Koreksi terhadap Cara Pandang Humanisme Sekular

Written by | Uncategorized

16632221-Abstract-word-cloud-for-Secularism-with-related-tags-and-terms-Stock-Photo

Oleh: Ahmad Kholili Hasib16632221-Abstract-word-cloud-for-Secularism-with-related-tags-and-terms-Stock-Photo

Inpasonline.com-Pada abad ini, jiwa dan fikiran umat manusia termasuk di dalamnya umat Islam, didominasi oleh cara berfikir kebudayaan Barat yang merajalela. Hal ini diawali sebab faktor kedigdayaan Barat dalam sains dan teknologi. Bahkan, kata orang Barat Anthony Gidden, saat ini menunjukkan arogansinya. “Globalisasi merupakan proses tidak seimbang, bermuatan arogansi dimana budaya lain dianggap tidak ada”(Anthony Gidden,Konsekuensi-Konsekuensi Modernitas, hal. 232). Sehingga, sadar atau tidak, umat manusia menempatkan Barat — dengan segala kelebihan dan kekurangannya — sebagai “kiblat” dalam berbagai segi. Termasuk dalam berfikir.

Padahal, kelebihan dan kekurangan itu harus dilihat secara adil. Jika positif, bisa digunakan. Bila negatif, harus dibuang. Persoalannya, tidak banyak ilmuan, santri bahkan kiai yang mengenali hakikat pemikiran Barat. Sehingga tanpa sadar kebudayaan Barat meresapi akal nya dengan mudah.

Prof. Syed Naquib al-Attas menjelaskan betapa umat Islam hari ini banyak yang tidak kenal. Ia mengatakan: “Kebanyakan orang Islam belum lagi mengetahui dan mengenali apa dia sebenarnya Kebudayaan Barat itu. Sebelum dapat kita mengukuhkan diri terhadap serangan yang ditujukan kepada kita oleh Kebudayaan Barat maka perlulah bagi kita mengenali sifat-sifat asasi kebudayaan itu” (Syed Muhammad Naquib al-Attas,Risalah untuk Kaum Muslimin, hal. 18).

Salah satu unsur pandangan hidup Barat yang merajalela di lubuk jiwa umat manusia adalah filsafat humanisme. Filsafat ini mementingkan hanya dasar keistimewaan kemanusiaan dan keduniaan serta kebendaan, dan tidak meletakkan agama dan ajaran-ajaran serta kepercayaan Ketuhanan sebagai yang utama dan penting (Syed Muhammad Naquib al-Attas,Risalah untuk Kaum Muslimin, hal. 20).

Ideologi humanisme merupakan paham yang cukup tua berkembang dalam peradaban Barat. Paham ini bisa ditelusuri akarnya pada pemikiran Filsuf Yunani kuno, Protagoras(490-420 SM). Anis Malik Thoha mengutip F.C.S. Schiller mengatakan bahwa paham humanisme modern merupakan kebangkitan kembali secara sadar pemikiran relativisme Protagoras yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah standar dan ukuran segala sesuatu. Secara sederhana humanisme dapat diartikan; menganggap individu rasional sebagai nilai yang paling tinggi, dan sebagai sumber nilai terakhir. (Baca Anis Malik Thoha,Al-Ta’adudiyyah al-Dīniyyah Ru’yatu Islāmiyyah,hal. 60).

BACA JUGA  KH. Muhammad Kholil, Ulama Madura yang Berpengaruh

Karena ditempatkan sebagai standar, maka sesuatu selalu dilihat dari perspektif manusia. Perspektif agama tidak dilihat. Sebab, manusia adalah nilai (value) paling tinggi melebihi nilai agama.

Jadi, jelas filsafat humanisme itu melihat realitas dengan “kaca mata” kemanusiaan, bukan ketuhanan atau agama. Melihat dengan semata “kaca mata” kemanusiaan itu cira khas sekularisme. Yaitu mereduksi agama dan ketuhanan dalam penglihatan. Artinya, otoritas agama lenyap, diganti otoritas kemanusiaan.

Ukuran humanisme itu hanya insaniyyah (kemanusiaan), bukan ilahiyyah (ketuhanan) atau diniyyah (keagamaan). Apapun realitasnya, dan bagaimananpun isunya, maka pandangan insaniyyah itu berada di atas, bukan pandangan diniyyahnya.

Dalam pandangan Islam, realitas tertinggi adalah Tuhan, dan menjadi asas paling dasar dalam aktivitas berpikir. Dalam menjalani kehidupan beragama ini, seorang Muslim memiliki pandangan-pandangan terhadap konsep kehidupan, manusia, akhlak, ilmu alam dan lain sebagainya. Jika konsep-konsep yang berpusat dengan konsep Allah ini berfungsi menjadi alat utama memandang sesuatu, maka seorang Muslim memandang realitas ini dalam kesatuan konsep yang berpusat kepada nilai ketuhanan.

Itu artinya, seorang Muslim yang menempatkan pandangan diniyyah pada tempat paling tinggi, maka secara otomatis pandangan insaniyyah termasuk di dalamnya di posisi setelahnya. Maksdunya, Muslim yang berpandangan diniyyah tidak mungkin anti insaniyyah.

Karena itu, ketika ada saudara Muslim teraniaya — apapun faktor dan pemicunya — maka, selayaknya pertama-tama pandangan yang mesti dikedepankan adalah, mereka wajib ditolong karena mereka saudara Muslim (ukhuwah Islamiyah).

Apakah jika non-Muslim teraniya tidak kita tolong? Tentu tidak. Rasulullah Saw pun pernah membantu orang kafir Yahudi. Maka, motif itu penting. Menolong Muslim terdzalimi itu karena mereka saudara se-agama. Membantu non-Muslim teraniaya tentunya bukan karena kekafirannya, tetapi karena mereka itu makhluk sama seperti kita.

BACA JUGA  Tanggung Jawab Pemimpin dan Pengadilan Akhirat

Karena itu, bila ada Muslim dianiaya, maka ini adalah masalah agama kita. Dalam Islam, seluruh aspek tidak lepas dari agama. Lebih-lebih jika yang mendzalimi itu kelompok yang membawa identitas agama lain, maka seorang Muslim wajib memandang ini sebagai masalah agama.

Maksudnya, jika ada saudara Muslim dibunuh secara teraniaya misalnya, maka kita melihat dia sebagai Muslim, bukan sekedar sebagai manusia belaka. Sekelompok pembantai Muslim Rohingnya di Miyanmar adalah kelompok beridentitas agama yang ultra-ekstrim. Sehingga bertindak seperti hewan. Tetapi, kita tidak bisa menghalangi pandangan keislaman kita.

Kita melihat Rohingnya sebagai Muslim, bukan sekedar manusia. Semua Muslim yakin bahwa al-Islamu ya’lu wa laa yu’la alaih. Islam itu tinggi, maka Muslim itu pun juga tinggi kedudukannya dibanding umat yang lain. Jika pandangan ini meresap dalam jiwa, maka, kita melihat lebih terhormat terhadap Rohingnya. Jadi pandangan, ada Islam di dalam Rohingnya itu penting.

Bukankan dalam Islam ada konsep ihsan. Allah Swt merupakan realitas tertinggi  yang menjadi acuan setiap aktifitas kaum Muslim. Seorang Muslim dinilai kurang sempurna imannya jika dalam satu aspek dia menjadikan Allah Swt sebagai acuan, tapi dalam aspek lain menepikan Allah Swt. Apapun aktivitas, profesi dan kegiatan manusia merupakan penghambaan (ibadah) kepada Allah Swt.

Mengamalkan ihsan berarti menjadikan tauhid sebagai tonggak tertinggi dalam melakukan iktifitas. Jika sesorang dalam hati memiliki keyakinan bahwa Allah Swt mengawasi setiap perbuatan kita dan tiap aktivitas kita ada tanggung jawabnya kepada Allah Swt, maka kita tidak akan meninggalkan Allah Swt dalam berbagai aspek. Di mana pun dan kapanpun pikiran kita harus tetap pikiran yang Islam. Di kampus, kantor, masjid, pasar dan lain-lain Islam dan nilai ketuhanan menjadi dasar penggerak aktivitas.

BACA JUGA  MUI: Islam Kita Tidak Radikal dan Bukan Liberal

Seseorang yang bertauhid, mesti berbuat baik kepada manusia.  Jika pun akhlaknya buruk, maka ia belum menjadi muslim bertahid yang ideal. Sebaliknya, berbuat baik kepada sesama juga mesti didasari dengan tauhid, keimanan, bukan yang lainnya.

Petunjuknya banyak dalam hadis Nabi Saw. Salah satu contohnya Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya (HR. Abu Syuraih al-Khuza’i). Hadis Nabi tersebut menunjukkan urutan kebaikan. Setelah bertauhid, maka urutan berikutnya adalah membangun perilaku sosial yang baik. Dan perilaku sosial tetapi dasarnya adalah diniyyah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Last modified: 20/09/2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *