Mempertanyakan Intelektualitas Mahasiswa

No comment 416 views

 

Seputar Istilah Mahasiswa

Mahasiswa terdiri dari dua kata yakni Maha dan Siswa. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata Maha mengandung sifat superlatif yakni tertinggi atau terbesar. Kata Maha tidak sembarang dilekatkan bersama kata yang lain. Begitu sakralnya kata ini sehingga hanya disandangkan kepada Tuhan untuk menunjukkan kemahabesaranNya. Sementara itu, kata siswa sendiri bermakna sebagai orang yang belajar di lembaga pendidikan atau disebut peserta didik. Jadi kata mahasiswa menunjukkan adanya seorang siswa yang “Maha” dalam hal pendidikan. Oleh karena itu, secara etimologis kata mahasiswa bermakna seorang siswa atau peserta didik di perguruan tinggi yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas.

Kata mahasiswa juga sering kali disandingkan dengan kaum intelektual atau kaum yang berilmu. Status mahasiswa yang melekat pada diri seseorang menjadi simbol bahwa dia orang yang terdidik. Bahkan karena begitu tingginya derajat mahasiswa, sehingga lembaga atau kampus tempat mereka belajar juga diberi nama perguruan tinggi atau sekolah tinggi. Adapun siswa SD, SLTP, atau SMA/SMK hanya menggunakan nama sekolah untuk menunjukkan tempat mereka belajar. Nama ini tentu sangat eksklusif, mengingat tidak ada yang menggunakannya selain mahasiswa. Hal ini membuktikan betapa tingginya derajat seorang mahasiswa.
Ke-Maha-an seorang mahasiswa tidak hanya terletak pada tinggi dan banyaknya ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Melainkan juga terletak pada seberapa luhur budi pekertinya. Seorang yang berstatus mahasiswa dengan ilmu yang menggunung harus disertai dengan budi pekerti yang tinggi pula. Dan memang seharusnya seperti itu, tingkat pendidikan berkorelasi positif dengan perilaku. Jadi kalau ada mahasiswa yang tidak sopan atau berperilaku buruk, tentu dia telah menodai gelar kemahasiswaan yang disandangnya.

 

BACA JUGA  Syiah di Mata Ulama Salaf

Peran dan Fungsi Mahasiswa

Perbedaan status dan kedudukan menunjukkan adanya tuntutan peran dan fungsi yang juga berbeda. Misalnya saja, peran dan fungsi seorang yang berstatus tukang becak tentu berbeda dengan seorang yang berstatus mahasiswa. Pola pikir dan perilaku tukang becak tentu berbeda pula dengan mahasiswa. Semakin tinggi status dan kedudukan sosial seseorang, semakin besar dan luas pula tuntutan perannya dalam masyarakat. Peran tukang becak hanya berkutat diseputar bagaimana dia mengantar penumpang sampai ke tujuan dengan selamat. Sementara itu, mahasiswa memiliki peran tidak hanya terbatas diseputar teritorial kampus. Namun, lebih dari itu mahasiswa juga memiliki peran yang lain.

Mahasiswa berperan sebagai agen of change atau agen pembaharu. Peran ini tentu tida serta-merta diletakkan begitu saja kepada mahasiswa. Mereka sebagai kaum intelektual yang memiliki kecakapan diharapkan mampu membawa perubahan-perubahan dalam masyarakat. Mahasiswa dituntut untuk peka terhadap realitas sosial yang ada. Sebagian besar masyarakat sekarang masih terbenam dalam kemiskinan dan kebodohan, sehingga dipundak mahasiswalah perubahan ke arah yang lebih baik itu dititipkan.

Mahasiswa juga berperan sebagai social control. Mahasiswa dituntut tidak hanya memikirkan masa depannya sendiri. Melainkan dia juga harus peka terhadap  kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Ketika kebijakan-kebijakan penguasa tidak lagi berpihak pada rakyat, maka mahasiswa harus mengoreksinya. Mereka juga berperan untuk menyuarakan kepentingan rakyat. Begitu pula ketika terjadi penyelewengan dan penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa, maka mahasiswa dituntut melakukan perlawanan. Selain itu, mahasiswa juga berperan sebagai iron stock. Mahasiswa merupakan generasi penerus estafet kepemimpinan. Maju tidaknya bangsa ini ditentukan oleh generasi mudanya. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai kaum muda yang telah terdidik diharapkan dapat membawa negeri ini semakin maju.

 

BACA JUGA  Teologi dan Etika Sosial Masyarakat Islam

Realitas Mahasiswa Kekinian

Keagungan dan kemuliaan sebagai mahasiswa kini dinodai oleh perilaku mahasiswa itu sendiri. Kekerasan dan tawuran seolah menjadi aktivitas rutin bagi mahasiswa. Jika dulu tawuran hanya terjadi di beberapa kampus, tapi sekarang telah menyebar hampir di seluruh daerah. Tentu ini adalah prestasi yang sangat memalukan. Ke-Maha-an seorang mahasiswa telah dipertanyakan. Gelar sebagai kaum intelektual juga kini telah dirongrong untuk dicabut. Masyarakat yang dulu selalu dibela oleh mahasiswa, kini semakin kesal dengan ulah mahasiswa. Bahkan tak jarang, masyarakat mencemooh aktifitas mahasiswa.

Masyarakat pun hampir-hampir tak percaya lagi dengan mahasiswa. Hal ini terbukti dengan semakin aktifnya masyarakat menyuarakan kepentingan mereka sendiri. Masyarakat semakin pintar memobilitasi sesama mereka untuk turun berdemonstrasi. Berbagai forum dan paguyuban masyarakat juga kian banyak terbentuk. Masyarakat dari berbagai lapisan seperti sopir, nelayan, pedagang kaki lima, hingga petani tak segan-segan mendatangi kantor legislatif dan eksekutif untuk menyampaikan aspirasinya. Bahkan kumpulan tukang becak pun kini telah memiliki asosiasi.
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa mahasiswa mulai ditinggalkan oleh masyarakat? Mengapa mahasiswa kini tak lagi mendapat kepercayaan untuk mengawal aspirasi masyarakat? Jawabannya karena mahasiswa telah menodai gelar ke-Maha-an mereka sebagai mahasiswa. Mereka tidak lagi menunjukkan dirinya sebagai kaum intelektual. Tawuran antar kampus atau bahkan antar fakultas menunjukkan ketidakintelektualan sebagai seorang yang terdidik. Demonstrasi yang selalu diwarnai dengan pembakaran, pemblokiran jalan, dan pengrusakan fasilitas umum juga turut mencabut kepercayaan masyarakat terhadap mahasiswa.

Kalau ingin ke-Maha-an sebagai mahasiswa kembali lagi seperti dulu. Jika mahasiswa ingin kembali dipercaya oleh masyarakat. Ketika mahasiswa masih mau dianggap agen of change, social control, dan iron stock, maka mahasiswa harus menunjukkan keintelektualannya dalam berbagai kesempatan. Mahasiswa mesti memperlihatkan kedewasaannya dalam berpikir dan bertindak. Hanya dengan itu semua, mahasiswa baru akan bisa kembali ke-Fitrah-nya sebagai seorang mahasiswa.

No Response

Leave a reply "Mempertanyakan Intelektualitas Mahasiswa"