18-19.

[12] Aminuddin Rasyad, Op. Cit., hlm. 146.

[13] Adian Husaini. Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. (Jakarta: Cakrawala Publishing. 2012). hlm.`122.

[14] Berdasarkan keterangan langsung cicit Rahmah yang juga Pimpinan Diniyyah Puteri School, Fauziah Fauzan saat seminar Tradisi Ilmu yang diadakan Fakultas MIPA, Universitas Negeri Jakarta, 10 November 2012.

[15] Ibid.

[16] Aminuddin Rasyad, Op. Cit., hlm 7.

[17] HAMKA, Op. Cit., hlm. 266.

[18] Fauziah Fauzan, Op. Cit.

[19] Aminuddin Rasyad, Op. Cit., hlm. 155

[20] Ibid, hlm. 161.

[21] Deliar Noer, Op. Cit., hlm. 50.

[22] Mahmud Yunus. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. (Jakarta: Mutiara Sumber Widya. 1960). hlm. 78.

[23] Asmaa Mohd Arshad, Konsep Ta’dib: Teras Falsafah Pendidikan Islam, dalam Adab dan Peradaban: Karya Peng’itirafan Untuk Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Mohd Zaidi Ismail dan Wan Suhaimi Wan Abdullah. (MPH Publishing: Malaysia, 2012). hlm. 252.

[24] Wan Mohd Wan Daud. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M.Naquib Al Attas. (Mizan: Bandung. 2009). hlm. 176.

[25]Asmaa Mohd Arshad, Op. Cit., hlm. 253-254

[26] Mahmud Yunus, Op. Cit., hlm. 111.

[27] M. Rofiq Anwar, Mari Membangun Generasi Khaira Ummah Dari Kampus, dalam On Islamic Civilization : Menyalakan Kembali Lentera Peradaban Islam yang Sempat Padam. Laode M. Kamaluddin (ed). (Unissula Press dan penerbit Republikata Tangerang: Semarang. 2010). hlm 654.

No Response

Leave a reply "Mendidik Tanpa Emansipasi (Refleksi Perjuangan Rahmah el-Yunusiyyah dalam Pendidikan)"