Langkah Mudah Menulis Artikel-Opini

Written by | Opini

menulis

Oleh M. Anwar Djaelani

menulisInpasonline.com-Menulis artikel-opini adalah sebuah ketrampilan. Kita akan trampil jika rajin berlatih. Sikap rajin berlatih akan muncul jika sadar bahwa yang kita kerjakan itu termasuk pengamalan dari QS Al-Alaq 1-5. Di dalam lima ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw itu, ada petunjuk agar kita suka membaca dan sekaligus cakap menulis. Maka, bersemangatlah!
Pembiasaan Itu
Banyak membaca adalah modal utama seorang penulis. Dengan sering membaca seseorang akan, pertama, mendapatkan pengetahuan / wawasan baru. Kedua, kaya dengan perbendaharaan kata. Ketiga, terbit ide untuk menulis sesuatu sebagai pengembangan dari apa yang sudah dibacanya.
Tulisan sangat besar pengaruhnya. Lihat ungkapan salah seorang pendiri Pesantren Gontor -KH Imam Zarkasy (1910-1985)- ini. Bahwa, andai tak punya murid, “Saya akan mengajar dunia dengan pena”. Simak pula kalimat Mujahid dari Mesir, Sayyid Qutb (1906-1966) ini: “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Tapi, satu tulisan bisa menembus ribuan dan bahkan jutaan kepala”.
Artikel-opini adalah sebentuk karya tulis. Setiap orang semestinya bisa menulis artikel-opini. Coba perhatikan keseharian kita! Di saat menjumpai sesuatu yang menarik perhatian di sekelilingnya, rata-rata orang berkecenderungan untuk menyampaikan opini atau pendapatnya kepada orang lain tentang hal itu. Jika opini itu dipindahkan ke tulisan, maka itu sudah bernilai sebagai artikel-opini.
Mari, bersemangat! Tema untuk dikembangkan menjadi artikel-opini cukup mudah kita dapatkankarena ‘tersedia’ di sekeliling kita, termasuk di koran, di majalah, di TV, dan internet. Contoh. Di level rumah tangga, misalnya. Ketika ibu-ibu mendapati kenyataan bahwa harga beberapa kebutuhan pokok merangkak naik mengiringi kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), maka mereka bisa menulis opini tentang ini
Bagi yang suka mengikuti informasi lewat pemberitaan media, baik media cetak (seperti koran, tabloid, majalah, dan yang sejenis) maupun media elektronik (seperti radio, televisi, atau internet), maka untuk mendapatkan ‘tema-tema nasional dan internasional’ rasanya jauh lebih mudah.
Tentang “Niat dan Pembiasaan”. Kita perlu membiasakan diri untuk terus menulis dan itu harus didasari pada sebuah niat yang benar. Tatalah niat kita lebih dahulu. Apa motivasi kita menulis? Demi idealisme? Misalnya, apakah untuk menjadikannya sebagai media dakwah? Turut mencerdaskan bangsa? Untuk memengaruhi opini publik? Ataukah, sekadar untuk meraih popularitas? Atau juga, sebagai sarana mencari uang? Tentu saja, pilihan motivasi menulis itu akan berbanding lurus dengan ‘daya juang’ kita dalam (berlatih) menulis. Jika untuk tujuan dakwah, maka itulah sebaik-baik niat.
Ide tulisan akan datang mengalir deras, terutama jika kita sudah membiasakan diri untuk menulis. Nyaris di setiap kita membaca, melihat, atau mendengar sesuatu yang ‘tak biasa’, biasanya lalu terbit ide untuk mengartikel-opinikannya.
Ide tulisan harus aktual dan menarik perhatian publik. Jika dua hal itu sudah dipenuhi, maka syarat pertama agar artikel-opini kita dimuat media sudah terpenuhi. Tinggal syarat yang lain.
Buatlah outline (kerangka karangan) setelah kita memilih ide/tema yang akan kita tulis. Langkah ini diperlukan sebelum kita menulis secara lengkap. Outline kita buat untuk memudahkan pengembangan penulisan. Pada dasarnya, alur menulis itu terangkai dalam “Tiga Besar” yaitu pendahuluan, pembahasan, dan penutup.
Di pendahuluan kita sampaikan secara ringkas masalah apa yang akan kita bicarakan. Lalu, di pembahasan, kita urai dan analisis masalah yang kita paparkan di bagian pendahuluan. Kemudian, di penutup, berilah kesimpulan dan saran berdasarkan uraian dan analisis sebelumnya.
Perihal “Judul Pemanggil”. Judul yang baik, antara lain: a). Mampu mencuri perhatian pembaca. b). Mencerminkan tema / arah tulisan, sehingga bisa menjadi ‘miniatur’ isi keseluruhan tulisan. c). Ringkas dan padat. Sebagai sarana berlatih, seringlah memerhatikan judul-judul artikel-opini di berbagai media cetak. Contoh judul: Lady Gaga, Idola, dan Nasib Kita.
Tentang “Lead Penggoda”. Lead adalah pendahuluan berbentuk paparan ringkas dari masalah yang akan kita kupas. Posisi lead menempati paragraf pertama. Fungsi lead adalah penggugah rasa ingin tahu pembaca. Lead mengantar pembaca ke gagasan utama sang penulis. Berikut ini contoh lead berdasar judul Lady Gaga, Idola, dan Nasib Kita:
Hikmah penolakan keras atas rencana konser Lady Gaga –penyanyi pemuja setan- di sekitar Mei 2012 membawa pesan: Berhati-hatilah mengambil idola sebab di hari kiamat dan di akhirat nanti seseorang akan bersama dengan orang yang diidolakannya.
Perihal “Pembahasan nan Menawan”. Di bagian ini, isinya berupa analisis atas masalah yang kita angkat. Pembahasan harus sistimatis, argumentatif, tuntas, dan ditulis dengan bahasa baku namun tetap dengan sentuhan popular. Untuk judul “Lady Gaga, Idola, dan Nasib Kita”,yang perlu kita bahas: Kabar Lady Gaga akan manggung di Jakarta, terjadinya pro-kontra di masyarakat, perdalam dengan pendapat sendiri, makna idola (terutama bagi remaja) dan apa bahayanya jika salah memilih idola (bisa dari tinjauan psikologi dan agama).
Tentang “Penutup yang Bernas”. Bagian ini memuat kesimpulan / saran atas masalah yang kita kupas. Disajikan sekaligus dengan gaya pamit. Lihat contoh berikut ini:
Jadi, masihkah kita berani memilih idola berupa orang yang tak beres, yaitu dari yang ‘sekadar’ suka gonta-ganti pasangan sampai yang berkategori pemuja setan? Seperti apa nasib kita kelak jika sekarang memiliki idola bernama Lady Gaga atau yang serupa dengan itu? Sungguh, idola yang kita pilih sekarang akan setia mendampingi di saat kiamat dan juga di akhirat nanti.
Perihal “Panjang Artikel-opini”. Untuk media cetak, usahakanlah sesuai dengan ketentuan dari masing-masing media. Secara umum, media cetak membutuhkan artikel-opini sepanjang 6000 karakter.
Tiga M
Sekarang, tak perlu kita tunda-tunda lagi. Untuk bisa menulis artikel-opini, tak ada kiat yang paling manjur kecuali apa yang dikenal sebagai “Tiga M”: Mulai, mulai, dan mulailah! []

BACA JUGA  Ramadlan dan Identitas Masyarakat Berperadaban

Last modified: 30/03/2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *