Imam Bukhari; Pemimpin dalam Ilmu Hadits

No comment 929 views

 

Luar Biasa!

Dalam hal hadits, hampir semua ulama di dunia merujuk kepada Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari. Bukhari nama pendeknya, dinisbahkan kepada Bukhara (di Uzbekistan, Asia Tengah), nama daerah asal dia.

Bukhari lahir pada 196 H / 810 M. Dia tumbuh-kembang di keluarga yang berilmu. Ayah dia -Ismail bin Ibrahim- ahli fikih bermazhab Maliki. Sang ayah memang murid Imam Malik.

Ayah Bukhari dikenal wara’ (berhati hati terhadap yang syubhat, terlebih yang haram). Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil, namun meninggalkan warisan yang tak sedikit. Sang ayah pernah berkata, “Saya tidak mengetahui satu dirham-pun dari harta saya dari barang yang haram, dan begitu juga satu dirham-pun harta saya bukan dari hal yang syubhat.”

Bukhari-pun diasuh ibunya. Di masa kecilnya, mata Bukhari sempat buta. Suatu ketika ibunya bermimpi berjumpa Nabi Ibrahim a.s., yang lalu berkata kepadanya: “Wahai Ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang engkau panjatkan kepada-Nya.” Dan –subhanallah- menjelang pagi harinya, sang ibunda mendapati penglihatan Bukhari telah sembuh.

Bukhari menjadikan warisan sang ayah sebagai media untuk tak lelah mencari ilmu. Saat berusia 16 tahun, dia bersama ibu dan kakaknya ke Makkah berhaji. Dia lalu tinggal dekat Baitulah beberapa lama untuk belajar kepada para guru besar hadits. Di Madinah dia juga belajar.

Bukhari cerdas dan hafalannya kuat. “Saya mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika masih di sekolah baca-tulis,” kata Bukhari. Lalu, Muhammad bin Abi Hatim bertanya, “Saat itu umur engkau berapa?” Bukhari menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Lalu, setelah lulus, saya rajin menghadiri majelis hadits Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Ketika sedang membacakan hadits di hadapan murid-muridnya, Ad-Dakhili berkata; ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Saya-pun menyelanya, ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Tapi, Ad-Dakhili menolak saya. Saya berkata kepadanya, ‘Kembalikanlah kepada sumber aslinya, jika Anda punya.’ Ad-Dakhili lalu masuk melihat kitabnya, lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana engkau bisa tahu wahai anak muda?’ Saya menjawab, ‘Dia adalah Az- Zubair. Nama aslinya Ibnu ‘Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim’. Lalu, Ad-Dakhili mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan, Ad-Dakhili-pun berkata kepada saya, ‘Engkau benar’.” Maka, Muhammad bin Abi Hatim bertanya kepada saya; “Ketika engkau membantah Ad-Dakhili, berapa umur engkau?” Bukhari menjawab, “Sebelas tahun”.

Hasyid bin Isma’il juga menuturkan: Bukhari selalu bersama kami aktif menghadiri para masayikh Bashrah. Saat itu dia masih seorang anak kecil. Tampak, dia tidak pernah mencatat pelajaran. Setelah berlalu 6 hari, kamipun mencelanya. Dia-pun menjawab semua celaan kami dengan mengatakan: “Kalian telah banyak mencela saya. Tunjukkanlah kepada saya hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Maka, kami-pun mengeluarkan catatan-catatan hadits kami. Ternyata –setelah itu- Bukhari malah menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dia membaca semua hadits-hadits tersebut hafal di luar kepala. Akhirnya, kami yang justru mengklarifikasi catatan-catatan kami dengan berpedoman kepada hafalan Bukhari.

Bukhari mencari ilmu sejak sebelum baligh. “Saya menghabiskan setiap bulan lima ratus dirham, untuk biaya menuntut ilmu,” kata Bukhari. Dia hafal Al-Qur`an dan hafal beberapa karya tulis para ulama (seperti buku Abdullah bin Al-Mubarak).

Suka bepergian untuk mencari ilmu adalah sifat yang paling menonjol dari para ahli hadits. Bukhari pun demikian. Dia tak hanya belajar di negerinya sendiri, tapi juga berkeliling seperti ke Khurasan dan sekitarnya, Bashrah, Kufah, Baghdad, Hijaz (Makkah dan Madinah), Syam, Al-Jazirah (kota-kota yang terletak di sekitar Dajlah dan Eufrat), dan Mesir. “Saya memasuki Syam, Mesir dan Al-Jazirah dua kali, Bashrah empat kali, di Hijaz beberapa tahun, dan tak terhitung saya memasuki kawasan Kufah dan Baghdad bersama para muhadditsin,” kenang Bukhari.

Sangat banyak guru Bukhari. Ini sebagiannya: 1).Abu ‘Ashim An Nabil. 2).Makki bin Ibrahim. 3).Muhammad bin ‘Isa bin Ath Thabba’ 4).Ubaidullah bin Musa. 5).Ahmad bin Hanbal.

Murid Bukhari sangat banyak yang sebagiannya menjadi ulama berpengaruh seperti: 1).Al-Imam Abu al-Husain Muslim bin al Hajjaj an Naisaburi (204-261), penulis Shahih Muslim. 2).Al-Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi (210-279), penulis Sunan At-Tirmidzi. 3).Al-Imam Abu Bakr bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223-311), penulis Shahih Ibnu Khuzaimah.

Pada usia 18 tahun dia menerbitkan kitab pertamanya, Kazaya Shahabah wa Tabi’in. Karya Bukhari banyak, di antaranya adalah: 1).Al-Jami’ as-Shahih (Shahih Bukhari). 2).Al-Adab al-Mufrad. 3).At-Tarikh ash-Shaghir. 4).At-Tarikh al-Awsath. 4).At-Tarikh al-Kabir. 5).At-Tafsir al-Kabir. 6).Al-Musnad al-Kabir.

Untuk mendapatkan info lengkap mengenai sebuah hadits, Bukhari berkali-kali mendatangi ulama atau perawi sekalipun berada di kota atau negeri yang jauh. Bukhari bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah dia mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits. Semua hadits lalu diseleksi sangat ketat. Bukhari akhirnya hanya menuliskan 9082 hadis dalam karya monumentalnya, Al-Jami’ as-Shahih (Shahih Bukhari). Di situ ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip.

Adakah Lagi?

Imam Muslim (penulis Shahih Muslim) berkata ketika Imam Bukhari menyingkap satu cacat hadits yang tidak di ketahuinya, “Biarkan saya mencium kedua kaki Anda, wahai gurunya para guru dan pemimpin para ahli hadits, serta dokter hadits dalam masalah ilat hadits”. Sementara, atas Imam Bukhari yang wafat pada 256 H / 870 M itu bersaksilah Abu Bakar ibnu Khuzaimah, bahwa “Di kolong langit ini tidak ada orang yang lebih mengetahui hadits lebih dari Muhammad bin Isma’il (Bukhari)”. []

 

BACA JUGA  Ahlul Bait, Syiah atau Ahlussunnah?
No Response

Leave a reply "Imam Bukhari; Pemimpin dalam Ilmu Hadits"