Kisah-kisah Indah Pezakat (Dari Zakat Rp 50,- sampai ‘Jalan Menuju Surga’)

Sejuta Nikmat Zakat

Judul buku     : Sejuta Nikmat Zakat (Catatan Seorang Amil Zakat)

Penulis         : Yuli Pujihardi

Penerbit        : Noura Books Jakarta

Tebal            : xii+198 halaman

Cetakan        : I, Juli 2013

 

 

Oleh M. Anwar Djaelani

 

          Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis yang bekerja di sebuah lembaga amil zakat cukup ternama di Jakarta. Dia yang bekerja di lembaga itu sejak 1995, tentu-lah memiliki segudang pengalaman yang berharga untuk dibagi kepada publik lewat tulisan.

Secara umum buku ini tampak biasa-biasa saja. Lihat saja sub-judulnya: Catatan Seorang Amil Zakat. Buku ini hanya menghimpun pengalaman sang penulis sebagai seorang amil atau pengelola zakat. Tapi, setelah membaca beberapa kisah di bagian awal, terasalah bahwa  buku ini menarik dan menggugah.

          Menarik karena kisah-kisahnya faktual. Menggugah karena kisah-kisahnya menyentuh perasaan. Kesan ini akan kuat terasa saat kita membaca bagian pertama dari total lima bagian yang disajikan. Bagian pertama berjudul “Donatur-donatur Tak Terduga”.

Adapun empat bagian lainnya, berturut-turut berjudul “Hamba-hamba Tangguh nan Mulia”, “Rezeki Datang dari Mana Saja”, “Amil Zakat di Mana Saja”, serta “Perjalanan dan Renungan Berbagi Nikmat”.

          Di bagian pertama-lah yang paling menguras rasa takjub. Bacalah kisah “Transfer Rp 50,-“. Bahwa di sebuah hari, kantor amil zakat si penulis heboh. Ada seseorang yang mentransfer zakatnya Rp 50,-. Lima puluh rupiah? Ditranfer? Besar manakah zakat yang disetorkan dengan biaya transfernya?  

Kehebohan semakin menebal ketika sampai kepada pertanyaan: Perlukah memasukkan zakat ‘aneh’ itu dalam daftar para pembayar zakat yang rutin dilaporkan tiap Jum’at di salah sebuah surat kabar nasional?

Terjadi perdebatan di internal lembaga amil zakat itu. Misal, “Akan tampak sangat aneh di laporan itu jika angka Rp 50,- nanti bersanding dengan deretan 8 angka atau 7 angka dari muzakki atau donatur lainnya”. Tetapi, rapat memutuskan untuk tetap memuat zakat Rp. 50,-. Alsannya? “Semata-mata sebagai bentuk profesionalisme dan pertanggungjawaban kami kepada donatur” (h. 12).

Sepekan setelah laporan zakat Rp.50,- terbit di koran, datanglah seseorang ke kantor amil zakat tersebut. Jika melihat performanya, dia tampak sebagai orang yang berpunya. Dia lalu menunjukkan bukti setor zakat Rp.50,- dan itu membuka rahasia tentang siapa yang telah mengirim zakat ‘aneh’ itu.

“Saya semakin yakin bahwa lembaga ini sangat amanah dan professional karena berapapun uang zakat yang diterima, dicatat dengan baik dan benar,” kata sang tamu. “Maaf,” lanjut si tamu, “Sebenarnya saya hanya ingin menguji, apakah Anda mencatat penerimaan dari saya atau tidak. Ternyata Anda tetap mencantumkan nama saya dalam daftar penerimaan itu”.

Si tamu semakin yakin bahwa pilihan dia membayar zakat melalui lembaga amil tersebut tidaklah salah. Dia lalu mengeluarkan selembar cek dan menuliskan angka zakatnya, Rp 48 juta. 

          Kisah di atas memerlihatkan bahwa kepercayaan publik kepada sebuah lembaga amil zakat berbanding lurus dengan sikap amanah dari lembaga yang bersangkutan. Terkait hal ini, bacalah juga “Dua Kali Membayar Zakat dalam Sehari”.  

Banyak yang tahu, malam 1 Syawal atau di negeri ini popular juga disebut sebagai Malam Takbiranadalah hari kerja yang paling panjang bagi para amil zakat dalam setahun. Ini terjadi karena banyak muzakki memilih menyerahkan kewajiban zakatnya kepada amil zakat di malam itu.

Di sebuah malam 1 Syawal dan jam sudah menunjuk pukul 23.00, lewat telepon seorang muzakki meminta si penulis untuk mengambil zakatnya. Kata si muzakki, zakat silakan diambil di rumahnya pukul 01.00 sebab pukul 02.00 dia sekeluarga akan mudik.

Si penulis lalu meminta temannya untuk mengambil zakat yang dimaksud. Si teman yang dimintai tolong heran, sebab pada paginya -pukul 10.00- orang yang sama telah menyerahkan zakat Rp 40 juta lewat lembaga mereka. Masa sehari berzakat dua kali, pikir si teman bernada tanya.

Singkat kata, si teman sampailah di rumah si muzakki pukul 00.45. Menjawab rasa heran si amil zakat, akhirnya si muzakki menjelaskan, “Tadi pagi, saya menelepon 3 lembaga zakat agar mengambil zakat di rumah saya. Saya tunggu sampai pukul 22.00 malam ini, hanya satu lembaga yang datang dan tepat waktu”. Setelah dikonfirmasi ulang oleh si muzakki dan dua lembaga itu bilang ‘sebentar lagi’, tapi ternyata sampai pukul 23.00 tetap tak datang juga. Maka, “Ini uang yang seharusnya saya serahkan ke lembaga amil zakat yang tak jadi datang. Jumlahnya Rp 78 juta,” kata si muzakki (h. 21).  

Dua kisah memikat di atas menunjukkan betapa amil zakat yang berkinerja baik akan dipercaya publik. Bahwa amil zakat yang kredibel akan berperan sangat strategis dalam penghimpunan dan pendistribusian zakat. Pada gilirannya, besarnya dana yang dihimpun akan berbanding lurus dengan pendistribusian kesejahteraan bagi sebanyak mungkin kaum fakir dan miskin.

Kecuali soal amanah, buku ini –secara tak langsung-juga mengajak para amil zakat untuk professional antara lain dengan tak mudah berprasangka buruk kepada siapapun. Si penulis bertutur lewat kisah “Jalan Menuju Surga”.

Di sebuah hari libur, si penulis kebagian piket di kantor. Memang, banyak lembaga amil zakat yang tetap membuka kantornya di hari libur. Hal itu untuk melayani para tamu -termasuk para muzakki- yang ingin memanfaatkan hari libur untuk menyerahkan zakatnya secara langsung.

Di saat si penulis bersiap-siap shalat dhuhur dan beristirahat siang, datang dengan bergandengan tangan sepasang suami-istriyang telah renta. Dia pikir –dengan melihat penampilannya- si tamu adalah mustahik yang sedang memerlukan ‘jatah’-nya.

Ternyata si penulis salah. Sepasang suami-istri berusia 70-an tahun itu lalu mengeluarkan celengan gerabah berbentuk ayam jago. Ada dua hal menarik atas celengen ini. Pertama, benda itu dibungkus kain sangat rapat seperti lazimnya orang yang sedang melindungi barang berharganya. Kedua, di dekat lubang tempat memasukkan uang ada tulisan: “Jalan Menuju Surga”.

Si penulis menanyakan maksud tulisan“Jalan Menuju Surga” kepada sang tamu. Si kakek (sebut saja begitu) lalu menjelaskan, bahwa “Tabungan ini memang saya siapkan agar bisa menjadi jalan kami menuju surga. Walau tak seberapa, semoga zakat saya bisa membuat orang yang sakit jadi sembuh, yang belum punya usaha bisa berusaha kecil-kecilan”.

Setelah celengan dipecah dan uangnya memenuhi meja di depan mereka, berkatalah si nenek (sebut saja demikian), “Kami minta tolong bantu hitungkan tabungan kami ini.Ternyata, zakat mereka Rp. 4.760.000,-.

Atas kenyataan itu, si penulis malu karena telah berprasangka negatif. Malu, pertama, bahwa dia yang sebelumnya telah bekerja di salah sebuah bank ternama sejauh ini belum pernah berzakat sebesar itu.Kedua, bahwa penghasilan dia sebagai amil diambilkan dari zakat para muzakki termasuk dari sepasang kakek-nenek itu.

Kisah ‘kakek-nenek’ di atas mengirim pesan agar para amil zakat selalu bersikap professional. Terkait ini, maka selalu berpikir positif dan –sebaliknya- tak mudah berprasangka negatif adalah sebagian dari contoh sikap professional.

Buku ini tak hanya berisi tiga kisah di atas, tapi masih banyak kisah lainnya yang juga tak kalah menarik. Hal lain yang pasti, buku ini ditulis oleh orang yang tepat karena dia telah berpengalaman bekerja belasan tahun di lembaga amil zakat. Buku inipun terbit pada masa yang tepat yaitu bersamaan dengan masuknya bulan Ramadhan, saat orang ‘teringat’ untuk berzakat. Alhasil, buku ini berharga untuk segera kita baca. []

                

BACA JUGA  Ide Sekularisasi, Kecerobohan Intelektual Nurcholishh Madjid
No Response

Leave a reply "Kisah-kisah Indah Pezakat (Dari Zakat Rp 50,- sampai ‘Jalan Menuju Surga’)"