ISLAMIA: Politik Sekular dan Politik Islam

2 comments 705 views

Inpasonline,14/06/09

Seperti biasanya, setiap kamis pekan kedua tiap bulan, Republika menyajikan kolom khusus yang bekerjasama dengan INSISTS. Kolom tersebut diberi nama Islamia, Jurnal Pemikiran Islam Republika. Dalam edisi bulan ini, yang terbit pada hari Kamis (11/06) kemarin, tema yang diangkat adalah politik. Para penulisnya, yang tidak lain para peneliti INSISTS, mengulas perbandingan antara poltik sekular dan politik Islam.

Dr. Adian Husaini, dalam tulisannya, menyoroti terjadinya liberalisasi politik, khususnya di Barat. Menurutnya, liberalisasi politik yang terjadi di Barat tidak lain karena trauma dengan sistem politik teokrasi (kekuasaan Tuhan). “Dalam pandangan politik ini, Tuhan –melalui wakilnya di bumi- mendominasi segala aspek kehidupan manusia. Bahkan, sebuah pemerintahan dianggap tidak sah, jika tidak disahkan oleh wakil Tuhan”, tulisnya.

Banyaknya penyimpangan system politik teokrasi ini, kemudian banyak melahirkan protes terhadap agama. Di samping itu, kekeliruan sebagian tokoh agama dalam politik yang menindas rakyat akhirnya memunculkan trauma masyarakat Barat. Trauma terhadap agama inilah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dan politik. Mereka selalu beralasan, jika agama dicampur dengan politik maka akan terjadi “politisasi agama”; agama harus dipisahkan dari agama, jelas Doktor di bidang filsafat ini.

Salah satu aliran politik sekular yang disoroti Dr. Adian adalah aliran Machiavellian, yang digagas oleh seorang pemikir bernama Niccolo Machiavelli. Menurut pemikiran ini, politik adalah sekedar seni meraih dan mempertahankan kekuasaan, dengan segala cara. Politik semacam ini, tulis Dr. Adian, melampaui nilai-nilai moral keagamaan. Dengan membuang faktor “baik dan buruk” dalam kancah politik, Machiavelli menyarakan, bahwa seorang penguasa boleh menggunakan cara apa saja untuk menyelamatkan Negara. Penguasa-penguasa yang sukses, kata Machiavelli, selalu bertentangan dengan pertimbangan moral dan keagamaan, jelas Dr. Adian selanjutnya.      

Berbeda dengan Eropa yang trauma dengan system teokrasi kemudian memunculkan tradisi politik sekular-liberal, dalam dunia Islam, fenomena itu tidak terjadi, tegas Adnin Armas, MA. Hal itu, karena kaum muslimin selalu melihat politik sebagai bagian dari agama, dalam artian politik adalah ibadah. Tujuan utama politik adalah untuk menyebarkan kebenaran, dan menjaga agama melalui kekuasaan. Oleh karena tujuannya mulia, jelas Adnin, maka cara yang digunakan pun juga mulia. Tidak ada dalam konsep Islam menggunakan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Dan tidak akan mungkin pula, politik Islam memperjuangkan nilai-nilai yang bertentangan dengan wahyu, seperti memperjuangkan kebebasan dalam kesesatan aqidah, kebebasan seks, seperti homoseksual, lesbianisme, pornografi dan lain-lainnya. Bagaimana bisa seperti itu? Kata kuncinya hanya satu, tegas Adnin, yaitu politik Islam masih mempercayai otentisitas dan kedudukan wahyu.

Terkait dengan para politisi partai yang berbasis Islam, Adnin tidak menafikan bahwa mereka sebagian tidak memiliki integritas, sehingga tidak bisa digambarkan sebagai pejuang politik Islam. Oleh karenanya, tegas Dosen Pascasarjana UMS ini, tidak heran jika mereka dikesankan sebagai mem-politisasi agama. Namun, menurutnya, tidaklah tepat untuk menyimpulkan bahwa politik Islam adalah tindakan politisasi agama, sebab tindakan oknum tersebut bukanlah referensi bagi ajaran Islam. Sebaliknya, tegas Penulis buku Metodologi Bibel dalam Al-Qur’an ini, politik Islam dalam wajah sekarang ini adalah memasukkan nilai-nilai ajaran Islam yang penuh dengan nilai moral, spiritual dan intelektual ke dalam politik yang kini sudah ter-sekular-kan. (mm)

BACA JUGA  Lebih dekat dengan Dr. Syamsuddin Arif
2 Responses
  1. Menimbang Kembali Antara Demokrasi dan Politik Islam di Indonesia - IMAGOLOGI6 months ago

    […] bertujuan untuk takhta dunia, atau di sebagian lain terpacu pada akhirat saja.  Berbeda dengan politik Islam yang bertujuan untuk dunia dan akhirat melalui tampuk kekuasaan sebagai alat. Ideologi lain baik itu […]

    Reply
  2. Demokrasi, politik Islam, politik dalam Islam, makna demokrasi, Sistem politik dan demokrasi dalam islam, pengertian politi islam, politik dalam islam pertanyaan sistem politik Islam6 months ago

    […] bertujuan untuk takhta dunia, atau di sebagian lain terpacu pada akhirat saja.  Berbeda dengan politik Islam yang bertujuan untuk dunia dan akhirat melalui tampuk kekuasaan sebagai alat. Ideologi lain baik itu […]

    Reply

Leave a reply "ISLAMIA: Politik Sekular dan Politik Islam"