Lapangan Tahrir Mesir Bakal Menjadi Tiananmen Kedua?

Inpasonline.com, 25/11/11

Ribuan warga Mesir tetap bertahan di Lapangan Tahrir di jantung ibukota Kairo, meski penguasa tertinggi militer telah menjanjikan percepatan penyerahan kekuasaan dari pihak militer pada pihak sipil. Setelah empat hari melakukan aksi demonstrasi yang diwarnai bentrokan kekerasan, panglima militer Mohamed Hussein Tantawi mengatakan pemilihan presiden bisa dipercepat pada Juli 2012. Namun menurut para peserta aksi demo, janji itu tidak cukup dan mereka tetap menuntut agar Tantawi mundur.

Bentrok tak terhindarkan dan terus berlanjut hingga Kairo gelap semalam, antara polisi anti huru-hara dan peserta demo. Gambar-bambar rekaman televisi menunjukkan ambulans keluar-masuk lapangan ini mengangkut orang yang cedera.

Menurut Menteri Kesehatan Mesir, setidaknya 30 orang tewas akibat insiden kali ini sementara ratusan lainnya luka. Polisi menggunakan gas air mata, peluru karet dan senapan burung untuk mengusir peserta aksi demo yang terus melontarkan batu ke arah aparat. Sementara menurut para demonstran, polisi juga menembakkan peluru tajam ke arah mereka.

Di luar Kairo, juga dilaporkan terjadi bentrokan di Alexandria, Suez, Port Said dan Aswan. Aksi turun ke jalan dan demo di lapangan tahrir dipicu oleh ketidakpuasan massa atas langkah-langkah politik penguasa militer.

Sebelum aksi meletus, militer mengatakan pilpres baru bisa digelar akhir 2012 atau malah tahun 2013. Ditambah lagi militer juga membuat usulan RUU yang menyatakan bahwa anggaran militer tidak bisa dikutak-katik warga sipil. Akibatnya aksi massa pecah kembali Jumat lalu. Aksi berlanjut menjadi bentrok berdarah saat pasukan pengamanan mencoba mengusir para peserta demo dari lapangan Tahrir Sabtu berikutnya.

Diantara para peserta demo adalah kelompok yang merasa frustasi dengan lambatnya arus reformasi sejak Hosni Mubarak berhasil digulingkan dari kursi presiden bulan Februari lalu, juga dengan gelombang aksi demonstrasi. Sepeninggal Mubarak, Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (Scaf) mengambil alih pemerintahan dengan janji akan melaksanakan transisi terhadap penguasa sipil.

Sesuai jadwal 28 November depan akan jadi tanggal pelaksanaan pemilu legislatif, meski aksi demo terjadi. Sementara penyelenggaraan pemilihan presiden baru dirancang dilaksanakan akhir tahun depan atau bahkan tahun berikutnya, 2013.

Itu berarti kekuasaan militer bisa jadi akan berlangsung hingga 2013. Karena itu massa menghendaki setelah pemilu legislatif, segera digelar pemilu presiden. Dewan Agung Militer sudah mengungkapkan kerangka waktu pengalihan kekuasaan secara total pada akhir 2012 atau awal 2013, setelah konstitusi baru disahkan dan pemilihan presiden berlangsung.

Awalnya para pengunjuk rasa menuntut kepastian tentang waktu pengalihan kekuasaan. Namun belakangan muncul tuntutan agar Jenderal Mohamed Tantawi dan seluruh anggota Dewan Militer Agung segera mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil sementara.

Mereka juga menuntut pemilihan presiden paling lambat pada tahun 2012 dan melakukan penyelidikan yang menyeluruh atas kekerasan belakangan ini. Para pengunjuk rasa menegaskan akan tetap berada di Lapangan Tahrir, yang menjadi simbol dari revolusi Mesir sampai tuntutan mereka dipenuhi.

Hal ini mengingatkan publik kepada peristiwa Protes Lapangan Tiananmen yang nyaris sama di lapangan Tiananmen, Republik Rakyat China, tahun 1989 silam.

Protes Lapangan Tiananmen 1989 (atau Insiden 6/4 atau Pembantaian Lapangan Tiananmen) adalah sebuah rangkaian demonstrasi yang dipimpin mahasiswa diadakan di Lapangan Tiananmen di Beijing, Republik Rakyat China, antara 15 April dan 4 Juni 1989. Protes ini ditujukan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik yang kemudian merembet menjadi demonstrasi pro-demokrasi yang memang merupakan suatu yang belum lazim di Cina yang otoriter. Lebih dari 3.000 orang meninggal sebagai akibat tindakan dari pasukan bersenjata. (Kartika Pemilia)

 

BACA JUGA  Sekelompok Yahudi Memasuki al-Aqsa
No Response

Leave a reply "Lapangan Tahrir Mesir Bakal Menjadi Tiananmen Kedua?"