Ketika FPI Memilih ‘Tangan’

No comment 674 views

 

Tak Sepi

Nama FPI (Front Pembela Islam) memiliki makna terang. Organisasi itu berdiri untuk membela (umat) Islam. Di situsnya –www.fpi.or.id– tertulis visi-misi FPI: menegakkan amar ma´ruf nahi munkar untuk penerapan Syari´at Islam secara káffah. Ditulis juga, FPI adalah “Pelayan Ummat dan Pembela Agama”.

Tapi, kita tahu, jalan yang seperti dipilih FPI tak akan pernah sepi dari cobaan. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar” (QS Ali-‘Imraan [3]: 142).

Apa jihad? Salah satu makna jihad adalah memberantas yang bathil dan menegakkan yang haq. FPI –tampaknya- mengambil posisi di aspek ini.

Langkah-langkah FPI tak sepi dari ‘rintangan’. Lihat, aksi pengepungan yang dilakukan sejumlah orang di bandara Palangkaraya pada 11/02/2012 terhadap sejumlah pengurus FPI pusat dari Jakarta yang berencana melantik pengurus FPI setempat. Akibatnya, mereka tak bisa turun.

Di kejadian itu FPI memiliki foto-foto yang memerlihatkan pengepung membawa senjata tajam, seperti mandau. Tapi, ajaib! Opini publik terjungkir-balik saat aksi pengepungan itu justru dijadikan pintu masuk kalangan liberal untuk menuntut pembubaran FPI.

Lihatlah aksi mereka pada 14/02/2012. Situs www.suarapembaruan.com 14/02/2012 menurunkan judul “Jaringan Islam Liberal Pimpin Aksi Demo Indonesia Tanpa FPI”. Siapa saja pendukung aksi di Bundaran HI Jakarta itu? Luna Maya dan Ulil Ikut Dukung Anti FPI,” tulis www.hidayatullah.com 14/02/2012.

Namun, subhanallah, penolakan atas tuntutan itu sekaligus dukungan atas FPI datang dan terus mengalir. Gerakan ‘Indonesia Tanpa FPI’ pada 14/02/2012 itu direspons sinis oleh Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan Hasrul Azwar. “Gerakan Indonesia tanpa FPI itu diskriminatif, karena gerakan itu membantah sebuah fakta di tengah-tengah masyarakat. FPI itu ada dimana-mana,” kata dia (www.inilah.com 15/02/2012).

Mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi mengatakan, jika rencana pembubaran FPI melalui perbaikan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, sebaiknya juga sekalian pembubaran terhadap organisasi yang menjadi kepanjangan dan kepentingan asing di Indonesia. Termasuk organisasi yang bekerja di bidang ideologi, politik, ekonomi, ataupun budaya karena orientasi asing ini yang merusak NKRI.

Hasyim mengatakan, organisasi proasing lebih pintar mengambil tema-tema kemanusiaan dan demokrasi daripada FPI. FPI jelas NKRI-nya sekalipun seringkali tidak taktis, sebut Hasyim.

Lebih jauh -kata Hasyim-, kekerasan di Indonesia lebih banyak disebabkan karena ketidakadilan, hilangnya keteladanan, dan penyalahgunaan kekuasaan serta jahatnya kapitalisme (www.kompas.com 15/02/2012).

Pada 16/02/2012 Arifin Ilham mengajak umat Islam mendukung langkah FPI melawan kemunkaran. Dia ingatkan tentang peran yang dipilih FPI. Bahwa jika kita melihat kemunkaran, cegahlah dengan tangan (kekuasaan, kekuatan). Jika tak bisa, lewat lisan: melarang, menasihati, dan yang serupa dengan itu. Jika cara itupun juga tak mampu, maka lawanlah dengan hati. Pilihan yang terakhir itu tergolong sebagai selemah-lemah iman. FPI –kata Arifin Ilham- telah memilih untuk menjadi ‘tangan’.

Dukungan kepada FPI juga datang dari Masyhuril Khamis, Ketua Pengurus Besar Al-Washliyah. “Di saat akhlak semakin rusak, keberadaan ormas Islam termasuk FPI sebagai wadah penjaga akhlak sangat dibutuhkan,” kata dia pada 16/02/2012.

Masih pada hari yang sama, www.hidayatullah.com mewartakan bahwa ratusan orang yang tergabung dalam Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) berunjuk rasa.
Massa yang terdiri dari santri Ponpes Al-Mukmin Ngruki, FPI Solo, JAT Surakarta, Dewan Dakwah Islam Indonesia Jawa Tengah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, KOKAM, Majelis Taklim Al-Ishlah, dan Forum Ukhuwah Jama’ah Masjid (Fujamas) Surakarta mendukung FPI, agar tidak dibubarkan.

Tak hanya sekarang FPI ‘disoal’ dengan target akhir pembubarannya. Pada 2008, misalnya, saat banyak kalangan Islam –termasuk FPI- meminta pembubaran Ahmadiyah, malah FPI yang ‘diserang’ oleh kalangan tertentu.

Kala itu, Ketua MUI Cholil Ridwan tegas mendukung FPI dan menyatakan bahwa umat Islam wajib bela FPI. Menurut dia, FPI adalah ormas Islam pembela Islam yang nyata-nyata menegakkan syariat agama. “Kita umat Islam wajib membela FPI. Kalau ada orang Islam sekarang masih bisa tidur nyenyak sementara FPI dizalimi, maka perlu ditanyakan dia mukmin atau tidak,” kata Cholil (www.muslimdaily.net 08/06/2008).

 

Pilihan Itu

Aktif melakukan nahi munkar itu mulia dan pelakunya tergolong kelompok yang beruntung. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali-‘Imraan [3]: 104).  

Sungguh, jika kita ingin menjadi umat terbaik, maka itu bersyarat tiga: Beriman kepada Allah, melakukan nahi munkar dan mengerjakan amar ma’ruf. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS [3]: 110).

Berhati-hatilah! Azab Allah akan turun dan bisa menimpa siapa saja, jika di sekitar kita ada kemaksiatan/kemunkaran dan itu kita biarkan. Oleh karena itu, kita harus aktif bernahi munkar. “Tidaklah dari satu kaum berbuat maksiat, dan di antara mereka ada orang yang mampu untuk melawannya, tetapi dia tidak berbuat itu, melainkan hampir-hampir Allah  meratakan mereka dengan azab dari sisi-Nya (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah). “Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemunkaran, sedangkan mereka tidak mengubahnya, maka datanglah saatnya Allah menjatuhkan siksa-Nya secara umum (HR Abu Dawud).

Jadi, agar selamat, aktiflah bernahi munkar! Aktiflah menjadi ‘tangan’ saat melihat kemunkaran! Tetapi, karena jalan untuk itu tak gampang, maka bekalilah diri kita dengan sikap sabar yang tahan uji. []

BACA JUGA  Berbeda, antara Penafsiran dan Penistaan Agama
No Response

Leave a reply "Ketika FPI Memilih ‘Tangan’"