Jangan Sakiti Pewaris para Nabi

Written by | Opini

ulema-presso-al-azhar-1900-ivan-bilibin

 

Oleh: Anwar Djaelani

Inpasonline.com-Seperti apa perasaan kita jika ada kabar ulama ditersangkakan? Atau, ada sejumlah ustadz tak diperkenankan berceramah di banyak tempat? Tentu saja, atas situasi seperti itu, kita bersedih. Ulama atau ustadz itu pengemban tugas yang mulia yaitu berdakwah. Bahkan, secara khusus, ulama itu disebut sebagai Pewaris para Nabi.

Berhati-hatilah!

Ketika kita mendengar kabar seperti yang ada di paragraf di atas, antara lain kita lalu ingat ajaran Allah ini: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS Al-Ahzab [33]: 58).

Ajaran itu berlaku umum, tentang tak bolehnya manusia menyakiti “Orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat”. Jika hal tercela itu dilakukan, maka si pelaku termasuk sebagai orang-orang yang “Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”.

Menyakiti itu bisa bermakna mencela, memfitnah, dan menuduh kaum mukminin tanpa dasar. Menyakiti itu seperti–misalnya-menuduh kaum mukminin atas suatu perkara, sementara kaum mukminin itu berlepas diri dari hal tersebut karena memang tidak pernah mereka perbuat.

Maka berdasar QS Al-Ahzab [33]: 58 itu, sungguh, jangan buat kebohongan yang lalu dituduhkan kepada orang yang bersih. Jangan bikin tuduhan hanya berdasar kepada sesuatu yang diada-adakan. Hendaknya, kita tak membuat sebuah kebohongan besar dengan–misalnya-menyebut dari orang-orang mukmin laki-laki ataupun perempuan terlibat dalam sebuah perkara yang tidak mereka lakukan, dengan tujuan mencemarkan atau mencela mereka.

Jika kepada kaum mukminin-secara umum-kita diminta untuk tak menyakiti mereka, maka apatah lagi jika sampai menyakiti ulama sang Pewaris para Nabi. Sebab, firman Allah: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Fathir [35]: 28).

Jangan sakiti ulama! Sebab, kecuali terutama karena posisinya yang mulia di hadapan Islam, di negeri ini ulama telah berkontribusi sangat besar dalam usaha meraih, memertahankan, dan mengisi kemerderkaan.

BACA JUGA  Bila Otoritas Ulama' Ditolak

Tak bisa disangkal, kehadiran Islam dan ulama di negeri ini adalah anugerah Allah yang terbesar. Untuk itu kita harus banyak bersyukur, antara lain karena berdasarkan sejarah, terwujudnya kemerdekaan negeri ini tak akan bisa dilepaskan dari peran umat Islam dan terutama para ulamanya.

Mereka–para ulama itu-berjuang di atas spirit jihad. Sekadar menyebut sedikit contoh, ada Pattimura di Maluku, Diponegoro di Jawa, Imam Bonjol di Sumatera Barat, Sisingamangaraja XII di Sumatera Utara, dan Teuku Umar di Aceh.

Dulu, saat berjuang, mereka bergerak tanpa pamrih. Mereka berkorban tanpa berpikir mendapat imbalan. Sayang, jika kemudian ada fihak yang (pura-pura?) tak tahu bahwa kemerdekaan Indonesia mendapat kontribusi sangat besar dari umat Islam dan terutama dari kalangan ulama. Maka, kepada mereka yang (pura-pura?) lupa itu, patut untuk terus diingat-ingatkan ayat Allah ini: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS Ibrahim [14]: 34).

Agar kita tak termasuk si zalim lantaran suka mengingkari nikmat Allah, ada baiknya kita kaji tentang peran ulama dalam perjuangan merebut dan memertahankan kemerdekaan. Tampak nyata bahwa banyak tokoh perjuangan itu yang berasal dari kalangan ulama. Berikut ini, sekadar menunjuk dua fragmen.

Pertama, pada 18/08/1945, yang merumuskan Pancasila itu tiga orang. “Yakni, KH Wahid Hasyim dari NU, Ki Bagus Hadi Kusumo dari Muhammadiyah, dan Kasman Singodimedjo juga dari Muhammadiyah. Merekalah yang membuat kesimpulan Pancasila itu sebagai ideologi, UUD 1945 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI tidak akan mampu, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula Bung Karno diangkat jadi presiden, dan Bung Hatta sebagai wakil presiden. Jadi negara ini yang memberi kesempatan proklamasi seperti itu adalah ulama,” jelas sejarawan Ahmad Mansur Suyanegara pada sebuah kesempatan.

BACA JUGA  Nasionalisme Adil dari Ulama

Kedua, pada 21-22/10/1945, wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Di bawah pimpinan langsung Rois Akbar NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai Perang Suci alias jihad. Belakangan deklarasi itu populer dengan sebutan Resolusi Jihad.

“Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid. Inilah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Meski darah para pahlawan berceceran begitu mudahnya dan memerahi sepanjang Kota Surabaya selama tiga minggu, Inggris yang pemenang Perang Dunia II itu akhirnya kalah,” tulis A Khoirul Anam (www.nu.or.id, 22/10/2005).

Ada hal terkait yang sangat menarik, bahwa sebelum pertempuran 10 November 1945 pecah, Bung Tomo berpidato heroik: “Dan, kita yakin Saudara-Saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.

Setelah itu, masih ada rentetan menarik lainnya. NU menyelenggarakan muktamar ke-16 di Purwokerto pada 26-29/03/1946. Ada salah satu keputusan yang tergolong penting, yaitu NU mencetuskan kembali Resolusi Jihad dengan mewajibkan tiap-tiap umat Islam untuk bertempur memertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat itu, KH Hasyim Asy’ari kembali menggelorakan semangat jihad di hadapan peserta muktamar untuk disebarkan kepada seluruh warga pesantren dan umat Islam. Berjuanglah, sebab “Tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negeri jajahan,” seru KH Hasyim Asy’ari kala itu seperti yang dikutip A Khoirul Anam.

Sekali-kali, Jangan!

Ulama itu pribadi yang harus kita hormati. Ulama itu, di negeri ini, tak pernah berhenti untuk berkontribusi bagi tercapainya kesejahteraan rakyat dalam arti seluas-luasnya. Maka, sungguh tidak patut jika ada pihak-pihak yang–langsung atau tidak langsung-menyusahkan ulama. []

BACA JUGA  ‘Siapa’ Naik, Intoleransi ataukah Kebebasan Menista?

 

Last modified: 11/11/2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *