Memaknai Musibah

No comment 622 views

Tiap manusia akan memiliki jatah “musibah” sesuai dengan proporsi yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, “…Dan bersabarlah atas apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting (yakni sebuah keniscayaan)” (QS. Luqman: 17). Dalam Surat al-Baqarah ayat 155-156, Allah berfirman, “Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata inna lillah wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali)”.

Hikmah Musibah
Ada sebagian orang, dengan tidak merasa berdosa, membuat istilah yang kurang proporsional atau tidak ada kaitannya dengan musibah jebolnya tanggul di Situ Gintung, Tsunami di Aceh, luapan lumpur di Sidoarjo, dan gempa di Yogyakarta. Mereka menyatakan bahwa musibah itu terjadi karena alam sudah bosan atau karena Allah telah murka. Bahkan mereka tidak risih memvonis bencana tersebut sebagai azab. Seyogyanya kita bersikap empati dan arif dalam merespon dan menyikapi apapun peristiwa yang terjadi di bumi.
Musibah apapun yang menimpa umat Rasulullah tidak lepas dari dari 6 perkara:
Pertama, sebagai ujian keimanan. Allah berfirman dalam al-Qur`an Surat al-Ankabut ayat 1-2,
“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, “Kami beriman”, dan mereka tidak diuji?! Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti akan mengetahui orang-orang yang benar (dengan keimanannya) dan orang-orang yang berdusta”.
Firman-Nya dalam Surat Muhammad ayat 31,
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu”.
Kedua, sebagai upaya meningkatkan derajat keimanan. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula ujian yang ditimpakan kepadanya. Dalam al-Qur`an, Hadis dan Sirah Nabawiyah (sejarah nabi) banyak kita temukan kisah musibah yang menimpa para nabi. Nabi Nuh misalnya, selama 950 tahun berdakwah hanya mendapatkan sedikit orang yang beriman, sementara kebanyakan umatnya kufur bahkan memperoloknya (QS. Al-Ankabut ayat 14), Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrudz (QS. Al-Anbaiya` ayat 57-70), Nabi Ayub yang diuji dengan ludesnya harta dan kematian hampir seluruh anggota keluarganya serta tubuhnya yang dijangkiti banyak penyakit (QS. Shad ayat 41), dan Rasulullah yang diejek dan disakiti orang-orang kafir Makkah, bahkan hendak dibunuh.
Rasulullah saat ditanya oleh Shahabat Sa’ad bin Abu Waqqash tentang orang yang paling berat cobaannya, beliau menjawab, “Para nabi. Kemudian orang-orang yang derajatnya dekat dengan para nabi”. (HR. al-Imam al-Hakim dan al-Imam al-Thabrani) . Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim, Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim terkena duri, atau lebih dari itu, kecuali Allah mengangkat baginya satu derajat, dan menghapuskan darinya satu dosa”.
Ketiga, sebagai bukti cinta Allah terhadap hamba-Nya. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dan al-Imam al-Thabrani dari Mahmud bin Labid, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia mengujinya (dengan memberinya musibah)”.
Keempat, sebagai tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang (segolongan kaum), kebaikan ini berbentuk pemberian pahala dan penghapusan dosa yang diberikan Allah bagi orang yang bersabar dalam menjalani musibah. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan al-Imam al-Thabrani, Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, Dia mengujinya dengan bala’ (musibah). Dan ketika Allah menguji hambanya, Dia memberatkannya”. Saat para shahabat bertanya maksud dari “memberatkannya”, Rasulullah bersabda, “Allah tidak meninggalkan baginya keluarga dan harta”.
Al-Imam Abu Dawud meriwayatkan Hadis dari Shahabat Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah bersabda, “Umatku umat yang dirahmati, di mana tidak ada atas mereka siksaan di akhirat. Siksaan mereka di dunia berupa bencana, gempa dan pembunuhan”
Al-Imam Ahmad dan al-Imam al-Bazzar meriwayatkan sebuah Hadis yang kualitasnya hasan (semi shahih) dari Ummul Mukminin Aisyah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ketika dosa seorang hamba sudah sedemikian banyak, dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghapusnya, maka Allah mengujinya dengan kesusahan agar dosanya terhapuskan”.
Kelima, sebagai teguran atau peringatan. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Hibban dari Shahabat Ubadah bin al-Shamit, Rasulullah bersabda,
“Tidak ada seorangpun dari kalian melanggar ketentuan (Agama) kemudian disegerakan siksaannya (sebagai hukuman), kecuali siksa itu menjadi kafarah (penebus dosanya). Dan siapa yang siksanya diakhirkan, maka urusannya dikembalikan kepada Allah; Kalau Allah menghendaki, Dia merahmatinya (mengampuni kesalahannya) . Dan kalau Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya” .
Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Hakim, Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka disegerakan baginya hukuman (di dunia ini) atas dosanya. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia tahan hukuman dosanya di dunia, sehingga disiksa-Nya pada hari Kiamat.”
Keenam, sebagai siksa Allah di dunia. Dalam al-Qur`an Surat al-Anfal ayat 25, Allah menjelaskan bahwa ketika kemaksiatan dan kejahatan merajalela, dan tidak ada orang yang mencoba melakukan amar makruf nahi munkar, maka siksa Allah (musibah) akan menimpa mereka secara keseluruhan, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang melihat orang yang zhalim kemudian mereka tidak mengubahnya, maka hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan siksaan dari-Nya”.
Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Tirmidzi, Rasululullah bersabda, “Demi Dzat yang menguasai diriku, sungguh kamu akan menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar, atau kamu akan dikirimkan siksa dari Allah, kamudian kamu berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan”

BACA JUGA  Dilaog Lintas Agama Mengajarkan Relativisme

PAHALA SYAHID?!
Dalam sebuah Hadis muttafaq ‘alaih dinyatakan orang yang mati syahid ada lima; pejuang muslim yang mati di peperangan fi sabilillah, orang yang mati akibat tertimpa reruntuhan, wabah penyakit epidemis, tenggelam, dan sakit perut.
Berdasarkan Hadis di atas, para ulama membagi syahadah (mati syahid) menjadi tiga; Syahid di dunia dan di akhirat, syahid di akhirat saja, dan syahid di dunia saja. Orang yang mendapatkan predikat syahid di dunia dan akhirat adalah pejuang yang dengan niat yang ikhlas berperang fi sabilillah, dan mati di medan peperangan. Orang yang mendapat predikat syahid di akhirat saja adalah orang yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan, wabah epidemis, tenggelam, dan sakit perut. Sementara orang yang syahid di dunia saja adalah orang yang mati dalam peperangan bersama pasukan kaum muslimin, tetapi ia tidak ikhlas dan ikut berperang karena pamrih duniawi.
Orang yang syahid di dunia-akhirat, dan syahid di akhirat saja, tidak usah dimandikan dan dishalati. Sedangkan orang yang syahid di dunia saja, wajib dimandikan dan dishalati sebagaimana orang yang mati biasa.
Pada tanggal awal bulan Januari 2005, MUI telah mengeluarkan fatwa yang isinya menyatakan bahwa korban bencana gempa dan tsunami di Aceh adalah syahid, yaitu mereka yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan gempa dan tenggelam badai tsunami. Fatwa ini dapat juga diqiyaskan (disamakan) terhadap korban jebolnya tanggul Situ Gintung dan musibah lainnya.
Status korban musibah dan bencana alam apakah syahid atau ”sangit” tentunya hanya Allah yang tahu. Status ini akan berbeda bagi masing-masing korban. Orang baik yang meninggal dalam bencana alam, sangat mungkin akan mendapat pahala syahid. Sementara orang jahat dan banyak dosa yang menjai korban bencana alam, maka bisa ia bukan syahid. Menggeneralisasi seluruh korban bencana alam dalam satu penilaian, merupakan sebuah ”ketidaktepatan”.
Musibah jebolnya tanggul Situ Gintung tidak terjadi tanpa sebab. Ada kelalaian manusia dalam menjaga dan merawat tanggul tersebut, ditambah tentunya debit air yang melimpah akibat hujan yang turun dengan lebat. Penyelidikan terkait penyebab musibah ini perlu dilakukan agar pihak yang bersalah mendapat ganjarannya, kemudian kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Sambil melakukan tindak tanggap darurat bencana, kita bisa membantu mereka secara materil dan moril. Sikap empati dan doa juga perlu kita sampaikan agar mereka yang menjadi korban mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala.
Al-Imam al-Thabrani meriwayatkan sebuah Hadis dhaif dari shahabat Ibnu Abbas, Rasulullah pernah bercerita bahwa seorang nabi pernah bermunajat kepada Allah tentang seseorang yang beriman dan beramal shaleh, tetapi ia mendapatkan cobaan dan musibah. Di sisi lain, ada orang yang kufur dan selalu melakukan maksiat, tetapi ia justru hidup kaya raya dan sejahtera di dunia. Allah menjawab munajat ini dengan menyatakan bahwa bumi dan seisinya adalah milik-Nya, dan seluruh makhluk harus memuji dan mensucikan-Nya. “Adapun hamba-Ku yang beriman dan (tentu ia) memiliki dosa, maka Aku timpakan musibah dan jauhkan darinya dunia (sebagai balasan dosanya di dunia), sehingga saat ia kembali kepada-Ku, Aku berikan pahala atas amal kebajikannya”, Demikian jawaban Allah Ta’ala. “Dan hamba-Ku yang kafir dan ia memiliki kebajikan, maka Aku jauhkan darinya musibah dan berikan padanya harta duniawi (sebagai balasan kebajikan yang dimilikinya) , sehingga saat ia kembali kepada-Ku, Aku akan membalas kekufuran dan kejahatannya (dengan siksaan).”
Allah A’lam

BACA JUGA  Teologi dan Etika Sosial Masyarakat Islam
No Response

Leave a reply "Memaknai Musibah"