Libya Pasca Khadafi, What Next?

No comment 566 views

Setelah Khadafi tewas dan pemerintahannya tumbang, so what next? Seluruh pihak berharap Libya tidak menjadi Irak kedua. Namun, siapa yang bisa menjamin Libya tidak akan menjadi Irak kedua, jika kepentingan asing sangat kuata bercokol di negara yang menjadi negara pengekspor minyak terbesar ke-3 di Afrika dan ke-12 di dunia ini. Seluruh masyarakat internasional mafhum, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sangat berkepentingan terhadap adz-dzahab al-aswad (emas hitam, julukan untuk minyak bumi) tersebut.

Skenarionya pasca tewasnya Khadafi mudah sekali ditebak. AS dan Eropa akan menguasai minyak Libya. Rudal TomeHawk yang harganya 9 milyar per biji, bom, dan senjata yang dimuntahkan pasukan NATO tidaklah gratis, mereka akan meminta ganti dengan konsesi kontrak minyak. Inilah yang memotivasi mereka untuk mengintervensi Libya dengan dalih melindungi rakyat sipil.

Mengapa hal yang serupa tidak mereka lakukan ketika ribuan rakyat sipil terbantai di Rwanda, juga ketika rakyat sipil ditembaki oleh pasukan pemerintah di Pantai Gading (Sahil `Aj), juga mengapa AS-Eropa tak bergerak sama sekali pada kerusuhan di Somalia. Yang sangat mencolok mengapa AS, Perancis, Inggris tak menyerang Israel ketika militer Israel dengan jet-jet tempur dan peralatan berat membantai ribuan rakyat Palestina di jalur Gaza pada tahun 2009 lalu?

Pasca seluruh huru-hara ini, rakyat Libya tentunya ingin mendapatkan kondisi negaranya menuju ke arah yang lebih baik, bukan malah makin buruk seperti yang terjadi Irak pasca NATO membentuk pemerintahan boneka di sana.

Tentu kita berharap Libya tidak dijadikan Irak kedua. Setelah Saddam Husein tewas digantung, Barat bisa lebih masuk ke Irak karena kepentingan emas hitam. Ini sama-sama jadi incaran Barat,” kata Sekjen The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Fahmi Salsabila dalam perbincangan dengan detik.com (21/10).

Melihat Irak, keberadaan Barat yang semula mengusung panji-panji demokrasi dan HAM, namun ternyata hal itu hanya fatamorgana. Tentu masyarakat Libya tidak menginginkan negerinya diatur oleh Barat yang tidak pada hakikatnya tidak pernah tulus peduli terhadap kondisi mereka.

“Di belakang tewasnya Khadafi ada NATO, ada negara Barat, yang punya kepentingan minyak. Barat masih ingin tampil. Jadi bisa jadi tampilnya Barat adalah dengan membentuk boneka di Dewan Transisi Nasional,” tambah Fahmi. Harapan rakyat Libya pasca Khadafi berada di pundak Dewan Transisi Nasional yang saat ini menggantikan Khadafi.

Dewan Transisi Nasional punya pekerjaan penting untuk menyatukan kepentingan yang bermain di Libya, khususnya suku-suku yang ada. “Dewan Transisi Nasional harus tegas membereskan masalahnya sendiri sehingga bisa lebih baik. Meskipun agak sulit karena kemenangan melawan Khadafi juga karena bantuan Barat. Pemberontak tidak bisa sendirian karena ada supply senjata, makanan, dan keuangan dari Barat,” pungkas Fahmi.

Artinya, Libya keluar dari kedikatatoran rezim dan akan memasuki tirani baru berupa imperialisme. Apalagi pernyataan delegasi oposisi ketika bertemu dengan Presiden Perancis Sarkozy yang menyatakan bahwa Libya akan menjadi negara demokrasi-sekuler, kalau ini terwujud maka Libya akan bergerak mundur berlawanan dengan tujuan revolusi di negara Arab lainnya, yang pada umumnya bertujuan menggulingkan rezim tirani – diktator yang pro barat dan sekuler seperti Zainal Abidin maupun Husni Mubarak.

Saat ini walaupun tidak secara eksplisit disebutkan sebagai negara Islam, tetapi kehidupan Islami sangat tampak di Libya. Menanggalkan jilbab bagi wanita Libya adalah hal tabu di mata masyarakat Libya. Prostitusi dan minuman keras secara resmi dilarang oleh pemerintah.

Siaran TV dan radio didominasi oleh acara-acara dakwah dan bacaan al-Qur`an. Masjid dipenuhi jamaah sholat lima waktu. Masjid-masjid tersebar sangat banyak di Libya, bahkan saking banyaknya Libya disebut pula negara sejuta masjid. Seperlima penduduk Libya (lebih dari satu juta orang) adalah penghafal Qur`an. Pergaulan bebas, kehidupan hedonis-sekuler saat ini tidak tampak sebagaimana di Tunisia dan Mesir, bahkan kalau kita naik taksi kita akan mendapatkan sopir taksi asyik mendengarkan lantunan al-Qur`an lewat radio. Rakyat Libya sangat menjaga kultur Arab dan Islam, bangga dengan bahasa Arab dan akan menghormati orang asing yang berbicara dengan bahasa Arab. (koranmuslim/detik/Kartika Pemilia)

BACA JUGA  Radikal dan Radikalisme

 

No Response

Leave a reply "Libya Pasca Khadafi, What Next?"