Kitab “Mafahim” dan Obat Penyembuh Faham Ekstrim

Written by | Pemikiran Islam

Mafahim Yajibu An Thushohah (1)

Oleh: Muhammad Kholid

 

Inpasonline.com-Selain masalah liberalisme yang telah merambah dunia Islam, dunia akhir-akhir semakin diresahkan dengan pemahaman ekstrim. Setidaknya, ditandai dengan serampangan dalam vonis bid’ah dan kafir kepada ssesama Muslim. Grand Syeikh al-Azhar Prof. Ahmad Tayyeb pernah mengatakan bahwa kelompok ini adalah khawariju hadzal ‘asr (“Khawarij” Zaman Sekarang).

 

Ada faktor internal dan eksternal penyebab mudah tersebarnya kelompok-kelompok seperti ini di kalangan Muslim awam. Pertama adalah minimnya edukasi mereka terhadap aqidah. Kalau ditelisik secara mendalam pesantren-pesantren yang ada sekarang terkhusunya pondok salaf terlalu mengedapankan fiqh,  terkesan mengesampingkan masalah aqidah, sehingga banyak celah bagi kelompok mereka untuk mengisi celah ini.

 

Yang kedua, mereka semakin pandai mengemas dan menyebarkan doktrinnya, ditengah semakin kuatnya arus informasi di internet.  Dunia sekarang seakan-akan sudah ada di genggaman dengan HP dan gadget, sangat mudah bagi kita mencari informasi dari internet, dari sinilah mereka memanfaatkan media untuk menyebarkan ajaran-ajaran mereka. Kelompok mereka juga produktif dalam menulis buku.

 

Yang ketiga, sistem demokrasi kita yang kebablasan, dan ketidakpedulian pemerintah dalam mengantisipasi aliran sesat. Saking bebasnya, aliran sesat dengan mudahnya masuk dan diterima masyarakat. Kelompok mereka bisa tumbuh dengan cepat, lembaga pendidikan dan yayasan mereka pun tumbuh subur.

 

Sedangkan untuk faktor internal, terdapat beberapa hal yang membuat suburnya paham seperti ini, seperti ghuluw dalam beragama, tidak paham fiqh, tidak paham tentang maqosid syariah, menyombongkan diri, tidak mengikuti pendapat para ulama, dan tidak ada usaha untuk mencari solusi yang baik bagi umat Islam, serta tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat.

 

Paham-paham seperti ini perlu dicegah, pencerahan tentang Ahlussunnah Waljamaah (red:aswaja) sangat niscaya dilakukan untuk membuktikan bahwa kelompok ekstrim beragama ini berbeda dengan ajaran Aswaja para ulama salaf. Mereka hanya berkutat pada ranah tabanni atau doktrinal yang berbeda dengan ajaran Aswaja yang lebih bernuansa tasqif.

 

BACA JUGA  Prinsip Utama dalam Membumikan Pendidikan Akidah Aswaja

Dan salah satu senjata andalan untuk menjawab tantangan ini adalah kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah karangan Abuya Prof. Dr. As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Mafahim adalah kitab yang monumental, dipelajari di berbagai belahan dunia, kalau di Indonesia dijadikan bahan ajar oleh sebagin besar pesantren, sedangkan di Mesir dijadikan kitab kitab kecil.

 

Asal muasal dari penulisan kitab ini adalah ketika sang pengarang Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki al-Hasani diundang oleh pihak pemerintah Saudi untuk menyidang pemikiran-pemikiran beliau, kala itu beliau ditemani oleh santrinya K. H. Abdul Muiz Abdullah dari Bondowoso yang merekam hasil dialog antara Sayyid Muhammad dengan para ulama Saudi itu.

 

Sayyid Muhammad memenuhi undangan tersebut, dan di saat beliau sudah datang ke lokasi dialog, beliau mengawalinya dengan meminta ijin terlebih dahulu untuk berwudhu ke kamar mandi dan meninggalkan imamah beliau di meja duduk. Syahdan, para ulama Saudi itu hanya duduk menunggu imamah beliau, dalam hal ini Sayyid Muhammad sudah menang strategi dalam menunjukkan bahwa beliau lebih tinggi derajatnya daripada ulama tersebut.

 

Disaat beliau telah kembali dari berwudhu, yang terjadi bukan dialog dan perdebatan, tapi malah sebaliknya, para ulama Saudi itu terdiam menyimak hujjah-hujjah yang disampaikan oleh beliau. Dan dari hujjah-hujjah itulah, Sayyid Muhammad menuliskan kitab dengan judul kitab Mafahim Yajibu An Tushahhah ( Pemahaman yang harus di luruskan).

 

Kitab ini terdiri dari 24 taqrid atau kata sambutan dari para ulama terkemuka dunia, sedangkan kata sambutan yang tidak dicantumkan di dalam kitab dua kali lebih banyak. Abuya Sayyid Muhammad mencantumkan begitu banyak kata sambutan bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, tapi untuk menunjukkan bahwa pemikiran dan aqidah beliau sama dengan jumhurul ulama seluruh dunia.

BACA JUGA  Kampanye Anti-Otoritas Agama

 

Dalam muqaddimah kitab Mafahim, kita bisa mempelajari teori beliau dalam berdebat dengan orang-orang yang tidak sepemahaman dengan kita, yang pertama dengan memberi kesempatan lawan untuk berfikir (At-Taubah:6), yang kedua memberikan kesempatan lawan untuk membantah (Al-Baqarah:111), yang ketiga dimanapun dan dengan jumlah berapapun siap berdebat (Saba:46), yang keempat tidak memaksa lawan untuk mengikuti pendapat kita (Saba:24).

 

Adapun isi dari kitab Mafahim terbagi dalam tiga bagian, bab pertama membahas tentang Akidah; kesalahan parameter dalam memvonis kafir dan sesat. Bab kedua membahas tentang kajian konsep Kenabian dan Tabaruk. Bab ketiga membahas tentang topik-topik kajian variatif yang meliputi penjelasan mengenai disyari’atkannya ziarah kepada Nabi dan hal-hal yang terkait dengannya dari beberapa Atsar, Masyhad, dan Munasabah.

 

Selain itu, ada beberapa point yang ada di dalam kitab mafahim seperti cara beliau berdebat, dengan menyebutkan pemikiran dan perkataan kelompok lawan untuk mematahkan hujjahnya (Mafahim:131); yang kadangkala beliau juga sepakat dengan pendapat lawan(Mafahim:83) atau tidak sepakat dengan pendapat lawan (Mafahim:287). Abuya juga tidak pernah menyebutkan nama organisasi islam atau lembaga pendidikan islam atau juga nama seseorang secara jelas dalam setiap munaqashah atau debat beliau dengan penentangnya.

 

Kitab Mafahim menjadi senjata bagi para penuntut ilmu dan pendakwah untuk melawan serangan-serangan kaum salafi-wahabi, hujjah-hujjah yang ada di dalam kitab ini sangat ilmiah dan bernuansa diplomatis. Karena Sayyid Muhammad menjawab hujjah kaum salafi-wahabi dengan mengutip pendapat ulama-ulama mereka seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyum Al-Jauziyah, Muhammad bin Abdul Wahhab dll. Diibaratkan perang, menusuk tubuh lawan dengan menggunakan pedang lawan.

 

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki memang dikenal sebagai ulama garda terdepan dalam menjaga benteng aqidah Ahlussunnah Waljamaah di tengah pusaran wilayah kaum salafi-wahabi yang memang saat ini pemerintah Arab Saudi memegang kekuasaan politik dan agama. Beliau memiliki ribath di Mekkah yang dikenal dengan Ribath Rushaifah. Ada empat manhaj tarbiyah beliau dalam mendidik santri-santrinya, yang pertama dengan nadzoriyah(teori), yang kedua dengan mumarosah(latihan/praktek), yang ketiga dengan nadzhroh(pandangan masa depan), dan yang terakhir dengan dark(pertolongan langsung).

BACA JUGA  Hubungan antara Syari’at Islam dengan Hukum Romawi

 

Begitulah sekelumit hal tentang Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dengan kitab Mafahimnya, sehingga tidak aneh jika para penduduk Mekkah menganggap beliau seperti Imam Ahmad bin Hambal, karena ancaman dan siksaan yang dialami beliau dari pihak penguasa, sedangkan para penduduk Madinah menganggap beliau seperti Imam Syafi’i, karena kecerdasan beliau dan metode diplomasi yang digunakan beliau dalam menjawab segala tuduhan pihak pemerintah dan ulama mereka.

 

Semoga kita bisa mendapat barokah dan ridho dari Abuya As-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dengan cara istiqomah membaca dan mempelajari kitab-kitab beliau khususnya kitab mafahim, dan bisa menjadikan kitab sebagai senjata andalan untuk melawan serangan-serangan kelompok salafi wahabi atau Neo-Khawarij zaman now ini.

 

*Santri Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Alumni Sekolah Mafahim Marhalah I & II Hai’ah As-Shofwah al-Malikiyah

Last modified: 20/09/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *