Jejak-jejak Peradaban Emas

Written by | Resensi Buku

epi-syafii

Pertama, buku ini semacam rekaman yang sangat mengesankan atas berbagai tonggak sejarah peradaban Islam, mulai dari zaman Rasulullah Muhammad SAW di Makkah sampai Cina Muslim sekarang ini. Sementara, Islam sangat menganjurkan agar kita rajin memelajari sejarah untuk kita ambil hikmahnya.

Kedua, buku ini ditulis oleh seorang doktor yang sebelumnya sudah teruji dalam menghasilkan buku-buku berkualitas seperti –antara lain- Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager. Terlebih lagi, khusus di buku ini, si penulis tak sendirian mengerjakannya. Dia dibantu sebuah tim tangguh untuk sejumlah hal seperti di keredaksian, layout, dan lain-lain.   

 

Jejak-jejak Itu

Jilid pertama buku ini ‘memotret’ Makkah. Ini, kota paling suci dalam Islam yang terletak di lembah sempit, dikelilingi gunung-gunung dan Ka’bah sebagai pusatnya. Sejarah peradabannya bermula dari hijrahnya Siti Hajar -istri Nabi Ibrahim a.s.- dan anaknya Ismail.

Di dalamnya dibahas mulai dari ‘Keistimewaan Kota Makkah’ sampai ‘Ulama Makkah Keturunan Indonesia.’. Mulai dari hal ‘Halaqah’ sampai ‘Tradisi Tahfidz Al-Qur’an’. Mulai dari hal ‘Perpustakaan Makkah’ sampai ‘Universitas di Makkah’. Dan, lain-lainnya.

Di jilid kedua dibahas Madinah. Kita seolah-olah diajak berziarah ke tempat-tempat bersejarah terutama ke Masjid Nabawi. Juga, ke Masjid Qiblatain, Masjid Abu Bakar, Masjid Utsman, Masjid Ali, Masjid Abi Dzar, Masjid Bilal, medan perang Uhud, dan Jabal Magnet.

Di jilid ini, dikenalkan banyak hal yang bisa menginspirasi. Mulai dari hal ‘Pendidikan Islam pada Masa Rasulullah SAW’ sampai ‘Universitas Islam Madinah’. Mulai dari ‘Markas Pusat Penelitian Ilmiah Kota Madinah’ sampai ‘Musium Kota Madinah’. Dan, lain-lainnya.

Jilid ketiga tentang Yerusalem. Di kota ini berkumpul tempat suci tiga agama besar: Islam, Kristen dan Yahudi. Bagi Muslim, Yerusalem adalah Kiblat Pertama (Qiblat al-Ula’).

Di Yerusalem berdiri Masjid al-Aqsha tempat singgah Isra’ dan permulaan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Di sini lahir sejumlah cendekiawan dunia seperti ahli geografi al-Muqaddasi. Di tempat ini pula Imam al-Ghazali menulis kitab ‘legendaris’ Ihya’ Ulumuddin. Ada juga kisah kegemilangan Salahuddin Al-Ayyubi yang turut mengarsiteki kemenangan umat Islam di Perang Salib.

Di jilid ini kita bisa baca –antara lain- “Yerussalem: Saksi dari Zaman ke Zaman”, “Kota Suci Ketiga”, “Kota Para Nabi: Antara Keimanan dan Pengingkaran”, “Eksistensi Al-Aqsha dari Zaman ke Zaman”.    

Damaskus dibahas di jilid keempat. Damaskus ibukota kekhalifahan Bani Umayyah yang dibentuk Muawiyah bin Abu Sofyan. Damaskus terkenal sebagai kota perdagangan, kota seni, pusat kesehatan dengan banyaknya rumah sakit dan kota pelajar dengan sistem madrasah yang merupakan cikal bakal universitas. Di Damaskus lahir sarjana Islam kelas dunia seperti Ibn Taimiyah, Ibn Katsir, dan Ibn Malik.

Di jilid ini kita akan melihat banyak hal mulai dari ‘Jejak Sejarah Nabi Muhammad SAW di Suriah’ sampai ‘Kemajuan Peradaban di Damaskus semasa Dinasti Umayyah’. Mulai dari Damaskus sebagai ‘Kota para Ulama/Ilmuwan’ sampai ‘Rumah Sakit Islam: Bukti Kemajuan Medis dan Kemakmuran’. Dan, lain-lainnya.     

