Imam Muslim; Lumbung Ilmu, Penuh Kebaikan

No comment 804 views

Sejak Kanak-kanak

 

Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz Al-Qusyairi An-Naisaburi adalah nama lengkapnya. Nama paling belakang itu -An-Naisaburi- dinisbahkan kepada negeri tempat dia berasal yaitu Naisabur, kota besar yang terletak di Khurasan. Dia lahir pada tahun 206 H.

Naisabur merupakan negeri ‘hidup’ karena ilmu sangat dihormati di sana. Di negeri itu, orang-orang sibuk mencari ilmu dan sekaligus mentransfernya. Tentu saja, cukup beruntung orang-orang yang tumbuh-kembang di lingkungan bagus seperti itu.

Keluarga Imam Muslim termasuk yang tidak menyia-nyiakan situasi itu. Al-Hajaj –orangtua Imam Muslim- termasuk dari masyayikh, yaitu kalangan orang yang memperhatikan ilmu dan berusaha untuk memperolehnya.

Hanya saja, sekalipun di negerinya sendiri sumber ilmu sudah cukup memadai, tetapi perjalanan mencari ilmu ke negeri lain adalah sebuah keniscayaan. Hal itu bisa kita lihat lewat sejarah hidup para ahli (hadits) di berbagai negeri Islam. Imam Muslim-pun termasuk dalam barisan pencari ilmu itu.

Perjalanan pertama Imam Muslim, bersamaan dengan saat dia berhaji pada tahun 220 hijriah. Dia yang saat itu masih belia -14 tahun- berguru hadits kepada Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi di Makkah. Dia pun mendapat ilmu serupa dari Ahmad bin Yunus dan beberapa ulama hadits lainnya di daerah Kufah, ketika di tengah perjalanan pulang menuju negerinya.

Perjalanan kedua berlangsung cukup panjang, menjelajah ke banyak negeri Islam. Dimulai sebelum tahun 230 Hijriah, Imam Muslim berkeliling dan belajar dari banyak ahli hadits. Adz-Dzahabi -pakar hadits dan sejarah- menuturkan bahwa Imam Muslim mulai belajar hadits sejak tahun 218 H, yang berarti ketika berusia 12 tahun. Dia tercatat pernah merantau ke sejumlah negeri untuk mencari ilmu hadits. Berikut ini, sebagian negeri yang pernah dia tinggali untuk mencari ilmu: Khurasan dan daerah sekitarnya, Ar-Ray, Iraq (seperti di Kufah, Bashrah dan Baghdad), Hijaz (terutama Makkah dan Madinah), Asy-Syam, dan Mesir.

Guru dia tentu saja sangat banyak. Al-Hafizh Adz-Dzahabi mencatat 220 orang guru yang riwayatnya diambil oleh Imam Muslim dan dicantumkan di Kitab Shahih-nya. Berikut adalah di antara guru-gurunya: Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi, Al-Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Ishaq bin Rahuyah Al-Faqih Al-Mujtahid Al-Hafizh, Yahya bin Ma’in, Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan Abdullah bin Abdurrahman Ad-Darimi.

Ketekunan Imam Muslim mencari ilmu lalu mengantarkannya ke derajat seorang Imam di bidang ilmu hadits. Imam Muslim juga aktif menyebarkan ilmunya, baik di negerinya sendiri ataupun di negeri-negeri Islam lainnya. Dalam menyebarkan ilmu, Imam Muslim memanfaatkan dua kecakapan yang dipunyainya yaitu lewat ketajaman tulisan maupun dengan kekuatan lisannya.

Karya tulis Imam Muslim di bidang ilmu hadits cukup banyak. Di antaranya, adalah: Al-Jami’ ash-Shahih, Al-Kuna wa Al-Asma’, Al-Munfaridaat wa Al-Wildan, Ath-Thabaqaat, Rijalu ‘Urwah bin Az-Zubair, dan At-Tamyiz.

Karyanya yang paling fenomenal adalah Al-Jami’ ash-Shahih, yang beken disebut sebagai Shahih Muslim. Kitab Shahih Muslim dikatakan oleh Imam An-Nawawi sebagai salah satu Kitab yang paling shahih -setelah Al Qur’an- yang pernah ada. Sampai-sampai ketika ada kalimat “Hadits riwayat Muslim” di akhir sebuah hadits, maka rata-rata orang merasa tidak perlu untuk mengecek ulang tentang keshahihan hadits tersebut.

Secara bersama-sama, kedua Kitab –Shahih Bukhari dan Shahih Muslim- biasa disebut AsShahihain. Adapun kedua tokoh ulama ahli hadits itu –Imam Bukhari dan Imam Muslim- populer disebut AsySyaikhani atau Asy Syaikhaini, yang berarti dua orang tua.

Mengingat ketinggian ilmunya, maka sangat banyak pihak yang menuntut ilmu kepada Imam Muslim. Berikut ini, di antara murid-muridnya: Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra`, Ali bin Al-Husain bin Al-Junaid Ar-Razi, Shalih bin Muhammad Jazrah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Abdurrahman bin Abu Hatim Ar-Razi, dan Abu Isa at-Tirmidzi.

Memang, sebagian ulama memasukkan At-Tirmidzi dalam jajaran murid Imam Muslim, karena terdapat sebuah hadits dalam Sunan At-Tirmidzi: “Muslim bin Hajjaj menuturkan kepada kami, Yahya bin Yahya menuturkan kepada kami, Abu Mu’awiyah menuturkan kepada kami, dari Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wa-Sallam bersabda: ‘Untuk menentukan datangnya Ramadhan, hitunglah hilal bulan Sya’ban’. Dalam hadits tersebut tampak bahwa At-Tirmidzi meriwayatkan dari Imam Muslim.

Sadar akan ilmunya yang tinggi dan akhlaqnya yang mulia, sejumlah ulama memberikan kesaksian tentang Imam Muslim. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra` berkata, Imam Muslim “Merupakan ulama manusia, lumbung ilmu, dan aku tidak mengetahuinya kecuali kebaikan.” Ibnu Katsir berkata, Imam Muslim “Termasuk salah seorang dari para imam penghafal hadits.” Adz-Dzahabi berkata, Imam Muslim ”Imam besar, hafizh lagi mumpuni, hujah serta orang yang jujur.”

Kecuali sibuk mencari ilmu, Imam Muslim pun tetap aktif berusaha untuk menopang hidup dan dakwahnya. Dia termasuk di antara para ulama yang menghidupi diri dengan berdagang. Imam Muslim dikenal sebagai seorang pedagang pakaian yang sukses. Dia juga memiliki sawah-sawah di daerah Ustu yang menjadi sumber penghasilan keduanya. Dalam kesehariannya, dia dikenal dermawan.

Semoga Bersua

Imam Muslim wafat pada 261 H / 875 M. Nama dia harum, buah dari kegigihan dia dalam mencari ilmu dan mendakwahkan Islam. Jika kita mencintai Imam Muslim karena Allah, maka semoga Allah pertemukan kita dengannya kelak di surga. Sungguh, di Hari Akhir, “Engkau akan bersama dengan yang engkau cintai” (HR Bukhari dan Muslim). []

 

BACA JUGA  PTAI: Hasilkan "Ulama Plus” atau “Ulama Minus”-kah?
No Response

Leave a reply "Imam Muslim; Lumbung Ilmu, Penuh Kebaikan"