Lebih Dekat dengan Dr.Adi Setia

Written by | Nasional

Dalam dunia akademik Malaysia, nama Dr. Adi Setia sudah tidak asing lagi. Ia telah mendapat pengakuan sebagai ilmuwan muda Muslim yang ide-ide dan gagasannya briliyan. Pengakuan ini sebenarnya tidak mengherankan karena ia termasuk anak muda yang bisa duduk sejajar dengan para cendekiawan Muslim tua Malaysia dalam sebuah lembaga keilmuan yang bergengsi.

Para cendekiawan Muslim Malaysia yang konsen dengan dunia sains telah membentuk sebuah lembaga kajian sains yang mereka beri nama Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI).  Kiprah lembaga ini  telah mendapat pengakuan, bukan hanya dari dalam negeri,  tapi juga luar negeri. 

Para ilmuwan dan cendekiawan yang duduk di lembaga ini adalah mereka yang telah diakui sebagai ilmuwan kelas dunia. Adi termasuk salah satu anggotanya. Salah satu pendiri lembaga ini adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang juga guru Adi Setia. Naquib dikenal sebagai intelektual yang di masa kini menjadi salah satu menara keilmuan Islam modern.  Proyek besarnya yang dianggap spektakuler adalah proyek ‘Islamisasi Ilmu Pengetahuan’ melalui lembaga pendidikan yang ia dirikan, yakni International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Kuala Lumpur, Malaysia.

Hubungan Adi dengan gurunya ini sangat dekat. Bahkan Adi mendapat julukan sebagai Naquib muda. Julukan itu bukan semata karena kedekatan keduanya secara pribadi. Namun sebagai murid, Adi diakui telah banyak menguasai ilmu Naquib. Memang diantara murid-murid Naquib  di ISTAC, Adi dikenal paling intens mengkaji pemikiran-pemikiran ilmuwan kelahiran Bogor, Jawa Barat ini. Tak salah jika kemudian julukan itu disematkan kepada dirinya.

Bahkan tidak jarang dalam berbagai kesempatan seperti  seminar atau kuliah Naquib mendelagasikan tugasnya kepada Adi jika ia berhalangan.  “Bang Adi memang pantas mendapat julukan  Naquib muda,”kata Nirwan Syafrin, MA yang juga murid  al-Attas.

Pemikiran-pemikiran sang pengarang Islam and Secularism ini hampir dikuasai oleh Adi. Ketika Hidayatullah berdialog dengan Adi tentang Naquib, dengan sangat lancar ia menjelaskan ide-ide maupun gagasan-gagasan besar gurunya ini. Seakan-akan kami bertemu langsung dengan sang  ilmuwan besar ini. Lebih menarik lagi ketika ia bercerita tentang kenangannya bersama gurunya sewaktu sama-sama menikmati suasana intelektual saat di ISTAC.

Setelah lulus dari ISTAC,  Adi mengajar di International Islamic University of Malaysia atau yang  biasa dikenal Universitas Antar Bangsa, Malaysia. Selain mengajar,  ia juga aktif menulis di berbagai media dan jurnal internasional. Kini ia menjadi  redaktur Journal Islam and Science yang terbit di Kanada. Pengelola jurnal ini adalah pakar-pakar Muslim dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Pakistan, Perancis, Palestian dan lain-lain. Jurnal berisi tentang islam dan sains ditinjau dari prespektif Islam. Tulisan-tulisan Adi di jurnal tersebut sering dijadikan rujukan oleh mahasiswa-mahasiswa atau cendekiwan Muslim dari berbagai negara seperti dari Timur Tengah,  Asia Tengah dan lain-lain. Selain itu tulisan-tulisannya juga dipublikaskan oleh berbagai situs internasional. 

Kemampuan tulis menulis  pria kelahiran Kualalumpur 13 September 1962 ini sudah nampak ketika masih mahasiswa. Sambil menimbah ilmu, ia sudah aktif menulis di berbagai media dan jurnal. Misalkan sebelum meraih gelar doktor tahun 2006 dari ISTAC,  ia sudah aktif menulis di jurnal ISLAMIA yang terbit dari Indoneisa.  Kebetulan ia menjadi salah satu dewan redaksi jurnal tersebut,  yang dikelola oleh para ilmuwan mudah Muslim yang tergabung dalam INSIST (Institute for the Study of Islamic Though and Civilization).  

Di kalangan para ilmuwan Muslim,  Adi dikenal sebagai  pakar Filsafat Sains Islam. Ketika ia membahas masalah ini, kupasan-kupasannya sangat tajam dan mendalam.  Misalnya dalam salah satu tulisannya Adi mengupas tentang asal-usul filsafat dan sains Yunani kuno yang selama ini kurang diperhatikan. Menurut Adi, ternyata filsuf Yunani banyak belajar dari dunia timur seperti Mesir, Babilonia, Cina atau India yang telah maju beberapa abad sebelum adanya peradaban Yunani.

Sebagaimana gurunya, Adi termasuk orang yang tidak setuju dengan sikap dan pendapat beberapa ilmuwan Muslim yang menjadikan tokoh Barat sebagi rujukan dalam rangka islamisasi ilmu pengetahuan. Menurutnya, Islam sudah memiliki banyak ilmuan yang sangat layak dijadikan rujukan.

Dalam penyampaian konsep tentang islamisasi sains, Adi melakukannya dengan sangat bijaksana. Contoh-contoh yang ia kemukakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Misalkan ia tidak setuju dengan model bangunan-bangunan di negeri Muslim yang menurutnya banyak meniru gaya Barat. Padahal kebutuhan dan gaya hidup kaum Muslimin yang didasari oleh ahlak Islam sangat berbeda dengan gaya hidup orang Barat yang materialistik. Padahal menurutnya, banyak gaya hidup Barat yang sebenarnya kurang pas dengan nilai-nilai Islam. “Contohnya, toilet di hotel berbintang sudah tidak lagi menyediakan air, tapi diganti dengan tissu. Ini kan tidak biasa bagi kaum Muslim. Kita lebih tenang pakai air,”terangnya.

Karena itu menurut Adi, adalah sebuah kenaifan bila semua gaya hidup Barat dicontoh habis-habisan oleh kaum Muslimin.

 

BACA JUGA  Adian Husiani: “Banyak Masjid Tidak Punya Ulama' Karena Lupa Mengkader”

Last modified: 26/05/2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *