Dr. Anis Malik Toha Bicara Pluralisme di “Multaqo”

Menurut Dr. Anis, berbicara mengenai pluralisme agama yang telah gencar pada saat-saat ini termasuk di Indonesia, tidak lepas dari tragedi 9/11 yang menimpa Amerika Serikat. Peristiwa 9/11 telah merubah diskursus sejarah modern secara radikal. Namun lebih lanjut Dr. Anis mengatakan bahwa tragedi 9/11 harus dilihat  rentetan kejadian sebelumnya. Setelah perang dingin yang dimenangkan pihak Barat atas Sovyet. Para pakar Barat telah membuat analisis dan pernyataan bahwa setelah Sovyet ada kekuatan atau peradaban yang bisa menghalangi berkuasanya Barat, yaitu hina dan Islam. Jika China dan Islam bergabung, maka Barat akan kalah. Oleh karena itu harus ada upaya bagamana kedua peradaban atau kekuatan ini tidak bergabung.

Namun menurut para pakar dari Barat, peradaban Islamlah yang paling kuat di masa depan sehingga tinggal dua peradaban kuat yang akan berhadapan; Barat dan Islam. Inilah kesimpulannya, sebagaimana ungkapan Huntington dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Benturan Peradaban” ini.

Dengan demikian disebarlah isue terorisme, dengan dimulailnya perang pemikiran (war of ideas) yang ujungnya untuk memenangkan perang melawan terorisme (the war on terorisme). Dalam konteks war of ideas inilah akhirnya Islam menjadi target utama atau musuh utama Barat. Disinilah kemudian Barat mendapat legitimasi untuk berbuat sekehendanya untuk menghancurkan Ummat Islam. Akhirnya bermunculannlah artikel-artikel yeng bernada miring terhadap Islam. Charles Kimball  (2003) menulis “When Religion Become Evil”. Palmar (2005) menulis “Is Religion Killing Us?”. Lebih lanjut Dr. Anis mengemukakan, bahwa dalam artikel Kimball ini dinyatakan bahwa agama menjadi jahat ketika ia memiliki klaim kebenaran dan mengajarkan serta mengajak perang suci (Holly War). Klaim kebenaran maksudnya, sebuah agama merasa bahwa agamanyalah yang paling benar dan agama lain salah. Lebih lanjut Palmar mengatakan bahwa dengan ajaran ayat-ayat suci yang menganjurkan untuk membunuh maka agama atau ayat suci akan membahayakan ummat manusia. Karenanya mereka mengusulkan  agar ayat-ayat tersebut di reinterpretasi.

“Dari ungkapan orang-orang yang tidak paham agama inilah lahir agama baru yang tidak mereka sadari,” papar Dr. Anis. Oleh karena itu mereka berpendapat Islam harus dijinakkan, terutama Islam di Indonesia. Untuk menanamkan pemahaman ini Barat mengeluarkan jutaan dollar. Penggelontoran dana ini untuk membiayai media prodoction (termasuk radio satelitnya JIL), Workshop for Islamic, perubahan kurikulum mulai dari sekolah sampai universitas. “Bahkan sekarang sedang diusahakan adanya kurikulum Multikulturalisme,”lanjut Dr. Anis.

Inilah beberapa poin yang disampaikan Dr. Anis di Multaqo Sanawi Persyarikatan Dakwah al-Haromain ke-9 di Tulungagung. “Walau cukup singkat waktunya, sekitar 90 menit, namun informasi ini sangat penting bagi para da’i yang dibawah naungan al-Haromain, ” kata alah seorang peserta Multaqo. Terakhir Dr. Anis Mengatakan “ Merekalah (Barat) yang menimbulkan istilah perang (war) bukan ummat Islam. Islam tidak pernah mengajak perang siapapun. Oleh karena itu marilah kita canangkan kembali nilai-nilai al-Qur’an dan as-Sunnah atau Syari’at ini (Islam),”tegasnya.  (NK)

 

BACA JUGA  Awas Provokasi, HUT Kemerdekaan Israel di Jakarta
No Response

Leave a reply "Dr. Anis Malik Toha Bicara Pluralisme di “Multaqo”"