KH. Abdussomad Buchori:Tegas Terhadap Paham Spilis

Written by | Nasional

Sosok KH. Abdussomad Buchori selama ini dikenal sebagai salah satu ulama yang menentang keras paham spilis (sekularisme, liberalisme dan pluralisme).  Maklum, menurut ketua MUI Jawa Timur ini, paham tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam. “Penggunaan istilahnya saja sudah tidak tepat, apalagi isinya,”ujarnya.

Karena itu ketika Presiden SBY menyematan Gelar “Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme” untuk Gus Dur, ia menentang keras. “Kami tidak sependapat jika Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme seperti diungkapkan Presiden saat pemakaman Gus Dur. Sebab hal itu dapat menimbulkan konflik agama,” katanya.

Ia menilai, pluralisme adalah faham pencampuradukan beberapa ajaran agama sehingga sangat berbahaya terhadap kehidupan beragama di Indonesia.

“Ada dua hal yang membahayakan hubungan umat beragama di Indonesia, yakni radikalisme agama dan pluralisme agama,” katanya dalam sidang Badan Pembina Pahlawan Daerah Jatim untuk membahas pengusulan Gus Dur sebagai pahlawan nasional.

Kyai Abdus Shomad menyatakan, sejak Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme, MUI Jatim kebanjiran surat protes dari berbagai kalangan.

“Yang benar adalah pluralitas, bukan pluralisme. Pluralitas adalah upaya untuk mensejajarkan beberapa agama. Ini harus dicermati agar tidak memicu konflik karena adanya pelanggaran akidah,” katanya mengingatkan.

Menurutnya, pluralisme dan multikulturalisme adalah istilah bikinan dari luar Islam. Kalau dicocokkan dengan aqidah Islam, kurang lebihnya, pluralisme dan multikulturalisme itu adalah kemusyrikan baru, lebih berbahaya dari kemusyrikan yang dijajakan oleh kaum musyrikin Quraisy. Karena musyrikin Quraisy di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kepada kemusyrikan dengan syarat Muslimin agar ikut menyembah berhala mereka selama setahun, kemudian setahun berikutnya musyrkin Quraisy mau menyembah Allah Ta’ala bersama Ummat Islam. Maka langsung ditolak oleh Allah Ta’ala dengan sangat tegas, dengan satu surat penuh yakni Surat Al-Kafirun.

Dengan adanya penolakan dari MUI Jawa Timur dan dibenarkan oleh pengurus NU lainnya, berarti penyematan gelar tersebut tidak syah dan tidak tepat.

Ini bisa diartikan, apa yang dicanangkan oleh orang liberal, Ulil Abshar Abdalla dan konco-konconya, yang menyuara agar hari kematian Gus Dur dijadikan Hari Pluralisme Indonesia, otomatis tertolak!

 

Produktif Menulis

Lahir di Dukuh Sasap Modongan Soko Mojokerto, 3 April 1943 ini, Kyai Abdussomad berasal dari keluarga santri. Kyai Buchori, ayahnya, salah satu ulama yang disegani di Dukuh Sasap. Dari garis ibu, Hj Hannah, masih merupakan cucu Kyai Mimbar Sambong yang kemudian diambil anak oleh Kyai Hadroi dari Mayangan Jombang.

“Saya ini cuma anak kyai kampung, bapak saya namanya Kyai Buchori yang namanya saya pakai untuk nama saya,” ujar KH Abdussomad.

Tak terlalu mengherankan kalau dalam catatan perjalanan karirnya, kyai satu ini  tidak pernah lepas dalam aktivitas keagamaan.

Menempuh pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Bustanul Ulum di Sasap Modongan Mojokerto, Kyai Somad kemudian menimba  ilmu di Ponpes Darul Ulum Peterongan Jombang pada tahun 1955.   

Lepas tahun 1963, ia menamatkan pendidikannya di Ponpes Darul Ulum dan kemudian pindah ke Surabaya. Tujuannya, ingin memperdalam ilmunya di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Di perguruan tinggi ini ia pun memilih Fakultas Syariah.

Di dunia kampus inilah, keterampilan berorganisasinya makin terasah. Bahkan menyebabkan studinya molor. “Seharusnya saya harus sudah lulus tahun 1970, tapi molor hingga tahun 1973 karena lebih banyak aktif di organisasi kemahasiswaan,” kenang Kyai Somad.

Ia menceritakan dirinya sempat diingatkan rekan-rekannya agar mengurangi aktivitas berorganisasi dan segera menyelesaikan kuliah. Selama berkuliah, Kyai Somad menceritakan dirinya pernah mengajar di TPP Khodijah Jl Wonokromo dan mengajar di Fakultas Adab dan Ushuludin mulai 1969 hingga 1975.

Aktivitas mengajar mulai sedikit demi sedikit ditinggalkan ketika ia mulai mengawali karirnya di Kantor Gubernur pada tahun 1976. “Saya sempat berkonsultasi dengan para kyai karena dengan masuk menjadi pegawai negeri makin banyak aktivitas mengajar saya yang berkurang bahkan ditiadakan,”ujar Kyai Somad.  

Selain diterima di Pemprov, Kyai Somad mengatakan dirinya sebenarnya juga diterima mengajar di Unair. “Saya juga diminta mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan IKIP Surabaya (sekarang Unesa),” ujarnya.

Kyai Somad akhirnya memilih menjadi pegawai Pemprov setelah ia diangkat sebagai sebagai PNS pada tahun 1980. “Waktu itu saya diangkat menjadi pegawai negeri golongan  III a, menjadi Kasubag Pembinaan Keagamaan,” ujarnya.

Karena posisinya itu dan ditambah keahliannya berpidato, membuat Kyai Somad sering ditunjuk mewakili atasannya memberikan ceramah, termasuk memberikan ceramah di sejumlah institusi, dan  di RKPD (radio khusus pemerintah daerah) yang kini sudah tidak ada.           

Kepiawaian dalam berorganisasi serta pandai berpidato ditambah dengan wawasan keagamaan yang cukup, ia pun ditunjuk menjadi Kepala Sub Bagian Agama, Pendidikan dan Keagamaan Biro Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Pemprov Jatim. Ini berlangsung hingga tahun 1985.

Pada saat menjabat posisi ini, Kyai Somad sering dipercaya menjadi salah satu ofisial kontingen Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Salah satunya menghadiri MTQ di Pontianak yang akhirnya kontingen Jawa Timur meraih juara.

Kyai Abdus Somad mengaku sangat terkesan  saat mengantar kontingen Jatim ke MTQ di Pontianak. Tak hanya karena juara, karena pernik-pernik selama berada di Pontianak.  “Waktu itu kami  sempat kebingungan karena harus memikirkan surat pertanggung jawaban (SPj) sepulang dari Pontianak. Karena saking pingin iritnya kami harus makan di warung supaya pengeluaran tidak  banyak,” kenang Kyai Somad. “Alhamdulillah ternyata waktu itu kontingen kita menang MTQ, dan akhirnya tidak ada yang menanyakan SPJ-nya,” ujar bapak lima anak ini sambil tersenyum.

Lebih membanggakan lagi, kata Kyai Somad, sekalipun dirinya hanya juara qori di ponpes, namun ia sering mengantarkan kontingen Jatim juara Nasional.   

Bertahun-tahun di kantor gubernur, Kyai Somad pun akhirnya ditempatkan di Balai Diklat Pemprov Jatim di Jl Balongsari Surabaya. “Saya ditempatkan di Balai Diklat lebih 15 tahun. Di sini, saya sering memberikan materi penataran kepada pejabat. Makanya alhamdulillah banyak pejabat yang kenal saya,” ujar kakek satu cucu ini. Aktivitas berorganisasi di luar pemerintahannya bejibun setelah ia tak lagi menjadi pegawai Pemprov.      

Beberapa jabatan organisasi pun dipegangnya, termasuk menjabat sebagai Ketua I Jam’iyatul Qurro’ wal Huffadz Pusat (2000-2005), Ketua LPTQ Jatim (2004-2009), diangkat sebagai Purek III Universitas Islam Majapahit (2004), Ketua PHBI Provinsi Jawa Timur, Dewan Pertimbangan BAZ Jawa Timur (2006).

Termasuk aktif di LP Maarif Propinsi Jatim dan di bagian dakwah Pengurus Wilayah NU Jatim. Sekalipun demikian, ia juga menjadi widya iswara luar biasa di Balai Diklat Propinsi Jawa Timur.

Kyai Somad yang juga Imam Besar Masjid Nasional Al Akbar Surabaya ini mengatakan, sebelum menjadi ketua umum MUI Jatim, ia pernah menjabat posisi sebagai sekretaris. “Saya menjabat sebagai seketaris MUI Jatim selama 20 tahun dari 1980-2000. Baru kemudian saya diangkat menjadi ketua harian mulai tahun 2000 hingga 2005, nah setelah itu saya dipilih menjadi ketua umum dan terpilih lagi dalam musda di Surabaya,” ujar Kyai Somad.

Pada saat itu pun, ia juga menjabat sebagai Direktur Tarbiyah Masjid Al Akbar dan Dewan Pakar Ikatan Sarjana NU serta menjadi a’wan Syuriah PW NU Jatim.        

Meski sibuk dengan berbagai jabatan dan berdakwah di sejumlah wilayah di Indonesia, Kyai Abdus Somad masih menyempatkan diri untuk menulis. Beberapa karya tulisannya di antaranya sudah ada yang diterbitkan dalam bentuk buku, di antaranya: ‘101 Masalah Hukum Islam’, ’Tafsir Surat Al-Fatihah’, ‘Perkembangan Tafsir Al-Quran dari Masa ke Masa’, ‘Zakat: Sebuah Potensi yang Terlupakan’.

Tak hanya itu, pria kelahiran Dukuh Sasap Modongan Soko Mojokerto ini juga menghasilkan beberapa karya tulis lepas dan beberapa lainnya yang dipresentasikan untuk seminar tingkat regional dan nasional. “Ini aktivitas saya yang sering saya lakukan,” ujarnya. ziz

 

Punya Sawah Juga untuk Berdakwah

KH Abdussomad Buchori merupakan tipikal ulama yang suka bekerja keras. Selain mengejar kepentingan ukhrawi, juga tak ingin tertinggal secara duniawi. “Secara ekonomi alhamdulilah, kami tidak kekurangan,” ujar Kyai Somad. Ia menceritakan kalau keluarganya saat ini memiliki lahan persawahan di sejumlah daerah seperti di di Mojokerto. “Yang mengelola anak saya, terkadang kalau pas Sabtu dan Minggu, kami sekeluarga pergi ke sana sambil rekreasi,” ujarnya.

Kyai Somad mengatakan, dengan persawahan, banyak warga yang semula suka berbuat maksiat seperti suka minuman keras, nggak pernah shalat akhirnya juga berhenti karena ikut pengajian.      

Bahkan sawahpun dijadikan sebagai lahan dakwah. “Saya sedang mengusulkan MUI agar mempunyai desa binaan,” ujar Kyai Somad.

Kyai Somad mengatakan, saat ini sedang konsentrasi membangun Darus Syifa’ Shomadiyah Center di Wonocolo Sepanjang. “Ini yang nanti menjadi cikal bakal pesantren, saat ini dalam proses pembangunan,” ujarnya. (Mjhd/r)

 

BACA JUGA  Islamia-Republika: Liberalisasi Syariat Islam

Last modified: 26/04/2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *