Mempertimbangkan Korea, Bukan Hanya Soal K-Wave

Sebagai salah satu dari empat Macan Asia Timur, Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di Asia, yang bisa disejajarkan dengan  perekonomian negara-negara Uni Eropa. Perusahaan Samsung Electronics merupakan perusahaan elektronik terbesar di dunia.

Geliat perekonomian Korea Selatan ini menyedot banyak tenaga kerja profesional maupun non-profesional (kasar) dari berbagai negara, termasuk negara-negara Muslim. Dari sanalah dakwah yang masif bermula. Memang, sejak tahun 1950, agama Islam sudah tersebar di Korea Selatan, yakni ketika pasukan multinasional PBB datang kesana untuk memelihara keamanan wilayah yang saat itu sedang berperang dengan Korea Utara. Di antara negara yang turut berpartisipasi dalam pasukan multinasional adalah Turki. Tentara Turki berjasa menyebarkan Islam di sana.

Namun, pertumbuhan pesat penganut Islam di Korea Selatan, baik penganut yang berasal dari luar Korea maupun orang asli Korea baru terlihat dekade 2000-an, terutama pada tahun 2004. Data dari Korea Muslim Federation (KMF) yang didirikan sejak tahun 1967 menyebutkan, jumlah Muslim di Korea Selatan sekarang ini mencapai 120.000-130.000 orang, terdiri dari Muslim Korea asli dan para warga negara asing. Jumlah orang Korea asli yang Muslim sekitar 45.000 orang, selebihnya didominasi pekerja migran asal Pakistan dan Bangladesh. Untuk menunjang dakwah Islam di sana, kemudian didirikan banyak masjid. 

Sepuluh tahun yang lalu, belum banyak masjid di negara ini. Tapi sekarang, masjid-masjid sudah banyak tersebar hampir di seluruh kota besar di Korea Selatan. Masjid terbesar adalah Masjid Sentral Seoul yang berlokasi di distrik Itaewon.

Selain sekolah Islam, sejak tahun 2008 lalu, juga dibangun pusat kebudayaan Islam di kota Seoul. Dengan adanya sekolah dan pusat kebudayaan Islam ini, diharapkan bisa memperluas syiar Islam di Korea Selatan sekaligus meluruskan informasi-informasi bias tentang Islam dan Muslim yang diterima oleh masyarakat negeri itu.

Dengan banyaknya Muslim Indonesia yang bekerja maupun belajar di sana, diharapkan bisa menjadi pendorong syiar Islam, selain para da’i tentunya. Dan tahukah Anda? Presiden direktur PT. Samsung Indonesia, sebuah perusahaan elektronik terbesar di dunia dari Korea, juga menganut agama Islam dan menikah dengan seorang wanita Indonesia asal Sumedang. (Kartika/wikipedia/iol/eramuslim/koreanarakitaku).

BACA JUGA  Klarifikasi Syeikh Al Azhar Tentang Cadar
No Response

Leave a reply "Mempertimbangkan Korea, Bukan Hanya Soal K-Wave"