Diskusi InPAS Bahas Hadits Syi’ah

Written by | Nasional

Penyebab perbedaan ini berawal dari prinsip Syi’ah sendiri yang tidak mau mengambil riwayat dari selain para imam mereka, jelas Bahrul Ulum, yang menjadi pemateri dari diskusi ini. Di samping itu, jelas Bahrul, kalangan syi’ah menganggap para Imam mereka adalah orang-orang yang ma’shum atau terbebas dari kesalahan. Padahal, fakta sejarah pernah membuktikan bahwa para Imam mereka pernah berselisih paham bahkan menganggap salah satunya sebagai  pengkhianat. Bahrul mencontohkan kasus Imam Hasan dan Husain yang berbeda pendapat terkait penyerahan kekuasaan kepada Khalifah Mua’wiyah.

“Adanya perbedaan pendapat antara Imam Hasan dan Husein ini jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah ma’shum. Karena hal ini menunjukkan bahwa diantara keduanya ada yang salah dan tidak sesuai dengan ketentuan ma’shum tersebut. Yang ma’shum itu hanya Rasulullah SAW, setelah itu tidak ada lagi sebagaimana penegasan para ulama,” tegas pria kandidat Magister Pemikiran Islam ini.

Selanjutnya, pria yang mempunyai dua anak ini menjabarkan beberapa perbedaan antara ulumul Hadits Syi’ah dengan Sunni. Pertama, sumber Hadits Syi’ah harus berasal dari para imam Syi’ah atau dari kalangan Sahabat terbatas pada Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari. Kedua, jalur periwayatannya tidak mau mengambil dari beberapa ahli Hadits yang sudah mafhum, tetapi hanya dari jalur Imam Ali dan Imam-imam mereka. Ketiga, perawinya harus dari murid para imam, jika tidak maka otomatis akan tertolak.  Di samping itu, lahirnya Ulumul Hadits di kalangan Syi’ah baru pada abad ke-11 dan 12 Masehi atau abad ke ke-6 dan 7 Hijriyah, yang tentu sangat jauh selisihnya dengan kalangan Sunni yang sudah mengenal sejak abad pertama Hijriyah.

Walaupun terjadi perbedaan yang sangat mencolok dalam Ulumul Hadits seperti itu, anehnya mereka tidak menolak Al-Qur’an Mushaf Utsmani. Padahal Al-Qur’an juga disusun berdasarkan riwayat sebagaimana Hadits. Hal itu ditegaskan oleh Bahrul, karena faktanya Imam Ali juga menerima dan bahkan manjadi panitia pengumpul Al-Qur’an Mushaf Utsmani tersebut di zaman kekhalifahan Utsman RA. (mm) 

BACA JUGA  Pemprov Jawa Timur Akan Keluarkan Pergub Larangan NII

Last modified: 20/12/2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *