Keterasingan Manusia Menurut Karl Marx (Tinjauan Kritis)

Written by | Pemikiran Islam

human-being

Oleh : Derajat Fitra Marandika

Inpasonline.com-Alienasi atau keterasingan adalah salah satu konsep penting pemikiran Karl Marx (1818-1883 M) dalam mengkritik sistem kapitalisme. Marx menggunakan konsep alienasi untuk menyatakan pengaruh produksi kapitalis terhadap manusia dan masyarakat. Magnis Suseno menjelaskan bahwa Marx mengkritik kapitalisme sebagai sumber penyebab keterasingan manusia karena sistem hak milik pribadi kapitalis memecah belah manusia ke dalam kelas-kelas sosial dan menyelewengkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi terhadap sesama manusia. Lantas Marx memusatkan perhatian pada penghapusan hak milik pribadi dengan menyatakan bahwa faktor penentu sejarah manusia bukanlah politik atau ideologi melainkan sistem ekonomi. Marx kemudian memusatkan perhatian pada sistem ekonomi kapital hingga berpendapat bahwa kapitalisme akan mengalami kehancurannya sendiri akibat penghisapan kaum pekerja menghasilkan pertentangan kelas tajam sehingga menimbulkan revolusi kelas pekerja dan pada akhirnya mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas.
Konsep alienasi merupakan salah satu bagian dari gagasan sosialisme Marx yang memikat berbagai kalangan, termasuk di antaranya dari kalangan pemikir Muslim sehingga menyerukan untuk menggunakan Marxisme sebagai kerangka teoritis guna mencari solusi bagi permasalahan umat dewasa ini. Pemikiran Marx dinilai memihak pada masyarakat kecil tertindas dan relevan untuk menyadarkan masyarakat bahwa kemiskinan atau penindasan bukan sebuah realitas deterministik melainkan disebabkan oleh sistem dan struktur kapitalisme. Pemahaman tentang eksploitasi kaum kapitalis, perombakan sistem kapitalisme, penghapusan hak milik pribadi hingga perjuangan kelas mewujudkan masyarakat tanpa kelas sebagai bentuk pembebasan manusia dari keterasingan diri digulirkan. Sementara perangkat teoritik dari akar tradisi dan sejarah Islam dianggap kurang relevan lagi untuk memecahkan permasalahan kontemporer sehingga perlu untuk ditafsirkan ulang agar sesuai dengan situasi masyarakat hari ini.
Bagi seorang Muslim, tentu tidak bijak jika terburu-buru menghujat seruan tersebut, namun juga tidak seharusnya meninggalkan khazanah keilmuan dalam tradisi Islam. Karena pada kenyataannya, baik kapitalisme maupun sosialisme Marx sama-sama lahir dari paradigma Barat sekular yang prinsip pemikirannya bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Adapun pemikiran Marx lebih spesifik bertumpu pada prinsip materialisme-dialektika yang dirumuskan dari pandangan Feurbach tentang hakikat dunia setelah menolak pemahamannya yang mekanistik dan dari dialektika Hegel setelah mengkritik pandangan sejarahnya yang tidak realistis. Materialisme menyatakan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh atau hakikatnya adalah realitas material, sedangkan dialektika menyatakan bahwa segala sesuatu selalu mengalami perubahan karena adanya kekuatan-kekuatan yang saling berkontradiksi dalam segala hal. Tanpa diiringi sikap kritis, gagasan ateistik tersebut akhirnya dianggap mampu melahirkan sebuah gerakan yang merubah sejarah kehidupan masyarakat.
Tentunya umat Islam mesti bersikap kritis terhadap konsep atau gagasan yang mengacu pada prinsip ajaran Marxisme tersebut. Jikapun ditemui konsep-konsep dalam Marxisme yang secara sekilas tampak berguna bagi penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan, seperti konsep keterasingan, secara mendasar tidak pasti sama dengan konsep atau gagasan yang lahir dari kerangka pemikiran Islam yang berpandukan wahyu Allah Swt. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengungkapkan bagaimana kerangka pemikiran Marx mengenai keterasingan manusia. Dengan harapan agar dapat menjadi gambaran mengenai sejauhmana relevansi pemikiran Marx tersebut dengan kerangka pemikiran Islam (Islamic Worldview).

1. Makna Keterasingan

Keterasingan atau alienasi berasal dari kata Inggris ‘Alienation’ dan dari kata Latin ‘Alienato’ yang berarti membuat sesuatu atau keadaan menjadi terasing. The Cambridge Dictionary of Psychology menjelaskan bahwa dalam psikologi eksistensial istilah alienasi digunakan untuk menggambarkan perasaan seseorang yang terpisah dari pengalaman sehingga pengalaman nampak asing baginya, bahkan seperti pertunjukan drama atau televisi daripada sesuatu yang nyata. Selain itu, dalam psikologi sosial, ‘alienasi’ sering digunakan untuk menggambarkan sebuah keadaan di mana seseorang merasa asing dari dirinya sendiri dan berpaling dari sekitarnya sehingga mendorong orang itu untuk bersikap bermusuhan terhadap orang lain atau masyarakat. Dengan demikan, keterasingan manusia adalah gangguan mental di mana seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri sehingga berpotensi menimbulkan efek destruktif bagi dirinya maupun bagi sekitarnya.
Analisis Marx mengenai gejala alienasi atau keterasingan diri merujuk kepada hubungan antara sifat dasar manusia dengan aktivitas pekerjaannya di dalam sistem kapitalisme. Marx percaya bahwa terdapat kontradiksi nyata antara sifat dasar manusia dengan cara manusia bekerja yang disebabkan oleh kapitalisme. Bagi Marx, kapitalisme memicu tindakan sewenang-wenang para pemilik modal untuk menindas dan memeras kaum pekerja demi kepentingannya sehingga menyebabkan pekerja teralienasi atau mengalami keterasingan dalam menjalani aktivitas pekerjaannya. Pekerjaan tidak lagi menjadi tujuan pada dirinya sendiri sebagai ungkapan dari kemampuan dan potensi diri, melainkan tereduksi menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan pemodal. Dengan kata lain, dalam kapitalisme manusia dialienasi atau diasingkan dari pekerjaan yang merupakan sifat dasarnya sebagai manusia. Oleh karena itu, untuk memahami keterasingan manusia menurut Marx, perlu memahami terlebih dahulu konsepsinya tentang sifat dasar manusia itu sendiri.

2.1 Manusia dalam Pandangan Marx

Konsepsi Marx tentang sifat dasar manusia mengacu pada sintesis antara naturalisme dan humanisme. Jika merujuk pada A Dictionary of Marxist Thought, naturalisme merupakan suatu ajaran yang menyatakan bahwa manusia adalah bagian dari alam, yang ia-nya bukanlah ciptaan sesuatu yang transenden, melainkan merupakan produk evolusi biologis yang panjang, yang pada satu titik mengalami perkembangan baru dan spesifik melalui sejarah manusia, yang muncul atas daya kreatif mandiri. Adapun humanisme adalah paham yang mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk praksis atau memiliki kemampuan untuk mentransformasikan alam dan menciptakan sejarahnya sendiri. Manusia memiliki kendali atas kekuatan alam yang dengan kendali tersebut dia dapat menciptakan lingkungan manusiawinya sendiri, mampu mengembangkan kapasitas diri dan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, yang kemudian menjadi titik awal untuk pengembangan diri berikutnya.
Marx membedakan antara sifat dasar manusia secara umum yang mangacu pada aspek naturalis atau biologis dan sifat khusus yang mengacu pada aspek humanis atau historis, yakni sifat yang dapat “dimodifikasi pada setiap tahapan-tahapan sejarahnya.” Artinya, dalam pandangan Marx, sifat dasar manusia tidaklah statis, tetapi selalu berubah sesuai perkembangan sejarah kehidupannya. Dalam Capital Marx mengungkapkan pandangannya tentang manusia, sebagai berikut:

“…untuk mengetahui apa yang bermanfaat bagi anjing, kita harus mempelajari sifat dasar anjing, tetapi anjing itu sendiri tidak disimpulkan dari prinsip kemanfaatan. Seperti hal nya dengan manusia, orang yang akan mengkritisi semua perilaku, gerakan, hubungan manusia dan sebagainya, dengan prinsip kemanfaatan, pertama-tama harus mempelajari sifat dasar manusia secara umum, dan kemudian mempelajari sifat manusia yang telah modifikasi dalam setiap kurun sejarah…”

Sejalan dengan perbedaan antara sifat dasar manusia dan cara sifat tersebut dimodifikasi dalam setiap tahapan sejarahnya, Marx membedakan dua jenis dorongan atau hasrat dalam diri manusia untuk menjalani kehidupannya: Pertama, dorongan atau hasrat diri manusia yang tetap, seperti nafsu makan, seksual atau hasrat terhadap kebutuhan material lainnya, yang merupakan bagian integral dari sifat dasar manusia, yang bentuk dan arahnya dapat berubah sesuai dengan tahapan sejarah kebudayaannya, dan, kedua dorongan relatif, yang bukan merupakan bagian integral dari sifat dasar manusia tetapi ditentukan oleh kondisi ekonomi, khususnya cara-cara produksi kebutuhan materialnya.
Bagi Marx, kesadaran atau hasrat diri manusia tersebut tidak menentukan keadaan produksi material, tetapi keadaan produksi material lah yang menentukan kesadaran dan hasrat manusia. Dalam hal ini, pandangan Marx tidak mengacu pada faktor yang subjektif dan psikologis, melainkan pada faktor ekonomi-sosiologis yang objekif. Keberadaan kondisi-kondisi objektif ini mendahului dan menentukan ruang aktivitas manusia, termasuk cara manusia memproduksi dan membangun relasi-relasi produksi atau organisasi-organisasi sosial untuk mengurusi kepentingannya.
Senada dengan hal tersebut, Marx pernah menjelaskan bahwa cara manusia memproduksi kebutuhan material pada awalnya tergantung pada alat-alat produksi materi yang aktual atau tersedia dan yang mana alat-alat tersebut dapat direproduksi. Cara manusia mereproduksi bukanlah sekedar menghasilkan eksistensi benda-benda fisik semata, tetapi merupakan suatu cara untuk mengekspresikan hidup secara pasti. Sebagai ekspresi kehidupan diri, sehingga dirinya yang utuh tercermin dalam aktivitas reproduksi, baik pada hasil ataupun pada cara mereproduksinya. Namun daripada itu, dalam proses reproduksi kebutuhan tersebut setiap individu manusia ditentukan oleh kondisi-kondisi material.” Dengan demikian, dalam pandangan Marx manusia adalah makhluk yang dikondisikan oleh realitas produksi material.
Namun, seperti yang dikemukakan sebelumnya, Marx juga merupakan seorang humanis yang memandang bahwa manusia adalah pencipta sejarahnya sendiri. Baginya sejarah manusia berbeda dengan sejarah alam. Manusia lahir bukan untuk menciptakan sejarah alam, melainkan untuk mentransformasikan realitas alam dan menciptakan sejarahnya sendiri. Faktor esensial dalam proses penciptaan itu adalah hubungan antara manusia dengan alam, yang mana pada awalnya manusia terikat dan terpilin dengan alam, namun seiring berjalannya waktu, pada akhirnya manusia mampu mentransformasikan realitas alam dan mengembangkan kehidupan dirinya sendiri. Realitas alam menyediakan dirinya sendiri sebagai sarana bagi eksistensi manusia dan sebagai objek material untuk dikelola manusia agar sesuai dengan tujuannya, sekaligus dengan pengelolaan tersebut manusia mentransformasikan hakikat kemanusiaannya sendiri. Sebagaimana dinyatakan oleh Marx dalam Grundrisse sebagai berikut:

BACA JUGA  Izzuddin Abdissalam, Mulya dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

“Tidak hanya kondisi objektif yang berubah di dalam aktivitas reproduksi… tetapi para produser pun berubah, mereka menghasilkan kualitas-kualitas baru di dalam diri mereka sendiri, mengembangkan diri mereka sendiri di dalam produksi, mentransformasikannya, mengembangkan kekuatan-kekuatan, ide-ide, berbagai bentuk hubungan, kebutuhan-kebutuhan, dan bahasa baru.”
Pekerjaan manusia mentransformasikan kebutuhannya, untuk menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru. Sebagai contoh, produksi handphone untuk memenuhi kebutuhan manusia berkomunikasi jarak jauh membawanya pada kebutuhan software dan pemutakhiran perangkat-perangkat lainnya. Ketika pertama kali ditemukan, hanya sedikit orang yang berpikir bahwa mereka benar-benar membutuhkannya, tetapi sekarang kebanyakan orang bahkan rela antri berjam-jam demi mendapatkan handphone canggih terbaru idamannya. Menurut Marx, tranformasi kebutuhan melalui proses kerja atau aktivitas produksi material inilah yang menjadi motor perkembangan sejarah kehidupan manusia. Berkenaan dengan hal tersebut, Erich From menyatakan sangatlah penting untuk memahami ide mendasar Marx bahwa manusia adalah pencipta sejarahnya sendiri. Dengan demikian, dalam pandangan Marx manusia adalah makhluk yang didahului dan ditentukan oleh keadaan produksi material, tetapi dengan aktivitas produksi materialnya manusia juga adalah pencipta sejarah manusia itu sendiri.

2.2 Keterasingan Manusia Menurut Marx

Analisis keterasingan manusia menurut Karl Marx sebagaimana dipopulerkannya dalam Manuskrip Ekonomi dan Filosofisnya tahun 1844, adalah untuk mendeskripsikan hubungan sifat dasar manusia dengan pekerjaan di bawah kendali kapitalisme. Marx percaya bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk kreatif, yaitu melalui pekerjaannya, manusia mampu mentransformasikan kebutuhan material untuk membangun kembali dunia material, dan bersamaan dengan itu, merealisasikan beberapa bagian dari hakikat dirinya ke dalam hal-hal yang dikerjakannya itu atau ke dalam produk dari pekerjaannya. Namun, dalam masyarakat kapitalis, Marx melihat bahwa sistem pembagian kerja dan hak milik pribadi memiliki hak atas alat produksi dalam sistem kapitalisme telah menyelewengkan hubungan sifat dasar manusia dari aktivitas kerjanya sehingga menyebabkan manusia mengalami keterasingan.
Aktivitas kerja yang semestinya membawa kebahagiaan, karena merupakan sarana untuk mengekspresikan esensi kemanusiaan, justru bagi banyak orang tidak lagi demikian, khususnya para pekerja dalam sistem kapitalisme. Sistem produksi kapitalis menciptakan mekanisme ekonomi pasar yang menghendaki kepemilikan pribadi atas seluruh sarana produksi oleh para pemilik modal, mulai dari lahan, alat-alat produksi, harta kekayaan bahkan ketenagakerjaan, sehingga kaum pekerja tidak lagi bekerja atas dasar ide dan kehendak diri melainkan karena dipaksa atau terpaksa untuk memenuhi tuntutan para pemilik modal agar dapat bertahan hidup. Selain itu, pembagian kerja juga menjadikan manusia kehilangan sarana untuk mengungkapkan sifat dasarnya yang merupakan ungkapan keinginan, rencana, dan kehendaknya dalam aktivitas produksi.
Pekerjaan akhirnya membuat manusia mengalami keterasingan diri, yaitu situasi di mana manusia kehilangan kendali atas hidupnya terutama dalam proses bekerja sehingga mengambil sikap bermusuhan dari sekitarnya, merasa asing dari dirinya sendiri dan merasakan hidup tidak berarti, tidak memuaskan, dan tidak sepenuhnya manusiawi. Inilah basis dari fenomena keterasingan diri sebagaimana Marx gambarkan dalam The Economic and Philosophical Manuscripts sebagai berikut:

“Apa arti alienasi kerja itu ? Pertama, bahwa kerja menjadi bersifat eksternal bagi pekerja, artinya, bekerja tidak lagi merupakan bagian dari sifat dasarnya; sehingga dia tidak memenuhi dirinya sendiri dalam bekerja, tetapi malah menyangkal dirinya, pekerja lebih menderita daripada menjadi makhluk yang baik, dia tidak mengembangkan daya fisik dan juga mentalnya secara bebas, tetapi justru lelah secara fisik dan mentalnya melemah. Oleh karenanya, pekerja hanya merasa nyaman dengan dirinya ketika berada di luar pekerjaanya, namun ketika dalam pekerjaannya dia justru merasa di luar dirinya… Pekerjaannya tidak dilakukan berdasarkan kerelaannya, melainkan atas keterpaksaan. Bekerja tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar, melainkan hanya menjadi alat untuk memenuhi tuntutan pekerjaannya saja… walhasil, sisi eksternal pekerjaan bagi pekerja ditunjukkan oleh fakta bahwa pekerjaan itu bukanlah miliknya sendiri, tetapi milik orang lain, dan ketika bekerja, pekerja tidak menjadi miliknya sendiri, melainkan milik orang lain.”

Dari kutipan di atas, terdapat empat sisi keterasingan manusia dalam hubungannya dengan kerja. Keterasingan pekerja dari produk kerja, keterasingan dari aktivitas kerja sendiri, keterasingan dari potensi kemanusiaannya sebagai individu, dan keterasingan dari lingkungannya. Keterasingan pekerja dari produk bermaksud bahwa barang yang dihasilkan menjadi menghadapinya sebagai objek asing atau sebagai kekuatan independen yang melebihi dirinya. Misalnya, buruh tani miskin harus membeli beras dari hasil panen mereka sendiri dengan harga yang melebihi kemampuannya. Terasing dari aktivitas kerja artinya pekerjaaan yang semula bagian dari sifat internal manusia berubah menjadi bersifat eksternal karena tidak melibatkan hasrat batin dan tenaga fisik berdasarkan kerelaan, sehingga bukan kepuasan yang diperoleh, melainkan untuk memenuhi tuntutan kerjanya. Kemudian, keterasingan dari potensi kemanusiaan berarti bahwa pekerja tidak lagi mampu mengenali potensi dirinya secara utuh karena di bawah kendali keterpaksaan. Dan terasing dari lingkungan adalah akibat terbaginya masyarakat menjadi kelas pemilik modal dan kelas para pekerja, di mana masing-masing individu, baik di dalam maupun di antara dua kelas tersebut memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga menyebabkan keterasingan satu dengan yang lainnya dan memicu konfrontasi berkelanjutan.
Marx berasumsi bahwa gejala keterasingan yang mengalir sepanjang sejarah mencapai puncaknya dalam masyarakat kapitalis, dan bahwa kelas para pekerja merupakan kelompok yang paling mengalami keterasingan. Konsepsi Marx dewasa tentang manusia yang mengalami keterasingan diungkapkan dalam Capital, dalam apa yang disebutnya sebagai fetisisme komoditas atau pemujaan komoditas. Produksi kapitalis mentransformasikan hubungan antar manusia menjadi hubungan antar komoditas, dan transformasi itu menujukkan watak kepemilikan pribadi menjadikan komoditas dalam sistem produksi kapitalis sebagai pengatur manusia itu sendiri. Seperti halnya agama, yang sebetulnya dikendalikan oleh hasil pikirannya sendiri, akibat produksi kapitalis, di mana manusia diatur oleh hasil produksi tangannya sendiri. Senada dengan hal itu, keterasingan dalam hal agama hanya terjadi dalam pikiran manusia, sedangkan keterasingan dalam hal ekonomi merupakan keterasingan dalam kehidupan nyata.

2. Pembebasan Manusia dari Keterasingan

3.1 Landasan Pemikiran

Materialisme dialektika merupakan buah dari kajian kritis Marx terhadap pemikiran materialisme Feurbach yang dianggapnya sebagai pemikiran kontemplatif semata dan terhadap pemikiran idealisme Hegel yang dianggapnya tidak realistis. Dalam Tesis Tentang Feuerbach, Marx mengemukakan kritiknya terhadap Feuerbach di antaranya sebagai berikut:

“Kelemahan utama materialisme yang ada termasuk materialisme Feuerbach adalah mengenai kebendaan, kenyataan, atau kepancainderaan yang hanya dipahami dalam bentuknya sebagai objek atau suatu renungan, bukan sebagai aktivitas manusia yang inderawi dan praktis, atau bukan secara subjektif. Sebagai kebalikan dari materialisme, sisi aktif suatu objek dikembangkan secara abstrak oleh idealisme, yang tentu saja tidak mampu memahami aktivitas inderawi sebagaimana yang dikatakan tersebut. Feuerbach telah membedakan antara objek inderawi dengan objek berpikir, tetapi dia tidak memahami aktivitas manusia itu sendiri sebagai aktivitas yang objektif.

BACA JUGA  Tauhid Vis a Vis Pluralisme Agama

Kritik terhadap Feuerbach tersebut menujukkan bahwa Marx menginginkan sebuah pemikiran mengenai realitas alam yang tidak sebatas perenungan semata, tetapi mampu melahirkan aktivitas manusia di dalam kenyataan. Berkenaan dengan itu, juga dikatakan bahwa para ahli filsafat hanya telah mempersepsi atau menafsirkan dunia, sementara persoalan sebenarnya adalah tentang bagaimana mengubahnya. Adapun kritik Marx terhadap Hegel dalam Capital sebagai berikut:

“Metode dialektika saya, bukan hanya berbeda dengan Hegel, melainkan berlawanan dengannya. Bagi Hegel, proses berpikir merupakan suatu subjek yang independen, yaitu “Ide,” merupakan penentu dunia yang hakiki, dan dunia yang hakiki hanyalah sekedar bentuk eksternal dari “Ide.” Bagi saya, sebaliknya, ide bukanlah apa-apa kecuali merupakan cerminan dari dunia materi dalam pikiran manusia, dan diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk pemikiran.”

Dalam kutipan di atas Marx menyatakan bahwa pendekatannya adalah pendekatan yang berpijak pada realitas material yang berlawanan dengan pendekatan idealisme Hegel. Marx mengupayakan konsepsi materialis tentang dialektika dalam sejarah manusia secara ilmiah. Penerapan metode materialisme-dialektika sehingga menyentuh kehidupan nyata manusia, khususnya bidang ekonomi dan sosial masyarakat dikenal dengan istilah materialisme-historis. Marx menjelaskan materialisme historis secara umum sebagai berikut:

“Di dalam proses produksi sosial yang dilakukannya, manusia memasuki hubungan-hubungan tertentu yang pasti dan tidak bergantung pada keinginan mereka. Hubungan-hubungan produksi ini bergantung pada suatu tahap tertentu dari perkembangan kekuatan-kekuatan produksi material mereka. Keseluruhan hubungan produksi ini membentuk struktur ekonomi masyarakat yang merupakan basis bagi super-struktur hukum, politik, dan spiritual yang berhubungan denganbentuk-bentuk kesadaran sosial tertentu secara jelas…Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan ekonomi masyarakat, melainkan struktur ekonomi masyarakat yang menentukan kesadarannya… pada tahap tertentu dari perkembangan mereka, kekuatan-kekuatan produksi material di dalam masyarakat berkonflik dengan hubungan-hubungan produksi yang ada… kemudian muncul suatu periode revolusi sosial. Ketika basis ekonomi mengalami perubahan, keseluruhan superstruktur juga mengalami perubahan yang kurang lebih sama.”

Dalam kutipan tersebut Marx membagi lingkup kehidupan manusia menjadi dua bagian, yakni “basis” dan “bangunan atas”. Basis adalah kekuatan-kekuatan produksi material atau struktur ekonomi masyarakat, sedangkan super-struktur atau bangunan atas meliputi proses kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Bagi Marx,struktur ekonomi masyarakat atau basis itulah yang menentukan kesadaran dan keadaan masyarakat, bukan sebaliknya. Hal ini senada dengan pernyataan Marxdi lain tempat yang menjelaskan bahwa “ide, konsepsi, ataupun kesadaran manusia, pada awalnya terjalin langsung dengan cara produksi material, kemudian terbentuk hubungan-hubungan produksi material atau institusi-institusi antara sesama manusia sebagai sebuah bahasa kehidupan yang nyata. Adapun proses memahami, berpikir, dan hubungan mental dengan manusia lainnya muncul sebagai akibat langsung dari aktivitas produksi materialnya. Hal yang sama juga berlaku pada produksi mental yang diekspresikan dalam bahasa politik, hukum, moralitas, agama dan metafisika suatu masyarakat.
Sebagaimana dikatakan bahwa Marx menghendaki pemikiran yang dinamis dan tindakan nyata. Marx menempatkan paham materialismenya dalam lingkup dialektika yang berangkat dari realitas kehidupan manusia, yakni dengan memperhatikan kesalinghubungan antara manusia dengan struktur ekonomi masyarakat dalam perkembangan sejarahnya. Pada suatu tahapan tertentu, struktur ekonomi bertentangan dengan hubungan-hubungan produksi yang ada. Ketika hal ini terjadi, yakni ketika cara-cara produksi yang dikembangkan tidak dapat sepenuhnya dimanfaatkan oleh institusi yang ada, sehingga tiba saatnya revolusi sosial. Dengan demikian,prinsip materialisme dialektika memiliki dua pola pemikiran, yakni menyatakan bahwa kesadaran atau kehidupan manusia tidak menentukan realitas material atau keadaan ekonomi masyarakat, tetapi sebaliknya, realitas yang menentukan kehidupan manusia. Dan menyatakan bahwa dengan tindakan atau aktivitas produksi materialnya, manusia dapat mengubah keadaan ekonomi masyarakat itu sendiri.
Meskipun dua pola pemikiran tersebut yang dikembangkan Marx, pemikiran Marx pada dasarnya adalah materialisme. Prinsip pemikiran Marx ini tidak berbeda dengan para pemikir materialisme sebelumnya, yakni bertumpu pada keyakinan bahwa kenyataan adalah bersifat materi dan menjadikan hasil observasi inderawi sebagai landasan berpikir. Dengan demikian, pemikiran Marx jelas menafikan keberadaan Tuhan pencipta, keabsahan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, dan kebenaran agama karena agama bersandar pada wahyu dari Tuhan. Dalam kritiknya terhadap Hegel, Marx menyatakan bahwa ketergantungan pada agama merupakan ekspresi kegelisahan dan protes terhadap kesulitan hidup, agama adalah desahan makhluk tertindas, jantung dunia yang tak berperasaan, sama seperti semangat kondisi tanpa roh, ia adalah candu manusia. Andaipun Marx mengakui adanya agama atau orang yang menganut kepercayaan kepada Tuhan, agama dan Tuhan yang dibayangkan Marx tersebut bukan lah Tuhan Yang Ada Tertinggi atau transenden, melainkan produk dari realitas material. Artinya, bagi Marx kesadaran tentang Tuhan atau kebenaran agama bukanlah berasal dari dunia di atas sana, melainkan direduksi menjadi sekedar kesadaran yang harus beranjak dari dunia material.
Jika materialisme historis atau materialisme dialektika adalah pengakuan terhadap adanya kondisi-kondisi produksi material objektif yang berada di luar kesadaran manusia, maka demi menjaga konsistensi baik secara ontologis maupun epistemologis seorang Marxis sepatutnya mengadopsi cara berpikir realisme. Karena klaim materialisme tersebut senada dengan klaim realisme yang mengakui adanya realitas objektif yang mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Artinya, menolak cara berpikir realisme terhadap materialisme, sama artinya dengan menolak objektivitas pemikiran materialisme dialektika itu sendiri.
Adapun mengenai dialektika yang diturunkan dari idealisme Hegel, Lenin telah berupaya menentukan arah yang mesti ditempuh untuk mengelaborasi prinsip dialektika dalam filsafat materialime Marx. Dalam karyanya, Materialisme dan Empirio-Kritisisme, Lenin membagi dialektika atau kesaling-hubungan antara objek-objek yang bertentangan ke dalam dua domain, yakni dalam domain ontologi atau realitas material dan domain epistemologi atau kesadaran manusia. Kemudian dalam karya lainnya, Philosophical Notebooks, Lenin berpendapat bahwa perbedaan dialektika Marxis dengan dialektika Hegelian terletak pada realismenya. Menurut Lenin, kesaling-hubungan objek-objek yang dipostulatkan secara a priori di dalam dialektika idealisme Hegel justru merupakan cerminan dari dialektika material atau kesaling-hubungan objek-objek yang terdapat dalam dunia nyata sehingga mesti ditemukan secara a posteriori melalui metode saintifik atau pengujian secara empiris.
Berdasarkan hal tersebut, Martin Suryajaya berpendapat bahwa dialektika Marx mengandung dua ciri penting yang membedakannya dari dialektika Hegel, yaitu, pembedaan dialektika ke dalam dua domain itu sendiri dan hirarki di antara kedua domain tersebut, yaitu, domain ontologi lebih tinggi daripada domain epistemologi. Dengan mengajukan dua ciri tersebut, nampaknya Martin sedang berupaya menerangkan bahwa materialisme dialektika bukanlah suatu dualisme pemikiran. Alasannya, kendati realitas material ada ‘sebelum’ adanya manusia, namun dengan adanya manusia, realitas material tersebut dapat berubah melalui tindakan manusia. Kemudian dalam situasi realitas material yang adanya ‘setelah’ adanya manusia itu, hirarki yang meliputi kedua domain tersebut pun dapat berubah, tetapi sejauh batas-batas yang ditentukan oleh realitas material tersebut.
Penjelasan konsepsi materialisme-dialektis yang dihubungkan dengan cara berpikir realisme-empiris ini pada akhirnya mempengaruhi sistem ilmu pengetahuan yang dibangun dari prinsip tersebut. Segala sesuatu harus dapat dijelaskan dalam kerangka materi atau objek-objek inderawi sebagai satu-satunya yang objektif dan nyata. Melalui pendekatan tersebut, pada akhirnya membuat segala kejadian dan perubahan-perubahan di dunia yang selama ini belum dapat diungkapkan, mesti dijelaskan melalui bukti-bukti logis empiris. Dengan demikian, basis pemikiran Marxisme terputus dari hal-hal gaib seperti nilai-nilai ketuhanan dan keakhiratan atau terputus dari kebenaran agama serta inkonsisten karena tidak mungkin manusia dapat selalu menemukan kebenaran melalui metode empiris atau pengorganisasian persepsi inderawi.

BACA JUGA  Universalitas Fenomena Wahyu dan Kenabian: Counter-Argumen Pluralisme Agama (habis)

3.2 Visi Pembebasan

Bagi Marx, kapitalisme membagi manusia menjadi kelas para pemilik modal yang menguasai alat-alat produksi dan kelas para pekerja yang hidup dengan menjual tenaga kerjanya kepada para pemilik modal. Keadaan ini menjadi penyebab terjadinya penindasan manusia terhadap manusia lainnya dan bukan suatu kebetulan, melainkan cerminan dari kepentingan penguasaan alat-alat produksi sebagai akibat niscaya dari upaya manusia untuk mempertahankan dan memperbaiki kehidupannya. Artinya, pembebasan manusia dari keterasingan diri hanya dapat dicapai jika sumber penindasan, yakni sistem hak milik pribadi dapat dihapuskan. Keadaan tanpa sistem kepemilikan pribadi inilah yang diharapkan dapat ditemukan dalam masyarakat tanpa kelas dengan sistem kepemilikan bersama atau sosialisme.
Jika meninjau kembali pemikiran Marx, dalam Gothaer Program, ia menyatakan bahwa perubahan atau revolusi sosial pada permulaannya adalah bersifat politis. Pada mulanya terjadi melalui perebutan kekuasaan oleh kaum para pekerja (proletar) untuk kemudian mendirikan “diktator proletariat”. Jika kekuasaan negara berhasil menumpas kelas para kapitalis untuk mencegah mereka menguasai kekayaan dan sarana-sarana secara pribadi dan jika sisa-sisa perbedaan kelas dalam masyarakat telah hilang, maka dengan sendirinya diktator proletariat akan menghilang. Sehingga tercipta masyarakat komunis tanpa hak kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, kelas-kelas sosial, negara dan pembagian kerja. Sebagaimana dalam German ideology dijelaskan bahwa, “dalam masyarakat komunis masing-masing orang tidak terbatas pada bidang kegiatan ekslusif, melainkan dapat memperoleh kemahiran dalam bidang apapun, masyarakat mengatur produksi umum, sehingga memungkinkan mereka untuk bekerja hari ini, hal itu besok, pagi hari berburu, siang hari memancing ikan, sore hari memelihara ternak, setelah makan mengkritik…”
Namun pada kenyataannya, ide-ide utopis Marx tersebut terbukti gagal. Banyak negara komunis ataupun yang terinspirasi ide-ide Marx sekarang berubah menjadi berorientasi kapitalistis. Selain itu, kaum proletariat atau para pekerja yang ditempatkan Marx sebagai jantung perubahan sosial telah banyak yang memperoleh kemakmuran dan sering termasuk kelompok yang menentang komunisme. Herbert Marcuse, salah seorang pemikir Neo Marxis memandang bahwa optimalisasi teknologi modern dalam masyarakat kapitalis telah menancapkan kontrolnya secara lebih halus dan kuat, sehingga banyak di antara kalangan para pekerja berubah menjadi kelas baru yang sejahtera.

3. Kritik Pemikiran Marx

Seorang Marxis yang berkomitmen dengan pemikiran Marx, tentu akan memperjuangkan kebebasan manusia dari keterasingan dengan berpijak pada prinsip materialisme dialektika secara realis dan berpegang pada metode empiris sebagai satu-satunya neraca kebenaran. Dia akan mengakui bahwa kesadaran tidak menentukan realitas material, atau cara-cara produksi material dalam kegiatan kerja, melainkan sebaliknya, realitas yang menentukan kesadaran. Di dalam realitas itu terjadi kontradiksi yang merupakan proses dialektis objektif yang tidak tergantung pada kesadaran dan menegaskan bahwa metode empiris sebagai satu-satunya neraca penentu kebenaran. Kemudian mengakui bahwa pada tahap tertentu kontradiksi tersebut akan memicu manusia sebagai agen perubahan sejarah untuk mengubah cara-cara produksi material dan pada akhirnya menciptakan masyarakat tanpa kelas manusia yang menguasai sarana produksi secara pribadi, sebagai bentuk penghapusan keterasingan manusia. Tanpa mengafirmasi pendapat-pendapat tersebut sebagai sentral pemikiran Marx tidak akan mungkin dapat membangun dan mempertahankan pemikiran Marx secara murni.
Jika dicermati kerangka berpikir Marx setidaknya mengandung beberapa kelemahan mendasar. Yakni mereduksi alam semesta hanya menjadi realitas material semata, membatasi kebenaran hanya bersandar pada rasio-inderawi saja dan mengandung kontradiksi pemikiran. Kemudian daripada itu, penegasannya yang menganggap metode empiris sebagai satu-satunya neraca kebenaran ilmiah dan penolakannya terhadap logika rasional yang terlepas dari pengetahuan empiris menambah kejelasan bahwa pemikiran Marx mengingkari keberadaan Tuhan yang Ada tertinggi atau transenden, menolak keabsahan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, dan menafikan kebenaran agama karena agama bersandar pada wahyu dari Tuhan pencipta seluruh alam.
Adapun kontradiksi pemikiran Marx di antaranya tergambar dalam visi yang mengandaikan adanya masyarakat tanpa kelas sebagai realitas akhir di mana manusia terbebas dari segala bentuk penindasan dan keterasingan. Konsepsi tersebut kontradiktif dengan keyakinan dialektika-nya yang menyatakan bahwa realitas tidak akan berhenti mengalami perubahan karena terdapat pertentangan-pertentangan di dalamnya. Menegaskan akan berakhirnya keadaan suatu masyarakat dalam bentuk masyarakat tanpa kelas sekaligus menafikan akan berhentinya keadaan masyarakat tersebut dari mengalami perubahan sama dengan menegaskan bahwa sesuatu itu “terjadi” sekaligus “tidak terjadi” secara bersamaan. Suatu kontradiksi yang mustahil dapat dibenarkan oleh nalar yang sehat. Dengan demikian, analisis Marx tentang kapitalisme, hubungan sifat dasar manusia dengan pekerjaan dan keterasingan manusia mengacu pada basis dan visi pemikiran yang bersifat reduksionis-ateistik dan kontradiktif yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Oleh karena itu, konsepsi Marx mengenai keterasingan manusia berpijak pada prinsip ajaran yang tidak dapat dijadikan sebagai sandaran guna memperoleh solusi untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia, khususnya bagi umat Islam.

4. Penutup

Konsepsi Marx mengenai masalah alienasi atau keterasingan manusia dan visi pembebasannya mengacu pada prinsip materialisme-dialektika. Prinsip materialisme menegaskan bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah materi atau bersifat material yang berada di luar jangkauan persepsi indera atau kesadaran manusia dan mengakui bahwa materi adalah unsur primer atau basis yang mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Adapun prinsip dialektika menyatakan bahwa realitas alam atau material senantiasa mengalami perubahan karena adanya pertentangan-pertentangan di dalamnya sehingga mendorong perubahan tersebut terus terjadi. Selain itu, juga menegaskan bahwa metode empiris adalah satu-satunya neraca penentu kebenaran ilmiah. Seorang Marxis yang berkomitmen dengan pemikiran Marx, tentu akan berpegang pada prinsip-prinsip sentral tersebut, karena jika tidak demikian maka akan mustahil mempertahankan bangunan pemikiran Marxisme.
Marxisme mereduksi realitas alam hanya menjadi sebatas realitas inderawi atau material semata, membatasi pengetahuan ilmiah hanya pada metode empiris sebagai neraca kebenarannya sehingga menolak nilai-nilai ketuhanan atau agama serta mengandung kontradiksi. Klaim ilmiah pemikiran Marx telah gugur ketika pada kenyataannya pengalaman inderawi terbukti tidak bebas dari kesalahan dan pernyataan bahwa “sains empiris adalah satu-satunya neraca kebenaran ilmiah” bukan merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan secara empiris. Kemudian, penegasan Marx akan berakhirnya keadaan masyarakat dalam bentuk masyarakat tanpa kelas sekaligus menafikan akan berhentinya keadaan masyarakat tersebut dari mengalami perubahan adalah kontradiktif, sama dengan menegaskan bahwa sesuatu itu ada sekaligus tidak ada secara bersamaan. Oleh karena itu, ajaran Marxisme khususnya mengenai masalah keterasingan manusia mengacu pada konsktruksi pemikiran yang bersifat reduksionistik, ateistik, dan mengandung kontradiksi yang tidak dapat dibenarkan oleh akal sehat. Dengan demikian, Marxisme tidak relevan dijadikan sebagai sumber atau sandaran berpikir untuk mengatasi permasalahan kemanusiaan, khususnya permasalahan di dalam umat Islam.
Seorang Muslim mestinya seksama memahami bahwa solusi terbaik masalah keumatan, bukanlah dengan bersandar pada Marxisme mulai dari konsep-konsep sampai ke bentuk-bentuk praktisnya yang terjauh, seperti revolusi misalnya, melainkan dengan memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh dan konsisten. Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan jikapun didapati beberapa kesamaan antara pandangan Islam dan sains Barat modern dalam penggunaan metode rasional dan empiris, kesamaan tersebut tidak sampai menghapuskan perbedaan di antara keduanya karena timbul dari beberapa perbedaan penting yang mendasar, salah satunya adalah mengenai aspek ketuhanan. Dengan keyakinan dan kesadaran bahwa kebenaran bersumber dari Al Quran dan Sunah Rasul yang hakikatnya datang dari Allah Swt, seorang Muslim akan memandang realita secara integral dalam kerangka tauhid, artinya tidak sekular dan tidak pula kontradiktif atau tidak terputus dari nilai-nilai ketuhanan dan tidak memisahkan dua hal yang saling berhubungan seperti objektif-subjektif, historis-normatif, dan sebagainya, sehingga menimbulkan paham-paham ekstrim seperti empirisme-rasionalisme, materialisme-idealisme dan sebagainya.

Last modified: 13/04/2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *