Kaffatan Sebagai Sebentuk Kearifan Lokal

No comment 607 views

Masih memakai sarung usai sholat subuh, encek tersebut mereka tukarkan satu sama lain. Masing-masing orang membawa satu buah encek untuk keluarganya. Kemudian beragam penganan tersebut dimakan beramai-ramai oleh seluruh anggota keluarga. Uniknya, penganan khas lebaran ini hanya bisa ditemui pada tanggal 8 Syawal, bukan 1 Syawal.

Bagi umat Islam di Jombang, Jawa Timur, menghidangkan ketupat lebaran memang lazimnya dilakukan bukan pada tanggal  1 Syawal. Para ibu dan gadis di Jombang beramai-ramai membuat ketupat beserta ube-rampenya seperti lepet dan masakan berbumbu kari, lodeh dan sejenisnya pada H-1 sebelum tanggal 8 Syawal atau setelah umat Islam Jombang melaksanakan puasa Syawal selama enam hari.

Tradisi ini sudah disosialisasikan oleh para ulama sejak berabad-abad yang lalu. “Dari zaman mbah saya, tradisi Islami yang baik semacam ini sudah ada,” jelas Dimyati, salah satu warga Jombang yang lahir dari keluarga santri. Lebih lanjut Dimyati menuturkan, bahwa lebaran ketupat (atau Riyoyo Kupat) sebenarnya berasal dari tradisi kaffatan atau penyempurnaan. “Kaffatan dimaksudkan untuk merayakan penyempurnaan puasa, yakni puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan yang merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh,” kata Dimyati.

Dimyati menegaskan, bahwa tradisi ini tidak mungkin punah. “Walaupun tradisi, tapi ini merupakan sesuatu hal yang baik. Setelah Idul Fitri, para ulama di sini biasanya langsung melaksanakan puasa Syawal, dimulai dari tanggal 2 Syawal,” tegasnya.

Kaffatan merupakan contoh sempurna dari sebuah kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Jika dikaitkan dengan ‘urf, maka ada yang memiliki kearifan (al-‘addah al-ma’rifah), yang dilawankan dengan al-‘addah al-jahiliyyah, sehingga kearifan lokal merupakan sesuatu yang didasari pengetahuan dan diakui akal serta dianggap baik oleh ketentuan agama. (Kartika Pemilia)

 

BACA JUGA  Lebih dekat dengan Dr. Syamsuddin Arif
No Response

Leave a reply "Kaffatan Sebagai Sebentuk Kearifan Lokal"