Kritik Terhadap Institusi Keluarga Prespektif Feminisme

Wacana seputar isu gender dalam Islam mengalami perkembangan signifikan di Indonesia,[8] hal ini tidak terlepas dari pengaruh karya-karya feminis Muslim di berbagai belahan dunia Islam, baik melalui wacana maupun tradisi oral (oral tradition) di kalangan pemimpin Islam. Karya-karya mereka tidak saja menjadi sumber inspirasi – di kalangan feminis Islam Indonesia – untuk mendialogkan secara kritis isu-isu gender dengan Islam dalam konteks ke Indonesiaan. Lebih dari itu, perkembangan wacana tersebut semakin membulatkan tekad dan komitmen para feminis dalam usahanya mengadvokasi dan membebaskan perempuan dari domestifikasi, subordinasi, dan diskriminasi yang selama ini membelenggu ruang gerak perempuan.[9]

Isu kesetaraan gender yang  diperjuangkan oleh para feminis pada akhirnya sampai pada tuntutan kesetaraan dalam institusi keluarga. Hal ini kemudian melahirkan berbagai macam pandangan terhadap struksur institusi keluarga, di antaranya; Paradigma marxis memandang institusi keluarga sebagai “musuh” pertama yang harus dihilangkan atau diperkecil perannya. Keluarga dianggap sebagai cikal bakal segala ketimpangan sosial yang ada, terutama berawal dari hak dan kewajiban yang timpang antara suami-istri.[10] Dalam pandangan ini, institusi keluarga adalah struktur patriarki yang merupakan cikal bakal terciptanya masyarakat berkelas-kelas. Kaum komunis mengatakan bahwa kaum perempuan adalah private property bagi suaminya. Manifesto feminism radikal yang diterbitkan dalam Notes from the Second Sex (1970) mengatakan bahwa lembaga perkawinan adalah lembaga formalisasi untuk menindas perempuan.[11]

Pada umumnya, institusi keluarga di atas menempatkan perempuan dalam posisi yang lemah. Kondisi yang lemah dan terlemahkan dari kaum perempuan itu sebenarnya dapat terjadi karena masih kuatnya unsur dominasi dan hegemoni dalam budaya patriarkhis yang menindas kaum perempuan. Kaum perempuan menjadi “korban” abadi dalam sistem kehidupan masyarakat yang mengalami ketimpangan struktural.[12]

Maka wajar jika kemudian lahir suatu gerakan yang dipromotori oleh kaum perempuan yang menginginkan kebebasan. Bebas dari kungkungan patriarki, penjara rumah tangga, dan kemudian menganggap institusi keluarga sebagai musuh pertama yang harus dihilangkan atau diperkecil perannya. Mereka beranggapan bahwa peran wanita sebagai ibu rumah tangga adalah peran yang “merampok hidup perempuan”, “perbudakan perempuan” dan sebagainya.[13]

Konsep relasi hubungan laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga menurut analisis gender adalah persamaan hak dan kesempatan. Kalau laki-laki bisa menjadi pemimpin dalam rumah tangga, maka perempuan pun mempunyai hak yang sama, bisa menjadi pemimpin bagi keluarganya. Begitu pula kalau perempuan bisa diberi tugas mengurus rumah tangga, maka laki-laki pun bisa diberi tugas mengurus rumah tangga. Pembagian peran dalam rumah tangga tidak boleh didasarkan atas perbedaan jenis kelamin, tetapi karena kapabilitasnya. Perbedaan laki-laki dan perempuan tidak seharusnya memunculkan perbedaan peran, karena ia akan menimbulkan ketidakadilan.[14] Pandangan yang lebih ekstrim tentang struktur keluarga ideal dikemukakan oleh feminism radikal, mereka berpendapat apabila lembaga perkawinan tidak dapat dihindari, maka perlu diciptakan teknologi[15] untuk mengurangi beban biologis wanita. Hal ini diharapkan dapat mengakhiri pembagian peran berdasarkan gender yang selalu terkait dengan kehamilan, menyusui, dan pengasuhan anak.[16]

Isu kesetaraan dan kebebasan di atas kini hendak diterapkan dalam institusi keluarga Islam, dimana dalam Islam institusi keluarga adalah merupakan hubungan yang sakral dan bahkan telah di atur dalam al-Qur’an[17] dan al-Hadis[18]. Penyama rataan konsep dengan yang di tawarkan oleh Barat mengenai institusi keluarga tentu tidak bisa diterima dalam Islam. Di Barat, seorang wanita yang menjadi ibu adalah merupakan bentuk diskrimasi, sedang dalam Islam tugas seorang ibu dalam rumah tangga memiliki fungsi yang sangat urgen, karena ibu adalah merupakan madrasah pertama bagi putra putrinya.

Dari paparan di atas, penulis hendak memaparkan bagaimana struktur institusi keluarga menurut para feminism, bagaimana sejarah dan konsep struktur keluarga mereka terbentuk serta dampak sosial yang timbul, kesempatan dan persamaan yang meliputi aktualisasi diri dan dedikasi perempuan yang diinginkan kaum feminism, dan terakhir akan dijelaskan bagaimana institusi keluarga dalam Islam.

 

B.      Kritik Feminis Terhadap Pernikahan/Institusi Keluarga

Bagi para feminis, agama, budaya, dan keluarga seakan menjadi sumber bagi para feminis untuk menyebarkan ideologi gender dalam mendapat jalannya melakukan stigmatisasi serta posisi biner perempuan dan laki-laki. Menurut mereka, Ideologi gender seakan mendapatkan legitimasi dari agama, kemudian dikuatkan lagi dengan adanya tradisi masyarakat, kebudayaan, dan dipraktikkan dalam kehidupan keluarga. Situasi semacam ini – menurut para pegiat gender – dianggap telah berlangsung berabad-abad dengan posisi relasi yang timpang antara perempuan dan laki-laki.[19]

Sebagaimana kita ketahui, bahwa kehidupan masyarakat dunia berawal dari individu, dan keluarga sebagai komunitas terkecil dalam masyarakat yang akan membentuk karakter setiap individu yang ada di dalamnya. Akan tetapi bagi para feminis, kondisi seperti ini dianggap menjadi sebuah ladang pembibitan yang sangat strategis untuk pelestarian dan pengembangan ideologi gender. Menurut mereka, dalam kehidupan keluarga, nilai-nilai ideologi gender ditanamkan dan tertanamkan baik secara deduktif maupun secara induktif. Proses penanaman bibit yang tanpa pemahaman pada hakekatnya hanya merupakan proses pemiskinan peradaban. Mereka beranggapan bahwa kebudayaan manusia berjalan dengan penuh eksploitasi dan penipuan. Dalam situasi seperti ini, mereka menyimpulkan bahwa pola relasi yang tumpang tindih telah melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan dan kekerasan yang secara intensif terjadi terus menerus dalam kehidupan keluarga. Bagi para feminis, kedudukan ayah sebagai kepala keluarga dianggap telah mengukuhkan ideologi gender itu sendiri. Selanjutnya mereka mengatakan bahwa, dengan memposisikan laki-laki sebagai faktor ordinat dan perempuan sebagai subordinat, kekerasan dan ketidakadilan pada perempuan seolah mendapat legalitas lewat agama dan budaya yang beridiologi gender tersebut, dengan keluarga sebagai instrumennya.[20] Para feminis menganggap bahwa mereka telah berhasil menempatkan politik seksualitas sebagai isu sentral dalam pemahaman tentang penindasan. Teori mereka adalah meletakkan politik seksualitas dalam rumah tangga, khususnya pada pembagian kerja rumah tangga, semisal siapa yang merawat anak dan memasak.[21]

Argumen yang dipakai oleh para feminis adalah bahwa patriarki (supremasi laki-laki) muncul karena adanya pembagian kerja yang didasarkan atas seks. Mereka menganggap bahwa dengan adanya pembagian tersebut, perempuan menjadi benar-benar bertanggung jawab atas pekerjaan domestik. Lebih dari itu, mereka beranggapan bahwa teoretisi laki-laki telah menganggap remeh penindasan yang dialami perempuan di rumah tangga, pasar kerja, politik dan budaya[22] sehingga timbul anggapan bahwa kaum laki-laki selalu menempatkan perempuan pada posisi kelas ke dua (the second human being) dalam tatanan kehidupan.[23]

Tuduhan-tuduhan negatif yang dilontarkan oleh para feminis, kemudian memunculkan berbagai macam ide dan gagasan untuk menyetarakan kedudukan laki-laki dan perempuan. Mereka ingin merubah struktur institusi keluarga yang bersifat vertikal dengan suami sebagai kepala keluarga, menjadi struktur yang bersifat horizontal, di mana kepemimpinan dalam keluarga bisa di pegang oleh suami atau istri. Manakala penghasilan istri lebih besar dari suami, maka istrilah yang berhak menjadi kepala rumah tangga. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Randal Collin dalam bukunya Sociological of Marriage and the Family: Gender, Love, and Property dan dikutip oleh Ratna Megawangi dalam bukunya Membiarkan Berbeda mengatakan bahwa keluarga oleh model structural-fungsional dijadikan institusi untuk tujuan melanggengkan system patriarkat, kemudian Collin mengatakan bahwa sebuah keluarga ideal adalah yang berlandaskan companionship, yang hubungannya horizontal (tidak hierarkis).[24]

Menurut Ben Agger dalam bukunya Teori Sosial Kritis mengatakan bahwa para feminis telah menghasilkan perubahan utama dalam kajian sosiologi atas keluarga, keluarga tidak lagi ditinjau dalam terminologi Victorian[25] dan Parsonian[26] sebagai tempat pembagian kerja berdasarkan seks “secara alamiah[27], melainkan dipandang sebagai tempat pertarungan, di mana pembagian kerja secara seksual, telah melemahkan dan merugikan perempuan.” Mereka berpendapat bahwa pembagian kerja secara seksual, merupakan ketimpangan yang serius antara laki-laki dan perempuan, mempermasalahkan dan mempolitisir keluarga. [28] Menurut Arif Budiman dalam Pembagian Kerja Secara Seksual yang dikutip oleh Neng Dara Affiah mengatakan, “Pembagian kerja semacam ini berasumsi bahwa pekerjaan utama perempuan adalah di rumah. Dunia publik adalah dunia laki-laki, dan karena itu pencari nafkah utama keluarga adalah suami.” Dengan pola semacam ini, para feminis berasumsi bahwa perempuan cenderung dirugikan, karena ia menjadi tergantung pada suami secara ekonomi.[29] Feminis menentang pembagian kerja berdasarkan seks karena tidak ada alasan biologis mengapa perempuan harus mengasuh anak dan melakukan pekerjaan rumah tangga sementara laki-laki bekerja di luar rumah untuk mendapat upah, sehingga menjadikan sang istri tergantung kepada niat baik mereka demi kelangsungan hidup. Di samping itu, pembagian kerja berdasarkan seks bukan hanya melemahkan perempuan secara politis dan ekonomis, namun juga mendegradasikan perempuan secara seksual dan kultural.[30] Sekarang ini kaum feminis berpendirian bahwa pekerjaan domestik yang dilakukan perempuan (istri) harus juga diperhitungkan sebagai pekerjaan produktif secara ekonomi dan tidak dapat begitu saja dianggap sebagai kewajiban domestik mereka.[31]

Pembagian peran perempuan yang bias jender – menurut para feminis –  juga masih terlihat di dalam sistem hukum nasional kita. Seperti Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan turut mengukuhkan pembagian peran berdasarkan jenis kelamin dan peran baku (stereotype) yaitu perempuan sebagai ibu rumah tangga wajib mengatur urusan rumah tangga, sementara laki-laki sebagai kepala keluarga wajib melindungi istri dan memberikan keperluan hidup rumah tangga.[32]

Secara konkrit, Asghar Ali Engineer mengisyaratkan kesetaraan laki-laki dan perempuan pada dua hal, pertama; dalam pengertiannya yang umum, ini berarti penerimaan martabat kedua jenis kelamin dalam ukuran yang setara. Kedua; orang harus mengakui bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak-hak yang setara dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik. Keduanya harus memiliki hak yang setara untuk mengadakan kontrak perkawinan atau memutuskannya, keduanya harus memiliki hak untuk memiliki atau mengatur harta miliknya tanpa campur tangan yang lain, keduanya harus bebas memilih profesi atau cara hidup, dan keduanya harus setara dalam tanggung jawab sebagaimana dalam hal kebebasan.[33]

Berbeda dengan Said Hawwa dalam bukunya Al Islam  yang diterjemahkan oleh Abdul Hayyi al Kattani mengatakan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan harus berlandaskan pada keselarasan potensi yang dimiliki, sehingga tidak akan mengartikulasikan potensi akhlaknya kecuali sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.[34]

 

a.   Sejarah struktur keluarga

Pandangan miring tentang institusi keluarga tidak lepas dari gerakan feminism,[35] yaitu bentuk perjuangan kaum perempuan Barat dalam menuntut kebebasannya. Karena pada abad Pertengahan, kaum perempuan tidak memiliki tempat ditengah masyarakat, maka mereka diabaikan, tidak memiliki sesuatu pun, dan tidak boleh mengurus apapun. Sejarah Barat dianggap tidak memihak kaum perempuan. Dalam masyarakat feodalis (di Eropa hingga abad ke-18), dominasi mitologi filsafat dan teologi gereja sarat dengan pelecehan feminitas; wanita diposisikan sebagai sesuatu yang rendah, yaitu dianggap sebagai sumber godaan dan kejahatan.[36]

Kemudian muncul renaisance, yang berintikan semangat pemberontakan terhadap dominasi gereja, diikuti dengan Revolusi Perancis dan Revolusi Industri. Inilah puncak reaksi masyarakat terhadap dominasi kaum feodal yang cenderung korup dan menindas rakyat, di bawah legitimasi gereja. Adanya revolusi ini juga menjadi awal proses liberalisasi dan demokratisasi kehidupan di Barat. Perubahan ini tidak hanya berpengaruh pada berubahnya sistem feodal menjadi sistem kapitalis sekular, tetapi ikut menginspirasikan kaum perempuan untuk bangkit memperjuangkan hak-haknya.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, gerakan feminisme di Amerika Serikat masih terfokus pada tuntutan untuk mendapatkan hak memilih (the right to vote), karena saat itu, wanita dianggap warga negara kelas dua yang disamakan dengan anak dibawah umur, dengan demikian para wanita tidak diperbolehkan memberikan hak suaranya dalam pemilu. Reaksi protes atas pelarangan wanita untuk berbicara di muka umum, ditandai dengan berkumpulnya sejumlah wanita di Seneca Falls, New York, pada tahun 1948, mereka menuntut hak-hak mereka yang sebelumnya belum pernah didapatkan. Beberapa tuntutan yang diajukan adalah: mengubah UU Perkawinan,[37] yang memuat bahwa wanita dan hartanya menjadi kekuasaan suami, termasuk anak bila mereka bercerai; memberi jalan untuk meningkatkan pendidikan wanita; menuntut wanita untuk bekerja; dan memberikan hak penuh untuk berpolitik.[38] Bahkan kemudian mereka berusaha untuk mendapatkan hak aborsi, kesamaan upah, dan perlindungan melawan diskriminasi seks dan pelecehan seksual.[39]

Kondisi ini dipermudah dengan seruan kaum kapitalis sebagai golongan pemilik kapital yang mendorong kaum perempuan bekerja di luar rumah. Akhirnya, mereka bersaing dengan laki-laki dan berusaha merebut posisi kaum laki-laki untuk memperoleh kebebasan mutlak agar terlepas dari segala macam ikatan dan nilai serta tradisi. Kaum perempuan mulai menuntut persamaan secara mutlak dengan kaum laki-laki termasuk dalam urusan kebebasan hubungan seksual tanpa perkawinan.

Oleh karena itu, para feminis menuntut segala bentuk diskriminasi yang terjadi dalam rumah tangga, hal ini sebagaimana tercantum dalam pasal 16 Convention on Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) No. 21 (Sidang ke-13, tahun 1994) tentang kesetaraan dan keadilan dalam perkawinan dan hubungan keluarga:

Negara-negara peserta wajib melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam semua urusan yang berhubungan dengan perkawinan dan hubungan keluarga atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan, dan khususnya akan menjamin:

Hak yang sama untuk memasuki jenjang perkawinan; hak yang sama untuk memilih suami secara bebas dan untuk  memasuki jenjang perkawinan hanya dengan persetujuan yang bebas dan sepenuhnya; hak dan tanggungjawab yang sama selama perkawinan dan pada pemutusan perkawinan; hak dan tanggung jawab yang sama sebagai orangtua, terlepas dari status perkawinan mereka, dalam urusan-urusan yang berhubugnan dengan anak-anak mereka, dalam semua kasus kepentingan anak-anak lah yang diutamakan.[40]

 

Kondisi semacam ini – menurut para feminis – telah menggugah kesadaran para perempuan untuk kemudian mengambil hak-hak kemanusiaan yang selama ini dianggap telah dirampas oleh laki-laki. Perjuangan dalam meraih kesetaraan gender juga kemudian melahirkan gerakan feminism, yang berusaha mengkritisi kekuatan-kekuatan simbolis dan ideologis suatu budaya atau bahkan membongkar sistem sosial, seperti sistem kelas dan patriarki yang selama ini dianggap telah memperlakukan perempuan secara tidak adil.[41] Upaya untuk mengejar ketertinggalan dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender (KKG) adalah dengan meningkatkan kualitas hidup dan memberdayakan perempuan sehingga mampu mandiri dan tidak bergantung dengan laki-laki.[42]

 

b.   Kritik terhadap keluarga

Sebagaimana telah diutarakan pada pembahasan sebelumnya, bahwa institusi keluarga yang di inginkan oleh para feminis adalah sama rata, dimana antara suami-istri mendapat hak dan kesempatan yang sama dalam segala hal. Para feminis hendak mendekonstruksi sistem institusi keluarga yang bersifat vertikal – karena ini dianggap patriarki – menjadi satu bentuk institusi keluarga yang sifatnya horizontal. Dengan demikian antara suami dan istri keduanya memiliki peluang dan hak  yang sama dalam segala hal. Menurut Fatima Mernissi, jika hak-hak wanita merupakan masalah bagi sebagian kaum laki-laki muslim modern, hal itu bukanlah karena al-Qur’an ataupun Nabi, bukan pula karena tradisi Islam, melainkan semata-mata karena hak-hak tersebut bertentangan dengan kepentingan kaum elit laki-laki.[43]

Dari konsep keluarga yang diinginkan oleh para feminis di atas, kemudian melahirkan berbagai pandangan tentang institusi keluarga. Bagi feminis liberal, mereka masih menganggap normal, bahkan alami, bagi manusia untuk membentuk keluarga yang terdiri dari pasangan dewasa (laki-laki dan perempuan) dengan memiliki anak, baik secara biologis maupun dengan cara adopsi. Akan tetapi, mereka beranggapan bahwa manusia perlu membangun keluarga hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Di samping itu, mereka juga menganggap keluarga termasuk bentuk ketidakadilan dalam pembagian kerja berdasarkan seks[44] yang dapat merugikan perempuan. Mereka berkeyakinan bahwa laki-laki dapat diyakinkan untuk memikul beban lebih banyak dalam merawat anak dan kerja domestik dalam satu pembagian peran di dalam perkawinan, sehingga perempuan dapat menaikkan posisi mereka dalam keluarga dan masyarakat melalui kombinasi inisiatif dan prestasi individual (misalnya, pendidikan tinggi), diskusi rasional dengan laki-laki (suami) yang dapat dikonsepsikan sebagai upaya memperbaiki peran jender mereka, cara pengambilan keputusan sehubungan dengan pengasuhan anak, yang akan memungkinkan bagi perempuan untuk mengejar karir, dan mempertahankan hukum yang memberikan hak kepada aborsi legal dan melindungi perempuan dari diskriminasi seks.[45] Sarah Grimke mengatakan bahwa wanita menikah terpenjara dalam sebuah tirani, di bawah kekuasaan seorang tiran (suami).[46] Oleh karena itu, ada sebagian feminis liberal yang kemudian memilih untuk melajang[47] sebagai satu alternatif gaya hidup yang sah.

Menurut John Struart Mill[48] sebagaimana dikutip oleh Ratna Megawangi dalam bukunya Membiarkan Berbeda, untuk dapat mencapai “kebahagiaan” tertinggi, seorang wanita hendaknya menekan dan menghilangkan segala aspek yang ada kaitannya dengan pekerjaan domestik. Maka dari itu, untuk mencapai kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, perlu adanya perubahan segala undang-undang dan hukum yang dianggap dapat melestarikan institusi keluarga yang patriarki.[49] Setidaknya ada tiga aspek yang ingin dihindari dari hukum perkawinan yang ada, yaitu anggapan bahwa suami sebagai kepala keluarga, anggapan bahwa suami bertanggung jawab atas nafkah istri dan anak-anak, dan anggapan bahwa istri bertanggung jawab atas pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga.[50]

Lain halnya dengan feminism radikal, mereka cenderung membenci laki-laki. Manifesto feminism radikal yang diterbitkan dalam Notes from the Second Sex (1970) mengatakan bahwa lembaga perkawinan adalah lembaga formalisasi untuk menindas perempuan, sehingga tugas utama mereka adalah menolak institusi keluarga. Keluarga dianggap sebagai institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki sehingga perempuan ditindas,[51] hal ini disebabkan karena citra seksis perempuan yang diobjektifkan sehingga mereka tertindas. Mereka menyalahkan dilema perempuan dalam patriarki, yang mereka yakini berasal dari keluarga dan cara di mana perempuan terjebak dalam peran tanggung jawab dan kewajiban mereka. [52]

Di antara kelompok feminis yang paling ekstrim dalam memandang institusi keluarga adalah dari golongan feminis lesbian, mereka beranggapan bahwa hubungan heteroseksual di dalam sebuah keluarga merupakan lembaga dan ideology yang merupakan benteng utama bagi kekuatan laki-laki.[53] Sepanjang perempuan meneruskan hubungannya dengan laki-laki, maka akan sulit bahkan tidak mungkin untuk berjuang melawan laki-laki. Jika perempuan menginginkan persamaan dengan laki-laki, maka ia harus memisahkan diri dari kehidupan laki-laki, atau paling tidak sedikit pemisahan perasaan cinta terhadap laki-laki, dengan jalan mengembangkan kesanggupan untuk berdiri sendiri, termasuk dalam kepuasan seks. Maka dari itu, Elsa Gidlow (1977) menawarkan sebuah teori bahwa menjadi lesbian adalah terbebas dari dominasi laki-laki. Sedangkan Martha Shelley (1970) mengatakan bahwa perempuan lesbian perlu dijadikan model sebagai perempuan mandiri.[54]

di Indonesia, gerakan pembebasan perempuan yang tergabung dalam tim khusus pengarusutamaan gender telah menawarkan sebuah gagasan baru tentang konsep keluarga dengan dalih standar kesetaraan kaum perempuan di mata hukum. Kompilasi Hukum Islam (KHI) menawarkan rumusan baru fikh Islam, di antaranya terdapat pasal baru yaitu: asas perkawinan adalah monogami (pasal 3 ayat 1), perempuan bisa menjadi saksi sebagaimana laki-laki (pasal 11), calon istri bisa memberikan mahar (pasal 16), perkawinan beda agama diperbolehkan (pasal 54), bagian warisan untuk anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama (pasal 8 ayat 3), dan anak di luar nikah (zina) yang diketahui secara pasti ayah biologisnya tetap mendapat hak waris dari ayahnya (pasal 16 ayat 2).[55]

Munculnya pemikiran-pemikiran seperti telah disebutkan di atas seolah-olah membuktikan bahwa isu-isu gender dan feminism akan terus muncul silih berganti, baik dalam wacana baru, diskursus, sudut pandang, dan fenomena-fenomena lain yang intinya adalah memperjuangkan hak-hak perempuan dalam bingkai feminism.

Perkara lain yang masih menjadi isu hangat di kalangan para feminis adalah konsep kepemimpinan dalam institusi keluarga. Mereka menggugat kepemimpinan seorang laki-laki (suami) terhadap perempuan (isteri) dalam rumah tangga yang selama ini sudah mapan di kalangan kaum muslimin. Mereka beranggapan bahwa penempatan suami sebagai kepala rumah tangga tidak sesuai dan bertentangan dengan ide feminism yang menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Rumah tangga yang memposisikan suami sebagai pemimpin atas istri merupakan salah satu bentuk dominasi laki-laki terhadap perempuan yang berimplikasi terhadap kesewenang-wenangan laki-laki untuk berbuat semaunya terhadap perempuan. Maka dari itu, mereka menghendaki status istri setara dengan status suami.[56]

Sementara itu, perempuan muslim terjebak dalam konflik antara kekaguman sejati dan ketaatan terhadap Islam dan kecemasan mereka akan penolakan keras Islam terhadap status mereka sebagai makhluk hidup utuh yang sama dengan pria.[57] Islam dipandang sebagai agen perubahan masyarakat Arab ketika itu, untuk bergerak ke arah patriarki, hal ini karena dalam al-Qur`an menegaskan dan mensahkan struktur patriarchal melalui sekumpulan ketentuan yang menempatkan pria pada kedudukan kepala keluarga dan pemimpin masyarakat.[58]

Menurut Asghar Ali Engineer, keunggulan laki-laki terhadap perempuan bukanlah keunggulan atas jenis kelamin, melainkan keunggulan fungsional, karena laki-laki (suami) mencari nafkah dan membelanjakan hartanya untuk perempuan (istri). Fungsi sosial yang diemban oleh laki-laki itu sama dengan fungsi sosial yang diemban oleh perempuan, yaitu melaksanakan tugas-tugas domestik rumah tangga. Yang menjadi problem adalah mengapa al-Qur’an menyatakan adanya keunggulan laki-laki atas perempuan karena nafkah yang mereka berikan? Menurutnya ada dua hal yang menyebabkannya: karena kesadaran sosial perempuan pada masa itu sangat rendah dan pekerjaan domestik dianggap sebagai kewajiban perempuan, dan karena laki-laki menganggap dirinya sendiri lebih unggul disebabkan kekuasaan dan kemampuan mereka mencari nafkah dan membelanjakannya untuk kepentingan istri.[59]

Di pihak lain, Amina Wadud Muhsin secara eksplisit mengakui kepemimpinan laki-laki atas perempuan. Akan tetapi harus memenuhi dua syarat, yaitu: jika laki-laki sanggup membuktikan kelebihannya dan kedua jika laki-laki mendukung perempuan dengan menggunakan harta bendanya. Kelebihan yang dimaksud adalah karena laki-laki mendapat harta warisan dua kali lipat dibanding perempuan, dan karena itu berkewajiban memberi nafkah kepada perempuan. Jadi, menurutnya terdapat hubungan timbal balik antara hak istimewa yang diterima laki-laki dengan tanggung jawab yang dipikulnya. Jadi, mana kala kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka laki-laki tidak lagi menjadi pemimpin bagi perempuan.[60]

 

c.   Dampak sosial

Kondisi institusi keluarga di Barat sungguh memprihatinkan.[61] Banyak di antara mereka yang menikah bukan untuk membina suatu keluarga, tetapi  hanya sekedar untuk meraih kesenangan dalam kehidupan perkawinan dari pada berpikir tentang tanggung jawab. Di Barat, keluarga justru berkembang menjadi sebuah perusahaan ekonomi biasa dan perhatian keluarga yang utama adalah kelangsungan hidup dan penyaluran hak-hak properti, bukan penjagaan atau kebersamaan.[62] Fokus perhatian orang tua tidak lagi tertuju ke rumah, walaupun dengan berbagai macam alasan yang berbeda. Elainer Leader (salah seorang pendiri hotline krisis remaja di Medical Centre Cedars-Sinai) mengatakan: “Semua orang seperti sedang terburu-buru sehingga seperti tidak mempunyai waktu untuk mendengar suara hati anak-anak kita.” (All people like being in a hurry so as not have time to hear the inner voice of our children).

Jika dahulu, seorang Ibu senantiasa berada di rumah untuk tetap dapat memperhatikan anak-anak, tapi sekarang anak-anak tidak lagi ada yang memberinya perhatian yang cukup, karena kedua orang tuanya bekerja di luar rumah[63] (dengan dalih kesetaraan). Dalam budaya Barat, orang tua dan anak-anak telah menjadi beban satu sama lain. Hubungan antara mereka telah rusak, sehingga memiliki ikatan dan hak kekerabatan. anak-anak dibesarkan di tempat penitipan anak… ( in western culture parents and children have become burdens on one another. the relation between them has been broken down and so have the bonds and rights of kinship. the children are brought up  in nurseries…)[64] dalam budaya barat institusi keluarga telah hancur, mengakibatkan pembekuan perasaan kasih sayang, cinta, dan simpati. Di sana, setiap orang merasa bahwa tidak ada seorang pun yang menjadi miliknya, dan bahwa ia adalah seorang diri di sebuah dunia asing. (in western culture the institution of the family has been disintegrated, resulting in the freezing of feelings of affections, love and sympathy. there, every person feels that nobody is his hers, and that he is alone in an alien world).[65]

Institusi keluarga bukan lagi tempat yang di pandang nyaman, akan tetapi ia merupakan sebuah penjara bagi kaum perempuan. Kekerasan yang terjadi dalam Rumah Tangga sangat serius, problem sosial yang tersebar luas di Amerika: meratanya fakta-fakta kekerasan Rumah Tangga (domestic violence is a serious, widespread social problem in Amerika: the facts prevalence of domestic violence). Sebuah survey yang dilakukan oleh A. Browne tahun 1998 dalam “Responding to the Needs of Low Income and Homeles Women Who are Survivors of Family Violence” dan di kutip oleh Elisabeth Diana Dewi dalam Al-Insan [Jurnal Kajian Islam] No. 3, Vol. 2, 2006 mengungkapkan bahwa 92% wanita yang meninggalkan rumah disebabkan karena mengalami penyiksaan fisik dan seksual yang hebat dalam kehidupan mereka.[66] Menurut The National Violence Against Women Survey, dalam rentang waktu November 1995 hingga Mei 1996, hampir 25% wanita Amerika dilaporkan telah diperkosa atau mengalami penyiksaan fisik oleh suami atau mantan suaminya, teman kumpul kebo (cohabiting partner) maupun pacarnya.[67]

Feminism sering dituding sebagai gerakan yang menghancurkan institusi keluarga, karena ide-ide yang mereka tawarkan membuat kaum perempuan menjadi egois, tidak peduli dengan perkembangan anak-anak, gerakan anti masa depan, dan yang lebih ekstrim adalah mendorong tingkat aborsi bagi ibu hamil.[68]

Kalau kita perhatikan, keterlibatan perempuan dalam menangani pekerjaan laki-laki yang bebas tanpa batas dan kode etik, dapat menimbulkan ketidak harmonisan antara suami-istri yang selama ini telah terbina[69], disamping itu juga dapat menimbulkan malapetaka. Hal ini dapat ditinjau dari beberapa aspek; pertama adalah berbahaya bagi perempuan itu sendiri, hal ini dikarenakan perempuan telah kehilangan keperempuanan dan karakteristik/jatidirinya. Ia juga tidak bisa menikmati kehidupan rumah tangga beserta anak-anak; Disamping itu juga berbahaya bagi suami, dengan istri berkarir di luar rumah, suami tidak lagi mendapatkan kehidupan yang harmonis dan bahagia dari istri. Suami akan merasa kehilangan kepemimpinannya atas dirinya, karena istri merasa bahwa dengan karirnya itu ia tidak lagi membutuhkan suami, bahkan manakala gaji seorang istri lebih banyak dari suaminya, ia akan merasa berhak untuk menguasai suami; ketiga adalah bahaya bagi anak-anak, karena mereka tidak lagi merasakan kehangatan kasih sayang ibu; berikutnya adalah berbahaya bagi akhlak, hal ini terjadi manakala perempuan telah kehilangan rasa malu sebagai perempuan; dan kelima adalah bahaya bagi pekerjaan itu sendiri, karena jika perempuan itu bekerja, maka ia akan sering mengajukan cuti untuk tidak bekerja, hal ini disebabkan karena perempuan memiliki banyak halangan yang bersifat alami, dan tidak dapat dihindari. Kondisi semacam ini akan mengganggu disiplin bekerja dan menghambat produktifitas yang baik.[70]

Ketika perempuan mulai merangkak masuk untuk berperan di ranah publik, ternyata peran keibuan tidak dapat dilepaskan dan digantikan begitu saja, kenyataan menunjukkan bahwa pada saat perempuan bergerak di sektor publik, maka tugas perempuan justru semakin bertambah berat, hal ini dikarenakan tugas-tugas domestik tidak dapat digantikan oleh orang lain.[71] Di satu sisi dia menjadi tulang punggung keluarga yang dibebani dengan pencarian nafkah keluarga, bukan sekedar partisipasi membantu suami.[72]

Pada akhirnya konsep struktrur keluarga yang ditawarkan oleh para feminis justru akan banyak menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan. Di antara dampak sosial yang timbul adalah, pertama; meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga.[73]  Kekerasan yang terjadi bisa berupa penganiayaan fisik, psikis maupun seks yang bertujuan menunjukkan kekuatan dan mengendalikan orang lain. Selain itu juga terjadi peningkata angka perceraian.[74] Hal ini dikarenakan adanya perasaan asing di antara pasangan suami-istri, di samping itu, mereka juga kehilangan keintiman seksual (sexual attraction) antara pasangan suami istri tersebut. Ketiga; anak-anak kehilangan tempat berlindung. Hal ini menyebabkan perkembangan jiwa mereka tidak sehat karena hilangnya kepedulian dan kasih sayang dalam lingkungan keluarga.[75]

???????????????????????

Islam menghendaki pola interaksi antara laki-laki dan perempuan tetap pada koridor dan batasan yang telah ditetapkan syariat, sehingga tidak terjadi ketidakadilan di antara mereka. Maksudnya, seluruh tindakan, perbuatan, sikap, dan perilaku didasarkan atas kodrat dan ketentuannya masing-masing.[76] Menurut Salim al-Bahnasawi, sejatinya emansipasi harus sesuai dengan garis syariat. Jelasnya, “Silakan wanita bekerja, berpolitik, menggapai pendidikan setinggi mungkin, namun tugas rumah tangga dan keluarga harus diprioritaskan.”[77]

 

C.      Institusi Keluarga Dalam Islam

Keluarga merupakan kumpulan dari individu-individu. Dalam pendekatan Islam, keluarga adalah basis utama yang menjadi pondasi bangunan komunitas dan masyarakat Islam. Ia juga merupakan penggabungan fitrah antara kedua jenis kelamin[78]. Bahkan keluarga merupakan sistem alamiah dan berbasis fitrah yang bersumber dari pangkal pembentukan manusia, juga pangkal pembentukan segala sesuatu dalam semesta kosmos, dan berjalan menurut cara Islam dalam mentautkan sistem yang dibangunnya untuk manusia dan sistem yang dibangun Allah untuk seluruh semesta. Keluarga merupakan sistem rabbani bagi manusia yang mencakup segala karakteristik dasar fitrah manusia, kebutuhan, dan unsur-unsurnya. Lebih dari itu, ia juga merupakan tempat pengasuhan alami yang melindungi anak yang baru tumbuh dan merawatnya, serta mengembangkan fisik, akal, dan spiritualitasnya. Hal ini dikarenakan dalam naungan keluarga, perasaan cinta, empati, dan solidaritas berpadu dan menyatu.[79] Keluarga adalah organisasi yang memiliki kekhususan-kekhususan, ia ditegakkan di atas dasar cinta kasih, kemudian hubungan internalnya terjalin dengan suatu cara yang tidak terdapat dalam organisasi manapun.[80]

Keluarga atau rumah tangga adalah merupakan kelompok sosial yang kecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.[81] Jika setiap rumah tangga muslim bisa menjadi contoh rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, maka masyarakat yang ada di sekitarnya juga akan menjadi masyarakat yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Masyarakat tenteram, penuh cinta dan kasih sayang di antara satu dengan yang lain.[82]

Berangkat dari pentingnya keluarga dalam Islam, Islam pun membangun pondasi rumah tangga muslim, mengokohkannya, lalu menunjukkan cara memilih yang terbaik, juga menjelaskan pendekatan yang terbaik dalam berhubungan, sambil merumuskan hak dan kewajiban. Islam mewajibkan kedua belah pihak (suami-istri) untuk merawat dan menjaga buah-buah perkawinan ini hingga matang dan meranum tanpa disia-siakan maupun ditelantarkan. Islam juga mengangkat problem solving beragam masalah yang acap kali merintangi kehidupan rumah tangga dengan terapi yang sangat detail.[83]

Tidak ada sistem yang mengurusi teknis mengenai masalah keluarga baik perawatan maupun perhatiannya sebagaimana Islam. Hal ini dikarenakan ada hubungan yang erat antara keluarga dengan masyarakat luas. Jika keluarga baik, masyarakat secara keseluruhan akan ikut baik, namun jika keluarga rusak, masyarakat juga ikut rusak. Bahkan keluarga adalah miniatur umat yang menjadi sekolah pertama bagi manusia dalam mempelajari etika sosial, sehingga tidak ada umat tanpa keluarga.[84]

Konsep keluarga ideal yang ada dalam al-Qur’an sepenuhnya mengacu pada (QS al-Rûm [30]: 21), yaitu keluarga yang sakinah (tenteram), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Sebuah keluarga bisa dikatakan sebagai keluarga yang qur’ani mana kala keluarga tersebut mampu mendirikan dasar rumah tangga di atas ketiga pondasi tersebut. Keluarga ideal yang qur’ani adalah keluarga yang idak hanya berguna bagi keluarga itu sendiri, tapi juga harus berguna bagi kehidupan di lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, keluarga qur’ani adalah keluarga yang shaleh individual, hal ini ditandai dengan ketakwaan personal anggota keluarga. Disamping itu juga shaleh sosial yang dilambangkan dengan kepeduliannya ber-amar ma’ruf nahi munkar, dan terakhir adalah shaleh vertikal, yakni ketaatan dan kepatuhannya terhadap Allah dan Rasul-Nya.[85]

 

a.   Unrus-unsur Pernikahan Dalam Islam

Perkawinan adalah fithrah kemanusiaan,[86] maka dari itu Islam menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam.[87] Firman Allah Ta’ala. “Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.[88]

Dalam kehidupan rumah tangga, terdapat tiga unsur yang terkandung dalam al-Qur’an,[89] dan perlu diperhatikan baik oleh suami maupun istri. Ketiga unsur itu adalah, pertama; ketenteraman jiwa suami istri. Hal ini juga berarti bertujuan untuk saling menjaga antara suami-istri dalam rumah tangga. Kedua; rasa cinta yang lahir melalui pergaulan dan tolong menolong. Unsur ini menjadi milik bersama pasangan suami-istri dan keluarga mereka. Ketiga; kasih sayang yang dilengkapi dengan putra-putri dalam keluarga.[90]

 

b.   Tujuan Perkawinan dalam Islam

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam perkawinan[91], diantaranya adalah: pertama; untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi, dalam rumah tangga dan dalam konteks hubungan suami-istri, seseorang baik pria maupun wanita, bisa menemukan katalisator alamiah bagi hubungan seksualnya, dengan cara yang mampu melindunginya dari kehancuran tubuh dan dera penyesalan. Islam telah memberikan keleluasaan bagi manusia untuk menjalankan aktivitas seksual mereka dalam batas-batas yang legal dan tidak mengebirinya.[92] Di samping itu, pernikahan juga bertujuan untuk menenangkan jiwa, karena di tengah kelapangan iklim keluarga, masing-masing pasangan suami-istri bisa menemukan rasa kasih, cinta, sayang, dan simpati yang tidak akan mereka rasakan di tempat lain. Ketenangan jiwa dan kasih sayang yang dirasakan manusia terhadap pasangannya merupakan salah satu tuntutan psikologis yang tidak pernah lepas dari setiap manusia, dan tidak akan ditemukan selain dalam institusi keluarga.[93]

Ketiga; untuk memenuhi tuntutan keturunan, dibawah naungan keluarga dan di tengah hamparan kesakralannya seseorang bisa mewujudkan salah satu tuntutan mendesak dalam kehidupannya, yaitu memiliki keturunan dan generasi penerus. Anak adalah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia untuk memenuhi keinginan dan seruannya.[94] Setelah pasangan suami-istri memiliki anak keturunan, maka tujuan dari perkawinan selanjutnya adalah mendidik anak, karena ia membutuhkan pengasuhan dalam jangka waktu yang lama. Keluarga dalam hal ini adalah satu-satunya lingkungan yang mampu mendidik anak-anak menjadi seorang muslim yang saleh. Karena ia merupakan lahan istimewa untuk menanamkan perasaan cinta kepada Allah dan Rasul. Kelima; mewujudkan kohesi sosial. Salah satu tujuan dari Islam adalah membangun masyarakat yang kuat dan rekat, maka dari itu, keluarga memiliki peran besar dalam mewujudkan tujuan tersebut karena secara teknis keluarga membentuk dan mengembangkan hubungan sosial baru melalui garis nasab dan pernikahan.[95] Keenam; untuk membentengi akhlak yang luhur. Sasaran utama dari disyari’atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.[96]

 

c.   Hak dan Kewajiban Suami-Istri dalam Rumah Tangga Menurut Islam

Dalam ikatan perkawinan, suami dan istri diikat dengan komitmen untuk saling memenuhi berbagai hak dan kewajiban yang telah ditetapkan untuk mereka. Maka setiap hak yang didapatkan harus juga diimbangi dengan kewajiban yang harus dipenuhi. Landasan hak dan kewajiban antara suami istri terangkum dalam firman Allah swt.: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.”[97]

Dalam Islam, istri memiliki berbagai hak (materiil dan non-materiil) yang harus dipenuhi suami. Di antara hak-hak istri adalah: Pertama; Hak mas kawin. Dalam perkawinan, mas kawin menempati posisi sebuah pemberian dan hadiah[98] yang harus diberikan oleh suami kepada istri untuk menunjukkan kesakralan dan kesucian ikatan perkawinan, juga sebagai tanda penghormatan suami terhadap istri.[99] Berikutnya adalah Hak nafkah. Seorang suami memiliki kewajiban memberikan nafkah secara penuh kepada istrinya.[100] Kewajiban membelanjai keperluan hidup istri dimulai semenjak diadakannya aqad perkawinan,[101] tentu kewajiban suami dalam memberi nafkah kepada istri sesuai dengan kemampuannya.[102] Ketiga; Pergaulan yang baik. Kewajiban belaku baik terhadap istri meliputi fisik maupun perilaku.[103] Dalam Islam, suami dituntut untuk memperlakukan dan mempergauli istrinya dengan baik dan melarang pergaulan buruk yang menyusahkan isri.[104] Keempat; Memberikan istri kebebasan penuh untuk mengelola harta miliknya.[105]

Selain mengatur hak-hak bagi istri, Islam juga telah mengatur hak-hak yang harus dipenuhi oleh istri atas suaminya. Di antara hak-hak suami adalah: Pertama; Ketaatan istri dalam berbagai perkara yang berkaitan dengan kehidupan keluarga dan hubungan suami istri. Akan tetapi tentu ketaatan istri terhadap suami hanya terbatas pada masalah kebaikan, kemaslahatan, dan perkara yang berada dalam batasan agama. Kedua; Berlaku amanah. Yakni menjaga kekayaan suaminya, dan menjaga dirinya apabila suaminya tidak ada.[106] Di samping itu, istri juga harus memperlakukan suami dengan baik dan tidak melakukan perbuatan aniaya kepada suami, seperti; ucapan yang pedas dan tidak etis, serta berbagai tindakan lain yang menampakkan ketidakhormatan istri terhadap suami. Keempa; Hak memberikan pelajaran (menta’dib) kepada istri, [107] terutama kepada istri yang dikhawatirkan berbuat nusyuz.[108]

D.     Kesimpulan

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa institusi keluarga bagi para feminis tidak lebih dari sekedar tempat untuk melepas lelah dari kesibukan yang dilakukan di luar rumah. Karena tidak ada lagi komunikasi yang harmonis antara anggota keluarga. Hal ini dapat dilihat dari fakta-fakta yang ada, misalnya para istri yang sudah tidak lagi berkenan melakukan pekerjaan domestik, sehingga anak-anak tidak lagi mendapat tempat untuk berlindung. Keluarga bukan lagi tempat pendidikan pertama kali yang di alami oleh anak-anak, karena kesibukan orang tua mereka.

Situasi tersebut sangat berbeda dengan keluarga Islam yang masih terjalin komunikasi yang harmonis antara suami dan istri. Keluarga masih dipandang sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak dibawah bimbingan Ibu. Hal ini karena konsep keluarga dalam Islam masih menjadikan al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Sebagai pedoman dan sumber inspirasi utama. Tidak ada manhaj (konsep) hidup yang lebih sempurna selain yang telah digariskan oleh al-Qur’an dan Sunnah.

 

 



[1] Para feminis membedakan antara sex dan gender, dalam bahasa Inggris, sex diartikan sebagai jenis kelamin yang menunjukkan adanya pensifatan dan pembagian dua jenis kelamin manusia secara biologis, yaitu laki-laki dan perempuan. Para feminis sepakat bahwa pada dataran ini, ada garis yang bersifat nature, di mana laki-laki dan perempuan memiliki karakteristik tertentu yang melekat pada masing-masingnya secara permanen, kodrati, dan tidak bisa dipertukarkan satu dengan lainnya. Sedang gender sebagaimana disebutkan dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah konsep cultural yang berupaya membuat perbedaan (destinction) dalam hal peran, posisi, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat; Lihat: Siti Muslikhati, Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam, Jakarta, Gema Insani, 2004, h. 19-20; lihat juga Achie Sudiarti Luhulima, Bahan Ajar Tentang Hak Perempuan: UU No. 7 Tahun 1984 Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita, (Jakarta; Yayasan Obor, 2007), h. 3; lihat Maggie Humm, Ensiklopedia Feminisme, (Yogyakarta; Fajar Pustaka, 2007), h. 177-180; lihat M. Nashirudin, Poros-Poros Ilahiyah Perempuan Dalam Lipatan Pemikiran Muslim, (Surabaya; Jaring Pena, 2009), h. 13-14; lihat Husein Muhammad, Fiqh Perempuan Refleksi Kiai Atas Wacana Agama dan Gender, (Yogyakarta; LKiS, 2009), h. xi

[2] Di Indonesia, upaya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam UU no. 25 th. 2000 tentang Program Pembangunan Nasional dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam pembangunan nasional. Lihat: Atiek Zahrulianingdyah, “Pemberdayaan Komunitas Perempuan Marginal di Lingkungan Kampus: Tawaran Sebagai Suatu Model”, dalam Women In Sector Public [Perempuan Di Sektor Publik], (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), Editor: Siti Hariti Sastriyani, h. 107

[3] Susilaningsih, Kesetaraan GENDER di Perguruan Tinggi Islam “Baseline and Institutional Analysis for Gender Mainstreaming in IAIN Sunan Kalijaga”, (Yogyakarta; UIN Sunan Kalijaga&McGill, 2004), h. 1

[4] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al-Qur’an, (Jakarta; PARAMADINA, Cet. Ke-2, 2001), h. 35

[5] Istilah  Barat tidak di lihat secara demografi melainkan ia adalah merupakan sebuah peradaban, dimana yang menjadi sokoguru peradabannya adalah Yunani-Romawi dan Judeo-Kristiani (baca: Amatullah Shafiyyah, Kiprah Politik Muslimah Konsep dan Implementasinya, h.7-11). Peradaban Barat merupakan campuran dari peradaban Yunani kuno yang di kawinkan dengan peradaban Romawi, dan disesuaikan dengan elemen-elemen kebudayaan bangsa Eropah terutamanya Jerman, Inggeris, dan Perancis. Prinsip-prinsip asas dalam Filsafat, seni, pendidikan dan pengetahuan diambil dari Yunani, prinsip-prinsip mengenai hukum dan ketatanegaraan diambil dari Romawi. Sementara agama Kristen yang berasal dari Asia Barat disesuaikan dengan budaya Barat.

[6] Hamid Fahmy Zarkasyi, Pengantar Direktur CIOS dalam Bangunan Wacana Gender, (Ponorogo; Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2007) h. vii-viii

[7] Dalam tulisan ini penulis menggunakan kata wanita dan perempuan secara bergantian, akan tetapi makna dari kedua kata itu adalah sama.

[8] Perkembangan wacana tersebut ditandai dengan melimpahnya publikasi yang mengangkat wacana gender dan Islam, sebagai suatu “kerangka ideology” pengarus utamaan gender berspektif Islam, melainkan juga fakta bahwa ia sudah merambah luas ke dalam suatu mainstream gerakan yang kemudian mengundang orang dengan mudah menyebutnya sebagai gerakan feminism Islam. (Lihat: Jamhari, Citra Perempuan dalam Islam Pandangan ORMAS Keagamaan, Jakarta, Gramedia, 2003, h. 1)

[9] Jamhari, Citra Perempuan…, h. 1-4

[10] Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender, (Bandung; Mizan, 1999), h. 11

[11] Siti Muslikhati, Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam, (Jakarta; Gema Insani, 2004), h. 35

[12] Bani Syarif Maula, Musawa (Jurnal Studi Gender dan Islam), Vol. 3, No. 1, Maret 2004, h. 28

[13] Ratna Megawangi, Membiarkan …, h. 53

[14] Bani Syarif, Musawa…, h. 42

[15] Bentuk teknologi yang di inginkan adalah semisal alat kontrasepsi, dan bahkan artificial devices atau alat-alat tiruan seperti tiruan plasenta dan bayi tabung, sehingga perempuan/wanita tidak perlu lagi mengalami proses kehamilan, lihat Sekar Megawangi dalam Membiarkan…, h. 179. Lihat juga Al-Insan-Jurnal Kajian Islam No. 3, Vol. 2, 2006, h. 12

[16] Ratna Megawangi, Membiarkan …, h. 178-179

[17] وَمِنْ ءَايَتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِى ذَلِكَ لأَيَتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar Rûm [30]: 21)  

[18] عن علقمة قال بينا أنا أمشي مع عبد الله رضي الله عنه فقال: كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم فقال ( من استطاع الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء )

Lihat Hadis Shohih Bukhori, Bab Puasa, Juz 1, No. 1806, h. 673

[19] A. Nunuk P. Murniati, Getar Gender; Buku Kedua [Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agama, Budaya, dan keluarga], (Magelang; IndonesiaTera, 2004), h. viii

[20] A. Nunuk P. Murniati, Getar…, h. xv-xvi

[21] Ben Agger, Teori Sosial KritisKritik, Penerapan, dan Implikasinya, (Yogyakarta; Kreasi Wacana, 2008), Cet. 8, h.200

[22] Ben Agger, Teori…, h. 201

[23] Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. vii; lihat juga: Asghar Ali Engineer, Pembebasan Perempuan, (Yogyakarta: LKiS, 2007), Cet. 2, h. 1

[24] Ratna Megawangi, Membiarkan…, h. 85

[25] Families were very important ti Victorians. They were usually large, in 1870 the average family had five or six children. The father was the head of the household. He was often strict and was obeyed by all without question. The children were taught to respect their father and always spoke politely to him. The mother would often spend her time planning dinner parties, visiting her dressmaker or calling on friends, she did not do jobs like washing clothes or cooking and cleaning. (Keluarga dipandang sangat penting bagi Victorian. Mereka biasanya hidup dalam jumlah keluarga besar, pada tahun 1870 rata-rata keluarga memiliki lima atau enam anak. Figur ayah adalah sebagai kepala rumah tangga. Dia sangat disiplin dan dipatuhi oleh semua anggota keluarga. Anak-anak selalu diajarkan untuk menghormati ayah mereka dan selalu berbicara dengan sopan kepadanya. Sang ibu sering menghabiskan waktunya untuk merencanakan sebuah pesta makan malam, mengunjungi penjahitnya atau menelepon teman-temannya, dia tidak bekerja seperti mencuci pakaian, memasak dan kebersihan). Para Feminis menentang ide keluarga Victorian, yang tetap menjadi model kontemporer keluarga inti, perempuan harus mengasuh laki-laki dan anak-anak sebagai kompensasi atas upah keluarga (upah yang dibayarkan kepada suami oleh majikan untuk menyokong bukan hanya dirinya sendiri namun juga istri dan anak-anak mereka. Lihat; http://www.nettlesworth.durham.sch.uk/time/victorian/vfam.html, tgl 07-04-2010 pkl 05.45 p.m.; lihat juga: Ben Agger, Teori Sosial Kritis Kritik, Penerapan, dan Implikasinya, (Yogyakarta; Kreasi Wacana, 2008), Cet. 5, h. 208

[26] Parson meletakkan suatu asal-muasal sistematis bagi teori sosial, dilandaskan pada suatu interpretasi terhadap pemikiran Eropa abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia menggunakan suatu pendekatan teori sosial yang khusus dengan menggabungkan satu versi mapan fungsionalisme dan satu konsepsi naturalistis dalam sosiologi. Ia mengakui adanya pluralitas dalam suatu struktur institusi keluarga, hal ini menjadi satu-satunya pijakan utama (almunthalaq) dari adanya struktur masyarakat yang berakhir dengan pluralitas dalam fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah system. Dalam suatu organisasi/lembaga pasti ada yang menjadi seorang pemimpin. Perbedaan fungsi ini tidak untuk memenuhi kebutuhan individu yang bersangkutan, tetapi untuk mencapai tujuan organisasi sebagai kesatuan. Tentunya struktur dan fungsi ini tidak lepas dari pengaruh norma dan nilai-nilai (common values) yang melandasi system masyarakat itu. Lihat; Ratna Megawangi dalam Membiarkan…, h. 57. Dalam meletakkan teorinya, Parson berpegang pada prinsip common values, baginya common values adalah prinsip ataupun kaedah-kaedah yang diterima secara consensus (kesepakatan secara bulat) yang digunakan sebagai pijakan dalam melegitimasi segala tindak perbuatan (action). Menurut Parson, keluarga diibaratkan sebuah hewan berdarah panas yang dapat memelihara temperature tubuhnya agar tetap konstan walaupun kondisi lingkungan berubah. Menurutnya keluarga selalu beradaptasi secara mulus menghadapi perubahan lingkungan. Kondisi ini disebut “keseimbangan dinamis”. Lihat; Antoni Giddens, Teori Strukturasi Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat, (Yogyakarta, Pustaka, 2010), h. viii, lihat juga: http://hmmmesir.20m.com/02mengkritisi.htm, tgl 07-04-2010 pkl 10.00 p.m. lihat juga, Ratna Megawangi, Membiarkan…, h. 65-66

[27] Pembagian seks secara alamiah berarti menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah di luar rumah dan perempuan dengan senang hati melahirkan anak dan melakukan pekerjaan domestik sebagai imbalan atas cinta.

[28] Ben Agger, Teori…, h. 353-356

[29] Neng Dara Affiah, Muslimah Feminis Penjelajahan Multi Identitas, (Jakarta; Nalar, 2009), h. 80

[30] Ben Agger, Teori…, h. 208-209

[31] Asghar Ali Engineer, Hak-hak Perempuan Dalam Islam, (Yogyakarta; Bentang Budaya, 1994), h. 61

[32] Khofifah Indar Parawansa, Mengukir Paradigma Menembus Tradisi Pemikiran Tentang Keserasian Jender, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2006), h. 228

[33] Asghar Ali Engineer, Hak-hak…, h. 57

[34] Said Hawwa, Al Islam, terj. Abdul Hayyi al Kattani, dkk, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004),  h. 382

[35] Perjuangan kalangan Islam Liberal dalam mewujudkan hak-hak perempuan ini, sering disebut dengan gerakan “Islam Feminis”. Secara garis besar [feminism Islam adalah]…”Kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja, dan dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut…[dengan mengambil teks-teks sakral sebagi dasar pijakannya]. Menurut definisi tersebut, dengan demikian seseorang tidak cukup hanya mengenali adanya diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, dominasi laki-laki dan sistem patriarki, untuk bisa disebut sebagai feminis, ia harus pula melakukan sesuatu untuk menentangnya. Dengan kata lain, pemahaman harus disertai oleh tindakan untuk mengubah kondisi yang merendahkan perempuan. Patriarkhi merupakan, salah satu masalah utama yang dihadapi kalangan feminis Islam, dipandang sebagai akar misoginis…Tujuan perjuangan feminis…adalah mencapai kesetaraan, harkat, serta kebebasan perempuan untuk memilih dalam mengelola kehidupan dan tubuhnya, baik di dalam maupun di luar rumah tangga… Tujuannya adalah membangun suatu tatanan masyarakat yang adil, baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki, bebas dari penghisapan, bebas dari pengkotakan kelas-kelas, kasta, maupun prasangka jenis kelamin… Yang dituntut oleh kalangan feminis Muslim, adalah kesamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan sebagai warga Negara di wilayah publik, serta peran komplementer di wilayah domestik (rumah tangga). Lihat: Siti Ruhaini Dzuhayatin, Rekonstruksi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender Dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 51

[36] M. Nashirudin, Poros-Poros Ilahiyah Perempuan Dalam Lipatan Pemikiran Muslim, (Surabaya; Jaringpena, 2009), h. 14-17

[37] Di Indonesia, kedudukan perempuan dalam Hukum Islam Indonesia dan perkembangannya dikemukakan oleh Musdah Mulia. Ada tiga hal yang perlu dicatat dalam upaya-upaya pembaruan hukum-hukum keluarga Islam. Pertama, upaya pembaruan hukum keluarga selalu mendapat tantangan dari kelompok Islam tradisional dan radikal yang selalu mempertahankan status quo. Kedua, pembaruan hukum Islam di berbagai Negara Islam selalu berujung pada kelahiran undang-undang baru yang materinya berbeda dengan ketentuan hukum sebagaimana tertuang dalam kitab-kitab fiqh klasik. Ketiga, semangat pembaruan hukum keluarga didorong oleh motivasi untuk membangun masyarakat sipil yang berkualitas dan beradab, sekaligus memperbaiki status dan kedudukan perempuan serta melindungi anak-anak. Lihat: Sulistyowati Irianto, Peremuan&Hukum Menuju Hukum Yang Berspektif Kesetaraan dan Keadilan, (Jakarta: Yayasan Obor, 2006), h. xiii-xiv

[39] Ben Agger, Teori…, h. 204

[40] Achie Sudiarti Luhulima, Bahan Ajar tentang Hak Perempuan: UU No. 7 Tahun 1984 Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita, (Jakarta; Yayasan Obor, 2007), h. 285-286, lihat juga; Hak Azasi Perempuan Instrumen Hukum untuk Mewujudkan Keadilan Gender, (Jakarta, Yayasan Obor, 2007), h. 62-69

[41] Kadarusman, Agama, Relasi Gender & Feminisme, (Yogyakarta, Kreasi Wacana, 2005), h. 23

[42] Atiek Zahrulianingdyah, “Pemberdayaan Komunitas Perempuan Marginal di Lingkungan Kampus: Tawaran Sebagai Suatu Model,” dalam Women In Public Sector [Perempuan di Sektor Publik], (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), Editor: Siti Hariti Sastriyani, h. 107

[43] Fatima Mernissi, Wanita Di Dalam Islam, diterjemahkan dari Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry, (Bandung: Pustaka, 1994), h. xxi

[44] Misalnya, perempuan melakukan lebih banyak pekerjaan pengasuhan anak, kerja rumahan dan kerja yang melibatkan emosi. Solusi yang mereka tawarkan adalah melalui negosiasi perempuan dengan suami mereka, yang seharusnya didorong untuk ambil bagian dalam pengasuhan anak, kerja domestik, dan pengembangan emosi. Lihat: Ben Agger, Teori…, h. 216

[45] Ben Agger, Teori…, h. 215-217

[46] Ratna Megawangi, Membiarkan…, h. 119

[47] Untuk mendapatkan anak mereka memanfaatkan sebuah bank sperma yang menyediakan sperma-sperma unggulan. Dengan adanya bank sperma tersebut, para wanita menolak untuk menikah, sehingga dapat dengan bebas mendapatkan bantuan dari bank sperma tersebut. Lihat: Al-Insan, No. 3, Vol. 2, 2006, h. 12

[48] Ia adalah salah satu pemikir feminis teoritis awal. Karyanya adalah The Subjection of Women (1869). Dalam bukunya ia mengkritik pekerjaan perempuan di sektor domestik, sebagai pekerjaan irasional, emosional, dan tiranis. Lihat: Ratna Megawangi, Membiarkan…, h. 119

[49] Misalnya, mengubah undang-undang yang menempatkan suami sebagai kepala keluarga. Bahkan untuk menghindari hukum perkawinan yang dianggap “merugikan” wanita, muncullah yang disebut marriage contract, yaitu kontrak perjanjian perkawinan yang dibuat oleh kedua pasangan yang bersangkutan melalui pengacara yang dipilih.

[50] Ratna Megawangi, Membiarkan…, h. 119-121

[51] Siti Muslikhati, Feminisme…, h. 35

[52] Ben Agger, Teori…, h. 221-222

[53] Arif Budiman, Pembagian Kerja Secara Seksual, (Jakarta: PT Gramedia, 1985), h. 103; lihat juga: Siti Muslikhati, Feminisme…, h. 35

[54] Siti Muslikhati, Feminisme…, h. 35-36

[55] Rusdiono Mukri, “ Jangan Tinggalkan Kodrat!”, dalam Majalah Gontor, Edisi 11 Tahun VII, April 2010/Jumadil Ula 1431, h.17

[56] Nurjannah Ismail, Perempuan Dalam Pasungan Bias Laki-laki Dalam Penafsiran, (Yogyakarta: LKiS, 2003), h. 176

[57] Ghada Karm, “Perempuan, Islam, dan Patriarkalisme,” dalam Menyingkap Tabir Perempuan Islam Perspektif Kaum Feminis, (Bandung: Nuansa, 2007), Editor: Mai Yamani, h. 121

[58] Ghada Karm, Perempuan…, h. 120

[59] Asghar Ali Engineer, Hak-hak Perempuan Dalam Islam, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1994), h. 62; lihat juga: Nurjannah Ismail, Perempuan…, h. 190

[60] Amina Wadud Muhsin, Wanita Di Dalam Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka, 1994), h. 93-94; lihat juga: Nurjannah Ismail, Perempuan…, h. 192

[61] Elisabeth Diana Dewi, “Profil Keluarga di Barat”, dalam AL-INSAN “Jurnal Kajian Islam” No. 3, Vol. 2, 2006, h. 9, mengutip dari sebuah majalah di Amerika, Better Homes and Gardens menggulirkan satu pertanyaan kepada pembacanya: “Apakah Anda piker kehidupan berkeluarga di Amerika Serikat tengah menghadapi banyak permasalahan?” sebanyak 7,6% koresponden mengiyakan pertanyaan tersebut, dan 85% dari pembacanya menyatakan bahwa harapan mereka untuk merasakan hidup yang bahagia dalam sebuah keluarga belum tercapai. Majalah Newsweek, telah mempublikasikan suatu kesimpulan dari hasil survey itu, bahwa sekitar separuh dari semua lembaga pernikahan di Amerika berakhir di meja perceraian. Walaupun kemudian ada yang rujuk kembali dan lainnya mengakhirinya dengan perceraian.

[62] http://www.mail-archive.com/aroen99society@yahoogroups.com/msg01441.html, dikutip pada hari Senin, 29 Maret 2010, pkl. 09.59 am

[63] Elisabeth Diana Dewi, AL-INSAN…, h. 11

[64] Mohammad Taqi Amini, Recontruction of Culture and Islam,(New Delhi; Kitab Bhavan, 1988), h. 175

[65] Mohammad Taqi Amini, Recontruction …, h. 172

[66] Browne, A. 1998. “Responding to the Needs of Low Income and Homeless Women Who are Survivors of Family Violence.” Journal of American Medical Women’s Association. 53 (2): 57-64 dalam www.endabuse.org, 2 Januari 2006

[67] The Centers for Disease Control and Prevention and The National Institute of Justice, Extent, Nature, and Consequences of Intimate Partner Violence, July 2000.

[68] Ratna Megawangi, Membiarkan…, h. 21

[69] Harjoni, Perempuan Yang Bekerja Dalam Perspektif Islam dalam Women In Public Sector [Perempuan Di Sektor Publik], (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), Editor: Siti Hariti Sastriyani, h. 234

[70] Yusuf Al-Qardhawi, Perempuan Dalam Perspektif Islam, (Yogyakarta: Pustaka Fatima, 2006), h. 192-195

[71] Sang Ayu Putu Sriasih, “Perempuan Bali Dalam Kehidupan Berkesenian,” dalam Women In Public Sector [Perempuan Di Sektor Publik], (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008), Editor: Siti Hariti Sastriyani, h. 253

[72] Dadang S. Anshori, “Dari Feminis Hingga Feminin Potret Perempuan di Dunia Maskulin”, dalam Membincangkan Feminisme Refleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Wanita, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1997), Cet. 1, h. 4

[73] Dari beberapa literatur medis, kebanyakan memfokuskan pengaruh kekerasan rumah tangga terhadap korban utama. Diperkirakan 3,2 juta anak-anak Amerika menyaksikan kekerasan rumah tangga setiap tahunnya. Lihat: Al-Insan [Jurnal Kajian Islam], No. 3, Vol. 2, 2006, h. 12

[74] Sebuah majalah di Amerika, Better Homes and Gardens menggulirkan satu pertanyaan kepada pembacanya: “Apakah Anda piker kehidupan berkeluarga di Amerika Serikat tengah menghadapi banyak permasalahan?” hasilnya 7,6% koresponden mengiyakan pertanyaan tersebut dan 85% menyatakan bahwa harapan mereka untuk meraih kebahagiaan dari hasil pernikahannya mereka belum tercapai. Lain halnya dengan majalah Amerika “Newsweek” yang telah mempublikasikan satu kesimpulan dari hasil survey tersebut, bahwa sekitar separuh dari semua lembaga pernikahan di Amerika berakhir di meja perceraian. Lihat: Al-Insan [Jurnal Kajian Islam], No. 3, Vol. 2, 2006, h. 9

[75] Elisabeth Diana, “Profil Keluarga di Barat,” dalam Al-Insan [Jurnal…], No. 3, Vol. 2, 2006, h. 9-12

[76] Lihat Syamsul Hadi Abdan, “Emansipasi yang Proporsional”, dalam Majalah GONTOR, Edisi 11 Tahun VII, April 2010/Jumadil Ula 1431, h. 19

[77] Salim Al-Bahnasawi, Al-Mar’ah Bain al-Islam wa Qawanin al-‘Alamiyah, (Kuait; Dâru al-Wafâ’,1994), h. 83-88

[78] وَمِنْ ءَايَتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِى ذَلِكَ لأَيَتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar Rum [30]: 21); lihat juga:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآ ئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُمْ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.(QS al-Baqarah [2]: 187); lihat juga:

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendak. (QS al-Baqarah [2]: 223)

[79] Mahmud Muhammad Al-Jauhari, Membangun Keluarga Qur’ani Panduan Untuk Wanita Muslimah, (Jakarta: Amzah, 2005), h. 3-7

[80] Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita Jilid 5, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), h. 153

[81] Khairuddin, Sosiologi Keluarga, (Yogyakarta: Liberty, 1997), Cet. 1, h. 3

[82] Agus Mustofa, Poligami Yuuk!?, (Surabaya: PADMA Press), h. 197

[83] Hasan Al-Banna, “Refleksi,” dalam Membangun Keluarga Qur’ani Panduan Untuk Wanita Muslimah, (Jakarta: Amzah, 2005), h. xiii

[84] Mahmud Muhammad Al-Jauhari, Membangun…, h. 3

[85] Ali Imron, Musawa, Vol. 3, No. 2, September 2004, h. 132; lihat juga: Agus Mustofa, Poligami Yuk!?, (Surabaya, PADMA), h. 167-184

[86] Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita Jilid 5, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), h. 34; lihat juga (QS an-Nahl [16]: 72)

[87] http://www.almanhaj.or.id/content/173/slash/2, Konsep Islam Tentang Perkawinan, dikutip pada hari, Kamis, 11 Februari 2010, jam 03.20 pm

[88] فَأَقِمْ َوْجَهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِى فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ (الروم [30]: 30)

[89] وَمِنْ ءَايَتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِى ذَلِكَ لأَيَتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar Rum [30]: 21)

[90] Muhammad Rasyid Ridha, Panggilan Islam Terhadap Wanita, (Bandung: Pustaka, 1994), h. 20-22

[91] Mahmud Muhammad Al-Jauhari, Membangun…, h. 16-29

[92] قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللهِ الَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا فِى الْحَيَوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَمَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلأَيَتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُوْنَ

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.(QS al-A’râf [7]: 32); lihat juga:

ثُمَّ قَفَيْنَا عَلَى ءَاثَرِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيْسَ ابْنِ مَرْيَمَ وَءَاتَيْنَهُ اْلإِنْجِيْلَ وَجَعَلْنَا فِى قُلُوْبِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَهَا عَلَيْهِمْ إِلاَّ ابْتِغَآءَ رِضْوَنِ اللهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا

Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. (QS al-Hadîd [57]: 27)

 [93] وَمِنْ ءَايَتِهِ ….

Dan di antara… (QS ar-Rûm [30]: 21)

[94] وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لاَ تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ اْلوَرِثِيْنَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوْا يُسَرِعُوْنَ فِى الْخَيْرَتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوْا لَنَا خَشِعِيْنَ

Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri (tidak mempunyai keturunan yang mewarisi) dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. * Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS al-Anbiyâ’ [21]: 89-90); lihat juga:

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَهَبَ لِى عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَعِيْلَ وَإِسْحَقَ إِنَّ رَبِّى لَسَمِيْعُ الدُّعَآءِ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a. (QS Ibrahîm [14]: 39); lihat juga:

وَاللهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَتِ أَفَبِا لْبَطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللهِ هُمْ يَكْفُرُوْنَ

Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni’mat Allah?” (QS an-Nahl [16]: 72)

[95] وَهُوَ الَّذِى خَلَقَ مِنَ الْمَآءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan) dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (QS al-Furqân [25]: 54)

[96] http://www.almanhaj.or.id/content/173/slash/2 di kutip tanggal 1 April 2010 pkl. 02.30 pm.

[97] Fithriah Wardie Murdani, “Kewajiban dan Hak Suami Istri Dalam Keluarga Islam,” dalam Al-Insan, No. 3, Vol. 2, 2006, h. 16; lihat juga: (QS al-Baqarah [2]: 228)

[98] وَءَا تُوْا النِّسَآءَ صَدُقَتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَىْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْئًا مَّرِيْئًا

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS an-Nisâ’ [4]: 4); lihat juga: Wahbah Az-Zuhaili, al-Fiqhul-Islaami Wa Adillatuhu Juz 7, (Darul-Fikr, 1989), h. 252; lihat juga:

 Shohih alBukhori, Dâr Ibnu Katsîr, Kitâbu an-Nikâh, Bâbu ‘Aradha al-Mar’ati Nafsahâ ‘Alâ ar-Rajuli as-Shâlih, al-Juz 5, al-Sofhatu 1978, an-Namratu 4829

[99] Fithriyah Wardie Murdani, Kewajiban… dalam Al-Insan, No. 3, Vol. 2, 2006, h. 18

[100] Seorang istri, walaupun ia kaya, tidak berkewajiban membelanjai keluarga atau dirinya dengan hartanya sendiri – banyak maupun sedikit – kecuali dengan jiwa yang ikhlas dan ridha, bukan karena dia memiliki tuntutan agama untuk ikut andil dalam memenuhi nafkah keluarganya. Dengan demikian, dia memiliki kebebasan penuh untuk menolak ikut andil menanggung beban tanggung jawab nafkah keluarganya.

[101] Bahay Al Khauly, Islam dan Persoalan Wanita Modern, (Solo: Ramadhani, 1988), h. 79

[102]  أَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلاَ تُضَآرُّوْهُنَّ لِتُضَيِّقُوْاعَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُوْلَتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوْاعَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَأَتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ وَأْتَمِرُوْابَيْنَكُمْ بِمَعْرُوْفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى * لِيُنْفِقْ ذُوْسَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ ءَاتَهُ اللهُ لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَآءَاتَهَا سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. * Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS at-Thalaq [65]: 6-7), lihat juga; Bahay Al Khauly, Islam dan…, h. 80-81

[103] يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوْا النِّسَآءَ كَرْهًا وَلاَ تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآءَاتَيْتُمُوْهُنَّ إِلَّآ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ فَأِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS an-Nisâ [4]: 19); lihat juga: (QS at-Thalâq [65]: 6)

[104] Bahay Al Khauly, Islam…,  h. 82, lihat juga; Fithriah Wardie Murdani, Kewajiban dan… dalam Al-Insan, No. 3, Vol. 2, 2006, h. 22

[105] Fithriyah Wardie Murdani, Kewajiban… dalam Al-Insan, No. 3, Vol. 2, 2006, h. 24

[106] Bahay Al Khauly, Islam…, h. 86-87

[107] Fithriah Wardie Murdani, “Kewajiban…,” dalam Al-Insan [Jurnal…], No. 3, Vol. 2, 2006, h. 25-27

[108] An-nusyuuz berarti ”tidak taatnya suami atau isteri kepada pasangannya secara tidak sah atau tidak cukup alasan”. Ini berarti, apabila terjadi pembangkangan dalam hal yang memang tidak wajib dipatuhi, maka sikap itu tidak dapat dikategorikan sebagai nusyuz. Misalnya, isteri tidak mematuhi suami yang menyuruhnya berbuat maksiat, atau suami tidak mematuhi isteri yang menuntut sesuatu di luar kewajiban dan/atau melampaui batas kemampuannya. Menyikapi Nusyuz Istri. Ada empat tahap jalan keluar yang diajarkan Islam untuk mengatasi nusyuz isteri.

وَالَّتِى تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

”Dan perempuan-perempuan (para isteri) yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat-tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar.” (QS an-Nisâ [4]: 34)

 

BACA JUGA  Nikah Beda Agama dan Bahaya Sekularisasi UU Nikah
One Response
  1. Kritik Terhadap Institusi Keluarga Prespektif Feminisme | Sahabat Nisrina2 years ago

    […] Muslim Online-Wacana seputar isu gender dalam Islam mengalami perkembangan signifikan di Indonesia,[8] hal ini tidak terlepas dari pengaruh karya-karya feminis Muslim di berbagai belahan dunia Islam, […]

    Reply

Leave a reply "Kritik Terhadap Institusi Keluarga Prespektif Feminisme"