Hoax dan Kata-kata Pemimpin

Written by | Opini

hoax

Oleh M. Anwar Djaelani

Inpasonline.com-Pada Rabu 03/01/2018 pukul 18.11 di www.kumparan.com ada berita: “Kepala Badan Siber: Kalau Hoax itu Membangun, Silakan Saja”. Kemudian, masih di situs yang sama dan di hari yang sama tapi pada pukul 21.35, ada kabar: “Kepala Badan Siber: Hoax Membangun itu Hanya Gimmick, Saya Minta Maaf”.

Prihatin, Prihatin!
Rabu 03/01/2018 Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Mayor Jendral (Purn) TNI Djoko Setiadi sebagai Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Djoko Setiadi dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 130/P Tahun 2017.
Apa BSSN? Lembaga ini bertugas mendeteksi dan mencegah aksi kejahatan siber. BSSN menjaga keamanan siber dengan memanfaatkan, mengembangkan dan mengonsolidasikan semua unsur yang terkait dengan keamanan siber (www.jawapos.com 03/01/2018).
Kembali kepada dua berita yang dikutip di paragraf awal tulisan ini. Dua berita itu terkait dengan pernyataan yang disampaikan Kepala BSSN usai beliau dilantik. Pada berita pertama yang memuat pernyataan Kepala BSSN bahwa “Kalau Hoax itu Membangun, Silakan Saja” lalu memunculkan keriuhan di tengah-tengah masyarakat. Kontroversi terpicu terutama dengan soal ini: “Adakah hoax yang bersifat membangun?”
Pertanyaan itu sangat wajar. Pertama, bukankah tak ada hoax yang baik? Bukankah tak ada hoax yang membangun? Sebab, “Hoax adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis)” (www.romeltea.com, diakses 04/01/2018).
Kedua, pernyataan pejabat yang baru dilantik itu tergolong aneh sebab anggota masyarakat belum lupa bahwa setahun sebelumnya ada kabar seperti berikut ini. “Presiden: Perangi Hoax adalah Perang Tanpa Akhir” (https://korpri.id 22/01/2017).
Perkembangan berikutnya, seperti yang bisa kita baca di berita kedua di paragraf awal di atas, Kepala BSSN kemudian meminta maaf. Disebutkan, bahwa Kepala BSSN menuai sorotan lantaran pernyataannya yang menyebut ada hoax yang membangun alias positif. “Itu sebetulnya gimmick, sengaja saya ingin lihat apa reaksinya, ternyata reaksinya keras, artinya teman-teman enggak melamun,” ucap Djoko Setiadi.
“Ya namanya hoax pasti jelek, itu hanya gimmick. Hanya memancing, tapi (reaksi) teman-teman beda. Tapi maksud saya mana ada hoax yang membangun, itu kritik,” ujar Djoko Setiadi. “Kalau itu kekeliruan saya minta maaf. Niat saya enggak begitu, niat saya hanya gimmick, memancing,” tegas dia.
Demikianlah, sedikit gambaran salah sebuah peristiwa yang sempat menarik perhatian masyarakat. Selanjutnya, di tengah-tengah rasa prihatin atas keriuhan yang tak perlu itu, ada baiknya kita bincangkan ulang tentang perlunya menjauhi hoax dan sekaligus anjuran untuk selalu tertib menjaga kata-kata.
Pertama, ada larangan menyebarkan berita bohong. “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar” (QS An-Nuur [24]: 15. “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Yaa Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar’.” (QS An-Nuur [24]: 16). “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS An-Nuur [24]: 17).
Kedua, jika berkata-kata harus benar dan baik. Al-Qur’an meminta kita agar selalu berkata-kata yang benar. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (QS Al-Ahzab [33]: 70). “Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS An-Nisaa’ [5]: 9). “….. ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat” (QS Al-Baqarah [2]: 83).
Perhatikanlah ayat yang disebut terakhir di atas itu. Perintah untuk berkata-kata yang baik disampaikan dalam sebuah kalimat yang sama dengan aturan untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Artinya, “Mengucapkan kata-kata yang baik kepada manusia” adalah perkara yang sangat mendasar dan harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Intinya, kita –terlebih jika sedang dalam posisi sebagai pemimpin- harus berhati-hati di saat menggunakan lisan dan melepas kata-kata. Berbicara itu enteng, tapi pertanggungjawabannya berat. “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS Qaaf [50]: 18). Hal yang dicatat Malaikat termasuk kata-kata yang tidak bermanfaat dan apalagi yang menyakitkan orang lantaran kasar, misalnya.
Oleh karena itu, hendaklah kita berpikir dulu sebelum melepas kata-kata, sebab jika “tergelincir” kita bisa terlempar ke neraka. “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak difikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat” (HR Muslim).
Berhati-hatilah! “Barang-siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah” (HR Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA  Sikap Anti-FPI: Resistensi Menuju Negara Beradab

Jaga, Jaga!
Semua orang ingin hidup tenteram dan damai. Tak seorangpun berharap keadaan di sekitarnya selalu riuh-rendah oleh sesuatu yang tak bermakna. Untuk itu, salah satu caranya, jaga lisan kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sekali-kali menganggap enteng berbagai kata yang keluar dari lisan kita sebab di sisi Allah itu perkara besar.
Sungguh, dengan lisan yang terjaga, seseorang bisa mendapatkan derajat yang tinggi. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (QS Al-Ahzab [33]: 70). []

Last modified: 04/01/2018

One Response to :
Hoax dan Kata-kata Pemimpin

  1. “Hoax Terbaik Adalah Hoax Versi Penguasa.” #Bong200 #HoaxMembangun #HoaxAdalahKita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *