Membangun Peradaban Islam di Nusantara

No comment 2136 views

img-20161011-wa0024Inpasonline.com-Program PascasarjanaInstitut Agama Islam DarullughahWadda’wah (INI DALWA) Bangil-Pasuruan pada hariAhad, 9/10/2016 menyelenggarakan Kuliah Perdana dengan tema “MembangunPeradabanKeislaman di Nusantara”.

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan DauddariCASIS UniversitiTeknologi Malaysia Malaysia(UTM) dan Dr. Muhammad Zeindari Kementrian Agama (Kemenag) RI sebagai narasumber kuliah perdana untuk mahasiswa baru program doctor yang barudi buka dan seluruh mahasiswa magister.

Tema yang diangkat dalam Kuliah Perdana mahasiswa Pascasarjana ini menarik civitas akademika INI DALWA.Turut hadir Mudir Ma’had, Habib Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun dan Rektor INI DALWA, Dr. Habib Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I serta seluruh pejabat kampus lainnya.

“Kami berharap kita menjadi mukmin yang bisa membanggakan Nabi. Dengan cara dakwah yang bisa masuk pada semua segi kehidupan manusia.Itulah harapan kita di program ini”, jelasHabib Segaf dalam sambutan nya.

Rektor INI DALWA tersebut juga berharap santri tidak hanya pintar berbicara, tetapi juga pintar akalnya.Jadi ulama sekaligus ilmuan. “Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain, pintar bicara dan akalnya. Yang bisa berkecimpung di masyarakat”, tambahnya.

Sementara itu, direktur pascasarjana INI DALWA, Dr. Zainal Abidin Bilfaqih, menjelaskan keperluan dibukanya program doktoral Dirosah Islamiyah di kampus Dalwa dengan fokus pada pengkajian turats-turats ulama Nusantara.

“Sekrang banyak beredar pemikiran-pemikiran sejarah yang kabur dari pengkaji Barat, tidak orisinil dan terputus rantai sanad keilmuannya kepada para ulama kita”, tegasnya.

Karena itu, menurutnya, harus segera dimulai membuka dan mengkaji turats lama karya para ulama, meneliti kembali Islamisasi di Nusantara yang dibawa oleh keturunan Nabi saw dari Yaman itu.

Dr. Zainal menerangkan filosofi studi doktoral di INI DALWA.“Program ini mengembangkan pemikiran tiga ulama besar abad ini,yaitu Prof. sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki (alm) dariMakkah, Dr. Habib Abu Bakar al-Adni al-Masyhur dari Hadramaut, dan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dari  Malaysia”, tambahnya.

BACA JUGA  Ulil Kelabakan di Jawa Timur

Progam yang dijalankan nanti menurut Dr. Zainaldiharapkanmenghasilkankonsep-konsepilmu yang orisinil, tidak tercampur mindset Barat, untuk membangun peradaban Islam di Nusantara.

Dr. Muhammad Zein dari Kementrian Agama mendukung program peradaban ini.Ia juga sangat respek dengan ide-ide dan pemikiran Prof. Wan MohdNor, murid utama Prof. Naquib al-Attas.

“Yang membentuk Indonesia adalah para ulama sufi. Pendapat ini yang kemudian dikaburkan oleh orientalis. Karena itu, diharapkan dengan program ini turats-turats ulama kita terselamatkan. Apalagi, Dalwa memiliki kelebihan di bahasa Arab”, ujarnya.

Ia berpendapat, bahwa bahasa itu sangat penting karena problem sarjana Muslim saat ini ada pada bahasa Arabnya.

Sementara Prof. Wan Mohd Nor menerangkan banyak aspek filosofi membangun peradaban Islam dan pentingnya pandangan alam Islam.

“Peradaban Barat berasas dari Yunani kuno yang bersifat filosofis. Tetapi falsafahnya tidak berakhlak. Karena itu mereka membenarkan segala perilaku manusia.Itulah peradaban modern Barat. Sementara Cina mengutarakan konsep baru “peradaban ekologi”.Tetapi, semua itu sama, bersifat materialis, tidak mengasaskan pada agama”, ujarnya.

Sedangkan, jelas Prof. Wan, peradaban Islam itu bercirikan pada akhlak yang tinggi berdasarkan wahyu. Ia merupakan PeradabanAkhlak (Ethical Civilization). Karena itulah kenapa perlu membangun peradaban Islam di Nusantara yang berdasarkan akhlak itu.

Ia melanjutkan, peradaban Barat itu tidak terlalu mementingkan akhlak.“Sifat peradaban Barat bersifat teknologikal, suatu peradaban yang semata-mata berasas teknologi, bukan agama dan bukan akhlak”, tambah Prof. Wan.

Kekhasan peradaban ini menjadi faktor keberhasilan Islam masuk dengan mudah di Nusantara.

“Sampainya Islam di berbagai negara dunia tanpa paksa. Tanpa kekuatan militer.Termasuk datangnya ke Melayu juga tanpa militer, tetapi dibawa oleh para sufi dan keturunan Imam Muhammad Sahib Marbat, Sayid Ahmad bin Isa al-Muhajir, Ali bin Abi Talib dan Rasulullah saw. Semua dai tersebut datang dengan kebijaksaan, ilmiah dan akhlak, menyatukan pulau-pulau Melayu dalam satu agama dan bahasa dan tulisan pego”, tambah pendiri CASIS UTM Malaysia itu.

BACA JUGA  Ekstrimisme Teologi Politik Syiah

Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa dakwah Islam oleh dai-dai penyebar agama di Nusantara dikatakanoleh Prof. Wan sebagai pilihan yang betul.

“Bahasa Melayu dipilih dikarenakan bahasa ini masih murni, belum kental bercampur pandangan alam agama Hindu. Sedangkan bahasa Jawa masih tercampur dengan animisme Hindu- Budha. Maka, jika Islam disampaikan dalam bahasa Jawa, maka Islam tersampaikan tidak dalam bentuk murni”.

Dijelaskan oleh Prof. Wan bahwa pandangan alam Islam itu dibentuk melalui bahasa terutama melalui kata-kata/istilah kuncinya. Datangnya pemikiran-pemikiran asing juga melalui bahasa.

Banyak kata-kata kunci Islam yang dibelokkan maknanya. Maka tugas ilmuan adalah mengkaji istilah-istilah bahasa kunci itu agar tidak terjadi penyalahpahaman istilah Islam.

Sekali lagi Prof. Wan menegaskan bahwa Islamisasi bukan sama dengan arabisasi. Justru bahasa Arab mengalami Islamisasi melalui bahasa al-Qur’an. Islamisasi bukan sekedar mengimpor kata-kata kunci Islam dari bahasa Arab ke dalam bahasa lokal, tetapi mengubah makna/istilah kata-kata kunci dari bahasa lokal menjadi makna Islami.

Sehingga, tambahnya, ada istilah-istilah asing tetap digunakan dalam bahasa Melayu, tetapi makna kandungannya telah diganti. Seperti penggunaan kata ‘dosa’, ‘pahala’, ‘surga’, ‘neraka’ dan lain-lain dari bahasa sansekerta, dibiarkan.

“Bahasa Arab sudah diislamkan dengan memberi makna-makna baru. Islamisasi bahasa Arab oleh al-Quran. Contoh istilah karim atau karomah. Sebelum Islam karim itu dermawan, suka memberi pada orang lain. Islam datang dengan al-Qur’an menyempurnakan makna karim menjadi orang yang paling bertakwa (innaakramakumindallahiatqakum)”, tambahnya.

Itulah pentingnya bahasa. Khususnya bahasa Arab. Prof. Wan berpendapat bahwa perubahan perilaku berasal dari perubahan pikiran dan perubahan pikiran bermula dari bahasa. [KH]

No Response

Leave a reply "Membangun Peradaban Islam di Nusantara"