Marcionisme; Problematika Relasi Ketuhanan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Bible

Meskipun dalam al Qur’an disebutkan pula Shabi’in dan Majusi, tetapi para ulama atau pelajar muslim, lebih sering mempelajari tentang agama Yahudi dan Kristen. Hal ini dapat dimaklumi, karena Yahudi dan Kristen dianggap bertanggung jawab atas penyelewengan ajaran-ajaran para nabi utusan Allah. Bahkan, Yahudi dan Kristen merekam perjalanan wahyu sejak nabi Adam as.

 

Dari pihak orientalis sendiri, yang berlatar belakang Yahudi maupun Kristen, mereka sangat serius mempelajari Islam. Lantas mengapa kita tidak serius mempelajari mereka? Hal ini perlu dilakukan agar Islam tetap terpelihara dari serangan-serangan orientalis.

Banyak aspek yang dapat kita perbandingkan antara Kristen dengan Islam. Misalnya tentang konsep ketuhanan, konsep nabi, konsep hukum, konsep akhirat, konsep wahyu, konsep kitab suci, dan lain sebagainya.

Berikut ini, kita akan mempelajari konsep ketuhanan Kristen yang mana konsep ketuhanannya sendiri amatlah problematis. Hal ini terbukti akan membawa banyak masalah di kemudian hari. Sebagai contoh, tentang gerakan Nazi di Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Dunia mengenal Adolf Hitler sebagai seorang diktator abad modern. Dengan slogan Deutschland uber alles, ia mampu membius bangsa Jerman untuk mau menuruti semua perintahnya, termasuk genosida kaum Yahudi Eropa. Tetapi tidak banyak yang tahu, atau memang sengaja ditutup-tutupi, bahwa Hitler menemukan landasan teologis dalam kampanye anti semitnya, yaitu dalam bible itu sendiri.

Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; problem entitas ketuhanan

Bibel atau Bible (Inggris) berasal dari kata Yunani Biblia, yang berarti ”kitab-kitab”, bentuk pluralnya menunjukkah fakta bahwa Bibel atau Alkitab Kristen bukanlah satu keutuhan, melainkan sebuah kumpulan[2]. Bibel terdiri dari dua testamen, Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament). Perjanjian Lama terdiri dari 24 kitab yang berbahasa Ibrani. Pada abad ke-2 sebelum Masehi, orang-orang Yahudi menyalin dan mencocokkan berbagai salinan naskah Perjanjian Lama waktu itu. Menurut keyakinan mereka, naskah-naskah itulah yang paling cocok dengan naskah kitab Torah (Taurot) yang asli[3]. Saat ini, Yahudi mengakui Perjanjian Lama sebagai kitab suci mereka.

Ketika agama Kristen lahir, penganut Kristen menambahkan sebuah testamen yang merevisi Perjanjian Lama, testamen ini disebut Perjanjian Baru (New Testament). Perjanjian Baru ini didasarkan pada cerita-cerita para murid Yesus mengenai peristiwa kejadian dan ucapan-ucapan Yesus atau para murid Yesus.

Terdapat perbedaan teologis yang sangat mendasar dalam kedua perjanjian tersebut. Elohim (Sesembahan) dalam Perjanjian Lama berbeda secara eksistensial dari Elohim dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan Israel adalah tunggal, yakni Yahweh, Tuhan yang transenden. Sedangkan dalam Perjanjian Baru, Tuhan merujuk kepada Trinitas: Tuhan Allah (yang beranak), Yesus Kristus (yang diperanakkan) dan Roh Kudus. Sifat tuhan yang imanen bukan lagi transenden, penuh kasih dan berkebalikan dari tuhan Yahweh. Bahkan antara Sesembahan Perjanjian Lama dan Sesembahan Perjanjian Baru, tidak berhubungan[4].

Problem hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyangkut masalah ketuhanan bahkan lebih dahulu muncul ke permukaan daripada problem trinitas. Sejarah mencatat sosok Marcion sebagai tokoh yang pertama kali mempermasalahkan hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan bertolak dari identitas Tuhan yang berbeda dalam kedua Perjanjian tersebut. Marcion berpandangan bahwa Perjanjian Lama bukanlah unsur atau ajaran Kristen, melainkan bagian dari Yahudi. Pada tahap selanjutnya, pandangan semacam ini disebut Marcionisme.

Siapa Marcion?

Marcion lahir pada paroh akhir abad I, diperkirakan tahun 85M. di Pontus, sebuah kota pelabuhan di pantai Laut Mati, Asia Minor (Turki). Ayahnya adalah seorang uskup gereja di kota tersebut[5]. Sebagai seorang pemilik kapal, hidupnya tergolong makmur. Dengan kekayaannya itu, ia menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk gereja, dan ia sendiri memilih menjalani hidup sebagai seorang pendeta yang ketat dalam menjalankan aturan kependetaan[6].

Di antara semua murid Yesus, Marcion hanya mengagumi Paulus. Marcion menganggap dari semua murid-murid pertama Yesus, hanya Pauluslah yang paling murni ajarannya. Unsur-unsur Yahudi yang ada dalam Perjanjian Baru dianggap sisipan yang dimasukkan oleh murid-murid Yesus yang lain. Kedua belas murid Yesus, dituduh menyisipkan unsur-unsur Legalisme Torah dalam Perjanjian Lama hanya karena mereka memberi pekabaran di Yerusalem dan tidak kepada orang-orang non-Yahudi. Bahkan, menurut sejarawan H. Berkhof, jemaat Yerusalem dianggap sebagai penyesat-penyesat yang diberi gelar Ebionit. Mereka dianggap penyesat karena menolak ajaran Paulus.[7],[8]

Tahun 135 M, Marcion pergi ke Roma dan menetap di sana. Di Roma, ia mengajak debat beberapa petinggi gereja tentang pandangan ketuhanannya. Bahkan Marcion menyusun Bible versinya sendiri dengan tidak memasukkan Perjanjian Lama ke dalam Biblenya. Dan unsur-unsur Yahudi yang ada dalam Perjanjian Baru, dia buang. Marcion menyusun Bible versinya sendiri, dua setengah abad sebelum kanon Perjanjian Baru yang resmi diakui gereja, ditetapkan pada tahun 393 M.

Untuk menjelaskan pandangan-pandangan teologikalnya, Marcion menulis sebuah buku yang ia beri judul Antitheses. Buku ini sekaligus ia anggap sebagai pengantar dari Bible yang ia susun. Dalam Antitheses inilah, ajaran-ajaran Marcion dipaparkan dan mengakibatkan ia dijatuhi hukuman ekskomunikasi oleh Gereja pada tahun 144 M. Marcion menolak Perjanjian Lama dalam ajaran Kristen karena menganggap Elohim (Sesembahan/Tuhan) dalam Perjanjian Lama berbeda secara eksistensial dengan Elohim dalam Perjanjian Baru. Ajaran Marcion digambarkan oleh Dr. F.D. Wellem sebagai berikut:

Marcion mengajarkan bahwa Allah Perjanjian Lama berbeda dengan Allah Perjanjian Baru. Allah Perjanjian Lama adalah Allah yang adil, kurang sempurna, kejam dan tidak berpengasihan. Dialah yang menciptakan dunia yang kurang sempurna ini. Dalah yang telah memberikan hukum taurat kepada Musa, yaitu suatu hukum yang terlalu berat yang tidak mungkin dapat dilaksanakan oleh manusia. Dialah Allah yang berkata “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu”. Allah ini adalah allah orang Yahudi

Allah Perjanjian Baru adalah allah yang baik, mahamurah dan penyayang.Allah Perjanjian Baru inilah yang diperkenalkan oleh kristus. Yesus kristus diutus ke dalam dunia oleh allah Perjanjian Baru untu menjadi penebus dan membawa injil tentang cinta kasih kepada umat manusia yang berdosa. Allah yang baik ini tidak mempunyai huhungan dengan allah Perjanjian Lama. Agama kristen tidak mempunyai hubungan dengan agama Yahudi[9].

Dikucilkan dari gereja tidak membuat Marcion menghentikan khutbahnya. Pada tahun 145 ia kembali ke Asia minor dan mendirikan sendiri gereja alirannya sendiri.Gereja marcionis ini tetap hidup sampai abad ke-10. Gereja kemudian menyatakan bahwa ajaran Marcion sesat, dan Marcionisme kehilangan pendukung.

Era pascareformasi gereja

Setelah reformasi gereja abad 15 dan 16, penafsiran Bibel lebih cenderung kepada ortodoksi (penafsiran tradisional, yakni penafsiran alkitab adalah otoritas gereja berdasarkan tradisi). Hal ini membuat banyak teolog tidak puas dengan metode yang ada. Para teolog kemudian banyak yang melakukan penafsiran bible dengan metode yang berbeda. Pada abad 17 dan 18, muncul karya-karya penafsiran bible dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda. Karya ilmiah tentang alkitab yang mengandalkan penelitian bahasa dan sejarah dikembangkan oleh Cocceius, Rasionalisme oleh Hobbes dan Spinoza. Hasilnya, semakin banyak problematika yang muncul dan harus dijawab. Akibatnya timbul sikap yang lebih berani menolak bagian-bagian alkitab yang kurang disukai, khususnya dalam Perjanjian Lama. Kecenderungan ini dilanjutkan pada abad kedelapan-belas oleh karya Lessing (1729-81) dan Kant (1724-1807). juga Schleiermacher (1768-1834) yang menerapkan metode kritik sejarah (historical criticism) untuk menafsirkan alkitab dan hasilnya adalah usulannya untuk menjadikan Perjanjian Lama hanya sebagai lampiran keterangan dari Perjanjian Baru[10].

Pada akhir abad kesembilan-belas, beberapa teolog periode ini adalah Kirkpatrick (1891), Ottley (1897), Westcott (1889), Bennet (1893), Smith (1899), Davidson (1904). Adapun cara yang paling umum digunakan untuk menjelaskan hubungan teologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah menekankan adanya tahap-tahap perkembangan dalam Perjanjian Lama yang disempurnakan dalam Perjanjian Baru. Inti dari konsep ini adalah konsep “pernyataan bertahap”. Beberapa pendapat dari teori pernyataan bertahap ini di antaranya: bahwa Perjanjian Lama sebagai dokumen penyataan yang beraneka ragam dan panjang tetapi belum lengkap. Baru lengkap dengan datangnya Perjanjian Baru[11].

Salah satu akibat pendekatan yang menekankan “pernyataan bertahap” adalah pengurangan nilai Perjanjian Lama. Akibatnya, paham-paham marcionisme hidup kembali setelah sekian lama tidak mendapat tempat di kalangan teolog gereja. Pada tahun 1920-an, Friedrich Delitzsch dan Dan von Harnack membangkitkan kembali anjuran Marcion untuk menyingkirkan Perjanjian Lama dari alkitab. Bahkan Delitzsch mengungkapkan pemikirannya tersebut dengan judul Penipuan yang Besar (1920-1921). Pemikiran Delitzsch dan von Harnack yang bersifat teologis ini semakin menyuburkan sikap antisemit yang memang sedang tumbuh subur setelah perang dunia I.

Selama tahun-tahun di antara perang dunia pertama dan kedua, debat yang semakin hangat dilancarkan tentang Perjanjian Lama. Para penganut Nazi dan teolog kristen simpatisan Nazi, menyerang Perjanjian Lama bertubi-tubi, dan menimbulkan reaksi dari teolog lain yang berpandangan ortodoks. Sampai di sini, dapat disimpulkan bahwa Nazi mendapatkan landasan teologisnya dari alkitab untuk membenci Yahudi dan apa yang terjadi selanjutnya adalah sebagaimana yang tercatat dalam sejarah.

Ketika Rezim Hitler jatuh, secara politis posisi teolog Kristen Jerman juga dinyatakan kalah. Bentuk-bentuk marcionisme baru telah lenyap, namun tidak benar-benar hilang karena pada dasarnya antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak benar-benar sinkron.

Kesimpulan

Munculnya paham marcionisme menunjukkan bahwa terdapat permasalahan yang sangat mendasar mengenai eksistensi Tuhan dalam Kristen. Agama Kristen yang mengakomodasi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam kitab sucinya, menghadapi posisi yang dilematis. Karena tuhan dalam Perjanjian Lama eksistensinya adalah tunggal dan sangat Yahudi. Sedangkan dalam Perjanjian Baru eksistensi tuhan adalah tiga oknum (trinitas). Secara sederhana, dalam Bible yang menjadi pedoman Kristen sekarang, mengakomodir Tuhan Yahudi yang tunggal dan Tuhan Kristen yang Trinitas. Sebuah kenyataan yang janggal. Dan kenyataan ini dikritik keras oleh Marcion dan menuntut supaya Perjanjian Lama dipisahkan dari Bible.

Pandangan Marcion yang beranggapan Tuhan dalam Perjanjian Lama itu kejam, tidak berbelas kasih dan sebagainya itu tidak lepas dari isi Perjanjian Lama yang sudah mengalami distorsi oleh tangan-tangan penulisnya sehingga gambaran tentang tuhan yang Esa dan Mahapencipta dipahami secara keliru oleh orang-orang setelahnya.

Adolf Hitler yang memicu Perang Dunia kedua dan mengakibatkan jutaan nyawa melayang (diperkirakan lebih dari 4 juta korban tewas dari berbagai pihak), ternyata memiliki landasan teologisnya dari bible sudut pandang Marcion. Yang mana pada era tersebut, marcionisme kembali subur terutama setelah munculnya metode tafsir bible yang lebih ilmiah dan meninggalkan metode tafsir tradisional.

Berkaca kepada Islam

Tidak ada polemik tentang konsep ketuhanan dalam Islam. Hal ini karena ajaran Islam telah paripurna bersamaan dengan turunnya wahyu terakhir. Konsep Tuhan dalam Islam sudah sangat jelas disebutkan dalam beberapa ayat al Qur’an bahwa nama Tuhannya adalah Allah, Dia Mahaesa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Wallahu a’lam bisshawaab. []

Daftar Pustaka

1.Abdul Ghaffar, Purwanto, Tuhan yang Menentramkan, Bukan yang Menggelisahkan, Jakarta, Serambi, 2006.

2.Antti Marjanen, Petri Luomanen, A Companion on Second-Century Christian “Heretics” Leiden, Martinus Nijhoff Publishers, 2008

3.Baker, David L., Satu alkitab dua perjanjian, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2006.

4.Browning, W.R.F. Kamus Alkitab, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2008.

5.Lefebure, Leo, D. Pernyataan Allah, Agama dan Kekerasan. Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2006.

6.Verkuyl, J., Aku Percaya, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2001.

7.Wellem FD. M Th. Riwayat hidup singkat tokoh tokoh dalam sejarah gereja, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2003.


[1] Peneliti InPAS Surabaya, dan makalah ini disampaikan pada Majlis Ilmu Dua Sabtuan di Masjid Unair 05/01/2013

[2] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hal.13

[3] Verkuyl, J., Aku Percaya,(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), hal. 15

[4] FD Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hal. 98

[5] Antti Marjanen, Petri Luomanen, A Companion on Second-Century Christian “Heretics” (Leiden; Martinus Nijhoff Publishers, 2008) Hal.103

[6] Ibid, hal 102

[7] Leo, D. Lefebure, Pernyataan Allah, Agama dan Kekerasan.(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006)Hal. 134

[8] Purwanto Abdul Ghaffar, Tuhan yang Menentramkan, Bukan yang Menggelisahkan, Serambi, Jakarta, 2006, hal. 96

[9] Dr. FD Wellem M Th. Riwayat hidup singkat tokoh tokoh dalam sejarah gereja, BPK Gunung Mulia Jakarta, 2003 Hal 132

[10] David L. Baker, Satu alkitab dua perjanjian (Jakarta; BPK Gunung Mulia, 2006) hal. 43

[11] Ibid hal 47

 

BACA JUGA  Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah
No Response

Leave a reply "Marcionisme; Problematika Relasi Ketuhanan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Bible"