Lebih Dekat Dengan Dr.Ugi Suharto

Written by | Nasional

Inpas Online,12/5/09
Namanya mudah diingat: Ugi Suharto. Tentu saja, nama ini mengingatkan pada sosok mantan Presiden Suharto. Ada hubungan apa antara Ugi ––begitu lelaki ini biasa dipanggil — dengan sang mantan Presiden itu?
“Dulu, saat saya lahir, orang tua saya memang mengagumi sosok Suharto,” kata Ugi, yang lahir di Jakarta, pada 27 Februari 1966. Di samping tidak ada hubungan keluarga dengan mantan orang kuat Orde Baru itu, Ugi justru memiliki pengalaman pahit se masa hidup di bawah pemerintahan Suharto, terutama saat duduk di bangku SMA.

Kebijakan pemerintah Indonesia yang represif terhadap kaum Muslim- terutama terhadap siswi berjilbab- waktu itu, menjadi salah satu faktor penting yang turut mengantarnya pada posisi sekarang, sebagai Associate Professor di University College of Bahrain (UCB) dan ditunjuk sebagai Direktur Program Keuangan Islam di sana.
Sebelumnya Dr Ugi juga pernah menjadi dosen di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM). Ketika berada di lingkungan ISTAC-IIUM, sosok Dr Ugi Suharto, cukup mudah dikenali.
Maklum, di antara para dosen dari berbagai negara – Jerman, Macedonia, Sudan, Kanada, Mesir, Belanda, dan lain-lain — lelaki berwajah “khas Indonesia” ini memang satu-satunya warga Indonesia yang menempati posisi dosen di ISTAC-IIUM.

Di kalangan mahasiswa Indonesia, Ugi dikenal sebagai “dosen lintas sektoral” yang menguasai berbagai wacana dan bidang keilmuan. Secara akademis formal, peminat olah raga pingpong ini mendalami bidang ekonomi Islam. Prestasinya di bidang ini pun patut dibanggakan. Dialah mahasiswa Indonesia pertama yang menyabet gelar “mahasiswa ekonomi terbaik” di IIUM pada tahun 1990. Jenjang S-2 dan S-3 pun masih bergelut di bidang ekonomi Islam.
Kabarnya, prestasi Ugi itu turut memberi andil dalam memudahkan mahasiswa-mahasiswa Indonesia diterima di IIUM. Prestasinya yang menonjol di bidang akademik menarik minat pimpinan ISTAC. Bermula tahun 1996 dia ditarik sebagai staf peneliti kemudian pada 2000, selepas menyabet gelar PhD di bidang pemikiran ekonomi Islam, Ugi diangkat menjadi dosen pasca sarjana di kampus ISTAC.

BACA JUGA  Menelusuri Paham Kesetaraan Gender

Pada 2003, Dr. Ugi Suharto ditarik ke Kulliyyah of Economics and Management Sciences sebagai Assistant Professor di kampus induk IIUM. Dia ditugaskan mengajar beberapa mata kuliah Ekonomi Islam di fakultas itu. Meskipun berkutat dalam bidang ekonomi, Ugi tidak menerapkan prinsip “kacamata kuda” dalam bidang keilmuan. “Islam itu jauh lebih luas dari sekadar ekonomi,” ujar Ugi yang menulis tesis PhD bertajuk “Early Discourse on Islamic Public Finance”.
Karena itu, di luar bidang pendidikan formalnya, diam-diam dia menekuni berbagai bidang keilmuan lain, terutama “pemikiran Islam” dan “hadits”. Pendidikan, menurutnya, seharusnya berbasis pada intelligent dan kesungguhan. Asal seseorang memiliki kecerdasan dan kesungguhan, dia bisa menguasai banyak bidang keilmuan.
“Kalau anak ITB mau serius belajar hadits, Insyaallah sebentar saja bisa,” ujarnya memberi perumpamaan. Untuk membuka cakrawala yang lebih luas dalam berbagai bidang keilmuan, Ugi sempat kursus bahasa Jerman, Perancis, dan Persi, di samping “bahasa wajib” yang dikuasainya, Arab dan Inggris.

Karena itu, Ugi mengaku kurang sependapat dengan sistem pendidikan yang dengan ketat membatasi bidang-bidang keilmuan. Seolah-olah, kalau orang sudah menekuni matematika, fisika, atau kimia, ia tidak mungkin menjadi pakar di bidang studi keislaman.
Ugi sendiri memiliki pengalaman tentang hal itu. Pada 2001, dia menerima tantangan dari ISTAC, untuk mengajar mata kuliah “History and Methodology of Hadith”, di samping mata kuliah “History of Islamic Economic Thought”.
Mahasiswanya pun tidak mainmain. Beberapa di antaranya adalah mahasiswa tingkat S-2 dan S3 yang sudah belajar “ulumul hadith” dari universitasuniversitas di Madinah, Mesir, atau India. “Alhamdulillah, saya dapat menjalankan tugas itu dengan baik,” kata bapak lima anak yang keburu “kecantol” dengan gadis Malaysia, teman sekelasnya di IIUM, sebelum sempat balik ke Indonesia.
Konsekuensinya, Ugi kini harus siap berbicara tentang berbagai bidang kajian keilmuan. Pada 10 April 2003, misalnya, dia diundang ke Universitas Muhamma diyah Yogyakarta untuk berbicara dalam seminar tentang “Tafsir dan Hermeneutika.”
Pada kali lain, ia harus bicara tentang ekonomi Islam, hadits, tasawuf, filsafat, dan sebagainya. “Ulama-ulama kita dulu mampu menguasai berbagai bidang ilmu dengan baik. Mereka multidisipliner,” ujarnya.

BACA JUGA  Sekulerisme Membuat Orang Tidak Toleran

Sejarah perjalanan alumnus SMP 3 Manggarai dan SMA 8 Bukit Duri Jakarta tahun 1984 ini cukup unik. Begitu lulus SMA, tidak seperti teman-temannya yang lain, Ugi melakukan “pemberontakan”. Dia enggan mengambil UMPTN.
“Saya te rus terang kecewa dengan pendidikan di Indonesia waktu itu.” Apalagi, saat di bangku SMA, dan aktif di rohis, waktunya banyak tersita untuk mengurus teman-temannya yang tersangkut kasus jilbab.
“Pedih sekali kalau mengenang masa-masa itu. Hanya gara-gara pakai jilbab, siswi muslimah dikeluarkan dari sekolah,” ujar nya.

Kepada orang tuanya, Ugi mengajukan dua pilihan: masuk pesantren atau kuliah di universitas Islam di luar negeri. Kebetulan, ketika itu, IIUM baru buka setahun. Padahal, sejak SD sampai SMP, Ugi tercatat sebagai juara kelas. Di SMA, katanya, ia hanya menekuni bidang IPA, terutama matematika dan pelajaran agama melalui berbagai pengajian.
Namun, ia bersyukur, selain SD dan SMP, ia juga sempat mengenyam bangku pendidikan agama di madrasah al-Waqfiyah Bukit Duri, Jakarta Selatan, sampai tingkat tsanawiyah.
“Alhamdulillah, akhirnya orang tua saya merestui saya berangkat ke Malaysia,” kenangnya. Sebelum berangkat, ia mengaku sempat belajar bahasa Inggris secara pribadi dengan Ustad Ihsan Tanjung.

Kini, setelah 25 tahun lebih hidup di perantauan, Ugi mengaku mempunyai obsesi, suatu ketika nanti menekuni bidang pendidikan tinggi yang integratif.
“Kita mesti membangun satu sistem pendidikan tinggi Islam, terutama tingkat pasca sarjana, yang integratif, kompetitif, bertaraf internasional, dan dipercaya oleh umat,” kata Ugi, seraya menekankan perlunya kaum Muslim memberikan porsi memadai dalam bidang “jihad pemikiran” dan “pendidikan”, disamping bentuk aktivitas lainnya.

Ia mengakui, para orientalis Barat telah berhasil membangun satu sistem kajian Islam yang canggih dan menarik minat banyak sarjana Muslim. Hanya saja, sarannya, karya-karya mereka perlu dikaji secara kritis, dan tidak perlu terlalu silau dengan mereka. Di samping tidak juga apriori dengan mereka.
Menurut Ugi, karya-karya klasik para ulama Islam telah menjadi sumber inspirasi karya para orientalis. Bahkan, sampai sekarang, para orientalis tak henti-hentinya meneliti karya-karya Ibn Sina, al-Ghazali, Al-Razi, Ibn Khaldun, dan sebagainya.

BACA JUGA  Kuliah Filsafat Al-Attas Diadakan di Bandung

Salah satu prinsip dalam kajian keislaman yang membedakan dengan para orientalis Barat, menurut Ugi adalah si kap para sarjana Barat yang “non-committal” terhadap “kebenaran” dan menjadikan “keraguan” sebagai metode untuk mencari kebenaran.
“Tugas para sarjana Islam adalah semakin memperjelas kebenaran dan komited dengannya, bukan melakukan “review” terhadap kebenaran kemudian mementahkannya kembali,” tegasnya.

Kini, di tengah kesibukannya mengajar di Bahrain, Ugi mengaku tetap memiliki obsesi untuk mengamalkan ilmunya dan memberikan kontribusi bagi kaum Muslim, di Indonesia khususnya.
Oleh itu, walaupun tinggal di luar negeri, ia sering pulang pergi ke Indonesia dan berinteraksi dengan berbagai pusat pendidikan tinggi di sini, seperti UMY, Unissula, dan Unair Surabaya. Apa ada rencana menetap di Indonesia? “Itu memang menjadi cita-cita saya. Saya sudah ada pembicaraan awal tentang hal ini dengan Departemen Ekonomi Syariah, Univer sitas Airlangga,” jawabnya.

Last modified: 12/05/2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *