Kritik terhadap Orientalisme: Review Buku Dr. Syamsuddin Arief

Allah SWT membalas kelalaian mereka dengan melalaikannya dari petunjuk dan rahmat, mereka telah melalaikan dirinya sendiri tidak mencari kesempurnaan dan kebaikan dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan soleh sebagai petunjuk dan agama yang benar, Allah SWT telah melupakan mereka dari mencari petunjuk dan agama yang benar sebagai hukuman atas kelalaian mereka kepada Allah  SWT. Allah SWT telah menghimpun bagi mereka antara mengikuti hawa nafsu dan kesesatan sebagaimana menghimpun bagi orang-orang yang mendapatkan petunjuk antara ketakwaan dan petunjuk.[1]

Makalah ini adalah hasil review atas buku yang ditulis oleh DR. Syamsuddin Arief berjudul Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Orientalisme adalah sebuah studi keislaman dan ketimuran dengan paradigma berpikir ala Barat. Studi bukan dilakukan untuk mencari kebenaran tetapi justru untuk mengkaburkannya. Terdapat hubungan yang erat antara kolonialisme dan orientalisme. Para orientalislah yang merumuskan kebijakan-kebijakan penjajah demikian pula orientalis mempunyai kepentingan dengan Negara-negara kolonial. Studi Keislaman yang dilakukan oleh kaum orientalis sarat dengan kepentingan penjajah untuk menjaga hegemoni mereka oleh karena kajian mereka tentang tokoh dan sejarah Islam sarat dengan distorsi, kaum muslimin harus waspada dan bersikap kritis tidak menelan bulat-bulat begitu saja tulisan-tulisan mereka.

 

Prakonsepsi yang Salah Dalam Melakukan Studi

Menurut Amien Rais dalam bukunya “ Cakrawala Islam” jika orientalis mempelajari Islam, maka ada dua dogma pokok yang dipegang, pertama, Al Quran bukanlah wahyu Ilahi, melainkan hanya karangan Muhammad yang merupakan gabungan unsure-unsur agama Yahudi, Kristen, dan tradisi Arab pra-Islam. Amin mencontohkan Chateaubriand yang mengindoktrinisasi murid-muridnya bahwa Al Quran sekedar buku karangan Muhammad. Kata orientalis itu, Al Quran tidak memuat prinsip-prinsip peradaban maupun ajaran yang bisa memperluhur watak manusia.

Kedua, orientalis meragukan kesahihan atau otentitas semua hadist. “Malah ada yang mengkritik syarat-syarat sahihnya hadist, seperti dilakukan oleh Joseph Schacht sehingga seolah-olah di samping ada shahih Bukhari dan shahih Muslim, ada pula sahih Josep Schacht,” Sindir Amien.

Dr. Nasir Mahmud dalam disertasinya tentang orientalisme, Al Quran di mata Barat mengatakan bahwa keinginan Barat untuk mengetahui Islam karena adanya perang Salib. Meski sebelum perang Salib ada upaya untuk mengenal Islam, tapi masih kabur (belum serius). Disamping melalui perang salib, pengenalan Islam dilakukan dengan kunjungan atau studi beberapa pastor Kristen Barat ke Andalusia untuk belajar Islam. Di antara mereka ada Pastur Gerbert dari Perancis (999) dan Pierrele Aenere (1092).

Akibat Perang Salib itu, bangsa Barat mengenal Islam dengan pandangan yang negative. Informasi yang mereka terima tentang Islam sangat kurang dan image negative tentang islam mereka gunakan untuk mengobarkan semangat tentara salib dalam menghadapi Tentara Muslim.

Mustofa Siba’I mengemukakan beberapa motivasi yang mendorong orientalis, yaitu motivasi agama, motivasi imperialisme, motivasi bisnis dan motivasi ilmiah. Motivasi agama untuk kepentingan missionaris, motivasi imperialisme untuk menguasai dunia timur, motivasi bisnis untuk kepentingan bisnis Barat dan motivasi ilmiah untuk kajian ilmiah”[2] Barat terhadap Islam.  

 

Krisis Epistemologi

DR. Syamsuddin Arief mengatakan bahwa methodology yang dilakukan oleh para orientalis dalam melakukan kajian keislaman ibarat kanker yaitu kanker epistemology yang sangat ganas, kanker epistemology bisa melumpuhkan kemampuan menilai serta mengakibatkan kegagalan akal dan pada gilirannya akan menggerogoti keyakinan dan keimanan dan akhirnya mengantarkan pada kekufuran.

Pengidap kanker epistemology memperlihatkan gejala-gejala sebagai berikut: Bersikap skeptis terhadap segala hal dari soal sepela sampai ke masalah-masalah prinsipil dalam agama. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya semua  pendapat tentang semua perkara( termasuk yang qoti’ dan bayyin dalam agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan.

Gejala yang kedua ialah paham relativistic. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat ( agama, aliran, sekte, kelompok dan lain-lain) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menutut paham ini , kebenaran berada dan tersebar di mana-mana,namun semuanya bersifat relative. Jika seorang sekeptive menolak semua klaim kebenaran, maka seorang relative menerima dan menganggap semuanya benar.

Gejala lainnya yang ditunjukkan oleh seorang pengidap kanker epistemologi adalah kekacauan ilmu (cognitive confusion). Ia tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah , mana yang hak dan mana yang batil. Ia bahkan cenderung menyamakan dan mencampuradukkan keduanya. Garis demarkasi yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan tidak mampu dilihatnya. Yang lebih parah lagi jika hal ini menyebabkan si pesakit lantas menganggap kebenaran sebagai kebatilan dan sebaliknya menyakini kebatilan sebagai kebenaran

 

Dampak Krisis Epistemologi

Krisis epistemology terjadi bukan hanya dalam studi Islam dalam sains pun Barat mengidap kanker epistemology yang sangat akut sebagai salah satu dampak dari westernisasi. Sekalipun westernisasi telah menghasilkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia namun tidak dapat dinafikan juga bahwa westernisasi ilmu telah merusak khususnya spiritual kehidupan manusia.

Sejarahwan Barat menganugerahkan gelar Bapak filsafat modern kepada Rene Descartes (1596-1650) yang memformulasi prinsip, aku berfikir maka aku ada (cogito ergo sum) . dengan prinsip ini, Descartes telah menjadikan ratio satu-satunya criteria (rasionalisme) untuk mengukur kebenaran. Berbeda dengan Descartes, David Hume (1711-1776), menegaskan panca indera adalah sumber ilmu (empirisme). Oleh sebab itu, Hume menyimpulkan tidak mungkin dapat diraih (skeptisisme). Menjawab keraguan terhadap ilmu pengetahuan yang dimunculkan oleh David Hume yang skeptic, Immanuel kant (1724-1804) berpendapat pengetahuan adalah mungkin  ( knowledge is possible). Sebabnya selain wujudnya pernyataan analytic a priori dan synthetic a posteriori, ada juga pernyataan syntetic a priori. Bagaimanapun Kant menegaskan metafisika adalah tidak mungkin karena tidak bersandarkan pada panca indera. Menurut Kant, metafisika tidak memuat pernyataan-pernyataan syntetic a priori seperti yang wujud dalam matematika, fisika dan ilmu-ilmu yang berdasarkan pada fakta empiris. Kant metafisika sebagai ilusi transendent (a transcendent illusion). Kant menyimpulkan pernyataan-pernyataan metafisis tidak memiliki nilai epistemologis (metaphysical assertions are without epistemological value).    

Munculnya epistemologi sekuler yang dominan dalam peradaban Barat pada zaman modern membawa dampak terhadap munculnya faham atheisme. Berbagai disiplin ilmu seperti  dalam teologi, filsafat, sains, sosiologi psikologi, politik, ekonomi dan lain-lain tidak terlepas dari paham ateisme.