Bagdhad dikupas di jilid lima. Bagdhad, merupakan ibukota Negara Dinasti Abbasiyah yang didirikan Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur pada 762 M. Masa keemasan kota –yang terletak di tepian sungai Tigris- ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya Al-Makmum (813-833 M). Di kota ini terdapat Kuttab (sekolah dasar menengah), Madrasah (perguruan tinggi), Darul Hikmah (perpustakaan nasional), masjid-masjid besar serta majelis-majelis Muhadharah. Tokoh-tokohnya yang ‘bersinar’ antara lain Al-Kindi dan Al-Faraby (filsafat), Ar-Razy (kedokteran), dan Al-Khawarizmi (matematika).

Di jilid ini ada bahasan mulai dari ‘Babilonia dan Kejayaan Bangsa Irak’ sampai ‘Baghdad: Kota Bandar dan Kemegahan Arsitektur Abbasiyah’. Mulai dari ‘Baitul Hikmah: Pusat Ilmu Pengetahuan Abad Pertengahan’ sampai ‘Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Masa Abbasiyah’. Dan, lain-lainnya.    

Kairo dibahas di jilid keenam. Kairo, salah satu kota tertua di dunia yang menyimpan peradaban-peradaban besar sejak 7000 tahun lalu. Kita bisa baca mulai dari ‘Menjelajahi Peradaban Mesir’ sampai ‘Teknologi dan situs Warisan Mesir’. Mulai dari ‘Negeri Ilmu dan Ulama’ sampai ‘Al-Azhar: Kiblat Ilmu sepanjang Zaman’. Dan, lain-lainnya.  

Istanbul dikupas di jilid ketujuh. Istanbul pernah menjadi ibukota Kekaisaran Romawi (330-395), Kekaisaran Bizantium (395-1204), Kekaisaran Latin (1204-1261), Kekhalifahan Turki Utsmani (1453-1922) dan menjadi kota terbesar pada masa Republik Turki. Meski Ankara adalah ibukotanya, Istanbul terpilih menjadi European Capital of Culture (2010) dan European Capital of Sport (2012). Pilar-pilar keemasan Islam tersimpan rapi di Musium Istana Topkapi. Atau juga, di keramaian gerak ekonomi yang tercermin dari Grand Bazar yang sudah berdiri sejak tahun 1461 dengan 5000 toko, 60 jalan, 2 masjid dan dikunjungi 250.000 hingga 400.000 orang per hari. Kemegahan arsitektur tampak dari Hagia Shopia, Masjid Biru, Masjid Sulaimaniyah. Kerapian Administrasi dan diplomatik tampak dari kemegahan Topkapi (1466-1478) dan Dolmabache Saraye (1843-1856).

Di jilid ini bisa kita baca –antara lain- “Istanbul: Pertemuan Dua Peradaban”, “Turki Utsmani: Khilafah Islam yang Terakhir”, “Kemajuan Peradaban Islam pada Masa Turki Utsmani”, “Turki Utsmani dan Perkembangan Islam di Eropa”, “Mustafa Kemal Ataturk: Pendiri Republik Sekular Turki”, “Sultan ‘Abd Al-Hamid II: Penentang Utama Sekularisme”, dan “Runtuhnya Turki Utsmani”. Kecuali itu ada juga bahasan yang relatif aktual, yaitu “Necmettin Erbakan: Pejuang Ideologi Islam di Tuki” dan ”Recep Tayyib Erdogan dan Abdullah Gul: Simbol Kemenangan Politik Islam Abad ke-21”.

Kupasan tentang Persia ada di jilid kedelapan. Persia (Iran) merupakan ‘rumah’ dari salah satu peradaban tertua di dunia. Di wilayah ini telah berdiri dinasti Elamite (2800 SM), kerajaan Medes (625 SM), kekaisaran Achaemenid, Hellenic, Seleucid, Phartian dan Sassanid. Islam hadir dibawa oleh panglima Saad Ibn Abi Waqqas pada tahun 637 setelah memenangkan pertempuran al-Qadisiyah pada zaman kekhalifahan Umar Ibn Khattab. Setelah kehadiran Islam, Persia merupakan salah satu ibukota peradaban dunia yang terkenal dengan kemajuan sastra, filsafat, kedokteran, astronomi, matematika, pada era kekuasaan Ghaznavid, Seljuk, Ilkhanid dan Dinasti Timurid.

Di jilid ini kita bisa baca –antara lain- “Iran Pra-Islam”, ”Dinasti Safawi: Kerajaan Islam Pertama Bangsa Persia”, “Isfahan, Kota Separuh Dunia”, “Kota Syraz: Kota Para Ilmuwan”, dan “Peninggalan Arsitektur Islam di Persia”.  

Kemegahan Andalusia ada di jilid kesembilan. Islam masuk ke dataran Iberia Spanyol dan Portugal sejak tahun 710 dan membangun peradaban hingga 1492. Di bawah kekhilafahan Islam muncul kota-kota besar yang memimpin peradaban dunia seperti Cordova, Granada, Toledo, Seville, Malaga, Murcia, dan kota-kota indah lainnya.

Selama masa keemasannya, peradaban Islam tumbuh di berbagai bidang seperti sastra dengan tokohnya Ibn Hazm (994-1064). Astronomi dengan sarjananya Az-Zarqali (1029-1087). Filsafat dengan ulamanya –antara lain- Ibn Rusyd. Ilmu kimia dan kedokteran yang berhutang budi kepada Ibn Sina, al-Razi, dan lain-lain. Kecuali itu, masih banyak disiplin ilmu lainnya dan dengan ratusan tokohnya masing-masing.

Di bab ini bisa kita baca –antara lain- “Semenanjung Iberia sebelum Islam”, “Penaklukan Muslim atas Semenanjung Iberia”, “Kekhalifahan Cordova”, “Andalusia sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan”, “Sumbangan Andalusia Muslim di Bidang Pengetahuan”, “Mezquita: Masjid Agung Cordova”, “Emirate Granada: Pemerintahan Muslim Terakhir di Spanyol”, “Runtuhnya Kekuasaan Muslim di Andalusia” dan “Eropa Pascakeruntuhan Muslim Andalusia”.

Cina Muslim menjadi bahasan di jilid terakhir, yaitu kesepuluh. Di dalamnya dikisahkan sejarah dan peradaban di masa lampau, awal masuknya Islam ke Cina menurut berbagai versi, dan kontribusi Muslim Cina dari dinasti ke dinasti.

Ada juga catatan tentang penderitaan umat Islam China selama dinasti Ming dan sedikit keleluasaan selama dinasti Qing. Juga, dibahas kontribusi Muslim Cina dalam penyebaran Islam di Indonesia termasuk peran Laksamana Cheng Ho dan sebagian Wali Songo.

Kondisi kaum Muslim di Ghuangzhou, Quangzhou, Hangzhou, Qinghai, Gansu dan Xian serta kontribusi tokoh Muslim dalam pemerintahan Republik China dan RRC modern juga diungkap.

Di bab ini bisa kita baca –antara lain- “Sejarah dan Peradaban Cina di Masa Lampau”, “Awal Masuknya Islam ke Cina dari Versi ke Versi”, “Kehadiran Islam di Antara Agama-Agama Lain di Cina”, “Tahapan Gerakan Kebangkitan Intelektual Islam di Masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing”, “Tokoh Muslim dalam Pemerintahan Dinasti Cina”, “Ilmuwan dan Ulama Muslim Cina”, “Warisan Peradaban Islam di Cina” dan “Kontribusi Muslim Cina dalam Penyebaran Islam di Indonesia”.

 

Sambung Lagi

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, buku ini sepertinya berhasil untuk menjadi salah satu media yang bisa menyambungkan lagi hubungan kita sekarang ini dengan saudara-saudara kita yang berada di wilayah lain pusat-pusat peradaban Islam yang kata sang penulis “seolah-olah terputus”.

Buku ini sangat berguna untuk semua kalangan antara lain karena didukung oleh referensi yang memadai termasuk untuk informasi yang aktual. Misal, kehadiran bangunan jangkung bernama ‘Makkah Royal Clock Tower’ dibahas juga di edisi tentang Makkah.

Pendek kata, buku yang penyajiannya menarik (termasuk untuk gambar dan tata letak) serta mudah dipahami ini sangat berharga untuk segera dibaca dan dimiliki. Setelah membacanya, kita akan paham tentang ‘syarat-syarat’ terwujudnya kegemilangan sebuah peradaban dan –sebaliknya- akan tahu pula ‘syarat-syarat’ runtuhnya sebuah peradaban.

Setelah menyadari tentang tingginya peradaban Islam yang pernah kita miliki, diharapkan kita bisa menjadikannya sebagai pemicu semangat untuk kembali memimpin peradaban dunia dengan mengusahakan memenuhi ‘syarat-syarat’-nya. []

                                                                                                                m. anwar djaelani

BACA JUGA  Menolak Liberalisme Islam dengan Hujjah Kuat

 

Last modified: 27/06/2012

One Response to :
Jejak-jejak Peradaban Emas

  1. mekah kota agung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *