Menarik, Da’i yang Fasih Bicara dan Cakap Menulis

Written by | Opini

AAA

Oleh: Anwar Djaelani

AAAInpasonline.com-“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

Dua Menarik

Islam adalah agama dakwah. Maknanya, semua umat Islam –sesuai dengan kemampuannya masing-masing- berkewajiban untuk menyebarkan Islam. Adapun dasar hukumnya cukup banyak, termasuk ayat yang dikutip di awal kajian ini. Lalu, suruhan Nabi Muhammad SAW lewat HR Bukhari yaitu “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat” juga menjadi pijakan hukum.

Jika kita aktif berdakwah maka akan mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih, dan berkata ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’.” (QS Fushshilat [41]: 33).

Agar dakwah kita berhasil, maka langkah paling awal yang perlu kita lakukan adalah mengetahui secara tepat tentang apa yang disebut dakwah. Di buku “Shibghah Da’wah” (2013: 2), Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) menyatakan bahwa “Dakwah adalah satu ajakan dalam arti yang luas”. Dakwah adalah aktivitas amar ma’ruf nahi munkar dan merupakan “Kewajiban yang harus dipikul oleh tiap-tiap Muslim dan Muslimah,” tulis DDII. Adapun ruang lingkup dakwah menurut DDII adalah “Segala usaha dan kegiatan yang disengaja dan terencana dalam wujud sikap, ucap dan perbuatan yang mengandung ajakan dan seruan, baik langsung ataupun tak langsung ditujukan kepada perorangan, masyarakat, atau golongan supaya tergugah jiwanya, terpanggil hatinya kepada ajaran Islam untuk selanjutnya mempelajari, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari”.

Lalu, metode apa saja yang bisa digunakan dalam aktivitas dakwah? “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS An-Nahl [16]: 125). Di ayat ini, untuk kita ketahui, hikmah adalah perkataan tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil.

BACA JUGA  Sebuah ‘Surat’ tentang Akhirat

Dari ayat di atas, di hadapan kita tersedia banyak pilihan cara dalam berdakwah. Pilihan-pilihan itu antara lain lewat ceramah, tanya-jawab, diskusi, dan debat (mujadalah). Kesemua pilihan tadi bisa diwujudkan dalam bentuk tulisan. Tentu saja setiap pilihan cara berdakwah masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Dalam berdakwah, metode ceramah tampak sering menjadi pilihan utama. Kelebihannya antara lain adalah adanya interaksi langsung antara si penceramah dan si pendengar. Kelemahannya antara lain adalah jumlah pendengar yang terbatas dan sifat rata-rata pendengar yang mudah lupa.

Di keseharian, kecuali ceramah kita juga mengenal pidato. Apa beda keduanya? M. Farid Anwar dalam buku berjudul “Teori dan Praktek Pidato” menyatakan bahwa berpidato adalah “Menyampaikan suatu masalah yang berbobot dengan lisan, di hadapan publik dalam situasi resmi”. Selanjutnya –di buku terbitan 1987 dan di halaman 17 itu- si penulis menjelaskan bahwa pidato dan ceramah itu mirip. Hanya saja, jika pidato bersifat resmi maka ceramah bersuasana rileks. Jika pidato tak diakhiri tanya-jawab maka ceramah kerap disertai dengan tanya-jawab.

Terkait dengan metode ceramah/pidato, maka negeri ini pernah mengenal tokoh-tokoh yang ahli pidato. Mereka antara lain adalah Agus Salim, Mohammad Roem, Abdul Gaffar Ismail, HAMKA, Natsir, dan Isa Anshary.

Sekadar contoh, lihatlah tokoh yang disebut terakhir. Isa Anshary pernah menjadi anggota konstituante dan merupakan juru bicara Partai Masyumi pada era-1950-an. Kepiawaiannya dalam berpidato dan mempengaruhi massa, menyebabkan dia dijuluki sebagai “singa podium” (www.wikipedia.org, diakses 21/042014).

Berikutnya, metode dakwah yang juga banyak dipilih adalah lewat karya tulis (tulisan). Kelebihan metode ini, bahwa tulisan: Pertama, bisa menggerakkan orang. Kedua, dapat menjangkau banyak orang dan di banyak tempat. Ketiga, potensial abadi.

BACA JUGA  Natal, Ibadah Kaum Kristen

Terkait bukti kelebihan metode dakwah lewat tulisan, lihatlah misalnya buku “Ihya Ulumuddin” karya Imam Al-Ghazali. Kelebihannya, pertama, buku itu pernah bisa menggerakkan umat Islam sehingga dapat memenangkan Perang Salib di Palestina. Kedua, buku itu telah dibaca dan menginspirasi sangat banyak orang di berbagai belahan bumi. Ketiga, buku yang dibuat lebih dari seribu tahun lalu itu masih terus dicetak dan dibaca hingga kini.   

Dalam hal metode dakwah lewat karya tulis, negeri ini punya catatan berupa tokoh-tokoh yang berjasa karena tulisan mereka masih bisa kita nikmati hingga kini. Di antara tokoh-tokoh yang dimaksud antara lain adalah Hasby Ash-Shiddiqy, A.Hassan, M. Natsir, Isa Anshary, dan HAMKA.

Perhatikanlah tokoh yang disebut terakhir di atas. HAMKA fenomenal, sebab sosok yang tak tamat Sekolah Dasar (SD) itu ternyata memiliki beragam predikat yang baik yaitu ulama, pemikir, aktivis politik, sastrawan, dan penulis. Dari dirinya telah lahir lebih dari seratus buku. HAMKA yang telah meninggal pada 24/7/1981 serasa masih bersama kita sebab dia mewariskan seratusan buku. Tafsir Al-Azhar adalah karya tulis HAMKA yang sangat mudah kita ingat.

Mari cermati lagi deretan contoh tokoh di atas, baik yang memiliki kemampuan berpidato ataupun yang mempunyai kecakapan menulis. Ternyata, ada beberapa tokoh yang berkemampuan ganda yaitu fasih berbicara sekaligus trampil menulis. Tokoh-tokoh itu adalah HAMKA, M. Natsir, dan Isa Anshary. “Falsafah Hidup” adalah sekadar menyebut contoh lain karya tulis HAMKA, “Fiqhud Da’wah” adalah satu di antara karya tulis M. Natsir, dan “Mujahid Dakwah” adalah salah satu karya tulis Isa Anshary. Ketiga buku itu masih ada hingga kini sekalipun ketiga penulisnya telah lama wafat.

BACA JUGA  Kampanye Toleransi, Agama Jangan Biarkan Dicaci

Siapa Mau

Sekali lagi, berdakwah dengan segala bentuknya adalah wajib bagi setiap Muslim (Asmuni Syukir, 1983: 27). Oleh karena itu, mari tunaikan dengan baik. Adapun soal metode dakwah, silakan pilih yang sesuai kemampuan kita masing-masing. Hanya saja, tampak bahwa da’i (juru dakwah) ideal itu adalah yang fasih berbicara (berceramah/berpidato) sekaligus cakap pula menulis. Sementara, berbicara dan menulis adalah ketrampilan yang bisa dipelajari. Jadi, maukah kita belajar dan berlatih menjadi da’i ideal? []

Last modified: 12/05/2014

One Response to :
Menarik, Da’i yang Fasih Bicara dan Cakap Menulis

  1. Prof. Dr. Buya Hamka was my favourite da’i.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *