Kedudukan Ilmu Mantiq dalam Islam

No comment 1808 views

Oleh: Bahrul Ulum

ali-babaInpasonline.com-Salah satu peninggalan peradaban  Islam dalam bidangi lmupengetahuan yaitu ilmu mantiq. Ilmu ini mempelajari tentang logika. Para ulama membolehkan mempelajari ilmu ini agar umat Islam tidak terjerumus kedalam kesesatan berlogika.

Yang membedakan manusia dengan hewan yaitu pada kepemilikan akal. Meski manusia dan hewan sama-sama memiliki indra, baik indra penglihat, pendengar,  perasa atau indra-indra lain, namun yang membedakan keduanya yaitu hewan tidak diberi akal sebagaimana manusia. Namun di sisi lain Allah juga menciptakan kekuatan-kekuatan internal atau eksternal  yang dapat mempengaruhi keberadaan akal, sehingga seringkali manusia melakukan kesalahan. Dalam hal peran ilmu mantiq  yang bisa memberikan batas-batas tertentu dalam berfikir, sehingga manusia terjaga dari kesalahan tersebut.

Menurut para ulama, kecendrungan, pengaruh, kebiasaan, taklid dan kepentingan pribadi seringkali mempengaruhi akal dalam berfikir. Seandainya manusia hanya dibekali akal saja tanpa adanya pengaruh-pengaruh di atas, maka Ilmu mantiq tidak perlu untuk diterapkan.

Karena itu ilmu ini oleh sebagian kalangan disebut sebagai bapak segala ilmu. Ini tidaklah berlebihan, mengingat mantiq merupakan formula dan alat untuk menuju metode berfikir yang benar dan jernih sehingga sampai kepada kesimpulan  yang benar pula.

Namun demikian dalam menyikapi ilmu ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengharamkan seperti  Imam Ibnu Shalah dan Imam Nawawi. Sedang lainnya membolehkan seperti Imam Abu Hamid al-Ghazali.

Perbedaan ini menurut para ulama terjadi pada ilmu  mantiq yang disusupi kalam-kalam dan kesesatan filsafat Yunani, Yahudi dan Nasrani. Bila ini terjadi yang ditakutkan akan terjadi penyimpangan akidah bagi mereka yang mendalaminya, seperti kasus kaum Mu’tazilah.

Namun jika  mantiq yang dipelajari tidak tersentuh dengan syubhat-syubhat filsafat, maka dibolehkan. Karena itu para ulama menyatakan tidak ada alasan untuk mengharamkan ilmu mantiq yang benar sesuai dengan metodologi yang diambil dari ajaran Islam. Bahkan hukumnya  fardhu kifayah jika harus digunakan untuk melawan syubhat-syubhat  yang  ditujukan kepada agama Islam.  Karena itu seorang Muslim yang mempunyai kecerdasan  yang  mumpuni,  pemahaman yang kuat, dan intelektual yang tinggi, serta memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah, boleh menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu ini.

BACA JUGA  Tahlilan: Tradisi Islam Indonesia Berbasis Tauhid

Perkembangan Ilmu Mantiq dalam Islam

Ilmu mantiq muncul seiring dengan perkembangan pemikiran manusia. Di masa peradaban Yunani, terdapat kelompok shopisme (al-sufsatho’iyun) yang berpandangan bahwa paca indra merupakan alat tunggal yang dapat mengetahui segala sesuatu, sementara akal tidak. Menurut mereka, kebenaran segala sesuatu adalah kebenaran yang dianggap benar oleh indra.

Menyalahi indra berarti meninggalkan kebenaran dan tak akan pernah menemukan kebenaran. Untuk menyebarkan pandangannya tersebut mereka menggunakan kata-kata yang tersusun rapi namun mengandung racun  yang menyesatkan. Mereka benar-benar meresahkan masyarakat pada saat itu.

Namun pemikiran tersebut ditentang oleh seorang filsuf, yaitu Socrates. Dengan menggunakan ilmu mantiq, Socrates dapat mematahkan  argument kelompok tersebut. Ia menjelaskan dua ilmu yang mendasar dalam ilmu mantiq yaitu penjabaran (ta’rif, qaulu al-syareh)  dan pengusutan (Istiqra’).

Kemudian misi Socrates diteruskan muridnya, Plato. Ia memperjelas keberadaan dua pembahasan di atas yaitu ta’rif dan istiqra’ dan menambahkan dua pembahasan lain dari pembahasan ilmu mantiq, yaitu al-Qismah al-Aqliyah dan al-Qismah al-Manthiqiyah .

Kemudian datanglah Aristotales  yang menyusun dan membukukan Ilmu mantiq secara sistimatis. Bukunya tentang mantiq terdiri dari delapan bagian yaitu: category (membahas tentang genus dan bagian-bagiannya), hermeneutika (tentang proposisi), sylogisme (tentang qiyas), demonstrasi (tentang Qiyas yang menyimpulkan keyakinan), dialektika (ilmudebat), sofistika(Qiyas yang  menyesatkan), retorika (seni agitasi masa) dan poetica (seni menyusun kata-kata puitis).

Ilmu mantiq ini belum dikenal oleh bangsa Arab,  walaupun kaidah-kaidah mantiq tersebut ada dalam syair-syair mereka dalam bentuk yang berbeda. Bangsa Arab baru memahami ilmu mantiq dengan baik setelah Islam datang pada mereka.

Ketika Islam tersebar di Jazirah Arab dan dipeluk secara meluas sampai ketimur dan barat, perkembangan ilmu pengetahuan pun mengalami kemajuan yang pesat. Puncaknya terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Di periode inilah terjadi penerjemahan ilmu-ilmu filsafat Yunani kedalam bahasa Arab, termasuk ilmu  mantiq.

Dalam Islam, ilmu mantiq mulai di dilakukan oleh al-Farabi, salah satu filsuf  Muslim yang  sering dinyatakan sebagai maha guru kedua dalam ilmu pengetahuan. Pada masanya ilmu ini dipelajari lebih rinci dan dipraktekkan, termasuk dalam pentas di qanqadhiyah.

BACA JUGA  Jasa Imam al-Ghazali terhadap Ilmu Pengetahuan

Selain itu, para  ulama juga semakin mendalami, menerjemahkan dan mengarang karya bidang ilmu mantiq. Di antara mereka yang mashur yaitu Abdullah Ibn Al-Muqaffa’, Yaqub Ibn Ishaq al-Kindi, Abu Nashr al-Farabi, IbnSina, Abu Hamid al-Ghazali, Ibn Rusyd al-Qurthubi.

Waktu itu para ulama dan cendekiawan Muslim sengaja mempelejari ilmu mantiq dalam rangka untuk membentengi aqidah Islam dari cercaan kaum Majusi, Yahudi, Nasrani terhadap pondasi Islam. Ilmu ini juga dipakai untuk memperkuat dan memperkokoh keyakinan umat Islam.

Namun demikian tidak sembarang orang dibolehkan mempalajari ilmu ini karena masih belum bisa keluar dari sekat-sekat filsafat Yunani.Artinya, ilmu ini masih sangat mengkhawatirkan bila dipelajari oleh orang awam yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang Islam dan keyakinan yang kuat terhadap ajaran Islam.

Ilmu ini benar-benar bersih dari sekat-sekat filsafat Yunani ketika berada di tangan Imam Ghazali. Ia menuangkan ilmu ini dalam kitabnya ”Mi’yaru al-Ilmi”. Karena itu sebagian ulama dengan tegas menyatakan tidak ada alasan mengharamkan mempelajari Ilmu mantiq. Melalui ilmu logika inilah syubhat-syubhat  yang  diajukan orang-orang non-Islam  terhadap ajaran Islam bisa dipatahkan.

Kalau melawan syubhat kaum kufar menggunakan dalil dari  al-Qur’an dan Sunnah tentu mereka tidak akan menerima.  Satu-satunya cara yaitu menggunakan ilmu mantiq.

No Response

Leave a reply "Kedudukan Ilmu Mantiq dalam Islam"