Salah seorang perintis faham atheis di abad modern adalah seorang teolog Kristen, Ludwigh Feurbach (1804-1872), murid Heigel. Feurbach menegaskan prinsip filsafat yang paling tinggi adalah manusia. Sekalipun agama atau teologi menyangkal, namun pada hakikatnya agamalah yang menyembah manusia. Agama Kristen sendiri yang menyatakan Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan. Jadi agama akan menafikan Tuhan yang bukan manusia. Makna sebenarnya dari teologi adalah antrophologi. Agama adalah mimpi akan manusia (religion is the dream of human mind).

Terpengaruh dengan karya Feurbach, Karl Marx berpendapat agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Agama adalah candu rakyat. Dalam pandangan Marx agama adalah faktor sekunder, sedangkan faktor primernya adalah ekonomi.

Selain itu Marx memuji karya Charles Robert Darwin dalam bidang sains yang menyimpulkan Tuhan tidak berperan dalam penciptaan. Bagi Darwin asal mula species (origin of species) bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari “adaptasi kepada lingkungan” (adaption to the environment) . menurutnya lagi Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup. Semua species yang berbeda sebenarnya berasal dari nenek moyang yang sama. Species berbeda satu sama lain disebabkan kondisi-kondisi alam (natural condition).

Faham ateisme berkembang juga dalam disiplin ilmu sosiologi. Auguste Comte, penemu istilah sosiologi, memandang kepercayaan kepada agama merupakan bentuk keterbelakangan masyarakat. Dalam pandangan Comte, masyarakat berkembang melalui tiga fase teoritis, yaitu ; fase teologis disebut juga sebagai fase fiktif; fase metafisik disebut juga fase abstrak; fase saintifik  disebut juga fase positif. Masing-masing fase memeiliki ciri yang bertentangan antara satu dengan yang lain. Karakteristik dari setiap fase itu bertentangan antara satu dengan yang lain. Dalam fase teologis, akal manusia menganggap fenomena dihasilkan oleh kekuatan-kekuatan abstrak, atau entitas-entitas yang nyata, yang menggantikan kekuatan ghaib. Dalam fase metafisis metafisik misalnya akal manusia menganggap kekuatan-kekuatan dihasilkan oleh abstrak, atau entitas-entitas yang nyata yang menggantikan kekuatan ghaib. Dalam fase positif manusia menyadari bahwa kebenaran yang mutlak tidak mungkin dicapai. Pendapat Comte yang menolak agama diikuti oleh para oleh para ahli sosiologi dan antropologi seperti Emile Durkheim (m 1917) dan Herbert Spencer. Agama , tegas Spencer, bermula dari mimpi manusia tentang adanya spirit di dunia lain.

Pemikiran ateistik ikut bergema dalam disiplin psikologi. Sigmund freud (m. 1939), seorang psikolog terkemuka menegaskan doktrin-doktrin agama adalah ilusi. Agama sangat tidak sesuai realitas dunia. Bukan agama, tetapi hanya karya ilmiah, satu-satunya jalan untuk membimbing kearah ilmu pengetahuan.

Dalam filsafat, kritik terhadap eksistensi Tuhan juga bergema lebih kuat. Di dalam karyanya thus spoke Zarathustra, Friedrich Nietzsche (1844-1900) menulis; “ God died; now we want the overman to live.” Dalam pandangan Nietzsche, agama adalah membuat sesaat lebih baik dan sesaat membiuskan”(momentary amelioration and narcotizing). Bagi Nietzsche, agama tidak bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan. Nietzsche menyatakan,” Seseorang tidak dapat mempercayai dogma-dogma agama dan metafisik ini jika seseorang memiliki metode-metode yang ketat untuk meraih kebenaran di dalam hati dan kepada seseorang.” Nietzsche menceraikan hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan, Nietzsche menyatakan,” Antara agama dan sains yang betul , tidak terdapat keterkaitan, persahabatan bahkan permusuhan : keduanya menetap di binatang yang berbeda.” Perlu diperhatikan , ketika Nietzsche mengkritik agama , ia merujuk secara lebih khusus kepada agama Kristen[3].   

BACA JUGA  Aceh dan Kontroversi Jejak Syi’ah

 

Diabolisme Intelektual        

Syamsuddin Arief mengatakan bahwa kaum orientalis yang intensive melakukan kajian keislaman telah mengalami apa yang dinamakan Diabolisme Intelektual. Istilah Diabolisme berarti pemikiran, watak,  dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian kepadanya . Sebagaimana kita ketahui ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam.

Iblis tidak atheis dan tidak mengingkari adanya Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen . di sinilah letak permasalahannya. Kenal dan tahu saja tidak cukup. Percaya dan mengakui saja tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan ahli kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasululloh SAW. Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam. Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. Ciri-ciri cendekiawan bermental Iblis adalah sebagai berikut :

Pertama : Selalu membangkang dan membantah (al An’am : 121). Meskipun kenal dan paham namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Maka selalu mencari argument untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya.

Kedua ,  Intelektual diabolic bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arogan).Pengertian takabbur dijelaskan dalam hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim” sombong ialah menolak yang hak dan meremehkan orang lain.”

Ketiga, cendekiawan diabolik mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran. Cendekiawan diabolik bukannya tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga tampak seolah-olah haq. Sebaliknya yang hak digunting dan dipreteli sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bungung dan terkecoh.   

Para pengamat studi orientalis yang jujur mengemukakan beberapa kelemahan orientalis yang sulit dipungkiri siapapun, diantaranya sebagai berikut.

1.     tidak menguasai bahasa Arab yang baik, sense bahasa yang lemah dan pemahaman yang sangat terbatas atas konteks bahasa yang variatif. Kelemahan ini tentu berpengaruh terhadap pemahaman mereka atas referensi-referensi Islam yang inti. Seperti Al quran dan As Sunnah. Oleh karena itu pemahaman mereka tentang Islam dari risalahnya rancu dan kabur. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh Mustafa As Sibai setelah beliau meninjau langsung pusat orientalisme di sekitar Eropa dan berdialog langsung dengan para orientalis.

BACA JUGA  Kritik Terhadap Kenabian Adonis

2.     Perasaan superioritas sebagai orang Barat. Ilmuwan Barat, khususnya orientalis senantiasa merasa bahwa barat adalah “guru” dalam segala hal, khususnya dalam logika dan peradaban. Mereka cenderung tidak mau digurui oleh orang timur, sehingga timbul rasa egois. Mereka menganggap bahwa sejarah bermula dibarat dan bermuara di barat. Memang ada dianatara mereka yang menunjukkan sikap mau mendengar suara orang lain, asalkan didukung oleh argumentasi yang rasional. Namun jumlahnya kecil bila dibandingkan dengan orang-orang yang arogan tersebut.

3.     Orientalis Barat sangat memegang teguh doktrin-doktrin mereka yang tidak boleh dikritik, bahkan sampai ke tingkay fanatisme buta. Di antaranya dua doktrin inti, yaitu bahwa Al Quran dalam pandangan insan Barat bukan kalam Allah dan Muhammad bukan Rasul Allah. Doktrin itu sudah tertanam dalam pikiran mereka sebelum meneliti (prakonsepsi) sebab itu merupakan doktrin agama mereka yang ditanamkan sejak kecil. Akibatnya penelitian diarahkan hanya untuk mendukung asumsi saja bukan untuk ingin mencari kebenaran secara obyektive dan bebas.

4.     Banyak dari kajian-kajian orientalisme yang terkait erat dengan kepentingan Negara-negara tertentu yang mendanai kajian tersebut. Percuma saja Negara-negara Barat mengeluarkan uang jutaan dolar bahkan miliaran dolar hanya untuk kepentingan ilmiah semata, kalau bukan karena ada target-target tertentu yang sangat berharga bagi kepentingan mereka. Target itu bisa bersifat politis, bisnis, strategis dan misi. Seperti pernah diungkapkan oleh prof. Ismail Al Faruqi dalam sebuah artikelnya pada majalah The Contemporary Muslim, studi islam di barat khususnya Amerika serikat tidak luput dari misi Zionis dan Salibis. Orientalis yang mengajar di jurusan tersebut katanya sebagian besar adalah orang yahudi dan Kristen fanatis. Dosen-dosen yang ad asana kerjanya hanya mencari titik-titik lemah Islam untuk diserang. Oleh karena itu kajian-kajian mereka banyak menyangkut aliran-aliran yang menyimpang. Jika mereka belajar hadist motifnya untuk menelanjangi materi-materi tersebut.

BACA JUGA  Khutbah Nikah oleh Dr. Anis Malik Thoha (Rektor UNISULA Semarang)

Staf pengajar semuanya non muslim, kalaupun ada yang muslim biasanya orang-orang yang tak laku dinegrinya karena punya pemikiran yang aneh-aneh. Mereka disambut oleh Amerika Serikat karena pikiran mereka sejalan dengan misi Zionis. [4]

 

Penutup

Menurut Syed M Naquib Al Attas Problema kekeliruan dalam bidang keilmuan adalah ketiadaan adab sebab Ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kecuali orang itu telah memiliki adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan, pelbagai disiplin Ilmu dan otoritasnya yang legitimatif. Metode atau katakanlah cara-cara untuk menciptakan disintegrasi adab dalam masalah-masalah spiritual adab dalam masalah spiritual , intelektual dan cultural adalah melalui sikap dan proses penyamaan, misalnya kitab suci Al Quran dianggap sama dengan kitab-kitab lain, Islam dianggap sama dengan agama-agama lain, Nabi Muhammad dietarakan kedudukannya dengan nabi-Nabi lain karena semua mati secara biasa, ilmu agama dianggap sama dengan ilmu lain , hidup diakherat dianggap sama dengan kehidupan di dunia dan lain sebagainya.

Karena secara integral adalah bagian dari hikmah dan keadilan, ketiadaan adab akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan, bahkan kegilaan secara alami. Kezaliman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kebodohan  (humq) menurut Al ghazali adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai tujuan tertentu sedangkan kegilaan adalah perjuangan berdasarkan tujuan dan maksud yang salah. Sesuatu akan menjadi lebih gila jika tujuan utama mencari ilmu bukan untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya atau kecintaan kepada Tuhan sesuai dengan ajaran agama yang benar. Demikian pula, adalah suatu kebodohan jika berupaya mencari kebahagiaan di dunia dan akherat nanti tanpa ilmu dan amal yang benar. Secara esensial ketiadaan adab akan memicu munculnya segala macam bentuk sofisme.[5]

 

Daftar pustaka:

1.  Al-Jauziyah, Ibnu Qoyyim, Al Fawaid, (Beirut: Daar al-Fikr, 2004) p. 27

2.  Hidayat, Nu’im, Imperialisme Baru, (Jakarta: Gema Insani Press, 2009) p. 47-50

3.  Armas, Adnin, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu ( Ponorogo: CIOS) p. 1-6

4.  Rasyid, Daud, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan ( Bandung: Syamil Publishing) p. 125-128

5.  Daud, Nor Wan, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al Atas (Bandung: Mizan) p. 199-200




[1] Ibnu Qoyyim, Al Fawaid, (Beirut: Daar al-Fikr, 2004) p. 27

[2] Nu’im hidayat, Imperialisme Baru, (Jakarta: Gema Insani Press, 2009) p. 47-50

[3] Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu ( Ponorogo CIOS) P 1-6

[4] DR. Daud Rasyid MA,Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan ( Bandung, Syamil Publishing) P 125-128

[5] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al Atas (Bandung, Mizan) P 199-200

No Response

Leave a reply "Kritik terhadap Orientalisme: Review Buku Dr. Syamsuddin Arief"