Meluruskan Makna Islam Rahmatan Lil Alamiin

Written by | Pemikiran Islam

mq1

Oleh: Ainul Yaqin*

mq1Inpasonline.com-Ungkapan rahmatan lil alamiin banyak didengung-dengungkan, namun sering disalahfahami pengertiannya. Contoh, dengan dalih rahmatan lil alamin sekelompok orang menolak penutupan prostitusi. Kata mereka, jika prostitusi ditutup langsung, banyak orang kehilangan  pekerjaan.

Dengan dalih rahmatan lil alamiin pula, ada sekelompok orang Islam yang bukan merupakan petugas pemerintah dengan sukarela ikut menjaga gereja saat perayaan Natal. Padahal, diketahui aktivitas peribadatan di gereja dalam pandangan Islam termasuk perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Patut direnungkan apakah membantu menjaga kegiatan peribadatan di gereja tidak termasuk menolong kedzaliman. Menjaga kegiatan peribadatan di gereja minimal serupa dengan sikap ridla dengan kegiatan ritual yang ada di dalam gereja. Kecuali bila melakukannya karena sebagai petugas pemerintah seperti polisi atau petugas keamanan yang lain, karena tanggungjawab untuk memelihara keamanan dan ketertiban secara umum ada di tangan pemerintah.

Benarlah bahwa cara pemahaman rahmatan lil alamiin yang salah kaprah atau secara sengaja didistorsikan menyebabkan maknanya menjadi berbenturan dengan konsep-konsep yang lain dalam Islam misalnya seruan amar makruf nahi munkar. Upaya-upaya nahi munkar seakan-akan tidak rahmatan lil alamiin.

Karena itu, istilah rahmatan lil alamiin perlu didudukkan pemahamannya  secara tepat dengan merujuk pada cara pemahaman para mufassir yang kredibel.

Rahmatan lil alamiin merupakan ungkapan yang terdapat di al-Qur’an yang diambil dari firman Allah surat al-Anbiya ayat 107.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS al-Anbiya: 107)

Pengertian rahmatan lil alamiin berdasarkan komparasi dengan ayat yang lain dan hadits-hadits Nabi Saw serta melihat kesimpulan dari para mufassir, secara umum merujuk pada dua hal yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan yaitu; pertama berhubungan dengan eksistensi Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa risalah dan kedua sifat dari Islam sebagai ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Dari sisi yang pertama, eksistensi kehadiran Nabi Muhammad Saw ke muka bumi ini merupakan Rahmat Allah yang dihadiahkan kepada umat manusia. Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ

“Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiyahkan (untuk seluruh alam)” (HR al-Darimi dalam Sunan al-Darimi Juz I/hal.166, hadits senada diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath Juz III/hal.223 hadits No. 2981)

Rahmat secara bahasa menurut kamus Lisan al-Arab bermakna al-riqqah wal al-ta’aththuf (belas kasihan dan iba). Allah menurunkan Nabi Muhammad ke tengah-tengah kehidupan umat manusia adalah wujud belas kasihan Allah kepada semuanya termasuk kepada orang-orang yang tidak beriman. Wujud rahmat yang menyertai kehadiran Rasulullah Muhammad Saw ke bumi ini disamping untuk memberikan pencerahan dan menunjukkan kepada jalan yang benar kepada umat manusia, Allah menunda pemberian adzab secara langsung kepada orang-orang yang ingkar seperti yang pernah terjadi pada umat-umat terdahulu. Imam Abu Qashim al-Qusyairi dalam tafsirnya Lathaif al-Isyarah (Juz II/hal. 308) ketika menjelaskan surat al-Anbiya ayat 107 menuliskan:

اما من اسلم فبك ينجون, واما من كفر فلا نعذبهم ما دمت فيهم, فانت رحمة منا على الخلائق اخمعين

“Adapun orang Islam maka dengan mu Muhammad, mereka selamat sedangkan orang yang ingkar maka Kami tidak mengadzabnya selama kalian ada di dekatnya, dan engkau adalah rahmat dari –Ku atas seluruh makhluq.

Penjelasan al-Qusyairi ini senada dengan penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh al-Qurthubi:

كان محمد صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس فمن آمن به وصدق به سعد, ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق.

Adalah Nabi Muhammad Saw merupakan rahmat atas seluruh manusia. Maka barang siapa yang beriman dengan beliau dan membenarkan (risalah)nya akan memperoleh kebahagiaan, dan barang siapa yang tidak beriman dengan beliau akan selamat dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa ditenggelamkan ke dalam bumi atau dihanyutkan ke dalam air. (al-Qurthubi, 2006; Juz XIV, hal 302)

Rasulullah Saw juga bersabda:

سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً سَأَلْتُ رَبِّي أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا

Aku memohon tiga hal kepada Tuhanku (Allah),, Ia mengabulkan dua hal dan menolakku satu hal. Aku meminta Tuhanku agar tidak membinasakan ummatku dengan paceklik (kekeringan), Dia mengabulkannya, aku memintaNya agar tidak membinasakan ummatku dengan ditenggelamkan, Dia mengabulkannya dan aku memintaNya agar tidak menjadikan umatku saling membinasakan sesama mereka maka Dia menolaknya. (HR Muslim, Shahih Muslim Jilid II/hal 1321)

Rahmatan lil alamiin juga berhubungan dengan sifat dan karakter pribadi Rasulullah Saw sebagai teladan yang sempurnya. Allah memujinya dalam al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah Saw merupakan teladan dalam semua aspek kehidupan. Beliau seorang pemimpin yang sangat bijaksana, lemah lembut dan peduli serta selalu memberikan jalan keluar atas persoalan yang dihadapi umatnya.

Dalam beberapa hadits diceritakan, suatu ketika ada seorang badui karena ketidaktahuannya kencing di masjid. Tentulah perbuatannya ini membuat para sahabat yang menyaksikannya marah, tetapi Nabi Muhammad Saw dengan bijaksana mencegah kemarahan Sahabat beliau seraya bersabda:

دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“Biarkanlah dia, dan siramkanlah pada bekas kencingnya satu timba air atau satu ember air karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberikan kesulitan.” (lihat Shahih Bukhari Juz I/hal 108 hadits No. 218; Sunan al-Tirmidzi Juz I/hal 275-276 hadits No. 147; dan Musnad Imam Ahmad Juz XII/hal 197 hadits No. 7255)

BACA JUGA  Politik Islam dan Ketakutan Kaum Imperialis

Dalam riwayat lain disampaikan bahwa Rasulullah bersabda:

لَا تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ

“Janganlah kalian menghentikan kencingnya, biarkan saja dia (lihat Shahih Muslim Jilid I hal 144 hadits No. 28)

Lalu, dengan tanpa ada rasa marah atau jengkel Rasulullah Saw memanggil si badui dan menasehatinya dengan sabdanya:

إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak boleh untuk buang air kecil atau buang kotoran. Masjid itu tempat untuk dzikir kepada Allah, untuk shalat dan membaca Al-Qur`an (lihat Shahih Muslim Jilid I hal 144 hadits No. 28)

Si badui yang  kencing di masjid itu pula yang ikut shalat di belakang Nabi Muhammad Saw. Seraya berdoa dalam shalatnya:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا

Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau memberi rahmat kepada seorangpun dari orang-orang yang ada bersama kami  (lihat Shahih Bukhari Juz III/hal 390 hadits No. 5794; Sunan al-Tirmidzi Juz I/hal 275-276 hadits No. 147; dan Musnad Imam Ahmad Juz XII/hal 197 hadits No. 7255)

Rasulullah Saw yang mendengar do’a itu, selepas shalat dengan kelembutannya menegur kepada si badui seraya beliau bersabda:

لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا

Sesungguh engkau telah mempersempit sesuatu yang luas (lihat Shahih Bukhari Juz III/hal 390 hadits No. 5794; Sunan al-Tirmidzi Juz I/hal 275-276 hadits No. 147; dan Musnad Imam Ahmad Juz XII/hal 197 hadits No. 7255)

Kisah di atas merupakan salah satu contoh kecil saja yang memperlihatkan bahwa Rasulullah Saw adalah pribadi yang sangat bijaksana.

Contoh lain sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw pernah dimintai sahabatnya untuk menyumpahi (mendoakan jelek) kepada orang-orang musyrikin. Mungkin permintaan ini dilandasi oleh rasa jengkel mereka yang sudah memuncak karena sikap-sikap yang dilakukan oleh orang-orang musyrik pada mereka yang tidak mengenakkan. Mereka menyampaikan kepada Rasulullah Saw:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ

Ya Rasulullah saw, sumpahilah atas orang-orang musyrik

Namun dengan lembut dan bijak Nabi Muhammad Saw menyampaikan nasihatnya kepada sahabatnya.

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang melaknat, aku diutus hanya sebagai rahmat” (H.R. Muslim, Jilid II/hal 1204 hadits No. 2599)

Keluhuran pribadi Nabi Muhammad Saw juga nampak dari sikapnya yang sangat empati dan peduli atas nasib dan penderitaan yang dihadapi umatnya. Beliau sangat berharap agar semua umatnya akan selamat. Karakter inilah yang dilukiskan di dalam al-Qur’an surat al-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min. (Q.S. al-Taubah: 128)

Semua karakter luhur yang melekat pada diri Nabi Muhammad Saw termasuk sifat lemah lembut beliau adalah bagian dari rahmat Allah untuk manusia. Dalam hal ini Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. (Q.S. Ali Imran: 159)

Aspek yang ke kedua, rahmatan lil alamiin berhubungan dengan karakter ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw. Allah berfirman dalam al-Qur’an.

فَقَدْ جَاءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. (Q.S. Al-An’am: 157)

Kedatangan Islam yang ditandai dengan turunya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw adalah rahmat Allah untuk semua manusia. Kemudian Allah menyerukan kepada manusia agar menyambut rahmat-Nya:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (Al-An’am: 155)

Namun tidak semua orang menyambut rahmat dengan mensyukurinya dan kemudian mengikutinya. Diantara mereka ada menerima dan beriman, ada pula orang-orang kafir yang ingkar terhadap rahmat. Allah menyatakannya dalam al-Qur’an:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ ءَايَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling. (Q.S. Al-An’am: 157)

Imam Ibnu Katsir (1997, Juz V/hal 385) ketika menjelaskan pengertian rahmatan lil alamiin beliau menyatakan:

يخبر تعالى أن الله جعل محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين أي أرسله رحمة لهم كلهم فمن قبل الرحمة وشكر هذه النعمة سعد في الدنيا والآخرة ومن ردها وجحدها خسر الدنيا والآخرة

“Allah ta’alaa menginformasikan bahwa sesungguhnya Allah menjadikan Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni mengutusnya untuk memberikan rahmat atas  mereka semua. maka siapa saja yang menerima rahmat dan bersyukur atas nikmat itu, niscaya akan sejahtera di dunia dan di akhirat, sedangkan siapa saja yang menolak dan menentangnya akan merugi di dunia dan di akhirat

Ibnu Katsir kemudian menyitir firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 28-29:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ(28)جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ (29)

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar ni`mat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, yaitu neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.

Senada dengan Ibnu Katsir, Syeikh Mustafa al-Maraghi (1946, Juz XVII/hal 78) seorang mufassir mutaakhkhirin juga menjelaskan:

BACA JUGA  Perihal Doa Penggugah Kesadaran

اي وما ارسلناك بهذا وأمثاله من الشرائع والاحكام التي بها مناط السعادة في الدارين الا لرحمة للناس وهدايتهم في شؤون معاشهم ومعادهم. …, الا ان الكفار فوَّت على نفسه الانتفاع بذالك,  وأعرض عما هنالك لفساد استعداده وقبح طويَّته, ولم يقبل هذه الرحمة, ولم يشكر هذه النعمة فلم يسعد لا في الدين ولا دنيا

“Yakni Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) dengan al-diin al-Islam ini dengan ajaran-ajaranya yang meliputi ketentuan-ketentuan syari’at dan hukum-hukum yang merupakan tempat bergantungnya kebahagiaan dunia akhirat kecuali untuk memberikan rahmat kepada manusia, memberikan petunjuk dalam urusan kehidupan duniawiah dan ukhrawiah mereka. ………Namun orang-orang kafir telah menyia-nyiakan atas diri mereka tidak mengambil manfaat atas rahmat itu dan malah menolak itu semua karena rusaknya kecenderungan mereka dan jeleknya niat mereka. Mereka tidak menerima rahmat itu serta tidak mensyukurinya, maka mereka tidak akan memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Muhammad bin Ali al-Syaukani dalam tafsirnya Fath al-Qadir (tt, Juz III/hal. 587) terkait dengan surat al-Anbiya’: 107  juga menyampaikan penjelasan senada:

أي وما أرسلناك يا محمد بالشرائع والأحكام إلا رحمة لجميع الناس , والاستثناء مفرغ من أعمّ الأحوال والعلل, أي ما أرسلناك لعلة من العلل إلا لرحمتنا الواسعة, فإن ما بعثت به سبب لسعادة الدارين

Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa syariat dan hukum-hukumnya, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan yang mengecualikannya. Dengan kata lain, satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai pembawa rahmat kami yang luas. Karena kami mengutus dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Ada banyak hal selain di atas, yang menunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamiin, antara lain:

  1. Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw diturunkan untuk seluruh manusia, bukan hanya untuk sekelompok etnis tertentu saja.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ  

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Q.S. Saba: 28)

  1. Islam memberikan jaminan keselamatan lahir batin, dunia dan akhirat kepada siapa saja yang mengimani dan menjalankan ajarannya.

فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (Q.S. al-Nisa:175)

  1. Dalam tata kehiduan di dunia, Islam akan memberikan jaminan keselamatan dan kedamaian jika diambil sebagai kaidah penuntun dan pedoman dalam kehidupan, hal ini karena sifat-sifat keluhuran ajaran Islam diantaranya:
  2. Islam menjunjung tinggi prinsip keadilan

Keadilan dalam pandangan Islam tidak berarti sama rata sama rasa, tetapi keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya serta memperlakukan manusia sesuai dengan hak dan kewajibannya. Islam menuntut berbuat adil kepada siapapun termasuk kepada orang-orang yang dibenci atau terhadap musuh sekalipun.

Lawan dari adil adalah dzalim, yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, atau tidak memperlakukan manusia sesuai dengan hak dan kewajibannya.

Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan., (QS. Al-Ma’idah: 8)

Di dalam ayat yang lain Allah Swt juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. Al-Nahl: 90)

  1. Islam datang tidak untuk membebani tetapi justru untuk menghilangkan beban.

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS al-Hajj: 78)

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ

Allah tidak menghendaki membuat kesulitan bagi kalian (QS. Al-Ma’idah: 6)

  1. Ajaran Islam membawa pada kebijaksanaan dan kemudahan (mendorong untuk mencarikan jalan keluar atas berbagai permasalahan).

Rasulullah Saw sendiri bersabda:

فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberikan kesulitan.” (HR al-Bukhari, al-Tirmidzi dan Ahmad)

Demikian pula Allah berfirman dalam al-Qur’an.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(5)إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا(6)فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ(7)وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ(8)

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS. Alam Nasyrah: 108)

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. Al-Nisa: 28)

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS al-Baqarah: 185)

BACA JUGA  Kemerdekaan Intelektual

Berangkan dari prinsip ini di dalam sistem hukum Islam dikenal ada ketentuan yang termasuk azimah (ketentuan/aturan yang berlaku normal), tetapi juga ada rukhshah (keringanan). Misalnya kewajiban shalat dalam keadaan normal dilakukan dalam lima waktu, tetapi jika karena keadaan tertentu seperti dalam perjalanan, terdapat rukhshah sehingga boleh dilakukan dalam tiga waktu dengan cara melakukan shalat jama’.

Demikian pula dalam hukum Islam juga berlaku kaidah-kaidah yang berhubungan dengan pemecahan kesulitan antara lain:

  • المشقة تجلب التيسير

Kesulitan akan mendatangkan kemudahan

  • إذا ضاق الامر إتّسع

Jika sesuatu menjadi sempit maka hukumnya jadi luas (ringan)

  1. Ajaran Islam menolak segala yang menimbulkan bahaya dan kerusakan. Bahaya dan kerusakan mempunyai cakupan yang sangat luas tidak saja dalam pengertian fisik, tetapi juga non fisik.

Rasululullah Saw bersabda:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنْ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ (رواه ابن ماجه)

Dari Ubaddah bin al-Shomit; Sesungguhnya Rasulullah Saw telah menetapkan tidak boleh berbuat bahaya pada diri sendiri dan berbuat bahaya pada orang lain   (Sunan Ibnu Majah Juz IV/hal 27 hadits No. 2340)

مَنْ ضَارَّ أَضَرَّ اللَّهُ بِهِ

Barang siapa berbuat bahaya Allah akan membuat bahaya dengannya (HR Abu Dawud, Juz IV/hal 34, No. 3635; al-Tirmidzi Juz IV/hal 332 No. 1940; dan Ibnu Majah Juz IV/hal 27 hadits No. 2342)

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَلْعُونٌ مَنْ ضَارَّ مُؤْمِنًا أَوْ مَكَرَ بِهِ

Dari Abu Bakar al-Shiddiq Rasulullah Saw bersabda terlaknat orang yang berbuat bahaya pada orang mu’min atau membuat makar dengannya (al-Tirmidzi Juz IV/hal 332 No. 1941)

Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan larangan bebuat kerusakan.

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya (QS al-A’raf: 56)

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS Muhammad: 22)

Berangkat dari ini pula salah satu prinsip dalam penetapan hukum Islam adalah sadd al-dzari’ah. Al-dzari’ah secara bahasa berarti wasilah atau perantara. Sedangkan secara terminologis para ulama membatasi yang dimaksud al-dzari’ah adalah segala yang menjadi perantara terwujudnya perbuatan terlarang / merusak.  Dengan demikian, sadd al-dzari’ah artinya menutup setiap hal yang dapat mengantarkan kepada kerusakan / sesuatu yang diharamkan.  Dalam al-Qur’an Allah melarang setiap perbuatan yang mengantarkan pada perzinaan (mendekati zina). Berangat dari ini pornografi adalah sesuatu yang terlarang. Berdua-duaan laki-laki perempuan bukan muhrim serta bukan suami istri (khalwat) juga terlarang.

Demikian pula dalam al-Qur’an terdapat larangan memaki-maki sembahan orang-orang kafir karena hal ini bisa menjadi pemicu adanya penghinaan yang lebih dahsyad kepada Allah yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. Al-An’am: 108)

Disamping hal di atas, juga banyak kaidah fiqhiyah yang berhubungan dengan pencegahan dari bahaya:

  • الضرر يزال

Bahaya harus dihilangkan

  • الضرورات تبيح المحظورات

Keadaan-keadaan darurat membolehkan sesuatu yang asalnya tidak boleh

  • لا حرام مع الضرورات ولا كراهة مع الحاجة

Tidak ada hukum haram ketika bersama dengan keadaan darurat dan tidak ada hukum makruh ketika bersama dengan adanya kebutuhan (yang mendesak).

  • الحاجة قد تنزل منزلة الضرورة

Kebutuhan (yang mendesak) terkadang menduduki kedudukan darurat (dalam hal membolehkan sesuatu yang asalnya tidak boleh).

  1. Ajaran Islam membawa pada kemaslahatan.

Maslahah dalam pandangan Islam mencakup perlindungan (al-hifdz) terhadap kebutuhan pokok manusia (al-umur al-dlaruriyat) yang meliputi al-diin (agama), al-nafs (jiwa), al-aql (akal), al-nasl (keturunan), dan al-mal (harta); memeliharan pemenuhan terhadap kebutuhan sekunder manusia (al-umur al-hajiiyat), yaitu hal-hal yang dibutuhkan manusia yang bila tidak terpenuhi akan menimbulkan kesulitas (masyaqqat); serta memeliharan pemenuhan terhadap kebutuhan tersier manusia (al-umur al-tahsiniyah) yang merupakan kebutuhan penyempurna yaitu segala sesuatu yang dengannya akan tercipta ketertiban keserasian, keindahan, dan kenyamanan. Semua peraturan syara’ pasti merujuk pada salah satu dari hal di atas. Misalnya Allah memerintahkan shalat adalah untuk memelihara agama (hifdz al-din), Allah melarang mengambil harta yang tidak sah seperti mencuri atau merampok adalah dalam rangka memelihara harta (hifd al-mal), Allah melarang perzinaan dan memerintahkan pernikahan adalah untuk memelihara keturunan (hifdz al-nasl), Allah melarang minum-minuman keras adalah dalam rangka memelihara akal (hifdz al-aql). Allah memberikan rukhshah (keringanan) ketika dalam perjalanan dengan dibolehkannya melakukan shalat jama’ dan qashar adalah untuk memberikan kemudahan dan menghilangkan masyaqqat (al-umur al-hajiyat). Allah memberikan tuntunan tentang akhlaq adalah untuk menciptakan keserasian, dan kenyamanan (al-amr al-tahsiniy), dan seterusnya. Dari sinilah dapat diketahui bahwa dimana ada hukum syara’ di situ terdapat maslahah (haitsuma wajada al-syar’u fa tsamma al-mashlahah).

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa rahmatan lil alamin berdimensi dunia dan akhirat. Islam adalah rahmat bagi semuanya namun tidak semua manusia memperoleh berkah rahmat secara sempurna di dunia dan di akhirat karena sikapnya menolak kehadiran rahmat seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Sedangkan rahmat Islam akan bisa dirasakan di dunia apabila dijadikan sebagai sumber tuntunan dalam kehidupan di dunia, sebagai kaidah penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun amat ironis banyak orang yang menyuarakan Islam rahmatan lil alamiin, tetapi secara bersamaan menolak keberadaan syari’at Islam sebagai tuntunan hidup mereka.Wallahu a’lam bi al-shawab.

Penulis adalah Sekum MUI Jawa Timur

Last modified: 26/06/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *