Ibnu Sina, ‘Bapak Kedokteran’ yang Polymath

Beragam Warisan

Abu Ali Husain ibn Abdullah ibn Sina adalah nama lengkap Ibnu Sina. Sebagian orang menulis atau memanggil namanya sebagai Avicenna. Di buku Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Raghib As-Sirjani menyebutkan bahwa sejarawan George Sarton mendaulat Ibnu Sina  -yang hidup antara tahun 980-1037 M- sebagai salah satu ilmuwan Islam terbesar yang paling terkenal di dunia.    

Ibnu Sina lahir di Afsyanah, dekat Bukhara (Uzbekistan). Dia mulai belajar Al-Qur’an dan sastra sejak berusia lima tahun. Saat masih berumur sepuluh tahun, Ibnu Sina sudah hafal Al-Qur’an. Kecuali itu, diapun menguasai sastra, tasawuf, dan geometri.

Di usia enam belas tahun, dia sudah menguasai ilmu pengobatan dan mulai menangani pasien. Setahun setelah itu, Ibnu Sina berhasil mengobati Amir Nuh bin Mansur, pemimpin di wilayah dia tinggal. Sebagai tanda terima kasih, dia diminta menjadi ‘dokter istana’. Ibnu Sina menolak dan sebagai gantinya dia meminta izin agar diperkenankan untuk bisa mengakses buku-buku di Perpustakaan Istana. Maka, ilmu Ibnu Sina-pun semakin luas.

Situs www.rumahislam.com edisi 21/8/2009 menurunkan tulisan: Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Modern. Disebutkan bahwa Ibnu Sina telah menulis hampir 450 karya dengan berbagai disiplin ilmu. Namun, hanya sekitar 240 karya yang masih bertahan hingga kini. Dari karya yang masih ada itu, 150 buah berkonsentrasi pada falsafah dan 40 buah berkonsentrasi pada kedokteran.

Kitab Asy-Syifa’ dalam falsafah dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran adalah dua di antara karya tulis Ibnu Sina yang ‘abadi’. Asy-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas falsafah, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq Asy-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq Islami. Sementara, pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab Asy-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.

Sementara, Al-Qanun (judul lengkapnya adalah Al-Qanun fit-Thibb atau Canon of Medicine) adalah kitab yang mengupas kaidah-kaidah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Karya tulis Ibnu Sina di bidang ilmu kedokteran ini selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik di pendidikan kedokteran universitas-universitas Eropa. Kitab ini-pun telah diterjemahkan ke banyak bahasa, seperti bahasa Latin, Inggris, Prancis, dan Jerman. 

Seorang dokter –Muhammad Th- menulis buku berjudul Kedudukan Ilmu dalam Islam. Dia sebutkan bahwa Al-Qanun -karya Ibnu Sina- tak henti-hentinya diterjemahkan, diterbitkan, dibaca, dipelajari, dan didiskusikan sampai abad ke-18. Selama empat abad, buku itu menjadi text-book utama dari ilmu kedokteran Eropa. Bahkan, sampai tahun 1930, buku itu masih diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam bentuk fragmen-fragmen. Dia-pun mendapat predikat ‘Father of Doctors’.      

Ibnu Sina berperan besar dalam mengembangkan berbagai cabang keilmuan. Misal, pada zamannya, Ibnu Sina telah mengembangkan sebagian dari aspek-aspek psikologi. Aspek yang dikembangkannya itu dalam khazanah ilmu kontemporer disebut sebagai “psychosomatic medicine”.

Tentu saja, itu semua diperoleh Ibnu Sina karena dia memiliki ketekunan yang luar biasa. Misal, saat dia memelajari pemikiran Aristoteles. Kala itu, Ibnu Sina mengaku membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Tetapi, dia bisa menguasai maksud kitab itu secara sempurna setelah membaca penjelasan ‘Metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Al-Farabi. Nama yang disebut terakhir itu adalah filosof muslim yang hidup sebelum Ibnu Sina, yaitu pada 870-950 M.

Sebagian karya-karya Ibnu Sina, bisa kita temukan jejaknya lewat buku ‘Essai de Bibliographie Avicenna’ yang ditulis Pater Dominician di Kairo. Buku-buku itu antara lain: 1). Al-Majmu’. Buku ini adalah karya pertama Ibnu Sina, yang ditulis saat dia berusia dua puluh satu tahun dan berisi ilmu pengetahuan yang lengkap. 2). Asy-Syifa’. Ada 18 jilid, termasuk berisi cara-cara perawatan dan pengobatan. 3). Al-Qanun fit-Thibb (Canon of Medicine). Ada 16 jilid, berisi tentang cara perawatan yang sistimatis. Buku -yang wajar dijuluki sebagai ‘Ensiklopedi Pengobatan’- ini telah menjadi rujukan di Timur dan di Barat. 4). An-Nayyat (Book of Deliverence). Berisi tentang kebahagiaan jiwa. 5). Al-Isyarat wat-Tanbihat. Berisi tentang prinsip ketuhanan dan keagamaan. 6). Mujir, Kabir wa Saghir. Berisi tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap. 7). Al-Mantiq. Berisi tentang logika. 8). Uyun Al-Hikmah. Ada 10 jilid dan berisi tentang filsafat. 9). Al-Musiqa. Buku tentang musik. 10). Risalah As-Siyasah (Book on Politics). Buku ini berisi tentang politik. 11). Al-Qasidah Al-Aniyyah. Berisi syair-syair tentang jiwa manusia.

 

Polymath? Ayo!

Tak akan ada yang menolak jika disebutkan bahwa Ibnu Sina adalah seorang polymath. Istilah yang disebut terakhir itu menunjuk kepada seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas.

Ibnu Sina adalah polymath sebab pengetahuan dia tidak hanya pada satu bidang saja. Maka, atas fenomena itu, kita tak heran, sebab Ibnu Sina sudah hafal Al-Qur’an sejak usia sepuluh tahun. Sementara, Al-Qur’an adalah Kitab Suci berisi petunjuk hidup yang lengkap dan sempurna. “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS Al-Baqarah [2]: 2).

            Sosok Ibnu Sina bisa memberi kita inspirasi, bahwa bagi umat Islam –insyaAllah- menjadi polymath jauh lebih baik ketimbang menjadi spesialis yang hanya menguasai satu keahlian saja. Sebab, dengan menjadi polymath, seseorang akan berpeluang sangat besar dalam usaha memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada makhluk lain di sekitarnya. Misal -sekadar menyebut contoh- kecuali menjadi peneliti dan berilmu tinggi, seseorang sekaligus bisa pula menjadi da’i yang cekatan berdakwah lewat lisan dan tulisan.  

Jadi, ayo “mengibnu-Sina”! []

 

 

           

BACA JUGA  Benarkah Imam al-Ghazali Mematikan Sains dalam Islam?
No Response

Leave a reply "Ibnu Sina, ‘Bapak Kedokteran’ yang Polymath"