Ilmu Sejarah Ibarat Spion Kendaraan: Wawancara dengan Isa Anshory M.S.I.

Ilmu sejarah kurang diminati karena berkutat pada masa lalu yang sudah out of date, berbeda dengan ilmu ekonomi, kedokteran atau IT, bagaimana menurut anda?

Sebenarnya kurang diminatinya ilmu sejarah karena banyak orang memandang sejarah itu kurang berguna untuk masa kini. Sejarah hanyalah kumpulan cerita masa lalu yang sudah selesai. Padahal, apa yang terjadi pada masa kini tidak bisa dilepaskan dari masa lalu. Ibarat orang naik mobil, sejarah itu berfungsi seperti kaca spion. Kalau orang ingin berjalan dan melaju ke depan dengan selamat, ya dia harus melihat spion untuk mengetahui apa yang ada di belakangnya. Begitu juga, kalau orang ingin sukses pada masa kini dan masa depannya, jangan lupakan sejarah.

Hal lain yang menyebabkan ilmu sejarah kurang diminati adalah karena banyak orang belajar atau kuliah agar bisa mendapatkan pekerjaan yang bergaji tinggi. Jurusan sejarah dipandang tidak prospektif untuk itu. Makanya jarang ada yang mau kuliah di jurusan sejarah. Nah, ini kesalahan niat dalam mencari ilmu. Bagi seorang muslim, semestinya niat utama mencari ilmu adalah untuk mendapatkan ridha ilahi, bukan untuk mendapatkan kekayaan materi.       

Ulama atau aktivis muslim cenderung memandang sebelah mata terhadap ilmu sejarah, mengapa bisa demikian dan menurut anda sendiri bagaimana?

Menurut saya, hal itu karena masih rendahnya kesadaran sejarah di kalangan mereka. Mereka kurang mau memperhatikan sejarah. Padahal, Al-Qur’an kurang lebih sepertiganya berisi sejarah. Hal ini menjadi bukti bahwa sejarah itu penting.

Apa pentingnya mempelajari sejarah terutama sejarah islam di Indonesia?

Ada banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari mempelajari sejarah. Di antaranya sejarah itu mampu memberi inspirasi, motivasi, dan edukasi. Dengan mengetahui dan mengingat kesuksesan atau kejayaan yang pernah diraih oleh umat Islam pada masa lalu, kita pada hari ini bisa terinspirasi dan termotivasi untuk meraih kembali kejayaan tersebut. Hal ini tentu akan membangkitkan kebanggaan dan rasa percaya diri kita. Dalam sejarah Indonesia, kedatangan Islam itu menjadi awal mula zaman modern. Islam membawa perubahan penting dan mendasar dalam masyarakat Indonesia. Islam datang membawa peradaban tinggi. Islam datang membawa ilmu dan kemajuan. Sejak dini, seorang muslim wajib mempelajari Al-Qur’an. Dari sini, tersebarlah budaya membaca dan menulis di kalangan penduduk pribumi yang telah masuk Islam. Sebelumnya, membaca dan menulis hanya dikuasai oleh segelintir orang dari kalangan bangsawan keraton.

Sejarah tentang islam dan peranan umat islam  dalam pembentukan bangsa di indonesia banyak terdistorsi atau bahkan ditutupi, bagaimana menurut anda?

Memang ada upaya untuk memarjinalkan peran Islam dari sejarah Indonesia. Makanya, umat Islam harus mempelajari sejarah agar mereka mengetahui mana sejarah yang benar dan mana sejarah yang salah.

Dimana peran sejarawan muslim dan bagaimana urgensinya?

Para sejarawan muslim hendaknya tidak berhenti melakukan penelitian sejarah karena masih banyak peristiwa penting yang belum terungkap dengan jelas. Sebagai muslim, mereka juga harus mengkaji sejarah berdasarkan worldview Islam, bukan berdasarkan worldview Barat yang sekuler dan liberal.

Penelitian tesis anda tentang politik kristenisasi pemerintah Hindia Belanda di Jawa pada masa politik etis. Tolong dijelaskan! Oh ya, apa itu politik etis?

Politik etis adalah kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang ingin meningkatkan kesejahteraan penduduk pribumi sebagai balas budi atas keuntungan ekonomi yang diberikan ke negeri Belanda. Dimulainya politik etis adalah setelah pidato Ratu Wihelmina pada September 1901 di hadapan parlemen Belanda. Sang Ratu menyatakan bahwa sebagai bangsa Kristen, Belanda mempunyai kewajiban untuk memperbaiki keadaan orang-orang Kristen pribumi di daerah kepulauan Hindia (Indonesia) dan akan membantu lebih banyak kegiatan misi Kristen. Oleh karena itu, politik etis membuka akses lebih luas bagi Kristenisasi. Kegiatan zending dan misi, terutama dalam bidang pendidikan dan sosial, mendapatkan subsidi dari pemerintah Hindia Belanda karena dianggap sejalan dengan tujuan politik etis yang ingin memajukan peradaban penduduk pribumi. Sekolah, rumah sakit, klinik, dan panti asuhan menjadi sarana Kristenisasi secara bertahap dan tidak langsung. Strategi ini disebut pre-evangelisation.      

Bagaimana reaksi ulama waktu itu?

Selain dipandang sebagai ancaman terhadap Islam, Kristenisasi yang sering didukung oleh pemerintah Hindia Belanda juga menyadarkan tokoh-tokoh Islam mengenai kekurangan umat Islam pada waktu itu. Tokoh-tokoh Islam mendirikan organisasi-organisasi Islam untuk memajukan umat Islam dan membendung arus Kristenisasi. Misalnya Sarekat Islam dan Muhammadiyah. Organisasi Muhammadiyah bahkan menjadikan kegiatan-kegiatan misi Kristen sebagai contoh. Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit, klinik, dan panti asuhan untuk membendung arus Kristenisasi.

Kebijakan pemerintah kolonial yang cenderung mendukung Kristenisasi menimbulkan kritik dan protes dari tokoh-tokoh Islam. Salah satunya yang cukup vokal adalah Mohammad Natsir. Di usianya yang masih sangat muda waktu itu, kira-kira 23 atau 24 tahun, beliau melontarkan kritik tajam pada tahun 1930-an terhadap kebijakan pemerintah itu melalui tulisan-tulisannya yang dimuat di majalah Pandji Islam.

Perjuangan menentang Kristenisasi juga dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam lewat Volksraad (Dewan Rakyat).

 

Baiklah, terima kasih dan Jazakumullah!

 

BACA JUGA  Jemaah Ahmadiyah Kembali ke Islam
No Response

Leave a reply "Ilmu Sejarah Ibarat Spion Kendaraan: Wawancara dengan Isa Anshory M.S.I."