Di Zaman Ini Ilmu Lebih Baik daripada Amal

No comment 862 views

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

alquranInpasonline.com-Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin I mengutip sebuah riwayat, “Sesunggunya kalian berada dalam zaman dimana fuqaha’nya (ahli ilmu) banyak dan sedikit oratornya (khutoba’). Amal pada zaman ini lebih baik daripada ilmu. Dan kelak manusia akan tiba pada masa di mana fuqaha’nya sedikit tetapi ahli oratornya banyak. Pada zaman itu ilmu lebih baik daripada amal.

Pada zaman Nabi Saw dan Sahabat, amal lebih baik daripada ilmu bukan bermaksud kedudukan ilmu yang lebih rendah. Maksud dari itu adalah, bahwa masa tersebut merupakan era yang mulya. Sumber ilmu (Nabi Saw) masih hidup. Ketika sumber masih hidup, umat Islam dapat langsung ‘menikmati’ sumber tersebut.

Setelah Rasulullah Saw wafat, kaum Muslimin masih tidak kesulitan mencari sosok yang dapat dijadikan sandaran ilmu. Pembesar Sahabat — yang tidak lain murid langsung Rasulullah Saw — memberi pengajaran yang baik kepada kaum Muslimin. Keberadaan mereka tentu saja istimewa, karena mendapatkan ilmu langsung dari sumbernya. Makanya Rasulullah Saw menyebut masa ini dengan khoirul qurun (sebaik-baik zaman).

Ketika para ahli ilmu masih banyak, kaum Muslim tidak kesulitan untuk melakukan kajian ilmu dengan benar. Sebuah amalan, tinggal mereka praktikkan. Kehidupan keislaman relatif ‘aman’. Ketika bertanya sesuatu masalah agama, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah Saw dan para Sahabat.

Sedangkan pada hari ini, kita hidup yang jauh dari Rasulullah Saw dan para Sahabatnya. Bahkan periode kita jauh dari para ulama salaf dan imam mujtahid. Ketika ada suatu persoalan agama kita masih bertanya dahulu kepada ulama, kiai dan ustadz yang memahami pemikiran imam madzhab. Itupun kita harus lebih hati-hati.

BACA JUGA  Mencermati Perkembangan Terkini Gerakan LGBT

Generasi zaman ini telah mulai banyak yang tidak mengenal lagi ulama salaf. Mereka hanya mengenal ustadz dan dai melalui media sosial dan televisi. Apalagi jika telah ada orang-orang yang menyamar sebagai ulama dengan modal ilmu yang minimalis. Bahkan, belajar agama mereka cukupkan dengan melalui media sosial dan internet.

Maka, dalam hal ini Imam Nawawi berpendapat bahwa, meyibukkan dengan mencari ilmu lebih afdhal daripada sibuk beribadah sunnah, seperti shalat, puasa sunnah dan menbaca dzikir lainnya. Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh Imam Nawawi. Yaitu, Pertama, manfaat ilmu lebih meluas kepada kaum Muslimin. Sedangkan ibadah sunnah manfaatnya hanya untuk pribadi, yaitu orang yang melakukan ibadah sunnah tersebut. Kedua, karena ilmu itu mengoreksi ibadah sedangkan ibadah sunnah itu membutuhkan ilmu. Ketiga, ulama merupakan warisan Nabi. Keempat, karena ilmu akan tetap kekal meskipun ahli ilmu meninggal dunia. Sedangkan ibadah sunnah terputus jika seseorang meninggal dunia (Imam Nawawi, Muqaddimah Syarah Majmu’, hal. 48).

Banyak orang berbangga dengan ibadah sunnah-nya sedangkan dia enggan mengkaji ilmu. Padahal, Rasulullah Saw pernah bersabda: “Majelis ilmu itu lebih baik daripada ibadah (sunnah) enam puluh tahun” (Ibnu Umar dalam Muqaddimah Syarh Majmu’,hal. 47).

Dikisahkan dari Abdullah bin Umar bin Ash. Suatu hari Rasulullah Saw keluar, tiba-tiba beliau melihat di dalam masjid ada dua majelis. Yaitu majelis yang membahas ilmu-ilmu syariat dan majelis yang isinya berdoa kepada Allah (dzikir). Para Sahabat kemudian bertanya tentang dua majelis tersebut. Rasulullah Saw menjawab: ‘Kedua majelis itu mengajak kepada kebaikan. Yang satu berdoa kepada Allah Swt, dan satunya mereka belajar ilmu dan mengajari orang yang bodoh. Mereka inilah yang lebih utama (dari majelis pertama), saya diutus untuk mengajar manusia. Lalu Rasulullah Saw memilih untuk duduk bersama mereka (majelis ilmu) (HR. Ibnu Majah).

BACA JUGA  Identitas Peradaban Nusantara dan Politik Nativisasi Belanda

Imam al-Syafi’i juga berpendapat, bahwa tidak ada yang lebih afdhal setelah ibadah wajib (fardhu) kecuali mencari ilmu.

Ilmu memiliki perhatian penting dalam tradisi Islam. Ilmu merupakan motor penggerak pemikiran dan aktifitas manusia. Tinggi rendahnya martabat manusia ditentukan oleh faktor ilmu. Melalui ilmulah manusia dapat mengenal Allah Swt dan memahami cara beribadah kepada-Nya dengan benar. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu manfaat, yaitu yang menghantar kepada rasa takut kepada Allah Swt.

 

No Response

Leave a reply "Di Zaman Ini Ilmu Lebih Baik daripada Amal"