KH. Hasyim Muzadi dan Pergerakan Tiada Henti

No comment 782 views

Oleh : M. Anwar Djaelani

hasyim-muzadi-meninggal-duniaInpasonline.com-Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun. KH Hasyim Muzadiwafat pada 16/03/2017. Sangat banyak yang berduka, sebuah sikap yang tepat karena selama ini Almarhum memang dikenal sebagai “aktivis kebaikan” di berbagai lapangan kehidupan.

Aktif Bergerak

Saat mengenang KH Hasyim Muzadi, banyak hal bisa dikemukakan. Pertama, Hasyim Muzadi -lahir di Tuban pada 08/08/1944- adalah seorang pembelajar yang tekun. Riwayat pendidikannya, antara lain: Madrasah lbtidaiyah Tuban 1950-1953,  SD Tuban 1954-1955, SMPN I Tuban 1955-1956, Pondok Modern Gontor 1956-1962, Pesantren Senori – Tuban 1963, Pesantren Lasem Jawa Tengah 1963, dan IAIN Malang 1964-1969.

Kedua, dia aktivis yang terus menebar kebaikan. Tentang ini kita lalu ingat nasihat Imam Syafi’i bahwa kita harus terus bergerak. “Berlelah-lelahlah! Manisnya hidup terasa setelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika air mengalir menjadi jernih dan jika tidak mengalir akan keruh”.

KH.Hasyim Muzadi aktivis pergerakan Islam sejak muda. Dia bahkan –sampai akhir hayatnya- masih memimpin Pesantren Al-Hikam, di Malang dan di Depok. Lebih jauh, sebagai aktivis pergerakan, riwayat organisasinya antara lain: aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) 1960–1964, Ketua Cabang PMII Malang 1966, Ketua KAMI Malang 1966, Ketua Cabang GP Ansor Malang 1967-1971, Ketua PCNU Malang 1973-1977, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur 1983-1987, Ketua PP GP Ansor 1985-1987, Sekretaris PWNU Jawa Timur 1987-1988, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur 1988-1992, Ketua PWNU Jawa Timur 1992-1999, Ketua Umum PBNU 1999-2004, dan Ketua Umum PBNU 2004-2010.

Ketiga, KH.Hasyim Muzadi memiliki budaya kerja (baca: amal shalih) yang tinggi. Lihatlah, di antara jejak amal shalihnya, antara lain, pernah menjadi: Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, anggota DPRD Kotamadya Malang, anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur, dan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang.

BACA JUGA  Syahwat Pikiran

Keempat, KH.Hasyim Muzadi memiliki talenta yang lengkap dan sangat menunjang aktivitasnya dalam berdakwah. Hasyim Muzadi cakap berceramah dan sekaligus trampil pula dalam menulis. Olah lisan dan tulisan Hasyim Muzadi sama-sama bisa memesona orang karena kupasannya mendalam dan di banyak bagian kerap menyampaikan hal-hal yang bernada filosofis. Kesemua itu disampaikannya dengan bahasa yang mudah difahami.

Kelima, hal yang menarikterlihat atas tulisan Hasyim Muzadi di harian Republika edisi 05/03/2017. Menarik karena -bisa dibilang- itulah tulisan dia yang terakhir. Sementara, jika melihat judul dan isi tulisannya, maka itu terasa sebagai sebuah renungan akhir dari seorang Hamba Allah yang akan segera memenuhi panggilan-Nya.

Tulisan itu berjudul “Menghitung Kekurangan”. Hasyim Muzadi memulai tulisan itu dengan mengutip kalimat berhikmahnya Ibnu ‘Athoillah as-Sakandari: Khayru awqootika Waqtun tasyhadu fiihi wujuuda faaqotika wa turoddu fiihi Ilaa wujuudi dzillatika (Sebaik-baik waktumu adalah ketika engkau menyadari kekuranganmu dan engkau pun kembali mengakui kerendahanmu).

Seperti biasa, tulis Hasyim Muzadi, Ibnu ‘Athoillah memberi kita panduan serba-singkat –lewat “Al-Hikam”- tentang makna penting dari waktu sehingga semua hal ditentukan dengannya. Kita lahir dengan waktu  dan akan pergi meninggalkan dunia fana dengan waktu. Begitulah maqam waktu bagi kehidupan.

Hasyim Muzadi melanjutkan, bahwa sering kita jumpai Allah bersumpah atas nama waktu. Tengoklah Al-Qur’an: kita akan dapati Allah bersumpah atas nama waktu Ashar, waktu Dhuha, waktu malam, waktu siang, dan waktu lain. Allah ingatkan kita: pasti merugi siapa saja yang tidak mengindahkan waktu. Sebab, waktu yang tersedia bagi kita sudah dijatahkan. Tak kurang, tak lebih.

Hasyim Muzadi menasihati kita dengan menulis: “Kita diberi garis waktu kapan mesti memulai tugas dan waktu kapan akan menyudahi semuanya. Bila ajal waktu pencabutan nyawa sudah tiba, usai sudah misi kita di dunia”. Maka, “Sebagai hamba Allah, mestinya tak ada detik yang lewat tanpa amal saleh. Sebab, waktu yang tersedia tidaklah banyak. Waktu di dunia tak lebih dari sekadar terbangun dari mimpi”.

BACA JUGA  Politik Islam dan Ketakutan Kaum Imperialis

Hasyim Muzadi terus bersemangat memberi nasihat. “Waktu akan mengantarkan kita memasuki alam lain yang masanya jauh lebih panjang daripada waktu di  dunia. …… Maka, mari dengan segela kerendahan, memelas kepada Allah agar kita dapat berbuat. Berbuat sesuatu yang dapat menyadarkan kita betapa kecil kita di hadapan kebesaran Allah Swt. ….. Betapa bukan siapa-siapa diri ini tanpa kehadiran Allah dalam kehidupan kita sehari-hari”.

Hasyim Muzadi ingat Khalifah Umar bin Khattab Ra yang juga telah mengingatkan kita tentang waktu. Bahwa, “Waktu ibarat pedang yang tajam. Kalau kau tak kuasa memotong waktu, maka waktulah yang akan memotongmu”.

Terakhir, simpul Hasyim Muzadi, “Daftar kelemahan dan kekurangan akan makin lengkap sesuai bertambahnya umur. Daftar inilah yang akan menyelamatkan kita. Daftar kekurangan dan kelemahan menjadi alat paling menakjubkan agar kita selalu ingat betapa kita sangat butuh pertolongan Allah. ….. Mari terus sadar diri bahwa kita memang makhluk yang lemah dan hina”.

Apapun, atas tulisan Hasyim Muzadi itu kita lalu ingat Tafsir Al-Azhar, yang di dalam bahasan QS Al-‘Ashr HAMKA menulis: “Diperingatkanlah masa (waktu,pen.) itu kepada kita dengan sumpah, agar dia jangan disia-siakan, jangan diabaikan. Sejarah kemanusiaan ditentukan oleh edaran masa”. Dengan demikian, tampak bahwa pesan HAMKA itu serupa dengan nasihat Hasyim Muzadi.

Terus Bersemangat

Kematian seseorang menjadi nasihat bagi yang masih hidup. KH Hasyim Muzadi telah mendahului kita. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Pesantren Al-Hikam Depok. Semoga Allah mengampuni semua kekhilafannya dan mempahalai semua amal shalihnya termasuk ketika beliau menasihati kita di tulisan terakhirnya itu: “Sebagai hamba Allah, mestinya tak ada detik yang lewat tanpa amal saleh. Sebab, waktu yang tersedia tidaklah banyak”.

BACA JUGA  Musibah Syiah di Negeri Sunni

Jadi, seperti KH Hasyim Muzadi, jangan pernah berhenti bergerak dalam lingkup kebaikan. Jangan pernah lelah dalam berdakwah! []

No Response

Leave a reply "KH. Hasyim Muzadi dan Pergerakan Tiada Henti"