Facebook, Citra, dan ‘Jebakan’

No comment 490 views

Permainan Vs Citra

Ajining diri soko lathi”. Pepatah Jawa ini berguna untuk kita pedomani. Bahwa, lantaran lisan yang terjaga penggunaannya, kita bisa terhormat di depan publik, dan sebaliknya.

Dalam hal kehati-hatian penggunaan lisan, Islam lebih tegas mengatur. Sebab, tak hanya bertalian dengan citra diri, tetapi bahkan berhubungan dengan keselamatan dunia-akhirat seseorang. Intinya, umat Islam harus berhati-hati di setiap tingkah-lakunya, termasuk saat menggunakan lisan. Berbicara itu enteng, tapi pertanggungjawabannya sangat berat. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (QS Qaaf [50]: 18). Dalam hal ini, bukan perkataan yang baik dan buruk saja yang akan dicatat malaikat, tetapi termasuk yang tidak bermanfaat.

Oleh karena itu, hendaklah kita berpikir dulu sebelum berbicara, sebab jika ‘tergelincir’ kita bisa terlempar ke neraka. Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat (HR Muslim). Berhati-hatilah! Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah (HR Bukhari dan Muslim).

Jangan anggap enteng berbagai kata yang keluar dari lisan kita, sebab di sisi Allah itu perkara besar. Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar (QS An-Nuur [24]: 15).

Dengan lisan yang terjaga (selalu diarahkan pada perkara yang Allah ridha), seseorang bisa mendapatkan ketinggian derajat. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al-Ahzab [33]: 70). Sebaliknya, kita bisa menuai bencana jika serampangan dalam berkata-kata.

Kecermatan seseorang dalam merangkai kata-kata (dan apalagi jika disampaikan secara indah) merupakan gambaran akal dan budi yang terbimbing iman. Pemilihan kata yang tepat dan bernas adalah bagian dari kemuliaan akhlak.

Kini, situs jejaring sosial Facebook telah menjadi salah satu “ajang berbicara” (baik dalam bentuk monolog, dialog, dan diskusi). Saat online internet, banyak yang langsung membuka akun Facebook-nya. Tak aneh, jika ada kabar bahwa Facebook telah menjadi peringkat ketiga situs yang paling banyak dikunjungi.

Sebagian lalu memanfaatkannya sebagai lahan dakwah dengan jalan setiap memperbarui status, selalu menulis dengan semangat “menyeru ke jalan Allah”. Setiap kata yang (akan) ditulisnya dipikir matang-matang dan dimuati semangat dakwah.

Tapi, sayang, bagi sebagian (besar?) pengguna lainnya, Facebook tampak hanya sekadar untuk main-main. “Lampu mati, sementara pekerjaan banyak, … wuaaahhh,” keluh seseorang di Facebook. “Malam ini, saya jalan-jalan, dan saat pulang mampir makan Nasi Punel di Jalan Persahabatan. Enak!,” tulis seseorang menunjukkan aktivitas terakhirnya.

Dua contoh status Facebook di atas (catatan: dua kalimat itu tak persis sama dengan aslinya, tapi dengan sedikit ‘adaptasi’) adalah sekadar contoh ucapan yang tergolong tak berguna untuk dipublikasikan karena sangat bersifat pribadi.

Untuk ‘kasus’ pertama, misalnya, tak salah jika ada yang berpikir bahwa si penulis sedang pusing memikirkan tanggung-jawabnya yang terbengkalai (yaitu pekerjaan tak selesai karena mendadak lampu mati). Maka, tak bisa disalahkan pula jika kemudian orang berkesimpulan bahwa si penulis tak pandai mengatur waktu. Buktinya, saat datang situasi tak terduga –yaitu lampu mati- dia kalang kabut. Sementara di ‘kasus’ kedua, menunjukkan gaya hidup si penulis yang suka jalan-jalan dan makan-makan (terlebih, di warung / di pinggir jalan).

Banyak orang melihat Facebook hanya semacam hiburan. Mereka pikir tak akan rugi apa-apa dengan membeberkan informasi (pribadi). Mereka lupa, orang bisa mengukur  ketinggian akal dan budinya lewat ucapan / tulisan yang dibuatnya.

 

Waspadai ’Jebakan’

Hidup adalah perjuangan. Untuk itu, pasti ada lawan yang harus selalu kita waspadai. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka (QS Al-Baqarah [2]: 120).

Dalam konteks Facebook, bacalah www.eramuslim.com 10/11/2009: ”Israel Gunakan Facebook sebagai Alat Mata-Mata Dunia”. Bahwa: ”Situs jejaring sosial itu, jelas-jelas disinyalir sebagai alat Israel untuk memata-matai orang-orang Islam dan mendapatkan informasi. Menurut Indonésie Magazine yang berbasis di Prancis, intelijen Israel fokus pada pengguna Facebook, terutama kepada Arab dan Muslim. Israel menggunakan informasi yang diperoleh melalui halaman Facebook mereka itu untuk menganalisis aktivitas mereka dan memahami bagaimana mereka berpikir”.

Lebih jauh, ”Sangat berbahaya bagi khususnya kaum muda, yang seringkali mengungkapkan data pribadi tentang diri mereka di Facebook karena itu merupakan semua hal yang bisa diketahui oleh orang lain dengan mudah. Nah, Facebook tentunya tidak menemukan kesulitan itu, karena seperti kita ketahui, umat Islam dan generasi mudanya, secara berbondong-bondong pro-aktif berkelayapan di situs ini, bahkan sekadar untuk meng-up-date status yang lagi makan mie ayam atau mungkin ke kamar mandi”.

Jika melihat banyak status pemakai Facebook isinya mirip-mirip seperti dua contoh di atas, maka bukan tak mungkin musuh Islam akan tersenyum. Sebab, bisa saja mereka berkesimpulan –antara lain- bahwa hanya sedikit orang Islam yang serius memikirkan masalah keumatan. Justru yang terbanyak adalah mereka yang hanya pandai bersenda-gurau dan memikirkan diri sendiri saja.

Jadi, masih-kah kita mudah mengobral ucapan / tulisan di Facebook, yang (sebagian) lalu bisa diolah oleh musuh Islam menjadi ’senjata’ yang berbalik menghantam kita? Ayo. jangan terjebak!

 

BACA JUGA  Miss World di ‘Negeri Ajaib’
No Response

Leave a reply "Facebook, Citra, dan ‘Jebakan’"