Injīl menurut Kristen dan Islam

No comment 3172 views

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

1Inpasonline.com-Injīl, bagi orang Kristen, dianggap sebagai dasar iman Kristen (asās al-īmān al-masīhī). Meskipun setiap gereja memiliki tradisinya sendiri dan semuanya dihormati oleh seluruh orang Kristen, tetapi dasar bersama bagi iman seluruh Kristen adalah Injīl.[1] Dan Injīl ini menurut keyakinan Kristen juga merupakan wahyu yang diterima oleh Yesus Kristus.   Di sisi yang lain, umat Islam meyakini bahwa nabi ‘Īsā as. (Kristen: Yesus Kristus) adalah utusan Allah (rasūl Allāh) yang mendapat wahyu-Nya berupa Injīl.[2]

Hanya saja keyakinan umat Islam dan kaum Kristen mengenai Injīl yang diterima nabi ‘Īsā as. memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Dimana umat Islam meyakini bahwa Injīl yang turun kepada nabi ‘Īsā as. hanya satu, tunggal. Sementara kaum Kristen meyakini adanya empat Injīl, yakni: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Keempatnya dianggap sebagai wahyu Allah. Sementara umat Islam berpandangan bahwa Injīl yang ada di tangan kaum Kristen saat ini sudah sejak lama mengalami distorsi (tahrīf), sehingga secara murni tak dapat dikatakan sebagai wahyu Allah.

            Tentu saja perbedaan-perbedaan tersebut di atas penting untuk diteliti lebih lanjut. Sehingga dapat ditemukan kebenarannya: Apakah benar Injīl yang turun kepada nabi ‘Īsā as. seperti yang diyakini umat Islam, atau yang benar adalah versi Kristen? Pertanyaan inilah yang akan menjadi fokus tulisan ini. Kemudian pertanyaan-pertanyaan ini akan diberikan jawaban kritis menurut pandangan hidup Islam (at-taṣawwur al-islāmī). Apa sejatinya Injīl menurut konsep Islam? Apakah dia masih layak disebut sebagai Firman Allah? Atau dia hanya sebatas sabda Yesus Kristus? Atau, justru hanya berupa tulisan perorangan yang direkayasa kemudian dinisbatkan kepada Yesus Kristus? Padahal, Yesus sendiri tidak tahu-menahu tentang apa yang mereka tulisa itu. Inilah beberapa pertanyaan yang dapat ditemukan jawabannya dalam tulisan in.

 

Injīl menurut Orang Kristen

            Sebelum lebih jauh membicarakan seputar Injīl, penting diketahui tiga istilah penting berkaitan dengan istilah ini, yaitu: Injīl, Gospel, Perjanjiaan Baru, dan Alkitab. Berikut ini ulasannya secara ringkas.

  1. Injīl

            Injīl bagi orang Kristen merupakan bagian dari Bible[3] yang memuat dua bagian penting: Perjanjian Lama (The Old Testament, al-‘Ahd al-Qadīm) dan Perjanjian Baru (The New Testamen, al-‘Ahd al-Jadīd). Jumlahnya 27 kitab, yang dimulai dari Injīl Matius hingga Wahyu kepada Yohanes. Sedangkan PL berjumlah 39 kitab. Sehingga jika disatukan berjumlah 66 kitab. Lebih jelas, Dr. J. Verkuyl dalam Aku Percaya mencatat sebagai berikut:

“Alkitab terdiri dari 66 kitab besar-kecil. Ke-66 kitab ini terdiri dari dua bagian besar, yakni Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab. Bahasa aslinya adalah bahasa Ibrani. Kitab-kitab tertua dalam Perjanjian Lama adalah ditulis pada zaman Musa, kira-kira 1500 tahun sebelum Kristus. Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab dan surat-surat. Bahasa aslinya adalah bahasa Yunani. Empat kitab pertama disebut Injīl, memuat sejarah hidup Yesus, kelahiran-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Lalu, menyusullah kitab yang bernama Kisah Para Rasul, yang berisi sejarah terjadinya Jemaat Kristen di Eropa, Asia dan Afrika. Kemudian menyusullah surat-surat, kebanyakan dari Rasul-Rasul dan pembantu-pembantunya, yang berisi tentang Injīl Yesus. Alkitab ditutup dengan Kitab Wahyu kepada Yohanes, yang berisi hal-hal yang akan terjadi dan yang memberitakan, bahwa Yesus, yang telah datang itu, akan datang kembali kelak…”[4]

            Dari keterangan Dr. Verkuyl di atas kita jadi tahu beberapa poin penting, yakni: Pertama, Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab dan surat-surat. Diantaranya adalah surat-surat yang ditulis oleh Paulus. Kedua, bahasa Perjanjian Baru adalah Yunani. Dan ketiga, yang disebut dengan Injīl adalah empat kitab: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Dan di dalam keempat kitab Injīl ini tercatat tentang: sejarah hidup Yesus, kelahirannya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Dimana kelak Yesus akan datang kembali ke dunia ini.

            Menjelaskan tentang Injīl, Drs. B. F. Drewes, M.Th menulis: “Dalam Perjanjian Baru kita menemui empat buah kitab yang sekarang biasanya dinamakan “Injil”, yaitu “Injil menurut Matius”, “Injil menurut Markus”, “Injil menurut Lukas”, dan “Injil menurut Yohanes”.”[5] Artinya, Injīl-injīl yang ada sekarang adalah hasil tulisan keempat penulis ini. Artinya, kitab-kitab tersebut benar-benar karya pribadi.

            Masalahnya tentu tidak sederhana, karena dari 27 kitab yang ada dalam PB bercampur dengan surat-surat yang ditulis oleh Paulus. Dan Paulus inilah yang dianggap, sebenarnya, sebagai pendiri agama Kristen. Itu sebabnya yang biasa disebut dengan Injīl adalah empat kitab saja: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Selain itu, problem lain yang berkaitan dengan Injīl ini ialah ketika dikatakan bahwa bahasa aslinya adalah Yunani. Karena ini bertolak-belakang dengan bahasa ibu Yesus Kristus, yaitu Arami.[6]

            Mengenai nama dari keempat kitab yang disebut Injīl juga bukan asli bawaan kitab-kitab tersebut. Karena ternyata keempat kitab yang ada di awal urut-urutan Kanon Perjanjian Baru yang sekarang ini diberi nama ‘Injīl’ bukan nama-nama yang diberikan oleh kitab-kitab itu sendiri (kecuali sampai batas tertentu, Injīl Markus), melainkan berasal dari abad II. Ini adalah hasil dari proses penyamarataan dikemudian hari yang menimbulkan sejumlah masalah. Akibatnya – betapapun sifat khas dari berbagai karya tersebut – semua tulisan yang mengandung kisah-kisah tentang Yesus digolongkan pada konsep ‘Injīl’.[7]

            Selain itu, siapa saja yang melakukan kajian terhadap Perjanjian Baru akan menyadari sebuah fakta yang mengatakan bahwa secara sadar, perjanjian itu telah memotret Paulus sebagai seorang rasul sempurna dari Jemaat Kerasulan Nasrani. Tidak kurang dari tiga belas surat dalam Perjanjian Baru disandangkan kepadanya; namun, sejumlah sarjana Bible, baik Katholik maupun Protestan, setelah bertahun-tahun melakukan penelitian, menyetujui bahwa hanya tujuh dari seluruh surat itu yang merupakan karya asli Paulus, yaitu: Roma I dan II, Korintus, Filipi, Filemon dan I Tesalonika.[8]

            Bahkan, yang lebih menarik, F. F. Bruce dalam Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru menulis bahwa “Injīl yang diberitakan zaman dulu itu lebih menekankan apa yang diperbuat ketimbang apa yang difirmankan oleh Yesus”.[9] Artinya, Injīl Yesus itu berupa ujaran oral, dan bukan dalam bentuk tertulis. Dan di dalam Injīl sendiri memang tidak ada perintah khusus dari Yesus untuk menuliskan Injīl. Yang ada hanya perintah untuk menyebarkan Injīl. Fakta ini dapat dibuktikan, misalnya, melalui beberapa ayat Perjanjian Baru sendiri.

            Di dalam Injīl Markus, misalnya, disebutkan sebagai berikut:

“Aku katakan kepadamu hal ini: tidak ada seorangpun yang telah menyerahkan rumah, saudara laki-laki atau saudara perempuan, ibu, bapak atau anak, atau tanahnya, untuk kepentinganku dan untuk Injil.”[10]

            Di sini Yesus menegur Petrus dan menyesalkan perlakuan terhadapnya dan Injilnya oleh para pengikutnya, termasuk Petrus. Di samping memperlihatkan lemahnya kesetiaan para pengikutnya, ayat tersebut juga sangat tegas menunjukkan bahwa Yesus memiliki sebuah Injil atau risalah bukan tentang pribadi Yesus sendiri, tetapi risalah yang dibawa dan diajarkannya. Di tempat lain pada Injil yang sama kita menemukan pernyataan ini:

“Yesus datang ke Galilea mempermaklumkan Injil Tuhan. Saat telah datang, kerajaan Tuhan ada di depanmu, bertaubatlah dan percayalah kepada Injil.”[11]

            Menurut Markus, setelah pembaptisannya yang mengantarkan Yesus kepada misinya, ajaran pertama yang dia tanamkan kepada dunia adalah: “Bertaubatlah dan percayalah kepada Injil.” Yang sangat menarik, Injil yang sama tersebut, di samping menceritakan episode-episode setelah kebangkitan kembali, juga mencatat sebagaimana Yesus telah mengatakan: “Pergilah ke segala penjuru dunia dan beritakan Injil ke seluruh manusia.”[12]

            Maka wacana pertama tentang Yesus setelah pembaptisannya sebagaimana juga perintah perpisahannya yang disampaikan setelah kebangkitannya kembali dipusatkan sekitar “Injīl”. Perjanjian Baru juga menyebutkan bahwa Yesus biasa menerima wahyu.[13] Selain itu, dalam kata pengantarnya untuk Injīl yang dinisbatkan kepada Lukas, dia menyinggung Injīl Yesus.

“Banyak orang yang telah berusaha menyusun suatu tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi diantara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dalan pelayan Firman (Injīl).”[14]

            Kata “pelayan Firman (Injīl)” yang digunakan Lukas secara tegas menunjukkan keberadaan Injīl Yesus. Tidak satu pun penulis Injīl pernah menyatakan dalam Injīl-injīlnya bahwa mereka adalah penulis, penyusun atau bahkan penyunting Injīl yang dimiliki Yesus.[15]

            Tentu saja ini menjadi menarik jika dibandingkan dengan kayakinan orang Kristen bahwa keempat Gospel yang masing-masing dikarang oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes dijadikan sebagai Injīl dan diyakini sebagai Injīl hasil tulisan mereka. Karena mengenai siapa yang menulis keempat kitab yang disebut ‘Injīl’ masih menjadi satu masalah yang penting untuk didiskusikan.

Nama-nama penting, seperti yang jamak dikenal, seperti: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, bukan penulisnya. Mengenai hal ini, catatan Bruce Chilton berikut penting untuk disimak. Dia menulis demikian:

“Penulis Kitab-kitab Injīl kita sudah sangat dekat pada jawaban atas pertanyaan kita, kalau kita mempunyai bayangan tentang siapa yang menulis Injīl-injīl kanonik. Tentu saja nama-nama “Matius”, “Markus”, “Lukas”, “Yohanes” berdasarkan tradisi dihubungkan dengan Injīl-injīl tersebut dengan judul-judul yang ditambahkan kemudian. Namun, tidak satupun dokumen itu benar-benar menyebut nama penulis, dan hubungan antara Injīl-injīl dengan empat orang yang dikenal sebagai penginjil tidak disaksikan sebelum abad ke-2.”[16]

            Artinya, baru pada abad II M baru diketahui bahwa para penulis Gospel yang empat itu adalah Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Sebelum itu, keempat Gospel itu tidak diketahui siapa pengarangnya. Karena ternyata sebelum abad II itu penulisnya belum diketahui siapa. Bahkan menurut Saint Justin, seperti yang dikutip oleh Maurice Bucaille, Gospel-gospel itu pada pertengahan abad II disebut sebagai ‘Memoirs of the Apostles’ (Memoar para Murid Yesus).[17] Artinya, Gospel-gospel itu merupakan catatan pribadi para murid, tidak benar-benar wahyu yang turun dari Allah Swt. Dan penting pula untuk dicatat bahwa sebelum abad IV, orang Kristen tidak memiliki Injīl, karena Matius baru menulis Injīlnya pada tahun 38 M.[18]

  1. Perjanjian Baru
BACA JUGA  Analisis Kritis Metodologi Penafsiran Ayat-Ayat Al Qur'an Farid Esack

            Ini merupakan terjemah bahasa Inggris ‘New Testament’, yang berasal dari bahasa Yunani Kuno (Greece, Greek) ‘Novum Testamentum’.[19] Jika Injīl dimaksudkan hanya empat kitab (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), maka Perjanjian Baru lebih luas, yaitu mencakup 27 kitab yang ada di dalamnya: dimulai dari Matius dan diakhiri dengan kitab Wahyu kepada Yohanes.[20]

Dan isi Perjanjian Baru merupakan hasil tulisan manusia seluruhnya. Sehingga semua surat yang ditulis oleh Paulus, Yohanes, Yakobus, Yudas, Petrus, dan lain-lain jelas tidak bisa dikatakan sebagai Firman Tuhan. Dan memang bukan Firman Tuhan.[21] Dan para sarjana Kristen Barat banyak menulis buku-buku mereka dengan menggunakan istilah New Testament (Perjanjian Baru) ketimbang Injīl. Sementara para penulis Arab lebih terbiasa menggunakan istilah العهد الجديد (al-‘Ahd al-Jadīd).[22]

  1. Gospel

            Kata “Gospel” berasal dari bahasa Inggris kuno, “god spell” yang artinya “good news” (kabar-baik). Atau, biasa digunakan dalam Perjanjian Baru artinya “glad tidings”. Dan ini merupakan terjemahan yang baik dari bahasa Yunani Kuno “enaggelion”.[23] Dan kata Gospel ini digunakan sebagai nama lain dari Injīl. Sehingga maknanya menjadi “kabar-gembira”, “berita-baik”, atau “berita suka-cita”. Dan “kabar-gembira” karena nabi ‘Īsā menggembirakan para umatnya dengan berita kedatangan Muhammad Saw. sebagai utusan Allah Swt. yang terakhir untuk seluruh alam.[24]

Dan biasanya kata ‘Gospel’ digunakan untuk menunjukkan kepada empat kitab yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Maka dalam kitab mereka sering ditulis demikian: Gospel according to St. Matthew, Gospel according to St. Mark, Gospel according to St. Luke, dan Gospel according to St. John. Dan dalam bahasa Arab biasa ditulis dengan الإنجيل بحسب متى، الإنجيل بحسب مرقوس، الإنجيل بحسب لوقا، الإنجيل بحسب يوحنا, sama dengan penggunaan kata “according to” (“menurut”).[25] Meskipun ada penulis Arab Kristen yang mengganti kata بحسب dengan kata بشارة (“kabar-gembira”).[26] Mungkin untuk lebih mendekatan makna etimologi dari kata Injīl.

  1. Alkitab

            Kata Alkitab sebenarnya terjemahan dari Injīl dalam bahasa Indonesia. Dan di dalam Al-Quran penyebutan kata Alkitab merujuk kepada Al-Quran itu sendiri, Zabūr, Taurāt, dan Injīl. Dan percaya kepada seluruh kitab-kitab ini, dalam agama Islam, masuk ke dalam salah satu rukun iman: Iman kepada Kitab-kitab. Meskipun “iman” terhadap kitab-kitab ini secara umum (ijmāl), tidak secara khusus.[27] Karena kitab-kitab itu memang masih-masing pernah diturunkan kepada nabi Dāwūd, nabi Mūsā, dan nabi ‘Īsā. Khusus Taurāt dan Injīl, Allah menyebut keduanya sebagai hudan (petunjuk) bagi manusia sebelum turun Al-Quran.[28]

            Dan penting dicatat bahwa kata Alkitab adalah buku yang mencakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ia adalah bentuk terjemahan dari kata Bible (Inggris) atau Bibel (Belanda), maupun Bublos (Yunani). Sementara kaum Kristen Arab menggunakan istilah al-Kitāb al-Muqaddas.[29]

            Mengenai penggunaan istilah Alkitab tersebut, Irena Handono, mantan mullaf dan pendiri Irena Center menulis dengan tegas sebagai berikut:

“Namun umat Islam sering salah memahami kata ‘Al-Kitab’ yang dipakai oleh umat Kristen. Umumnya, umat memahami Al-Kitab yang dipegang umat Kristen sebagai ‘Injīl’ yang disebut-sebut dalam Al-Quran. Ini sesuatu yang perlu diluruskan.

Al-Kitab pegangan umat Kristen saat ini, yang biasa disebut dengan Bibel. Adalah gabungan dari literatur Yahudi (Jewish Bible) yang oleh umar Kristen disebut Perjanjian Lama (Old Testament) dengan literatur Kristen yang mereka sebut Perjanjian Baru (New Testament).”[30]

Dengan demikian, istilah Bible (Bibel), Gospel, dan Alkitab merupakan istilah khas Kristen untuk menyebut kitab suci mereka. Apakah Bible, Gospel, maupun Alkitab, intinya kaum Kristen meyakini bahwa kitab suci mereka ditulis berdasarkan ‘inspirasi’ dari Tuhan. Maka, penting kiranya untuk diajukan satu pertanyaan penting: Apakah benar Gospel-gospel itu ditulis berdasarkan inspirasi?

            Menurut orang Kristen, Bible (Indonesia: Alkitab) ditulis berdasarkan inspirasi, berupa bimbingan Tuhan. Seorang sarjana Kristen, Dr. Harun Hadiwijono dalam bukunya Iman Kristen menulis demikian:

“Dalam 2 Tim. 3:16 disebutkan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Di sini disebutkan adanya tulisan yang diilhamkan Allah yang bermanfaat untuk mengajar, dan sebagainya.”[31]

            Ketika menjelaskan Perjanjian Baru, penulis buku Buku Pintar Alkitab menulis: “Melalui tuntunan Tuhan, dokumen-dokumen ini digabung bersama sebagai kumpulan yang kita sebut Perjanjian Baru.”[32] Bahkan, penulis lain dengan penuh keyakinan menyatakan sebagai berikut:

“…. Unlike all others kinds of writings, the 46 books of Old Testament and the 27 books of the New Testament not only have a human author, but also have God as their author. So, afther a reading from the Letter to the Romans we do not say “The Word of Paul,” but rather, “The Word of the Lord.” Somewhat in the way that Jesus is both human and divine, the books of the Bible are both human and divine.

The only way in which we know which writings are “the Word of the Lord” is that same Holy Spirit who inspired the sacred authors guided the Church to discern with certainty which writings are inspired.”[33]

(…. Berbeda dengan tulisan-tulisan yang lain, 46 buku yang ada dalam Perjanjian Lama dan 27 buku dalam Perjanjian Baru tidak hanya memiliki pengarang manusia biasa tetapi Tuhan juga sebagai pengarangnya. Oleh karena itu, setelah membaca Surat yang ditulis Paulus kepada orang-orang Romawi, kita tidak mengatakan “Kata Paulus,” tetapi, “Firman Tuhan.” Karena Yesus adalah manusia sekaligus ilahi, maka Bible (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) adalah manusiawi sekaligus ilahi.

Satu-satunya jalan kita dalam mengetahui tulisan-tulisan mana saja ya

ng disebut “Firman Tuhan” adalah Roh Kudus yang sama yang telah mengilhami para penulis yang sakral telah membimbing Gereja untuk memastikan mana saja tulisan-tulisan yang diilhami (diinspirasikan).”

            Mengenai konsep ‘inspirasi’ dalam penulisan Gospel, penting kiranya melihat pandangan sarjana Kristen. Diantaranya adalah, P.W. Comfort yang menulis, certain individuals… were inspired by God to write Gospel accounts to substantiate the oral tradition.[34]

            Artinya, para sarjana Kristen sepakat bahwa Gospel ditulis melalui “inspirasi” (inspiration, Arab: ilhām). Namun menurut Islam tidak demikian. Karena jika ia benar-benar ditulis berdasarkan “inspirasi”: dibimbing oleh Tuhan melalui Roh Kudus tidak mungkin ditemukan banyak problem yang akan diulas pada poin berikut ini.

 

Injīl menurut Konsepsi Islam

            Menurut Syekh Muḥammad Rasyīd Riḍā dalam Tafsīr al-Manār, kata Injīl aslinya bahasa Yunani yang berarti “kabar-gembira” (al-bisyārah). Disebut juga dengan ajaran baru (al-taʻlīm al-jadīd). Di kalangan Kristen biasa dinisbatkan kepada empat buku yang dikenal dengan empat Injīl plus kitab Kisah Para Rasul, surat-surat Paulus, Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Wahyu kepada Yohanes. Namun secara umum kata Injīl hanya dinisbatkan kepada empat kitab tersebut.

            Dan Injīl yang empat itu merupakan sebutan bagi buku-buku yang berbicara secara ringkas tentang kehidupan al-Masīḥ berikut sekilas tentang sejarahnya dan ajarannya. Oleh karenanya ia disebut Injīl. Tetapi, keempat kitab yang disebut Injīl ini tidak memiliki rantai periwayatan yang bersambung (laisa lihādzihi al-kutub sanad muttaṣil) menurut orang Kristen sendiri. Bahkan, mereka sendiri berbeda pendapat tentang tanggal penulisannya.

Perbedaan tentang tahun penulisan Injīl pertama saja sudah terdapat sembilan pendapat yang berbeda. Sementara tentang tahun penulisan tinggal Injīil lainnya masing-masing memiliki tiga pendapat. Dimana mereka menyatakan bahwa kitab-kitab itu ditulisa pada paruh kedua abad I Masehi. Tetapi satu pendapat menyatakan bahwa Injīl yang pertama (Matius) ditulis pada tahun 37 Masehi. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa ia ditulis pada tahun 64 M. Sementara tentang Injīl keempat (Yohanes) disebutkan bahwa ia ditulis pada tahun 98 M. Bahkan, ada yang mengingkari jika Injīl ini sebagai karangan Yohanes. Sungguh, perbedaan pendapat mereka tentang seluruh kitab-kitab Perjanjian Baru sangat hebat dan dahsyat.

Berbeda dengan itu, Injīl menurut tradisi Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada rasul-Nya, ‘Īsā ibn Maryam as. Ia merupakan kabar-gembira tentang seorang nabi yang akan menyempurnakan syariat, hikmah, dan hukum. Dan ini sangat jelas ditunjukkan oleh lafadz Injīl ini. Dan Allah Swt. telah memberitahukan kepada kita, kata Syekh Rasyīd Riḍā, bahwa kaum Kristen telah melupakan janji-janji yang diperintahkan oleh Allah untuk ditepati, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi (Qs. Al-Mā’idah [5]: 14).[35]

Penting pula untuk dicatat bahwa kitab Injīl kaum Kristen sendiri tidak dikenal luas kecuali pada abad IV M. Karena para pengikut al-Masīḥ diintimidasi oleh orang-orang Yahudi dan Romawi. Dan ketika Kaisar Constantin benar-benar memeluk Kristen secara politis barulah mereka merasa aman. Sejak itu kemudian buku-buku itu muncul, seperti: sejarah al-Masīḥ yang memuat sebagian ucapannya yang disebut Injīl. Kemudian para penguasa menjadikan Injīl itu sebagai dasar memutuskan perkara hingga disepakati empat Injīl yang ada itu.

Maka, siapa saja yang memahmi apa yang kami katakan, kata Syekh Rasyīd Riḍā, tentang perbedaan antara istilah Al-Quran dalam menyebut Injīl dan istilah mereka tentang konsep Taurāt dan Injīl akan tampak jelas bahwa Al-Quran merupakan “penyaring” (al-mumaḥḥiṣ) bagi kebenaran yang telah dihilangkan oleh mereka. Yaitu hakikat yang terkandung dalam kata Taurāt dan Injīl. Dan dapat dinyatakan bahwa penyaringan (filter) ini menegaskan posisi Al-Quran sebagai wahyu Allah. Jika tidak, mana mungkin seorang nabi yang buta aksara (ummī), yang tidak pernah membaca kitab-kitab dan Injīl-Injīl tersebut dan sejarah Kristen dapat mengetahui bahwa mereka telah melupakan apa yang telah diwahyukan kepada mereka dan hanya mengetahui sebagiannya saja.[36] Artinya, ada semacam ketidak-jujuran teologis dari kalangan Yahudi dan Kristen. Dimana hal-hal yang berkaitan dengan syariat Taurāt disembunyikan. Begitu juga dengan kabar-gembira yang ada di dalam Injīl tentang kenabian Nabi Muḥammad Saw.

BACA JUGA  Wajah Islam; Radikal, Liberal, atau Ramah?

Penting dicatat bahwa Al-Quran menggunakan istilah “Injīl” dengan suatu makna spesifik: nama kitab yang Allah wahyukan kepada Yesus. Allah menyebut kitab Yesus “Injīl” karena kitab itu mengandung beberapa kabar-baik tentang kedatangan Nabi Muhammad di masa depan. Injīl Yohanes, misalnya, menyatakan bahwa Yesus bicara tentang sosok misterius yang akan datang beberapa waktu setelah dia pergi yang disebut parakletos. Ini adalah istilah bahasa Yunani, yang juga disebutkan di dalam Surat Yohanes yang Pertama, barangkali merupakan penyimpangan atas istileh periklytos, yang hanya berbeda tiga huruf vokal. Yang terakhir ini memliki makna yang sama persis dengan “Muhammad” atau “yang amat terpuji”.

            Injīl membenarkan pesan Taurāt. Injīl tidak memuat sebuah hukum baru, tetapi melengkapi Taurāt, mengubah beberapa aspek hukumnya. Al-Quran menolak pandangan umum orang Kristen bahwa Yesus membatalkan hukum itu atau mengajarkan bahwa hukum itu bisa dilanggar. Perjanjian Baru tidak memuat apa-apa untuk mendukung pandangan ini. Keberhasilan pemakzulan hukum Taurāt di dalam Kekristenan merupakan hasil kerja Paulus yang menggantinya dengan menekankan peran penebusan dalam penyelamatan, sehingga lebih mudah bagi non-Yahudi untuk pindah ke agama baru tersebut.[37]

            Dan Injīl yang disebutkan di dalam Al-Quran tidak bermakna: satu kitab yang diturunkan kepada ‘Īsā as. Tetapi, makna Injīl dinisbatkan kepada tujuan besarnya. Sebagaimana lafadz Al-Quran dinisbatkan kepada kitab yang turun kepada Muhammad Saw. dan Taurāt yang turun kepada Mūsā as. Maka, Al-Quran adalah kitab yang paling sering dibaca. Makna Taurāt adalah hukum syariat. Dan nama Injīl sendiri berasal dari bahasa Yunani, yang artinya kabar-gembira (al-bisyārah).

Ketika ‘Īsā as. Memberi kabar-gembira tentang kerajaan langit maka nama kitabnya disebut Injīl: kitab yang diturunkan oleh Allah yang di dalamnya terdapat petunjuk (hudā) dan cahaya (nūr). Seluruh kandungannya adalah kabar-gembira (al-bisyārāt). Maka ketika mereka melupakan sebagiannya maka tidak ada lagi yang tinggal di tengah-tengah mereka kecuali perkataan yang tidak nyata. Namun Allah tetap menjaga berbagai kabar-gembira yang ada di dalamnya agar orang-orang saleh dapat mendapat hidayah Allah.[38]

Di dalam Qs. al-Hadīd [57]: 27 dan Āl ‘Imrān [3]: 3 Allah Swt. menyebutkan bahwa Injīl yang diturunkan kepada nabi ‘Īsā as. merupakan Kitab Samāwī (“Kitab Langit”) alias wahyu Allah yang diturunkan kepadanya. Dan di dalam Qs. Āl ‘Imrān [3]: 48-49 Allah juga menyebutkan bahwa di dalam Injīl terdapat petunjuk (hidāyah) dan cahaya (nūr) bagi Banī Isrā’īl.

Kitab Injīl yang diturunkan kepada nabi ‘Īsā as. juga memuat dakwah (seruan) al-Masīh (Kristen: Kristus) kepada Tawhīd dan memusnahkan kesyirikan.[39] Di dalamnya juga terdapat hukum-hukum syariat.[40] Dia juga merupakan pembenar/penguat (muṣaddiq) kitab Taurāt yang turun kepada nabi Mūsā as.[41] Bahkan, Injīl ini memberikan kabar-gembira tentang kedatangan nabi Islam, Muhammad Saw.[42]

Dari sana menjadi jelas bahwa Injīl yang disebutkan oleh Al-Quran al-Karīm bukan empat kitab atau – menurut orang Kristen – Empat Injīl, yang ada di tangan orang Kristen saat ini yang biasa disebut dengan Perjanjian Baru (al-‘Ahd al-Jadīd). Jika keempat kitab itu yang dimaksud oleh Al-Quran tentu telah disebutkan. Sebaliknya, orang Kristen tidak mempercayai Injīl nabi ‘Īsā as. yang disebutkan oleh Al-Quran ini. Yang mereka imani adalah adalah Bible (al-Kitāb al-Muqaddas) yang terbagi menjadi dua bagian: Perjanjian Lama (al-‘Ahd al-Qadīm) dan Perjanjian Baru (al-‘Ahd al-Jadīd).[43]

Dari ulasan di atas menjadi jelas bahwa Injīl bukan Bible ataupun Gospel, apalagi Alkitab. Injīl dalam Islam adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada nabi ‘Īsā as. Sementara Bible merupakan kitab yang “disucikan” oleh kaum Yahudi dan Kristen, yang memuat dua perjanjian: Perjanjian Lama (al-‘Ahd al-Qadīm, Old Testament) dan Perjanjian Baru (al-‘Ahd al-Jadīd, New Testament) yang memuat 66 kitab, sebagaimana diulas pada bagian sebelumnya.

Dan penulisan Gospel-gospel yang dianggap melalui “inspirasi” sulit untuk dibuktikan. Karena jika dikatakan bahwa “All Scripture is given by inspiration of God” (2 Timotius 3:16) ini jelas menegaskan tentang Perjanjian Lama. Mengapa? Karena Perjanjian Baru belum ada. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Aʻẓamī:

“Satu-satunya bagian yang mungkin menunjukkan inspirasi ini adalah 2 Timotius 3:16, bahwa “Setiap Kitab Suci terinspirasikan dan berguna untuk pengajaran.” Yang dimaksudkan di sini bagaimana pun juga adalah PL, sebab PB belum lagi dikompilasikan dalam bentuk yang kita kenal kini. Seorang penulis abad kedua, Justin Martyr, lebih lanjut mengklarifikasi bahwa inspirasi ini dimaksudkan bukan pada teks Ibrani yang ada, tapi hanya pada keakuratan penerjemahannya ke dalam bahasa Yunani Kuno.”[44]

Menurut keyakinan umat Islam keempat Gospel Kristen tidak pernah turun dari sisi Allah kepada al-Masīḥ, karena menurut keyakinan Kristen al-Masīḥ adalah “Tuhan”. Dan Tuhan tidak butuh kepada kitab. Sebagaimana pula disepakati bahwa al-Masīḥ tidak pernah mendiktekan agar Gospel itu ditulis. Sehingga semasa hidupnya Gospel-gospel itu tidak pernah ditulis. Ia ditulis setelah al-Masīḥ diangkat. Penulisnya: dua orang dari murid setianya (Ḥawārī) dan dua orang lagi bukan dari muridnya.[45]

Dua penulis Gospel yang tidak termasuk kepada murid al-Masīḥ, menurut teolog bahkan menurut orang-orang suci di kalangan Kristen, adalah: Markus dan Lukas. Keduanya menulis Gospel dengan cara mengambil riwayat dari orang yang mengambilnya langsung dari al-Masīḥ. Jika demikian halnya, maka kedua Gospel yang mereka tulis dipastikan tidak berasal dari lafadz al-Masīḥ tidak pula diambil dari ajaran-ajarannya.[46]

Dan memang, sarjana Kristen mengakui bahwa Gospel-gospel itu bukan “wahyu” Tuhan, melainkan catatan orang. Jika Yesus berbahasa Arami kemudian Gospelnya ditulis dalam bahasa Yunani – dan disebut bahasa aslinya – maka jelas ini tidak benar sebagai kata-kata Yesus. Artinya Gospel itu palsu. Prof. Alvar Ellegard dalam bukunya Jesus 100 Years Before Christ (1999) mengatakan:

“Tujuan mereka adalah untuk menyebarkan cerita tentang Yesus yang dikemas sesuai dengan ajaran yang telah ditetapkan Gereja, yang dipungut dari berbagai sumber yang cocok dengan keinginan mereka, baik dari sumber sejarah, cerita dongeng, maupun khayalan.”

Juga Dr. GC van Niftrik dan DS BJ Boland dalam Dogmatika Masa Kini (1967) menyatakan terus terang,

“Kita tidak usah malu-malu mengakui bahwa terdapat berbagai kekhilafan dalam Alkitab, kekhilafan tentang angka-angka perhitungan, tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan kekhilafan itu pada caranya.”

Dr. Soedarmo dalam Ikhtisar Dogmatika (1965) juga menyatakan dengan jujur:

“Dengan pandangan bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Kitab suci dengan bentuk sekarang masih dapat diperbaiki.”

Dia menambahkan: “Di dalam Perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan antara lain Surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram.”

Drs. M.E. Duyverman dalam bukunya Pembimbing ke Dalam Perjanjian Baru (1966) menyatakan:

“Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, kalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli. Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiocia diadakan penyelidikan dan penyesuaian salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam Gereja.”

Dr. B. Boland dalam Het Johannes Evangelia menyatakan pula:

“Apakah kebenaran-kebenaran dari Injil Jesus Kristus diserahkan kepada kita dalam bentuk murninya, asli dan tidak dipalsukan, ataukah telah dirubah melalui fikiran kebudayaan Gerika? Umumnya yang terakhirlah yang diterima oleh orang jaman kini… bahwa tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru pada dua abad pertama perhitungan tahun kita, pasti telah mengalami perubahan besar.”

Dan, Herman Bakels (1871-1954) dalam bukunya Nij Ketters? Ya.. Om deere Gods menyatakan:

“Adapun enam buah kitab (Weda, Awesta, Kitab-kitab tentang Budha, Tao-teking, Kitab-kitab Confusius, Al-Quran) tidak begitu saya kenal. Akan tetapi Bibel kita ini, pasti saya ketahui. Sudah 30 tahun lamanya saya mengincah Bibel ini dari awal sampai akhir. Oleh karena itu terus-terang saya katakan, bahwa di Eropa, saya belum kenal sebuah kitab yang lebih padat dengan hal-hal yang tidak benar daripada Bibel.”

Dia juga berkata sebagai berikut:

“Hampir semua kitab-kitab dalam Bibel itu menyesatkan, yakni memakai nama palsu, yaitu tidak ditulis oleh pengarang-pengarang yang tercantum nama mereka di atasnya, melainkan ditulis jauh di belakang mereka.”[47]

Maka, adalah sebuah kewajaran jika otentisitas Gospel-gospel yang empat itu diragukan. Karena tak diketahui siapa penulisnya dengan pasti. Maka benarlah keyakinan umat Islam bahwa Injīl yang asli adalah yang disampaikan oleh nabi ‘Īsā as. Dan itu tidak pernah diperintahkan untuk ditulis. Ia hanya disampaikan secara oral (lisan, syafahī). Apa yang diyakini oleh kaum Kristen hari ini adalah Gospel-gospel palsu, yang dinisbatkan kepada Yesus Kristen, padahal dia tidak mengatakannya.

Daftar Pustaka

Pendeta Ghassān Khalaf, al-Fahras al-‘Arabī li Kalimāt al-‘Ahd al-Jadīd al-Yūnāniyyah (Beirut-Lebanon: Dār al-Nasyr al-Ma‘madāniyyah, 1979).

Zaine Rilding, Ph.D. (Editor), “Forward”, dalam The Bible with the Apocryphal/Deuterocanonical Books (ttp).

Dr. Verkuyl, Aku Percaya, Terj. Soegiarto (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Cet. XVIII, 2001).

Drs. B. F. Drewes, M.Th, Satu Injil Tiga Pekabar (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, Cet. VII, 2006).

BACA JUGA  Tiga Pembaharu Ahlussunnah

Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap Masalah-Masalahnya, Terj. Stephen Suleeman (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, Cet. VII, 2006).

  1. A. Yussef, Naskah Laut Mati, Injil Barnabas, dan Perjanjian Baru: Studi Perbandingan, Terj. Sanuddin Ranam dan Masykur Hakim (Bekasi: Fima Rodheta, Cet. I, 2006).
  2. F. Bruce, Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru, Terj. R. Soedarmo (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Cet. VI, 2006).

Hamid Qadri, Dimensi Keimanan Kristen: Pengaruh Kepercayaan Kuno dan Filsafat dalam Kristen, Terj. Masyhur Abadi dan Lis Amalia (Surabaya: Pustaka Da’i, Cet. I, 1999).

Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru bagi Pemula, Terj. Ny. C. Corputty-Item (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Cet. IV, 2004).

Maurice Bucaille, The Bible, the Qur’an and Science: The Holy Scripture Examined in the Light of Modern Knowledge, Translated from the French by Alastair D. Pannell dan Maurice Bucaille (ttp.).

  1. T. Robertson, An Introduction to the Textual Criticism of the new Testament (Nashville, Tennessef: Broadman Press, 1925).

Zaini Ridling (Editor), The Bible: New Revised Standard Version (USA: Division of Christian of the National Council of the Churces of Christi, 1980).

International Bible Society, Holy Bible (Colorado Springs, 2005).

Irena Handono, Bibel Bukan Injil (Bekasi: Gerbang Publishing, Cet. II, 2013).

al-Kitāb al-Muqaddas al-‘Ahd al-Jadīd maʻa al-Qirā’āt al-Kanasiyyah li al-Kanīsat al-Qibṭiyyah al-Urtsūdzuksiyyat (Holy Bible, New Testament with Coptic Church Daily Readings (Port-Said: Egypt, Cet. I, 2005).

Paus al-Faghālī, Anthon ‘Aukar Niʻmat Allāh al-Khourī, dan Yūsuf Fakhrī, al-‘Ahd al-Jadīd: Tarjamah bayna Suṭūr [Yūnānī-‘Arabī] (Mu’assasah Dakkāsy li al-Ṭibāʻah, Cet. I, 2003.

The Christadelphians, Introducing Bible Basics (Hyderabad-India: The Christadelphians, tt).

al-Madkhal ilā al-‘Ahd al-Jadīd (Kairo: Dār al-Tsaqāfah al-Masīḥiyyah, 1980).

Ḥabīb Saʻīd, al-Madkhal ilā al-Kitāb al-Muqaddas (Kairo: Dār al-Ta’līf wa al-Nasyr li al-Kanīsah al-Usqufiyyah bekerjasama dengan Majmaʻ al-Kanā’is fī al-Syarq al-Adnā, ttp).

Coptology, al-Kitāb al-Muqaddas (Beirut-Lebanon: Dār al-Masyriq, Cet. III, 1994.

Dr. Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Cet. XXI, 2010).

Christopher D. Hudson, Carol Smith, dan Valerie Weidemann, Buku Pintar Alkitab: Cara Terlengkap, Termudah, dan Menyenangkan untuk Memahami Firman Allah, Terj. Michael Wong (Jakarta: PT. Bethlehem Publisher, Cet. I, 2008).

Theology Commission Canadian Conference of Catholic Bishops, The Word of God in Scripture: How to Read and Interpret the Bible (Ottawa-Ontario: Theology Commission Canadian Conference of Catholic Bishops, 1999).

Muḥammad Muṣṭafā al-Aʻẓamī, The History of the Qur’ānic from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments (Leicester-England: UK Islamic Academy, 2003).

Syekh Sayyid Muḥammad Rasyīd Riḍā, Tafsīr al-Manār (Mesir: Dār al-Manār, Cet. III, 1367 H), Vol. III.

Muhammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm (Kairo: Dār al-Ḥadīts, 1428 H/2008 M).

Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus: Sang Mesias menurut Al-Quran, Alkitab, dan Sumber-Sumber Sejarah, Terj. Yuliani Liputo (Bandung: Mizan, Cet. I, 2012).

‘Abd al-Ḥamīd al-Farāhī, Mufradāt al-Qur’ān: Naẓarāt Jadīdah fī Tafsīr Alfāẓ Qur’āniyyah, taḥqīq: Dr. Muhammad Ajmal Ayyūb al-Iṣlāḥī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī,).

Nabīl Nīkūlā Bū Khārūq, al-Anājīl al-Arba‘ah limādzā Lā Yu‘awwalu ‘Alayhā (ttp.), 17-20.

Muḥammad as-Saʻdī, Ḥawla Mautsūqiyyat al-Anājīl (Kitāb Risālah al-Jihād, Libya, 1395 H/1985 M).

Ṣābir Ṭaʻīmah, Qirā’ah fī al-Kitāb al-Muqaddas: Ta’ammulāt fī Kutub al-Anājīl (al-Madīnah al-Munawwarah: Maktabah Dār az-Zamān li an-Nasyr wa at-Tawzīʻ, 1426 H).

[1] Pendeta Ghassān Khalaf, al-Fahras al-‘Arabī li Kalimāt al-‘Ahd al-Jadīd al-Yūnāniyyah (Beirut-Lebanon: Dār al-Nasyr al-Ma‘madāniyyah, 1979), 13.

[2] Di dalam Qs. al-Baqarah [2]: 4, misalnya, Allah menyebutkan bahwa diantara sifat orang beriman adalah: percaya kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelum wahyu yang diturunkan (Al-Quran) kepada Nabi Muhammad Saw.

[3] Kata Bible sendiri bermakna ta biblia, yaitu little books (buku-buku kecil). Lihat, Zaine Rilding, Ph.D. (Editor), “Forward”, dalam The Bible with the Apocryphal/Deuterocanonical Books (ttp), 3.

[4] Dr. Verkuyl, Aku Percaya, Terj. Soegiarto (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Cet. XVIII, 2001), 15.

[5] Drs. B. F. Drewes, M.Th, Satu Injil Tiga Pekabar (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, Cet. VII, 2006), 1.

[6] Bahasa Arami termasuk ke dalam rumpun bahasa Semit dengan bahasa Ibrani dan bahasa Arab.

[7] Lihat, Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis terhadap Masalah-Masalahnya, Terj. Stephen Suleeman (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, Cet. VII, 2006), 131.

[8] M. A. Yussef, Naskah Laut Mati, Injil Barnabas, dan Perjanjian Baru: Studi Perbandingan, Terj. Sanuddin Ranam dan Masykur Hakim (Bekasi: Fima Rodheta, Cet. I, 2006), 150.

[9] Lihat, F. F. Bruce, Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru, Terj. R. Soedarmo (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Cet. VI, 2006), 34.

[10] Markus 10: 29.

[11] Markus 1: 14-15.

[12] Markus 16: 15-16, dan Markus 8: 35.

[13] Yohanes 8: 4; 12: 50.

[14] Lukas 1: 1-2.

[15] Hamid Qadri, Dimensi Keimanan Kristen: Pengaruh Kepercayaan Kuno dan Filsafat dalam Kristen, Terj. Masyhur Abadi dan Lis Amalia (Surabaya: Pustaka Da’i, Cet. I, 1999), 139-140.

[16] Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru bagi Pemula, Terj. Ny. C. Corputty-Item (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Cet. IV, 2004), 24.

[17] Maurice Bucaille, The Bible, the Qur’an and Science: The Holy Scripture Examined in the Light of Modern Knowledge, Translated from the French by Alastair D. Pannell dan Maurice Bucaille (ttp.), 49.

[18] Rauf Syalabi, Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus, Terj. Imam Syafei Riza (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet. I, 2001), 89.

[19] Tentang Novum Testamentum, lihat A. T. Robertson, An Introduction to the Textual Criticism of the new Testament (Nashville, Tennessef: Broadman Press, 1925), vii.

[20] Lebih detail, lihat Zaini Ridling (Editor), The Bible: New Revised Standard Version (USA: Division of Christian of the National Council of the Churces of Christi, 1980). Lihat juga, International Bible Society, Holy Bible (Colorado Springs, 2005). Lihat,

[21] Irena Handono, Bibel Bukan Injil (Bekasi: Gerbang Publishing, Cet. II, 2013), 11).

[22] Lihat, misalnya, al-Kitāb al-Muqaddas al-‘Ahd al-Jadīd maʻa al-Qirā’āt al-Kanasiyyah li al-Kanīsat al-Qibṭiyyah al-Urtsūdzuksiyyat (Holy Bible, New Testament with Coptic Church Daily Readings (Port-Said: Egypt, Cet. I, 2005). Lihat juga, Paus al-Faghālī, Anthon ‘Aukar Niʻmat Allāh al-Khourī, dan Yūsuf Fakhrī, al-‘Ahd al-Jadīd: Tarjamah bayna Suṭūr [Yūnānī-‘Arabī] (Mu’assasah Dakkāsy li al-Ṭibāʻah, Cet. I, 2003. Buku ini didistribusikan oleh al-Jāmiʻah al-Anṭūniyyah, Kulliyyat al-‘Ulūm al-Bībliyyah wa al-Maskūniyyah wa al-Adyān).

[23] The Christadelphians, Introducing Bible Basics (Hyderabad-India: The Christadelphians, tt), 86.

[24] Irena Handono, Bibel Bukan Injil, 7.

[25] Lebih luas, lihat al-Madkhal ilā al-‘Ahd al-Jadīd (Kairo: Dār al-Tsaqāfah al-Masīḥiyyah, 1980).

[26] Lihat, Ḥabīb Saʻīd, al-Madkhal ilā al-Kitāb al-Muqaddas (Kairo: Dār al-Ta’līf wa al-Nasyr li al-Kanīsah al-Usqufiyyah bekerjasama dengan Majmaʻ al-Kanā’is fī al-Syarq al-Adnā, ttp.), 243, 246, 251, dan 261.

[27] Hayati, Firman Allah dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 4-5.

[28] Cermati Firman Allah, dalam Qs. Āl ‘Imrān [3]: 3-4.

[29] Lihat, misalnya, Coptology, al-Kitāb al-Muqaddas (Beirut-Lebanon: Dār al-Masyriq, Cet. III, 1994. Didistribusikan oleh al-Maktabah al-Syarqiyyah, Beirut-Lebanon: 1987. Dan, Jamʻiyyāt al-Kitāb al-Muqaddas fī al-Masyriq (Beirut-Lebanon).

[30] Irena Handono, Bibel Bukan Injil, 9.

[31] Dr. Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, Cet. XXI, 2010), 56. Dr. Harun lebih jauh menjelaskan bahwa kata yang diterjemahkan dengan “diilhamkan” adalah theopneustos, yang secara harafiah berarti: dihembus, dimasuki angin atau nafas Allah. Maka ungkapan “tulisan yang diilhamkan” berarti: tulisan yang di dalamnya dihembuskan atau ditiupkan nafas atau roh Allah. Lihat, Dr. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 56.

[32] Lihat, Christopher D. Hudson, Carol Smith, dan Valerie Weidemann, Buku Pintar Alkitab: Cara Terlengkap, Termudah, dan Menyenangkan untuk Memahami Firman Allah, Terj. Michael Wong (Jakarta: PT. Bethlehem Publisher, Cet. I, 2008), 3.

[33] Lihat, Theology Commission Canadian Conference of Catholic Bishops, The Word of God in Scripture: How to Read and Interpret the Bible (Ottawa-Ontario: Theology Commission Canadian Conference of Catholic Bishops, 1999), 7.

[34] Muḥammad Muṣṭafā al-Aʻẓamī, The History of the Qur’ānic from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments (Leicester-England: UK Islamic Academy, 2003), 281. Al-Aʻẓamī mengutip pandangan P.W. Comfort di atas dari bukunya Early Manuscript & Modern Translations of the New Testament (Baker Books, 1990), 3.

[35] Lebih luas, lihat Syekh Sayyid Muḥammad Rasyīd Riḍā, Tafsīr al-Manār (Mesir: Dār al-Manār, Cet. III, 1367 H), 3: 158-159.

[36] Syekh Rasyīd Riḍā, Tafsīr al-Manār, 3: 159.

[37] Louay Fatoohi, The Mystery of Historical Jesus: Sang Mesias menurut Al-Quran, Alkitab, dan Sumber-Sumber Sejarah, Terj. Yuliani Liputo (Bandung: Mizan, Cet. I, 2012), 549.

[38] Imam ‘Abd al-Ḥamīd al-Farāhī, Mufradāt al-Qur’ān: Naẓarāt Jadīdah fī Tafsīr Alfāẓ Qur’āniyyah, taḥqīq: Dr. Muhammad Ajmal Ayyūb al-Iṣlāḥī (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, Cet. I, ), 341.

[39] Lihat, Qs. al-Mā’idah [5]: 72.

[40] Firman Allah, dalam Qs. al-Mā’idah [5]: 50.

[41] Firman Allah, dalam Qs. al-Mā’idah [5]: 46.

[42] Firman Allah, dalam Qs. al-Saff [61]: 6.

[43] Nabīl Nīkūlā Bū Khārūq, al-Anājīl al-Arba‘ah limādzā Lā Yu‘awwalu ‘Alayhā (ttp.), 17-20.

[44] Lihat, Al-Aʻẓamī, The History of the Qur’ānic Text, 281.

[45] Muḥammad as-Saʻdī, Ḥawla Mautsūqiyyat al-Anājīl (Kitāb Risālah al-Jihād, Libya, 1395 H/1985 M), 12.

[46] āṢ bir Ṭaʻīmah, Qirā’ah fī al-Kitāb al-Muqaddas: Ta’ammulāt fī Kutub al-Anājīl (al-Madīnah al-Munawwarah: Maktabah Dār az-Zamān li an-Nasyr wa at-Tawzīʻ, 1426 H), 19.

[47] Irena Handono, Bibel bukan Injil, 11, 13-16.

Penulis adalah ketua MIUMI Medan

No Response

Leave a reply "Injīl menurut Kristen dan Islam"